Jangka Waktu Rukhshah Tayammum - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Jangka Waktu Rukhshah Tayammum

9 months ago
205
  1. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ  اَلصَّعِيدُ وَضُوءُ اَلْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ اَلْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ, فَإِذَا وَجَدَ اَلْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اللهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ. رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلْقَطَّانِ, لَكِنْ صَوَّبَ اَلدَّارَقُطْنِيُّ إِرْسَالَهُ

Dari Abu Hurairah—semoga Allah meridlainya— ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam untuknya—bersabda: “Tanah itu alat berwudlu (bersuci) seorang muslim meski ia tidak menemukan air selama 10 tahun. Tetapi jika ia menemukan air, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah ia menyentuhkan air itu ke kulitnya.” Al-Bazzar meriwayatkannya, Ibnul-Qaththan menshahihkannya, tetapi ad-Daraquthni menyatakan bahwa yang tepat hadits ini mursal.

  1. وَلِلتِّرْمِذِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ نَحْوُهُ وَصَحَّحَهُ

Dalam riwayat at-Tirmidzi dari Abu Dzar haditsnya sama dengan di atas, dan ia menshahihkannya.

 

Jamise Syar'i

Takhrij Hadits

Terkait tema ini, Ibn Hajar dalam Bulughul-Maram mencantumkan dua hadits, yakni hadits Abu Hurairah riwayat al-Bazzar dan hadits Abu Dzar riwayat at-Tirmidzi. Di samping kedua shahabat tersebut yang meriwayatkan hadits ini, ada juga shahabat ‘Abdullah ibn ‘Amr dan ‘Imran ibn Hushain, sebagaimana disebutkan oleh Imam at-Tirmidzi, tetapi dalam konteks matan yang agak berlainan (sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Mubarakfuri dalam Tuhaftul-Ahwadzi).

Ibn Hajar menyebutkan dua hadits ini dengan menyebutkan penilaian shahih dari Ibnul-Qaththan untuk hadits Abu Hurairah, karena memang hadits Abu Dzar dinilai dla’if oleh Ibnul-Qaththan. Meski sebenarnya hadits Abu Dzar tersebut statusnya shahih sebagaimana disimpulkan sendiri oleh Imam at-Tirmidzi.

Hadits Abu Hurairah riwayat al-Bazzar, lengkapnya sebagai berikut:

حَدَّثَنا مقدم بن مُحَمَّد بن علي بن مقدم المقدمي قَالَ: حَدَّثَنِي عَمِّي الْقَاسِمُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عطاء بن مقدم حَدَّثَنا هِشَامُ بْنُ حَسَّانٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : اَلصَّعِيدُ وَضُوءُ اَلْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ اَلْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ, فَإِذَا وَجَدَ اَلْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اللهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ.

Muqaddam ibn Muhammad ibn ‘Ali ibn Muqaddam al-Muqaddami, berkata: Pamanku, al-Qasim ibn Yahya ibn ‘Atha ibn Muqaddam mengajarkan hadits kepadaku, (ia berkata) Hisyam ibn Hassan mengajarkan hadits kepadaku, dari Muhammad ibn Sirin, dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam untuknya—bersabda: “Tanah itu alat berwudlu (bersuci) seorang muslim meski ia tidak menemukan air selama 10 tahun. Tetapi jika ia menemukan air, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah ia menyentuhkan air itu ke kulitnya, karena itu lebih baik.” (Musnad al-Bazzar no. 10068)

Al-Bazzar kemudian menyatakan:

وَهَذَا الحديثُ لاَ نَعْلَمْهُ يُرْوَى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  إِلا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَلَمْ نَسْمَعْهُ إِلا من مقدم بن مُحَمَّد عن عمه وكان مقدم ثقة معروف النسب

Hadits ini kami tidak mengetahuinya diriwayatkan dari Abu Hurairah ra kecuali dari jalan ini. Dan kami tidak mendengarnya kecuali dari Muqaddam ibn Muhammad dari pamannya. Muqaddam itu sendiri seorang tsiqah (terpercaya) dan dikenal nasabnya.

Al-Hafizh dalam Talkhishul-Habir menyatakan bahwa Ibnul-Qaththan menshahihkan hadits ini. Sementara ad-Daraquthni menilainya mursal. Ibnul-Qaththan sendiri dalam kitabnya, Bayanul-Wahm wal-Iham, menjelaskan:

انْتهى كَلَام الْبَزَّار. فَأَقُول بعده: إِن الْقَاسِم بن يحيى بن عَطاء بن مقدم، أَبَا مُحَمَّد الْهِلَالِي الوَاسِطِيّ، يروي عَن عبيد الله بن عمر، وَعبد الله بن عُثْمَان بن خثيم، روى عَنهُ ابْن أَخِيه مقدم بن مُحَمَّد الوَاسِطِيّ، وَأحمد بن حَنْبَل، وَأخرج لَهُ البُخَارِيّ فِي التَّفْسِير، والتوحيد، وَغَيرهمَا من جَامِعه مُعْتَمدًا مَا يروي، فَاعْلَم ذَلِك.

Demikianlah pernyataan al-Bazzar. Aku jelaskan sesudahnya: Sesungguhnya al-Qasim ibn Yahya ibn ‘Atha` ibn Muqaddam Abu Muhammad al-Hilali al-Wasithi, meriwayatkan dari ‘Ubaidullah ibn ‘Umar dan ‘Abdullah ibn ‘Utsman ibn Khaitsam. Meriwayatkan darinya putra saudaranya, Muqaddam ibn Muhammad al-Wasithi, Ahmad ibn Hanbal dan al-Bukhari juga meriwayatkan haditsnya dalam bab tafsir, tauhid, dan lainnya dari Jami’nya bersandar pada apa yang diriwayatkan olehnya. Ketahuilah hal itu (Bayanul-Wahm wal-Iham no. 2464).

Maksudnya, selain Muqaddam yang tsiqah, al-Qasim juga tsiqah sehingga dijadikan rujukan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dan al-Bukhari.

Sementara penilaian mursal dari ad-Daraquthni, yakni bahwa hadits ini bukan dririwayatkan oleh Abu Hurairah melainkan oleh Muhammad ibn Sirin yang langsung menyatakan sabda Nabi saw di atas, dikemukakannya dalam kitabnya, ‘Ilal ad-Daraqtuhni no. 1423, sebagai berikut:

يَرْوِيهِ هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ، وَاخْتُلِفَ عَنْهُ؛ فَرَوَاهُ الْقَاسِمُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَطَاءٍ الْمُقَدَّمِيُّ، عَنْ هِشَامٍ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. وَخَالَفَهُ ثَابِتُ بْنُ يَزِيدَ أَبُو زَيْدٍ، وَزَايِدَةُ رَوَيَاهُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ مُرْسَلًا. وَكَذَلِكَ رَوَاهُ أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ، وَابْنُ عَوْنٍ، وَأَشْعَثُ بْنُ سَوَّارٍ، عَنِ ابن سيرين مرسلا، وهو الصواب

Hisyam ibn Hassan meriwayatkannya, tetapi diperselisihkan. Al-Qasim ibn Yahya ibn ‘Atha` al-Muqaddami meriwayatkan dari Hisyam, dari Ibn Sirin, dari Abu Hurairah. Sementara Tsabit ibn Yazid Abu Zaid dan Zayidah meriwayatkan dari Hisyam, dari Ibn Sirin secara mursal (tidak menyebut dari Abu Hurairah). Demikian juga Ayyub as-Sakhtiyani, Ibn ‘Aun dan Asy’ats ibn Suwwar, meriwayatkan dari Ibn Sirin secara mursal. Dan itulah yang benar.

Jadi penilaian mursal dari ad-Daraquthni didasarkan pada data bahwa yang meriwayatkan dari Hisyam itu ada enam rawi. Yang menyatakan bahwa hadits ini dari Abu Hurairah hanya al-Qasim saja, sementara lima rawi lainnya menyatakan dari Ibn Sirin, dari Nabi saw, tanpa menyebutkan Abu Hurairah. Jadi kemungkinan besar yang benar adalah mursal. Demikian kurang lebih penilaian ad-Daraquthni. Meski demikian, hadits mursal tidak otomatis statusnya dla’if. Menurut ilmu Mushthalah Hadits, selama yang meng-irsal-nya rawi tsiqah seperti Ibn Sirin, dan ada dilalah (petunjuk) atas ketersambungan sanadnya, maka hadits mursal tersebut bisa diterima (maqbul). Dalam kasus sanad ini, riwayat dari al-Qasim yang notabene tsiqah menjadi dilalah bahwa Ibn Sirin menerima hadits ini dari Abu Hurairah. Jadi penilaian mursal dari ad-Daraquthni tidak menyebabkan hadits ini dla’if.

Sementara hadits Abu Dzar riwayat at-Tirmidzi sanad dan matan lengkapnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، وَمَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ خَالِدٍ الحَذَّاءِ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ بُجْدَانَ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ: إِنَّ الصَّعِيدَ الطَّيِّبَ طَهُورُ المُسْلِمِ، وَإِنْ لَمْ يَجِدِ المَاءَ عَشْرَ سِنِينَ، فَإِذَا وَجَدَ المَاءَ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ

Muhammad ibn Basysyar dan Mahmud ibn Ghailan mengajarkan hadits kepada kami. Mereka berkata: Abu Ahmad az-Zubairi mengajarkan hadits kepada kami. Ia berkata: Sufyan mengajarkan hadits kepada kami, dari Khalid al-Hadzdza, dari Abu Qilabah, dari ‘Amr ibn Bujdan, dari Abu Dzar, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya tanah yang bersih itu alat bersuci seorang muslim meski ia tidak menemukan air selama 10 tahun. Tetapi jika ia menemukan air, hendaklah ia menyentuhkan air itu ke kulitnya, karena itu lebih baik.” (Sunan at-Tirmidzi abwab at-thaharah bab at-tayammum lil-junub no. 124)

Imam at-Tirmidzi kemudian menjelaskan:

وَفِي البَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، وَهَكَذَا رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ خَالِدٍ الحَذَّاءِ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ بُجْدَانَ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ. وَقَدْ رَوَى هَذَا الحَدِيثَ أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي عَامِرٍ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، وَلَمْ يُسَمِّهِ، وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dalam bab (tema) ini ada riwayat lain dari Abu Hurairah, ‘Abdullah ibn ‘Amr dan ‘Imran ibn Hushain. Demikian meriwayatkannya bukan hanya seorang dari Khalid al-Hadzdza`, dari Abu Qilabah, dari ‘Amr ibn Bujdan, dari Abu Dzar. Meriwayatkan hadits ini juga Ayyub, dari Abu Qilabah, dari seseorang Bani ‘Amir, dari Abu Dzar, tanpa menyebutkan namanya. Dan ini adalah hadits hasan shahih.

Ibnul-Qaththan keberatan dengan penilaian at-Tirmidzi di atas. Ia menyatakan:

وَقَالَ عَن التِّرْمِذِيّ: إِنَّه حَدِيث حسن. فَهُوَ عِنْده غير صَحِيح، وَلم يبين لم لَا يَصح؟ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ لَا يعرف لعَمْرو ابْن بجدان هَذَا حَال، وَإِنَّمَا روى عَنهُ أَبُو قلَابَة، وَاخْتلف عَنهُ… وَهُوَ حَدِيث ضَعِيف لَا شكّ فِيهِ

Ia (al-Isybaili) berkata dari at-Tirmidzi: Itu hadits hasan. Berarti menurutnya tidak shahih. Tetapi ia tidak menjelaskan kenapa tidak shahih? Alasan yang tepatnya karena tidak diketahui hal/keadaan ‘Amr ibn Bujdan ini (majhul hal—pen). Yang meriwayatkan darinya hanya Abu Qilabah, itu pun diperselisihkan… Berarti itu hadits dla’if tidak diragukan lagi (Bayanul-Wahm wal-Iham no. 1073).

Terkait penilaian al-Qaththan ini, Ibn Hajar menjawab:

وَمَدَارُ طَرِيقِ خَالِدٍ عَلَى عَمْرِو بْنِ بَجْدَانَ وَقَدْ وَثَّقَهُ الْعِجْلِيُّ، وَغَفَلَ ابْنُ الْقَطَّانِ فَقَالَ : إنَّهُ مَجْهُولٌ

Titik temu sanad Khalid pada ‘Amr ibn Bujdan, ia dinilai tsiqah oleh al-‘Ijli. Dan telah keliru Ibnul-Qaththan yang menilai ia majhul (Talkhishul-Habir no. 210).

Jadi kesimpulannya, baik hadits Abu Hurairah atau Abu Dzar kedua-duanya shahih, meski ada yang menilai mursal pada hadits Abu Hurairah dan ada yang menilai majhul pada sanad hadits Abu Dzar.

Syarah Hadits

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan, dari sekian sanad yang meriwayatkan hadits di atas, jelas diketahui bahwa sabda Nabi saw di atas ditujukan kepada Abu Dzar yang mendapatkan ghanimah dan diperintahkan oleh Nabi saw untuk digunakan bertani di daerah Rabadzah. Di daerah tersebut Abu Dzar pernah junub dan tidak mendapatkan air untuk mandi. Mengetahui hal tersebut, maka Nabi saw menjelaskan sebagaimana sabdanya dalam hadits di atas. Dalam hal ini Imam at-Tirmidzi menjelaskan:

وَهُوَ قَوْلُ عَامَّةِ الفُقَهَاءِ: أَنَّ الجُنُبَ وَالحَائِضَ إِذَا لَمْ يَجِدَا المَاءَ تَيَمَّمَا وَصَلَّيَا. وَيُرْوَى عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ: أَنَّهُ كَانَ لَا يَرَى التَّيَمُّمَ لِلْجُنُبِ، وَإِنْ لَمْ يَجِدِ المَاءَ، وَيُرْوَى عَنْهُ أَنَّهُ رَجَعَ عَنْ قَوْلِهِ: فَقَالَ: يَتَيَمَّمُ إِذَا لَمْ يَجِدِ المَاءَ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَمَالِكٌ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ

Demikianlah pendapat mayoritas fuqaha, bahwa orang junub dan perempuan haidl jika tidak mendapatkan air boleh bertayammum dan shalat (jadi tayammum juga pengganti mandi, bukan hanya pengganti wudlu—pen). Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud bahwa ia tidak membolehkan tayammum bagi yang junub meski tidak mendapatkan air. Tetapi ada riwayat juga darinya bahwa ia sudah mencabut pendapatnya dan kemudian berkata: “Boleh bertayammum jika tidak mendapatkan air.” Demikian juga pendapat Sufyan ats-Tsauri, Malik, as-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.

Berlakunya rukhshah ini selama tidak ditemukan air, meski sampai sepuluh tahun lamanya. Jika sudah ditemukan air harus segera bersuci dengan air. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *