Ketentuan Wudlu dan Iqamat bagi Muadzdzin - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Ketentuan Wudlu dan Iqamat bagi Muadzdzin

2 months ago
122

وَلَهُ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَا يُؤَذِّنُ إِلَّا مُتَوَضِّئٌ وَضَعَّفَهُ أَيْضًا.

Riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah—semoga Allah meridlainya—bahwasanya Nabi—shalawat dan salam senantiasa tercurah untuknya—bersabda: “Tidak adzan melainkan yang berwudlu.” At-Tirmidzi mendla’ifkannya juga.

 

Jamise Syar'i

Tautsiq Hadits

Imam at-Tirmidzi menuliskan hadits di atas dalam Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi karahiyatil-adzan bi ghairi wudlu no. 200-201 dari dua sanad: Pertama, al-Walid ibn Muslim, dari Mu’awiyah ibn Yahya, dari az-Zuhri, dari Abu Hurairah secara marfu’ dari Nabi saw. Kedua, Ibn Wahab, dari Yunus, dari az-Zuhri, dari Abu Hurairah secara mauquf dari pernyataan Abu Hurairah sendiri, bukan sabda Nabi saw. Imam at-Tirmidzi menjelaskan:

وَحَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ لَمْ يَرْفَعْهُ ابْنُ وَهْبٍ، وَهُوَ أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ الوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ وَالزُّهْرِيُّ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

Hadits Abu Hurairah tidak dimarfu’kan oleh Ibn Wahb. Tetapi hadits ini lebih shahih daripada hadits al-Walid ibn Muslim, meskipun az-Zuhri tidak mendengar dari Abu Hurairah.

Imam at-Tirmidzi menjelaskan fiqihnya sebagai berikut:

وَاخْتَلَفَ أَهْلُ العِلْمِ فِي الأَذَانِ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ، فَكَرِهَهُ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ، وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ، وَإِسْحَاقُ وَرَخَّصَ فِي ذَلِكَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ، وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ، وَابْنُ المُبَارَكِ، وَأَحْمَدُ

Para ulama berbeda pendapat dalam hal adzan tidak punya wudlu. Sebagian ulama membencinya dan itulah pendapat as-Syafi’i dan Ishaq, sementara sebagian ulama lainnya memberikan rukhshah dan itu adalah pendapat Sufyan, Ibnul-Mubarak, dan Ahmad.

Jadi Imam at-Tirmidzi menilai hadits di atas kedua-duanya terputus sanadnya karena az-Zuhri tidak pernah menerima hadits dari Abu Hurairah. Meski secara kedudukannya sanad Ibn Wahb yang mauquf sampai Abu Hurairah lebih shahih daripada sanad al-Walid ibn Muslim yang marfu’ dari Nabi saw. Dan Imam as-Syafi’i juga Ishaq ibn Rahawaih menjadikannya sebagai hujjah meskipun secara sanad terputus, yakni bahwa muadzdzin tidak boleh adzan kecuali dalam keadaan sudah berwudlu.

 

Syarah Hadits

Kedudukan hadits dla’if yang dla’ifnya sebatas terputus sanad karena tidak mendengar langsung, bagi Imam as-Syafi’i tidak menyebabkannya tidak bisa dijadikan hujjah, terlebih jika tidak ada hadits lain yang menentangnya, maka dari itu beliau menjadikannya sebagai hujjah. Akan tetapi tentu menjadikan hadits yang jelas ada dla’ifnya sebagai hujjah tidak bisa menjadikan kedudukan fiqihnya kuat. Jadi mendudukkan wudlu sebagai syarat bagi muadzdzin status fiqihnya tidak bisa dinyatakan valid sepenuhnya.

Meski demikian dikembalikan pada hadits yang umum bahwa Nabi saw tidak menyukai berdzikir dalam keadaan tidak suci. Kedudukannya tidak sampai haram atau tidak sah, hanya tidak disukai atau makruh. Jadi sebagai adab, seorang muadzdzin hendaknya sudah memiliki wudlu terlebih dahulu karena adzan adalah dzikir. Jika seandainya ia lupa dan adzan sebelum sempat berwudlu maka adzannya tetap sah. Ketika Nabi saw selesai kencing dan ada yang salam kepada beliau, tidak dijawabnya langsung melainkan beliau berwudlu terlebih dahulu baru menjawab salam. Pada saat itu beliau memberikan pengajaran adab bersuci sebelum berdzikir.

عَنِ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ أَنَّهُ أَتَى النَّبِىَّ وَهُوَ يَبُولُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ ثُمَّ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ إِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ  إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ أَوْ قَالَ عَلَى طَهَارَةٍ

Dari al-Muhajir ibn Qunfudz, bahwasanya ia mendatangi Nabi saw ketika beliau sedang kencing. Ia salam kepada beliau, tetapi tidak dijawab sampai beliau selesai berwudlu. Kemudian beliau menjelaskan alasannya: “Sungguh aku tidak suka berdzikir kepada Allah awj kecuali dalam keadaan suci.” (Sunan Abi Dawud kitab at-thaharah bab a yuraddus-salam wa huwa yabulu no. 17).

 

وَلَهُ عَنْ زِيَادِ بْنِ الْحَارِثِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ. وَضَعَّفَهُ أَيْضًا

Riwayat at-Tirmidzi dari Ziyad ibn al-Harits—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam senantiasa tercurah untuknya—bersabda: “Siapa yang adzan maka ia mengumandangkan iqamat.” At-Tirmidzi mendla’ifkannya juga.

وَلِأَبِي دَاوُدَ: فِي حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ قَالَ: أَنَا رَأَيْتُهُ يَعْنِي: الْأَذَانَ وَأَنَا كُنْتُ أُرِيدُهُ، قَالَ: فَأَقِمْ أَنْتَ. وَفِيهِ ضَعْفٌ أَيْضًا

Riwayat Abu Dawud dalam hadits ‘Abdullah ibn Zaid—semoga Allah meridlainya—bahwasanya ia berkata: Aku bermimpi adzan dan aku menginginkannya, beliau bersabda: “Kamu silahkan iqamat.” Di dalamnya ada dla’if juga.

 

Tautsiq Hadits

Imam at-Tirmidzi menuliskan hadits Ziyad ibnul-Harits di atas dalam Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a anna man adzdzana fa huwa yuqimu no. 199 dengan sanad dari ‘Abdurrahman ibn Ziyad ibn An’um al-Ifriqi. Matan yang dituliskannya sedikit lebih panjang, dimana pada suatu waktu shubuh Bilal sedang tidak ada, maka Nabi saw memerintahkan Ziyad ibnul-Harits untuk adzan. Setelahnya Bilal kemudian datang dan ketika ia hendak iqamat, Nabi saw melarangnya dengan menyatakan: “Saudara dari Shuda (Ziyad ibnul-Harits as-Shuda`i) sudah adzan. Siapa yang adzan maka ia mengumandangkan iqamat.” Imam at-Tirmidzi menjelaskan kedudukan haditsnya:

وَحَدِيثُ زِيَادٍ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ الْإِفْرِيقِيِّ. وَالْإِفْرِيقِيُّ هُوَ ضَعِيفٌ عِنْدَ أَهْلِ الحَدِيثِ، ضَعَّفَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ القَطَّانُ وَغَيْرُهُ. قَالَ أَحْمَدُ: لَا أَكْتُبُ حَدِيثَ الْإِفْرِيقِيِّ. وَرَأَيْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ يُقَوِّي أَمْرَهُ، وَيَقُولُ: هُوَ مُقَارِبُ الحَدِيثِ

Hadits Ziyad hanya kami ketahui dari hadits al-Ifriqi, dan al-Ifriqi ini dla’if menurut para ulama hadits. Yahya ibn Sa’id al-Qaththan dan lainnya mendla’ifkannya. Imam Ahmad menyatakan: Aku tidak menuliskan hadits al-Ifriqi. Tetapi aku (at-Tirmidzi) melihat Muhammad ibn Isma’il (al-Bukhari) menguatkan kedudukannya dan berkata: Dia muqarib hadits (haditsnya mendekati kualitas hadits rawi tsiqat).

Sementara hadits ‘Abdullah ibn Zaid yang mempersilahkannya untuk iqamat sesudah Bilal adzan dituliskan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud bab fir-rajul yuadzdzinu wa yuqimu akharu no. 512. Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan kedla’ifannya dalam at-Talkhishul-Habir dengan menyatakan bahwa salah seorang rawinya, Muhammad ibn ‘Amr al-Waqifi seorang rawi dla’if. Rawi yang menjadi sumber beritanya juga tidak jelas apakah bernama Muhammad ibn ‘Abdillah ataukah ‘Abdullah ibn Muhammad. Imam al-Bukhari sendiri menilainya ‘Abdullah ibn Muhammad, dan sanad ‘Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abdullah ibn Zaid, dari bapaknya (Muhammad), dari kakeknya (shahabat ‘Abdullah ibn Zaid) terputus karena tidak pernah saling mendengar hadits langsung (at-Talkhishul-Habir bab al-adzan no. 310).

 

Syarah Hadits

Berdasarkan data di atas jelaslah bahwa kedua hadits di atas statusnya sama-sama dla’if. Maka dari itu kembali ke hukum asal “tidak ada ketentuan” (al-ashlu bara`atudz-dzimmah). Apakah yang adzan dan iqamat orang yang sama ataukah orang yang berbeda, kedua-duanya dibolehkan.

Sementara bagi ulama yang menilai dua hadits dla’if di atas bisa dijadikan hujjah karena dua-duanya tidak parah dla’ifnya menilai bahwa hadits Ziyad ibnul-Harits hukumnya bersifat umum, yakni bahwa secara umum yang adzan itu adalah yang iqamat. Meski demikian diperbolehkan juga jika yang iqamat orang yang berbeda dengan yang adzan seperti hadits ‘Abdullah ibn Zaid (Tuhfatul-Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi).

 

 

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: الْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ، وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ. رَوَاهُ ابْنُ عَدِيٍّ وَضَعَّفَهُ

Dari Abu Hurairah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam senantiasa tercurah untuknya—bersabda: “Muadzdzin berkuasa dengan adzan, sementara imam berkuasa dengan iqamat.” Ibn ‘Adiy meriwayatkannya dan mendla’ifkannya.

وَلِلْبَيْهَقِيِّ نَحْوُهُ: عَنْ عَلِيٍّ مِنْ قَوْلِهِ

Dalam riwayat al-Baihaqi seperti itu dari ‘Ali dari pernyataannya (bukan sabda Nabi saw).

 

Tautsiq Hadits

Imam Ibn ‘Adiy meriwayatkan hadits di atas dalam kitabnya, al-Kamil fi Dlu’afa`ir-Rijal (kitab sempurna tentang rawi-rawi yang dla’if) dalam tarjamah Syarik ibn ‘Abdillah ibn al-Harits al-Qadli. Imam Ibn ‘Adiy menilai hadits ini dla’if karena Syarik menyendiri dalam periwayatannya dari al-A’masy dan berbeda dengan rawi-rawi lain yang sama meriwayatkan dari al-A’masy. Syarik sendiri menurut Ibn Hajar seorang rawi yang shaduq yukhthi`u katsiran (jujur teetapi banyak keliru). Jadi ketika riwayatnya berbeda dengan rawi-rawi lain yang menerima dari guru yang sama maka statusnya lemah (syadz) dan tidak kuat (mahfuzh). Rawi-rawi lain yang menerima dari al-A’masy meriwayatkan sebagai berikut:

الإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ

Imam itu pemberi jaminan, sementara muadzdzin yang mendapatkan kepercayaan (pelaksana). Ya Allah berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para muadzdzin (al-Kamil fi Dlu’afa`ir-Rijal dalam tarjamah Syarik ibn ‘Abdillah ibn al-Harits al-Qadli).

Imam al-Baihaqi sendiri meriwayatkan hadits “imam berkuasa dengan iqamat” di atas secara mauquf pada pernyataan ‘Ali ibn Abi Thalib ra dalam as-Sunanul-Kubra bab la yuqimul-muadzdzin hatta yakhrujal-imam no. 2279. Beliau menilai riwayat mauquf tersebut bisa dijadikan hujjah.

 

Syarah Hadits

Hadits di atas dijadikan dasar fiqih dalam madzhab as-Syafi’i bahwa muadzdzin tidak boleh iqamat sehingga imam sudah hadir. Jika muadzdzin diperkenankan adzan meski belum ada imam, maka ketika akan iqamat ia harus memastikan bahwa imam sudah hadir dan siap mengimami. Akan tetapi ada hadits yang menginformasikan bahwa Bilal pernah iqamat meski Nabi saw belum hadir ke masjid. Abu Hurairah ra menceritakan:

أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَقُمْنَا فَعَدَّلْنَا الصُّفُوفَ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَتَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى إِذَا قَامَ فِى مُصَلاَّهُ قَبْلَ أَنْ يُكَبِّرَ ذَكَرَ فَانْصَرَفَ وَقَالَ لَنَا مَكَانَكُمْ. فَلَمْ نَزَلْ قِيَامًا نَنْتَظِرُهُ حَتَّى خَرَجَ إِلَيْنَا وَقَدِ اغْتَسَلَ يَنْطِفُ رَأْسُهُ مَاءً فَكَبَّرَ فَصَلَّى بِنَا

Iqamat shalat dikumandangkan. Kami lalu berdiri dan meluruskan shaf sebelum Rasulullah saw keluar kepada kami. Kemudian Rasulullah saw datang dan ketika sudah di tempat shalatnya sebelum takbir beliau baru teringat dan berpaling sambil berkata: “Tunggu di tempat kalian”. Kami terus menunggu sambil berdiri sehingga beliau keluar kepada kami dan beliau sudah mandi. Kepala beliau juga masih basah dengan air. Beliau lalu takbir dan shalat mengimami kami (Shahih Muslim bab mata yaqumun-nas lis-shalat no. 1397)

Mengenai fiqih hadits ini, menurut Imam an-Nawawi, berarti sekali-kali pernah Bilal mengumandangkan iqamat meskipun Nabi saw belum keluar dari rumahnya, tetapi tentunya didasarkan pada pengetahuan Bilal bahwa Nabi saw ada dan sudah siap mengimami shalat. Meski kemudian ternyata Nabi saw mandi dahulu dan makmum menunggu beliau. Sikap Nabi saw yang tidak menegur apalagi menyalahkan Bilal menunjukkan bahwa hal itu diperbolehkan. Maka dari itu para ulama menjelaskan hikmah iqamat dikumandangkan setelah imam hadir dan siap mengimami agar makmum tidak lama menunggu (Syarah Shahih Muslim).

Wal-‘Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *