Perlukah Memukul Anak ? - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Perlukah Memukul Anak ?

3 weeks ago
1226

Dunia pendidikan kembali dikejutkan oleh kasus seorang anak yang meninggal karena kekerasan fisik (dipukuli), disebabkan ketidaksabaran seorang ibu membersamai anak saat pembelajaran daring (dalam jaringan/online). Tentu saja banyak argumen bermunculan, terlepas dari sistem daring itu sendiri. Namun dalam mendidik anak, perlukah kita memukul mereka? Permasalahan ini harus dipahami orang tua atau pendidik agar tindakan yang dia lakukan untuk anak sesuai dengan kesalahan yang dilakukan sang anak, sehingga ada rasa jera terhadap kesalahan/dosa yang dia lakukan. Hukuman yang diberikan kepada sang anakpun harus sesuai dengan latar belakang karakter anak. Karena, tidak setiap kesalahan harus diberlakukan hukuman fisik. Ada beberapa tahapan dalam memberikan hukuman kepada sang anak.

Konsep Islam tidak pernah berubah, namun kesalahan ada pada diri kita orang tua atau pendidik dalam menerapkan konsep tersebut. Karena, tujuan dalam pemberian hukuman pada anak adalah melahirkan generasi yang berdab dan ber-akhlaqul karimah (pebuatan terpuji). Hukuman dalam pendidikan Islam harus didasari kelembutan, rasa kasih sayang, ada hikmah dari nasehat yang diberikan sehingga melahirkan faedah yaitu arahan perbaikan sikap, bukan untuk melampiaskan dendam, amarah atau kekesalan pada sang anak. Hukuman juga harus menjadi motivasi bagi anak agar paham terhadap kesalahan yang dia lakukan, sehingga sang anak mau memperbaiki kesalahan, kembali kepada kebenaran dan bersabar dalam menanggung akibat dari kesalahan yang dia lakukan.

Ada beberapa konsep yang harus diperhatikan orang tua atau pendidik dalam memberikan hukuman pada sang anak, diantaranya :

  1. Bersikap lemah lembut dalam memberikan hukuman. Allah SWT berirman :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ–

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (Q.S Ali Imran [3] : 159).

  1. Memberikan nasehat. Rasulullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasehat dan petunjuk kepada Umar bin Abi Salamah ketika sedang makan :

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Artinya, “Nak, sebutlah nama Allah. Makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu” (HR Bukhari-Muslim).

  1. Respek terhadap kesalahan yang dilakukan sang anak. Ketika melihat suatu kesalahan dilakukan oleh seorang anak, maka orang tua atau pendidik harus secepatnya menghentikan perbuatan tersebut.
  2. Berikan hukuman fisik bila diperlukan. Dan segera hentikan hukuman bila sang anak memohon ampun kepada Allah SWT.

Hukuman fisik harus berfaedah, tidak diberikan secara belebihan (melampiaskan amarah) ataupun kurang sehingga tidak ada manfa’at dari hukuman tersebut, dan harus efektif sesuai dengan tuntunan syari’at Islam. Hukuman fisik dilakukan bila seorang anak melakukan kemaksiatan atau meninggalkan perintah Allah, dan ini dilakukan bila semua hukuman sudah tidak berpengaruh dan sebaiknya diberikan kepada anak yang sudah menginjak usia baligh, maksimal hanya tiga kali pukulan. Itupun bertujuan untuk mendidik, bukan untuk menyakiti. Maka, hukuman fisik menjadi solusi terakhir dalam mendidik sang anak agar ta’at kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda :

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ  (وصححه الألباني في “الإرواء”، رقم 247

Artinya : “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa’u l-Ghalil, no. 247).

Dalam menerapkan hukuman fisik ada beberapa teknis dan ketentuan yang harus diperhatikan terutama dalam konsep memukul anak. Pertama, berikan penjelasan mengapa dia dipukul? Sehingga sang anak  paham dan sadar atas kesalahan atau dosa yang dia lakukan. Kedua, tidak boleh memukul wajah dan kemaluan. Karena pukulan pada wajah baik itu tamparan akan memberikan efek negatif, cacat yang nampak sehingga membuat anak merasa malu atau trauma. Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian memukul saudaranya maka hendaknya dia menghindari memukul wajah” (HR. Muslim 2616 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu secara marfu’).

Ketiga, tidak boleh memukul kepala. Para ulama bersepakat tentang ketidakbolehan memukul kepala, karena sangat rawan dan dapat menimbulkan kerusakan pada otak. Keempat, alat yang digunakan untuk memukul adalah alat yang tidak terlalu keras dan lebih baik tidak menggunakan alat contoh tangan itupun tidak dengan pukulan yang keras. Kelima, harus ada jeda pukulan dan tidak sampai memberikan bekas luka. Keenam, jangan memukul karena marah. Karena pukulan yang disertai kemarahan tidak bertujuan mendidik hanya meluapkan emosi yang ditakutkan akan menimbulkan perilaku lepas kontrol (menyakiti).

Tentu saja hukuman fisik diberikan kepada sang anak bila motivasi, nasehat, dan kelembutan sudah tidak berpengaruh. Atau bila hukuman fisik menjadi solusi terakhir yang dapat membuat jera sang anak sehingga berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan kesabaranlah kunci utama dalam mendidik anak kita, karena apapun hukuman yang kita terapkan terhadap kesalahan yang diperbuat sang anak, tidak akan bermanfaat bila tidak didasari kesabaran. Wallahu ‘alam bish-shawab

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *