Kemuliaan Para Sahabat

3 weeks ago
829

Para sahabat Rasul merupakan orang-orang yang sangat spesial dalam pandangan Rasul. Mereka bersama-sama dengan rasul bahu-membahu berjuang dan berdakwah. Suka dan duka dirasakan bersama. Rasulullah saw bisa merasakan psikologis para sahabatnya. Ini bisa dilihat dari beberapa kisah berikut.

Mus’ab bin Umair, dia seorang pemuda kaya raya di kota Makkah, masa remaja ia lalui dengan bergelimang harta keluarganya yang kaya raya. Ketika belum memeluk Islam, Mus’ab tinggal bersama orang tuanya dengan gelimang harta dan kehidupan yang menyenangkan. Makanan dan minuman enak selalu tersaji dan hiasan mewah dengan harga selangit melekat pada tubuhnya. Akan tetapi setelah masuk Islam, semua harta yang dimilikinya dia tinggalkan demi menempuh dakwah bersama Nabi, meski harus hidup menderita.    

Suatu ketika Mus’ab bin Umair berjalan di depan masjid memakai pakaian yang lusuh dan banyak tambalan. Di masjid, Rasulullah dan para sahabat pun memperhatikannya. Badan Mus’ab terlihat lebih kurus dibandingkan sebelumnya. Air mata Rasul terlihat di pelupuk matanya, membayangkan penderitaan yang dialami sahabatnya itu.

Rasul tahu persis kehidupan Mus’ab pada masa lalu. Namun demi kebenaran Islam, Mus’ab rela menanggalkan itu semua. Menggapai cinta Allah dan Rasul-Nya lebih penting baginya dari bergelimangnya harta dan kenikmatan dunia. Rasulullah merasakan penderitaan yang dirasakan sahabatnya. Lalu beliau berempati kepadanya. Karena bagi Nabi Muhammad saw, para sahabatnya seperti saudaranya sendiri.

Mush’ab menjadi salah satu yang syahid di medan perang, tepatnya di perang Uhud. Pada saat itu kain kafan yang hendak menutupi jasadnya tidak cukup, hanya ada satu helai, ukurannya pun terlalu pendek. Jika ditarik untuk menutupi wajahnya, bagian kakinya akan terlihat. Begitu pun sebaliknya, jika ditutup bagian kakinya, bagian wajahnya akan terlihat. Masalah ini pun segera dilaporkan kepada Rasulullah saw. Melihat hal itu, rasul langsung menangis. Rasulullah saw bersabda, “Letakkanlah kain untuk menutup bagian kepalanya. Adapun bagian kakinya, tutuplah dengan rumput idzkhir.” (HR. Muslim)

Muhammad saw sangat dekat dengan para sahabat dan sangat peka terhadap mereka, sehingga memahami dan merasakan kondisi yang dialami para sahabatnya itu. Kesedihan sangat terasa dalam lubuk hatinya pada saat menyaksikan atau mendengar sahabatnya tertimpa musibah. Air matanya mudah sekali mengalir.

Pada sebuah kesempatan, Sa’ad bin Ubadah bertanya kepada Rasul yang menangis karena sejumlah sahabatnya meninggal dunia di medan jihad. “Wahai Rasulullah, engkau menangis? Beliau menjawab, “Ini adalah rasa kasih sayang yang Allah Swt letakkan di hati hamba-hamba-Nya.”

Hamba-hamba yang dikasihi Allah, jelas dia, hanyalah mereka yang mempunyai rasa kasih sayang. Demikian kisah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari. Dengan melihat hal ini, Ibnu Qayyim mengatakan, jiwa yang mulia tak rela terhadap kezaliman, kekejian, dan khianat.

Sikap empati yang diungkapkan Rasul dalam interaksi dengan para sahabatnya membekas bagi mereka. Sahabat-sahabat bahkan mengambil hikmah dan pelajaran serta mempraktikkan sifat mulia itu dalam kehidupan sehari-hari. Mereka ikut merasakan kesedihan, kepedihan dan dukacita yang dirasakan orang lain. Lebih dari itu, siap berkorban.

Abu Sufyan memberi tawaran untuk Zaid bin Datsinah sebelum nyawanya melayang. “Zaid, sukakah kau kalau Muhammad menggantikan posisimu, sedangkan kau berada di tengah keluargamu?” Dengan tegas, ia menukas, “Demi Allah, aku tidak akan rela kalau Muhammad tertusuk duri di tempatnya sekarang, sedang aku berada di tengah keluargaku.”

Mendengar jawaban itu, Abu Sufyan mengatakan, “Dia tidak mengetahui ada cinta yang mungkin melebihi kecintaan sahabat Muhammad terhadap dirinya, bahwa Muhammad sangat menyayangi para sahabatnya.”

Dalam peristiwa lain, Bilal yang tak gentar menghadapi ajalnya, mengungkapkan kegembiraan di tengah kesedihan istrinya yang menyaksikan Bilal dalam keadaan menghadapi ajalnya yang tinggal menunggu waktu.

Sang istri mengatakan, “Alangkah menyedihkan dirinya.” Namun, Bilal berkata, “Tidak, aku amat senang. Aku akan bertemu dengan Nabi Muhammad dan para sahabat. Ikut merasakan duka atau perasaan orang lain memiliki kedudukan yang mulia.”

Dari sini kita bisa melihat bagaimana keutamaan para sahabat dalam pandangan Islam. Terlebih Rasul sendiri sangat menyayangi para sahabat. Ini terbukti bagaimana rasul sangat sedih ketika melihat sahabatnya menderita. Nabi dan para sahabat saling berempati satu sama lainnya.

Sungguh miris jika hari ini masih ada yang menyepelekan para sahabat, menganggap bahwa sahabat tidak ada apa-apanya. Bahkan menghina, mencaci para sahabat dan lebih kejam lagi ada yang menganggap kafir kepada sebagian para sahabat. Padahal para sahabat hidup bersama Nabi. Yang tentunya ilmu-ilmu agama telah disampaikan Nabi kepada para sahabat. Dan para sahabat pula yang sangat memahami maksud ucapan, perbuatan, dan persetujuan Nabi, yang kita kenal dengan istilah sunnah. Sehingga pemahaman-pemahaman syariat agama bisa kita peroleh pada masa ini.

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah : 20)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *