Mustahiq Qurban - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Mustahiq Qurban

5 months ago
1131

 

Jamise Syar'i

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“…Maka makanlah sebahagian daripadanya (daging qurban) dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara (sangat fakir).” (QS. al-Hajj [22]: 28)

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ

“…Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta…” (QS. al-Hajj [22]: 36)

Tafsir Mufradat

‘Ikrimah mengatakan bahwa al-bā`is adalah orang susah yang sedang ditimpa kemalangan, sedangkan al-faqīr adalah orang yang tidak meminta-minta. Senada dengan ‘Ikrimah, Mujahid berpendapat bahwa maknanya adalah orang yang tidak pernah menjulurkan tangannya (untuk meminta-minta). (Tafsīrul-Qur`ānil-‘Azhīm: V/417, tafsir QS al-Hajj [22] : 28). Sederhananya, maksud dari istilah al-bā`isul-faqīr adalah orang yang sangat fakir namun tidak meminta-minta, baik fakir karena penyakit, bencana, maupun kehabisan bekal dalam perjalanan.

al-Qāni’ yaitu orang yang ridla dengan sesuatu yang dimilikinya dan tidak pernah meminta. Meskipun suatu saat ia terpaksa harus meminta untuk memenuhi kebutuhannya, ia tidak pernah memaksa. al-Mu’tarr yaitu orang yang berani meminta untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan terkadang meminta secara memaksa (al-Mufradāt fī Gharībil-Qur`ān hlm. 429 dan 340). Penjelasan ar-Raghib ini sesuai dengan penjelasan Ibn ‘Abbas yang mengatakan bahwa al-qāni’ adalah orang yang tidak meminta-minta sedangkan al-mu’tarr adalah orang yang meminta. (lihat Tafsīrul-Qur`ānil-‘Azhīm: V/429, tafsir QS al-Hajj [22] : 36)

Pemanfaatan Daging Qurban

Kedua ayat dari surat al-Hajj di atas (ayat 28 dan 36) berbicara mengenai mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan daging qurban serta siapa saja yang termasuk mustahiq qurban. Pada kedua ayat di atas terdapat dua fi’il amr (kata perintah) yang ditujukan kepada qurbani/shahibul-qurban (orang yang melaksanakan kurban).

Pertama, kata “kulū” (makanlah). Pada dasarnya, makan merupakan hal yang hukumnya mubah. Namun, pada ayat ini Allah—‘azza wa jalla—memerintahkan untuk makan. Dalam perintah ini, setidaknya ada dua makna yang tersirat: (1) menunjukkan bahwa daging qurban boleh dikonsumsi oleh qurbani dan (2) makan yang biasanya merupakan kebutuhan alami manusia dapat bernilai pahala jika diniatkan untuk memenuhi perintah Allah yang dalam konteks ini adalah perintah memakan daging qurban. Jadi, ini menujukkan bahwa pemanfaatan pertama dari daging qurban adalah untuk dimakan oleh qurbani.

Menurut Ibn Katsir, ulama yang menyatakan bahwa wajib hukumnya qurbani memakan daging kurban merupakan pendapat yang gharīb (menyendiri), sedangkan pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama hukumnya hanya sebatas dianjurkan saja (mustahāb). (lihat Tafsīrul-Qur`ānil-‘Azhīm: V/416, tafsir QS al-Hajj [22] : 28) Selain itu, perintah makan daging qurban ini juga merupakan upaya untuk menjauhi tasyabbuh (menyerupai) kebiasaan musyrikin jahiliyyah yang tidak pernah mau memakan daging hasil persembahan qurban mereka sebagaimana yang diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibrahim an-Nakha’i (Tafsīrul-Qur`ānil-‘Azhīm: V/417, tafsir QS al-Hajj [22] : 28)

Kedua, kata “ath’imū” (berilah makan/bagikanlah). Ini menunjukkan perintah kepada qurbani untuk membagikan atau menyedekahkan sebagian daging qurbannya. Maka, pemanfaatan kedua adalah untuk dibagikan kepada orang lain oleh qurbani. Tidak ada dalil yang sharīh mengenai berapa ukuran daging yang disedekahkan. Sebagian ulama menyatakan setengah bagian dimakan dan setengah lagi disedekahkan. Sebagian lagi menyatakan sepertiga dimakan, sepertiga diberikan sebagai hadiah, dan sepertiga lagi disedekahkan dengan pertimbangan mustahiq qurban yang berjumlah tiga—penjelasan lebih rincinya akan datang in syā`al-`Llāh—. (lihat Tafsīrul-Qur`ānil-‘Azhīm: V/416, tafsir QS al-Hajj [22] : 28)

Mustahiq Qurban

Dari berbagai penjelasan di atas mengenai QS al-Hajj (22) : 28 dan 36, dapat disimpulkan bahwa mustahiq qurban selain qurbani terbagi menjadi tiga gologan dengan kategori:

  1. al-bā`isul-faqīr, yaitu orang yang sangat fakir namun tidak meminta-minta, baik fakir karena penyakit, bencana, maupun kehabisan bekal dalam perjalanan,
  2. al-qāni’, yaitu orang yang tidak meminta baik kondisinya miskin maupun tidak, dan
  3. al-mu’tarr, yaitu orang yang meminta baik kondisinya miskin maupun tidak.

Kategorisasi ini sesuai dengan praktik pembagian daging qurban yang dilakukan oleh Nabi Muhammad—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—dan juga petunjuk beliau kepada para shahabatnya—radliyal-`Llāhu ‘anhum—sebagai orang yang diberi amanat untuk mengurusnya—panitia qurban—. Hal ini dijelaskan dalam perintah beliau kepada  ‘Ali ibn Abu Thalib berikut:

أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا فِى الْمَسَاكِينِ وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئًا

“Sesungguhnya Nabi—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—menyuruhnya untuk mengurus penyembelihan unta beliau (sebagai hewan kurban) dan menyuruhnya untuk membagikan seluruh bagiannya baik berupa daging, kulit, maupun pelananya kepada orang-orang miskin. Dagingnya tidak boleh diberikan kepada tukang potong sedikitpun sebagai upah.” (Shahīh Muslim kitābul-hajj bab fis-shadaqati bi luhūmil-hadyi wa julūdihā wa jilālihā no. 3244)

Pada hadits di atas, mustahiq yang disebutkan hanyalah orang miskin. Meski demikian, dalam riwayat lain, yaitu riwayat Ibn ‘Abbas disebutkan sebagai berikut:

عَنْ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : أَهْدَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ مِائَةَ بَدَنَةٍ نَحَرَ مِنْهَا ثَلَاثِيْنَ بَدَنَةً بِيَدِهِ ثُمَّ أَمَرَ عَلِيًّا فَنَحَرَ مَا بَقِىَ مِنْهَا وَقَالَ اِقْسِمْ لُحُوْمَهَا وَجِلَالَهَا وَجُلُوْدَهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلَا تُعْطِيَنَّ جَزَارًا مِنْهَا شَيْئًا وَخُذْ لَنَا مِنْ كُلِّ بَعِيْرٍ حُذْيَةً مِنْ لَحْمٍ ثُمَّ اجْعَلْهَا فِيْ قِدْرٍ وَاحِدَةٍ حَتَّى نَأْكُلَ مِنْ لَحْمِهَا وَنَحْسُوْ مِنْ مَرَقِهَا فَفَعَلَ

Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: “Rasulullah—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—berkurban dengan 100 ekor unta ketika haji wada’, beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri sebanyak 30 ekor unta, kemudian beliau menyuruh ‘Ali, maka ia menyembelih unta yang tersisa. Beliau bersabda, ‘Bagikan dagingnya, pelananya, dan kulitnya kepada orang-orang dan jangan engkau memberikan sedikitpun kepada tukang potongnya. Ambilkan untuk kami sepotong daging dari setiap ekor itu, kemudian masukkan ke dalam satu periuk sehingga kami memakan dari dagingnya dan minum dari kuahnya.’ Maka ‘Ali pun melaksanakannya.” (Musnad Ahmad: I/311 no. 2359)

Dalam riwayat lain dijelaskan oleh ‘Abdullah ibn Qurth:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُرْطٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ ». قَالَ عِيسَى قَالَ ثَوْرٌ وَهُوَ الْيَوْمُ الثَّانِى. قَالَ وَقُرِّبَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَدَنَاتٌ خَمْسٌ أَوْ سِتٌّ فَطَفِقْنَ يَزْدَلِفْنَ إِلَيْهِ بِأَيَّتِهِنَّ يَبْدَأُ فَلَمَّا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا – قَالَ فَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ خَفِيَّةٍ لَمْ أَفْهَمْهَا فَقُلْتُ مَا قَالَ – قَالَ « مَنْ شَاءَ اقْتَطَعَ »

Dari Abdullah bin Qurth, dari Nabi—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—, beliau bersabda, “Sesungguhnya hari yang teragung di sisi Allah tabaraka wa ta’ala adalah hari Nahr (Hari Raya Kurban), kemudian hari setelah hari Nahr.” Isa berkata; Tsaur berkata, “Yaitu hari kedua.” Ia berkata, “Dan telah didekatkan kepada Rasulullah—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—lima atau enam ekor unta. Unta-unta tersebut mendekat kepadanya, beliau memulai dengan unta yang manapun. Kemudian tatkala telah terjatuh beliau mengucapkan sebuah kalimat yang samar, saya tidak memahaminya. Lalu saya katakan,Apakah yang beliau katakan?” Ia mengatakan, “Siapa yang menginginkan maka boleh ia mengambil sepotong darinya.” (Sunan Abū Dāwūd kitābul-manāsik bāb man naharal-hadya bi yadihi wa-sta’āna bi ghairihi no. 1767)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Nabi—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—tidak membatasi mustahiq qurban hanya faqir miskin saja. Terbukti dari kalimat:

مَنْ شَاءَ اقْتَطَعَ

Siapa yang menginginkan maka boleh ia mengambil sepotong darinya” yang menujukkan bahwa siapapun yang mau pada dasarnya berhak memperoleh daging qurban.

Jadi, intinya selain memakan daging qurban, qurbani boleh memberikan daging qurban kepada fakir miskin baik yang meminta maupun tidak meminta sebagai sedekah dan juga memberikannya sebagai hadiah kepada orang-orang yang tergolong mampu tingkat ekonominya, seperti sanak saudara, tetangga, teman, dsb.

Ukuran Hak Mustahiq

Setelah mengetahui siapa saja mustahiq qurban, maka permasalahan selanjutnya adalah berapa ukuran daging yang berhak diterima oleh mereka. Sebagaimana yang telah disinggung di muka, al-Hafizh Ibn Katsir menyebutkan bahwa ulama berselisih pendapat, ada yang menyatakan ukurannya setengah dan dua pertiga.

Jika diteliti melalui sejarah, pada masa awal-awal hijrahnya Nabi Muhammad—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—(tahun ke-2 hijrah) ke Madinah, kondisi ekonomi umat islam masih mengalami kesulitan. Oleh karena itu, pada saat itu Nabi Muhammad—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—menetapkan aturan bahwa setiap orang yang berqurban tidak boleh mengambil daging qurbannya melebihi keperluan makan tiga hari saja. Hal ini karena mengingat jumlah penerima (mustahiq) jauh lebih banyak dibandingkan yang berqurban (qurbani). Namun ternyata kondisi ini tidak berlangsung lama, terbukti pada tahun berikutnya (tahun ke-3) beliau mampu membangkitkan ekonomi umat muslim di Madinah, sehingga akibatnya jumlah qurbani bertambah banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan hal ini, beliau akhirnya membebaskan setiap orang yang berqurban mengambil bagiannya sesuai dengan ukuran keperluannya. Hal ini sebagaiana diterangkan dalam sabda Nabi—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—berikut:

مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلَا يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَبَقِيَ فِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَيْءٌ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِي قَالَ كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا

Siapa saja di antara kalian yang berqurban, maka janganlah menyisakan daging qurban di rumahnya melebihi tiga hari.” Pada tahun berikutnya orang-orang bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana yang kami lakukan pada tahun lalu?” Beliau bersabda: “Makanlah daging tersebut dan bagikanlah sebagiannya kepada orang lain serta simpanlah sebagian yang lain, sebab tahun lalu orang-orang dalam keadaan susah, oleh karena itu aku bermaksud supaya kalian dapat membantu mereka.” (Shahīh al-Bukhārī kitābul-adlāhī bāb mā yu`kalu min luhūmil-adlāhī wa mā yutazawwadu minhā no. 5569)

Maka, pendapat ulama yang disebutkan oleh Ibn Katsir di atas—baik ukuran sepertiga maupun dua pertiga—tidak menjadi keharusan. Jika pengurusan hewan qurban diserahkan kepada panitia, maka qurbani berhak meminta berapapun bagiannya, namun tetap harus dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan ma’ruf. Hal ini sebagaimana hadits di atas yang menerangkan perintah Nabi Muhammad—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—kepada ‘Ali untuk mengurus hewan qurban miliknya. ‘Ali melaksanakan segala instruksi yang diberikan oleh Nabi—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—sebagai qurbani pada saat itu.

Wal-`Llāhu a’lam bi murādih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *