Krisis Prancis - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Krisis Prancis

3 weeks ago
1148

Mata dunia sedang tertuju pada Presiden Prancis, Emanuel Macron, yang menurut Erdogan, Presiden Turki, mengidap penyakit mental. Diduga penyakit mental itu adalah Islamophobia (kebencian terhadap Islam). Menurut laporan dari CNN Indonesia, polemik itu dimulai sejak awal Oktober. Saat itu Macron menyampaikan pernyataan tentang ancaman kelompok radikal Muslim yang ingin mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekularisme di Prancis. “Ada kelompok radikal Islam, sebuah organisasi yang mempunyai metode untuk menentang hukum Republik dan menciptakan masyarakat secara paralel untuk membangun nilai-nilai yang lain,” kata Macron saat itu. Tidak lama setelah menyampaikan pernyataan itu, sebuah tragedi terjadi pada 16 Oktober. Seorang guru sejarah di Prancis, Samuel Paty (47), dipenggal di daerah Eragny oleh seorang pemuda pendatang dari Chechnya, Abdoullakh Abpuyezidovitch (18). Pemicunya adalah dia sempat membahas tentang kartun Nabi Muhammad shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam di dalam kelas kemudian menuai kontroversi.

Jamise Syar'i

Setelah kejadian itu, Macron langsung mendatangi lokasi. Dia menyatakan pelaku adalah seorang radikal Muslim. Dia menyebut Paty sebagai martir karena mengajarkan kebebasan berpendapat. Dia juga langsung memerintahkan supaya aparat keamanan mengawasi sejumlah organisasi masyarakat Muslim, dan menutup masjid yang diduga menyebarkan paham radikal. Tidak lama berselang, Macron kembali memantik perdebatan setelah pernyataan pada Jum’at (23/10). Dia mengatakan Islam adalah “agama yang mengalami krisis di seluruh dunia” (m.cnnindonesia.com).

Menurut CNCDH’s 2005 Annual Report on Combating Racism, Anti-Semitism, and Xenophobia telah ada total 352 tindak kekerasan dan ancaman terhadap Muslim di Prancis selama kurun tahun 2004 saja (EUMC, Muslims in the European Union: Discrimination and Islamophobia, 2006: 73-74). Tindakan diskriminasi dan intoleransi itu ternyata tidak surut di setiap tahunnya. Di tahun 2016 pun sampai terjadi pelarangan pemakaian burkini (pakaian pantai yang menutup aurat bagi muslimah) yang dilakukan oleh pemerintah Prancis. Maka kontroversi di penghujung tahun 2020 ini semakin membuka mata dunia atas kebobrokan pemerintahan yang menjunjung tinggi sekularisme dan liberalime.

Pernyataan dari seorang kepala negara yang memicu kebencian itu sontak membuat dunia geger. Aksi penolakan atau boikot terhadap Prancis terus bermunculan di seantero jagat Islam. Tanpa terkecuali pemerintah Indonesia pun telah menyatakan sikapnya, melalui Kemenlu, untuk mengecam pernyataan Presiden Prancis tersebut dengan memanggil Duta Besar Prancis di Jakarta (27/10), setelah ormas-ormas Islam yang diwakili MUI meminta pemerintah menyampaikan sikapnya (26/10). Jamak diketahui bahwa sebenarnya bukan soal pernyataan Macron saja yang bermasalah, tapi sikapnya yang sengaja membiarkan penistaan kepada Nabi Muhammad shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam. Setelah kejadian Paty, Pemerintah Prancis malah semakin berani dengan menayangkan kartun Nabi Muhammad shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam di tengah khalayak umum dengan menggunakan proyektor ke gedung pemerintahannya selama empat jam pada Rabu malam, 21 Oktober 2020. Sakitnya ga ada obat.  Ini tentu merupakan permusuhan dan penyerangan terhadap Islam.

Tidak bisa dipungkiri bahwa permusuhan terhadap Islam (Islamophobia) ini dengan menyematkan atribut radikal, ekstrimis, dan lain sebagainya merupakan buntut panjang atas pembenaran teori Clash of Civilization (benturan peradaban, CoC) dari Samuel P. Huntington. Yaitu identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama. Ia menyebut,

We know who we are only when we know who we are not and often only when we know whom we are against. Kita tahu siapa kita hanya jika kita tahu siapa kita sebenarnya dan seringkali hanya jika kita tahu siapa yang kita lawan (The Clash of Civilization and The Remaking of World Order, 1996: 21).

Ini terbukti pasca perang dingin antara blok barat yang diwakili oleh Amerika Serikat dan blok timur yang diwakili oleh Soviet berakhir, maka peradaban Islam dicurigai akan jadi pesaing bagi sang pemenang (Barat), the last man. Ketakutan akan ancaman ini, salah satunya, diakui oleh Modris Ekstein seperti dikutip oleh Francis Fukuyama sebagai berikut:

Benar bahwa Islam merupakan ideologi yang sistematis dan koheren, seperti halnya liberalisme dan komunisme, dengan kode moralitas dan doktrin keadilan politik dan sosialnya sendiri. Daya tarik Islam berpotensi universal, menjangkau semua orang, dan tidak hanya untuk anggota kelompok etnis atau nasional tertentu. Dan Islam memang telah mengalahkan demokrasi liberal di banyak bagian dunia Islam, menjadi ancaman besar bagi praktik liberal bahkan di negara-negara yang belum mencapai kekuasaan politik secara langsung. Berakhirnya Perang Dingin di Eropa segera diikuti oleh tantangan terhadap barat dari Iraq, di mana Islam bisa dibilang sebagai sebuah faktor (The End of History and The Last Man, 1992: 45-46).

Tragedi 911 (Sebelas September) tahun 2001 silam terbukti menandai awal benturan peradaban yang ternyata sudah ‘diantisipasi’ oleh Barat sebelumnya, jauh-jah hari. Efek dari tragedi tersebut ialah munculnya stigmatisasi terhadap Islam sebagai teroris, atau setidaknya berpaham ekstrimis. Penyakit Islamofobia yang hari ini terjadi merupakan buah dari pohon kebencian yang telah ditanam oleh orientalisme sejak berabad-abad silam. Edward Said (Orientalism, 1979) telah membongkar akar dari orientalisme yang tidak lebih merupakan akumulasi dari perasaan superioritas Barat, yang menganut sekularisme dan liberalisme, sebagai peradaban yang bertanggungjawab untuk merepresentasikan Timur secara umum, dan Islam secara khusus. Islam dicurigai sebagi agama kaum barbar dan terbelakang (ignorance).

Layaknya iblis membenci manusia pada mulanya diawali atas dasar kesombongan. Merasa diri paling tinggi di antara makhluk lainnya, dan pada akhirnya menolak kebenaran. Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan (sesama) manusia” (Muslim, Bab Tahrim l-Kibri wa Bayanihi no. 134).

Menurut Jhon. L. Esposito, Islamofobia, yang menjadi kanker sosial, harus diakui dan tidak dapat diterima seperti halnya anti-Semitisme, sebuah ancaman bagi tatanan cara hidup pluralistik demokratis kita. Ancaman dan tanggapan yang berkelanjutan terhadap terorisme global ditambah dengan kebangkitan xenofobia dan rasisme budaya mangancam jalinan demokrasi di Barat dan warga Muslim mereka (Islamophobia: The Challenge of Pluralism in The 21st Century, 2011:xxxiv).

Teringat tragedi pengeboman di Paris tahun 2015 silam, orang-orang di seluruh dunia ramai mengunggah gambar bendera Prancis dengan kata-kata Save Paris. Maka dengan adanya tindakan kontroversial yang bernada kebencian terhadap Islam (Islamofobia) hari ini pun, warga dunia seharusnya melakukan hal yang sama. Save Islam, Save France!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *