Hukum Menjual dan Mengonsumsi Ganja Mentah

4 months ago
1847

Pengertian Ganja

Ganja (hasyisy) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol (memiliki efek positif untuk kesehatan bagi kaum tua. Namun, berbanding terbalik bagi kaum muda) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana. Adapun daun ganja apabila diolah sedemikian rupa atau dikeringkan kemudian dijadikan bahan rokok, kemudian dibakar lalu dihisap maka akan menimbulkan iskar (mabuk). Ganja merupakan jenis khamr, inilah yang menjadi ‘illat keharamannya ganja. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasalam:

كل مسكر حرام

“Setiap yang memabukkan adalah haram” (HR. Al-Bukhari 4/1579 no 4087 dan 5/2269 no 5773, Muslim 3/1586 no 1733)

Manfaat dan Efek dari Ganja

Manfaat ganja di bidang kesehatan:

  1. Menenangkan kecemasan
  2. Mengobati epilepsy
  3. Memperlambat Alzheimer
  4. Obat kanker
  5. Meredam gejala Multiple Sclerosi
  6. Mengatasi penyakit Parkinson
  7. Mengobati radang usus

Efek atau bahaya mengonsumsi bahan ganja:

  1. Halusinasi dan hilang kendali
  2. Bisa kecanduan
  3. Masalah paru-paru
  4. Gangguan sistem produksi
  5. Sakit jiwa
  6. Memabukan sehingga hilangnya akal

Khamr

Secara etimologi, khamr berasal dari kata “khamara” (خَمَرَ) yang bermakna satara (سَتَرَ), artinya menutupi. Sedang khammara (خَمَّرَ) berarti memberi ragi. Adapun al-khamr diartikan arak, segala yang memabukkan. Adapun menurut tafsir al-Lubāb disebutkan,

وفي تسميتها “خَمْراً” أربعة أقوال: أشهرها: أنَّها سمِّيت بذلك؛ لأنها تخمر العقل, أي: تستره, ومنه: خمار المرأة لستره وجهها, والخمر: ما واراك من شجر, وغيره من وهدةٍ, وأكمة, والخامر هو الذي يكتم شهادته؛ [و: خَامِري حضَاجِرُ, أتاك ما تُحَاذِرُ ” يُضْرَبُ للأحمق, وحَضَاجِرُ: علمٌ للضبع, أي: استتر عن النَّاس, ودخل في خمار النَّاس, وغمارهم.

Terdapat empat sebab mengapa disebut khamr. Pertama, karena menutupi akal, kedua, dari kata “khimār” yang bermakna menutupi wanita, ketiga dari “al-khamaru” yang berarti sesuatu yang bisa dipakai bersembunyi dari pohon dan tumbuhan atau dengan kata lain semak-semak, dan yang keempat dari “Khāmir” yang bermakna orang yang menyembunyikan janjinya. (Tafsir al-Lubāb Ibn ‘Aadil, Dar al-Kutb-Bairut TT.  juz 1 hal. 699)

Adapun secara terminologi terdapat berbagai qaul ulama mengenai pengertian khamr. Di dalam tafsir al-Alūsī, disebutkan bahwa makna khamr ialah zat yang memabukkan dan terbuat dari sari anggur atau semua zat (minuman) yang dapat menutupi dan menghilangkan akal.[1] Dengan demikian, seluruh benda yang dimakan, diminum, dihisap, disuntikan dan sebagainya yang memiliki unsur zat yang dapat memabukkan dan menghilangkan akal, maka hukumnya sama saja, yaitu haram. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasalam ketika ditanya Aisyah tentang hal tersebut:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِتْعِ وَهُوَ نَبِيذُ الْعَسَلِ وَكَانَ أَهْلُ الْيَمَنِ يَشْرَبُونَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ شَرَابٍ أَسْكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ

Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berkata, pernah ditanyakan kepada Rasulullah saw. tentang bit’u (minuman keras yang terbuat dari madu dan biasa dikonsumsi penduduk Yaman).” Lantas Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasalam. bersabda, “Semua minuman yang memabukkan hukumnya haram,[2]

Di antara Dalil-dalil Pengharaman Mengonsuminya

…وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

…dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.. [Qs. Al-A’raf 157]

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا  وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…” (QS. Al-Baqarah: 219)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: مَا اَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ. احمد و ابن ماجه و الدارقطنى و صححه 

Dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasalam, beliau bersabda, “Minuman yang dalam jumlah banyak memabukkan, maka sedikitpun juga haram”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Daruquthni, dan dia menshahihkannya)

عَنْ سَعْدِ بْنِ اَبِى وَقَّاصٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص نَهَى عَنْ قَلِيْلِ مَا اَسْكَرَ كَثِيْرُهُ. النسائى و الدارقطنى 

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaiki wasalam melarang meminum meskipun sedikit dari minuman yang (dalam kadar) banyaknya memabukkan”. (HR. Nasai dan Daruquthni)


عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ اَنَّ النَّبِيَّ ص اَتَاهُ قَوْمٌ فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّا نَنْبُذُ النَّبِيْذَ فَنَشْرَبُهُ عَلَى غَدَائِنَا وَ عَشَائِنَا، فَقَالَ: اِشْرَبُوْا فَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّا نَكْسِرُهُ بِاْلمَاءِ، فَقَالَ: حَرَامٌ قَلِيْلُ مَا اَسْكَرَ كَثِيْرُهُ. الدارقطنى

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari datuknya, bahwa Nabi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasalam didatangi suatu qaum, lalu mereka berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami (biasa) membuat minuman keras, lalu kami meminumnya di pagi dan sore hari. Lalu Nabi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Minumlah, tetapi setiap minuman yang memabukkan itu haram”. Kemudian mereka berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami mencampurnya dengan air”. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasalam menjawab, “Haram (walaupun) sedikit dari minuman yang (dalam kadar) banyaknya memabukkan”. (HR. Daruquthni)

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَ مَا اَسْكَرَ اْلفَرَقُ مِنْهُ فَمِلْءُ اْلكَفِّ مِنْهُ حَرَامٌ. احمد و ابو داود و الترمذى و قال حديث حسن

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Setiap minuman yang memabukkan itu haram, dan minuman yang dalam jumlah banyaknya memabukkan, maka segenggam darinya pun haram”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dan Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan”)

Mengonsumsi Ganja Secara mentah

Telah disepakati, bahwa mengonsumsi ganja dengan dijadikan khamr baik dengan cara diminum, dihisap, disuntikan dan lain sebagainya hukumnya haram, karena sifatnya memabukan. Namun bagaimana jika secara mentah, baik dijadikan lalap atau bumbu masakan?

Dalam hal ini ada ada dua pendapat yang berbeda, ada yang mengatakan bahwa ganja dalam masakan tidak bisa dibilang khamr. Sebaliknya ada yang tetap menetapkannya sebagai khamr.

Pendapat pertama

Logikanya, selama daun ganja itu belum diolah menjadi zat yang memabukkan, dan bila dimakan sama sekali tidak menimbulkan efek mabuk dalam arti yang sesungguhnya, kecuali hanya sekedar menambah lezat, maka tidak ada alasan untuk menggolongkannya sebagai khamr.

Sebab efek iskar (mabuk) tidak terjadi, meski dimakan banyak atau sedikit. Sedangkan efek ketagihan tentu bukan illat (penyebab) dari keharaman. Sebab banyak zat lain yang bila diminum atau dimakan bisa membuat orang ketagihan, tetapi bukan termasuk khamr.

Pendapat pertama ini sesuai dengan logika buah kurma dan anggur yang tidak termasuk khamr yang diharamkan, selama masih berbentuk buah aslinya dan belum diolah menjadi khamr. Buah kurma dan anggur adalah bahan baku pembuat khamr di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran :

“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik.” (QS. An-Nahl : 67)

Di masa lalu, khamr dibuat dari perasan buah anggur, kurma atau buah lainnya. Perasan itu tentu saja masih halal diminum, sebab perasan itu belum lagi menjadi khamr, karena belum punya efek memabukkan. Perasan itu dinamakan ‘ashir atau bahasa terjemahannya: juice. Lalu ‘ashir itu diberi ragi agar terjadi fermentasi, sehingga menjadi seperti tape, rasanya akan berubah. Itu pun belum menjadi khamr.

Bila diteruskan satu proses lagi, maka jadilah perasan itu khamr, karena kalau diminum sudah memberi efek mabuk (iskar). Dan minuman itu dinamakan khamr. Tidak ada seorang pun ulama yang mengharamkan kita untuk memakan buah kurma atau anggur, karena keduanya memang tidak akan memabukkan.

Keduanya baru akan memabukkan setelah diproses sedemikian rupa sehingga menghasilkan efek iskar (mabuk) buat para peminumnya. Pada saat berefek memabukkan itu sajalah keduanya menjadi haram diminum. Jadi titik keharaman bukan pada zatnya, melainkan pada pengaruhnya.

Pendapat kedua

Daun ganja itu tetap haram hukumnya, meski digunakan bukan untuk mabuk. Karena secara umum telah digunakan sebagai zat yang memabukkan. Ketika menjadi lintingan yang dihirup asapnya, daun itu adalah khamr dan hukumnya haram dihirup serta najis. Maka sejak masih jadi daun di pohonnya, benda itu sudah dianggap khamr dan najis, meski belum memberi efek mabuk.

Bagi pendapat ini, ketika digunakan untuk bumbu penyedap, tetap terhitung sebagai khamr yang haram hukumnya. Meski tidak menghasilkan efek mabuk.

Hemat kami, pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama, dimana sifat ganja itu ada dua:

  1. Sebagai tanaman biasa yang belum diproses menjadi hasis. (getah yang dikeluarkan dari ganjayang biasa digunakan sebagai obat, baik obat-obatan terlarang untuk mabuk atau obat untuk sebuah penyakit
  2. Ganja yg sudah menjadi hasis dan telah memiliki sifat khamr.

Bagi masyarakat yang sudah terbiasa mengkonsumsinya sebagai lalapan dan lain sebagainya, tanpa kandungan khamr padanya, maka hukumnya boleh. Dengan penggunaan kaidah:

الأصل ﻓِﻰ ﺍلأشياء ﺍﻹﺑﺎﺣﺔ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﻝ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ

“Hukum asal dari sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya (memakruhkannya atau mengharamkannya)” (al Asyba’ wan Nadhoir: 43)

Dengan demikian, pengharaman pengonsumsian ganja jika adanya illat adanya unsur zat yang memabukan yaitu setelah menjadi hasis dan memiliki sifat khamr.

Hukum Menjual Ganja Mentah

Menjual ganja tentunya tidak akan berbeda dengan mengonsumsinya, karena haramnya sesuatu maka haram pula diperjualbelikan. Dalam hal ini tentunya harus melihat Illat yang akan menentukan haram atau tidaknya. Dengan demikian, hukum menjual ganja mentah terdapat tiga aspek:

  1. Jika diketahui Illatnya tidak memabukan dan tujuannya tidak akan dipakai khamr, maka menjual ganja mentah hukumnya boleh.
  2. Jika diketahui Illatnya memabukan dan akan digunakan untuk bahan khamr, maka hukumnya haram.
  3. Jika tidak jelas Illatnya apakah mengandung khamr atau tidak dan ragu apakah akan digunakan untuk khamr atau bukan sehingga tidak dapat dihindari dan disinyalir tidak dapat dihindari penyalahgunaannya, maka lebih tepatnya ditetapkan dengan syadzu dzari’ah, yaitu menjual ganja dalam bentuk apapun adalah haram.

Sebagaimana Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah melarang menjual dan meminum air perasan anggur pada wadah tertentu, namun beliau membolehkannya kembali karena sudah yakin dengan penggunaannya

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ اْلحَنْتَمَةِ، وَ هِيَ اْلجَرَّةُ، وَ نَهَى عَنِ الدُّبَّاءِ وَ هِيَ اْلقَرْعَةُ، وَ نَهَى عَنِ النَّقِيْرِ، وَ هِيَ اَصْلُ النَّخْلِ يُنْقَرُ نَقْرًا وَ يُنْسَحُ نَسْحًا، وَ نَهَى عَنِ اْلمُزَفَّتِ، وَ هُوَ اْلمُقَـيَّرُ، وَ اَمَرَ اَنْ يُنْبَذَ فِى اْلاَسْقِيَةِ. احمد و مسلم و النسائى و الترمذى و صححه

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah saw melarang (minuman pada) hantam, yaitu guci, dan beliau melarang dari dubba’ yaitu labu (waloh yang dihilangkan isinya), melarang (minuman pada) naqir, yaitu batang kurma yang dilubangi atau dikerat, melarang (minum pada) muzaffat, yaitu wadah yang diberi tir, dan (Nabi) menyuruh membuat minuman pada tempat-tempat minuman (biasa). (HR. Ahmad, Muslim, Nasai dan Tirmidzi, dan Tirmidzi mengesahkannya)

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنِ اْلاَشْرِبَةِ اِلاَّ فِى ظُرُوْفِ اْلاَدَمِ، فَاشْرَبُوْا فِى كُلِّ وِعَاءٍ غَيْرَ اَنْ لاَ تَشْرَبُوْا مُسْكِرًا. احمد و مسلم و ابو داود و النسائى

Dari Buraidah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda : “Aku pernah melarang kamu beberapa minuman kecuali (minuman yang) di kantong-kantong kulit yang disamak. Sekarang minumlah (minuman) di semua tempat minuman, tapi jangan kamu minum (minuman yang) memabukkan”. (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Nasai)

 

و فى رواية: نَهَيْتُكُمْ عَنِ الظُّرُوْفِ وَ اِنَّ ظَرْفًا لاَ يُحِلُّ شَيْئًا وَّ لاَ يُحَرِّمُهُ، وَ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ. الجماعة الا البخارى و ابا داود

Dan dalam riwayat lain dikatakan, “Aku pernah melarang kamu beberapa wadah (minuman), namun (ketahuilah) sesungguhnya wadah (itu sendiri) tidak bisa menghalalkan sesuatu dan mengharamkannya dan setiap minuman yang memabukkan itulah yang haram”. (HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Abu Dawud)

 

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ النَّبِيْذِ فِى الدُّبَّاءِ وَ النَّقِيْرِ وَ اْلمُزَفَّتِ، ثُمَّ قَالَ بَعْدَ ذلِكَ: اَلاَ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنِ النَّبِيْذِ فِى اْلاَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوْا فِيْمَا شِئْتُمْ وَ لاَ تَشْرَبُوْا مُسْكِرًا. مَنْ شَاءَ اَوْكَى سِقَائَهُ عَلَى اِثْمٍ. احمد

Dari Anas, ia berkata : Rasulullah saw melarang membuat minuman di dubba’, di lubang kayu, di guci dan di wadah yang dicat. Kemudian sesudah itu, beliau bersabda : “Benar aku pernah melarang kamu membuat minuman di beberapa wadah, namun (sekarang) boleh kamu minum di wadah mana saja yang kamu sukai, tapi janganlah minum minuman yang memabukkan, barang siapa (tetap) menghendaki (minuman yang memabukkan) berarti ia menutupi wadahnya itu dengan dosa”. (HR. Ahmad)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ: اَنَا شَهِدْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص حِيْنَ نَهَى عَنِ النَّبِيْذِ اْلجَرِّ. وَ اَنَا شَهِدْتُهُ حِيْنَ رَخَّصَ فِيْهِ، وَ قَالَ: وَ اجْتَنِبُوْا كُلَّ مُسْكِرٍ. احمد

Dari Abdullah bin Mughaffal RA ia berkata, saya menyaksikan Rasulullah saw ketika beliau melarang membuat minuman pada guci dan saya pun menyaksikan ketika beliau memberi keringanan padanya. Seraya bersabda, “Dan jauhilah setiap minuman yang memabukkan”. (HR. Ahmad)

Keterangan :

Dubba’ ialah labu (waloh) yang dihilangkan isinya. Hantam atau jarrah ialah guci (hijau). Naqir ialah batang (glugu) kurma dilubangi tengahnya, dan muqayyar atau muzaffat ialah wadah yang diberi tir atau yang diberi cat.

Wadah-wadah tersebut pada waktu itu biasa digunakan membuat/menyimpan minuman keras. Oleh karena itu beliau melarangnya menggunakan wadah-wadah tersebut.

Tetapi setelah orang-orang mengetahui dengan jelas tentang haramnya khamr, maka beliau membolehkan minum pada wadah apa saja, asalkan bukan minum minuman yang memabukkan.

Wallaahu A’lam

[1] Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani dalam hlm. 123.

[2] Shahih al-Bukhari, hadits no. 5158.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *