Ulama Versus Umara - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Ulama Versus Umara

3 weeks ago
500

Adalah sebuah fakta jika sebagian umat Islam Indonesia menilai Pemerintahan Jokowi tidak bersahabat dengan ulama. Aksi 212 pada 2016 silam adalah perlawanan nyata dari sekelompok ulama dan umat yang memosisikan diri sebagai musuh Pemerintah, yang kemudian berlanjut pada polarisasi politik dalam Pilpres 2019. Meski ini tidak bisa dijadikan kesepakatan bulat karena Muhammadiyah dan NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia tidak memosisikan diri di barisan umat Islam 212, sehingga tidak heran kalau kemudian mereka selalu mendapatkan perlakuan istimewa dari Pemerintahan Jokowi. Termasuk ketika Pemerintah secara berani membubarkan HTI dan FPI, ormas Islam tidak sepenuhnya bulat mendukung atau menolak. Pemerintahan Jokowi tampak jelas sedang memainkan politik belah bambu; mengistimewakan sebagian ulama dan memojokkan sebagian ulama lainnya.

Model pemerintahan yang dijalankan oleh Pemerintah Jokowi sudah masuk kategori Pemerintah zhalim. Terlepas dari bagaimana aliran keagamaan yang dianut oleh HTI atau FPI, yang jelas keduanya bukan aliran sesat sebagaimana Syi’ah dan Ahmadiyah. Keduanya juga tidak merongrong kekuasaan Pemerintah, selain sedikit keras dalam melakukan da’wahnya semata. Sementara itu ormas-ormas yang berhaluan sesat seperti Syi’ah dan Ahmadiyah, atau yang berhaluan sekuler seperti para penganjur LGBT, tidak ada satu pun yang dibubarkan. Padahal bahaya aliran mereka untuk Pancasila dan UUD 1945 sangat nyata. Untuk ormas-ormas yang haluannya sesat dan sekuler, Pemerintah selalu berdalih tidak boleh mencampuri urusan keagamaan dan prinsip kebebasan masyarakat, sementara untuk ormas-ormas yang meneriakkan syari’at Islam dalih-dalih demokrasi dan kebebasan masyarakat sipil ini seakan-akan tidak pernah ada.

Jamise Syar'i

Pemilihan Menteri Agama yang sebelum reshuffle dan yang sesudahnya juga menggambarkan bagaimana zhalimnya Pemerintahan saat ini. Menteri Agama sebelumnya selalu membidik kelompok-kelompok Islam dengan cap ekstrem dan teroris meski sebenarnya mereka hanya menjalankan ajaran-ajaran agama yang belum dipahami oleh Sang Menteri. Sementara kelompok-kelompok agama yang jelas-jelas sesat dan sudah banyak fatwa ulamanya dibiarkan begitu saja dengan dalih melindungi kebebasan berkeyakinan. Menteri Agama yang baru juga tidak jauh berbeda. Baru saja dilantik sudah berani mendeklarasikan di depan Gereja bahwa dirinya Menteri untuk semua agama. Jika benar demikian, mengapa FPI dan HTI tidak dibina atau dilindungi, malah dibidik dan dipojokkan sebagai penjahat NKRI. Bukankah FPI dan HTI juga bagian dari agama. Demikian halnya dengan pernyataan emosionalnya bahwa Manteri Agama akan melindungi Syi’ah dan Ahmadiyah. Seorang Menteri yang mengurus agama tetapi tidak paham agama sangat disesalkan selalu menjadi pilihan Bapak Presiden. Padahal ulama-ulama atau tokoh masyarakat Islam yang bijak dalam bersikap dan berkata, masih banyak bersebaran di bumi Indonesia. Tetapi sayangnya tidak ada satu pun yang dinilai sesuai dengan visi keagamaan Bapak Presiden.

 

Menyikapi Pemerintah Zhalim

Nabi saw dari sejak awal sudah mengingatkan akan ada banyak pemimpin yang zhalim, yang diingkari oleh umatnya, dan yang dibenci oleh rakyatnya. Akan tetapi Nabi saw tidak mengajarkan umatnya untuk melakukan revolusi sampai menggulingkan kekuasaan atau minimalnya mengacaukan pemerintahan. Nabi saw mengajarkan agar umatnya bersabar dalam menghadapi pemimpin zhalim tersebut. Sabar yang dimaksud bukan diam berpangku tangan, melainkan menahan diri dari melakukan kekerasan. Sabar kepada pemimpin harus dengan tetap aktif amar ma’ruf nahyi munkar dan menyuarakan keadilan.

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْراً مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Siapa yang tidak menyukai dari pemimpinnya sesuatu hal, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memberontak kepada sulthan (pemerintah) meski sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah (Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab satarauna badi umuran tunkirunaha no. 7053; Shahih Muslim kitab al-imarah bab al-amr bi luzumil-jama’ah ‘inda zhuhuril-fitan no. 4879).

Dalam hadits ini Nabi saw jelas mengarahkan bahwa sabar itu tidak khuruj (memberontak) kepada sulthan (pemerintah) sehingga berdampak pada banyaknya korban meninggal, yang dalam timbangan hadits di atas masuk kategori jahiliyyah. Disebut jahiliyyah karena memang seperti kaum jahiliyyah yang tidak pernah mau menghargai kedudukan pemimpinnya dan inginnya selalu melawan atau menggulingkan pemimpin. Masyarakat jahiliyyah sering hidup dalam perang sipil yang tiada akhir akibat tidak ada kesepakatan bulat atas seorang pemimpin sehingga menimbulkan banyak korban meninggal dunia yang mati sia-sia. Mereka yang mati akibat perang sipil tersebut mati seperti kaum jahiliyyah.

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam hal ini menjelaskan:

وَالْمُرَاد بِالْمِيتَةِ الْجَاهِلِيَّة وَهِيَ بِكَسْرِ الْمِيم حَالَة الْمَوْت كَمَوْتِ أَهْل الْجَاهِلِيَّة عَلَى ضَلَال وَلَيْسَ لَهُ إِمَام مُطَاع لِأَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَعْرِفُونَ ذَلِكَ، وَلَيْسَ الْمُرَاد أَنَّهُ يَمُوت كَافِرًا بَلْ يَمُوت عَاصِيًا

Yang dimaksud dengan mitah jahiliyyah, yakni dengan mengkasrah mim (pada kalimat mitatan pen), adalah keadaan matinya seperti matinya orang-orang Jahiliyyah, ada dalam kesesatan dan tidak adanya pemimpin yang ditaati, karena sungguh memang mereka tidak mengetahui hal itu (jahil pen). Dan bukanlah yang dimaksud itu mati dalam keadaan kafir, tapi yang benar adalah mati dalam keadaan bermaksiat.” (Fathul-Bari kitab al-fitan bab satarauna badi umuran tunkirunaha).

Ajaran untuk bersabar kepada Pemerintah ini disebutkan dalam hadits lain sebagai ajaran “al-jama’ah” yang ditegaskan Nabi saw secara berulang-ulang dalam sunnah. Kaum muslimin yang berpegang teguh dengan ajaran Nabi saw ini kemudian mengidentifikasi dirinya dengan sebutan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Ini untuk membedakan mereka dengan kelompok sesat seperti Syi’ah, Khawarij, dan Mu’tazilah yang mengajarkan doktrin harus melawan Pemerintah dengan kekerasan. Nabi saw bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْراً فَمَاتَ، إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

 Siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang tidak disukainya, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memecah belah al-jama’ah (khilafah/kesatuan Negara) sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah. (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabiy saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 6531; Shahih Muslim bab wujub mulazamah jama’atil-muslimin no. 3438, 3439).

Maka dari itu Nabi saw menegaskan ulang pentingnya bersabar mengalah kepada Pemerintah ini dalam hadits-hadits lainnya:

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Pertahankan kesatuan umat Islam dan imamnya.” Aku bertanya: “Kalau tidak ada jamaah dan imamnya?” Beliau menjawab: “Tinggalkan semua kelompok yang sesat, walau kamu harus menggigit akar pohon sampai datangnya kematian kepadamu, kamu tetap dalam keadaan seperti itu.” (Shahih al-Bukhari bab kaifal-amru idza lam takun jamaah wala imam no. 7084)

Maksud jama’ah muslimin dan imamnya disebutkan jelas dalam riwayat lain adalah khalifah (pemerintah sah).

فَإِنْ رَأَيْت خَلِيفَة فَالْزَمْهُ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرك فَإِنْ لَمْ يَكُنْ خَلِيفَة فَالْهَرَب

Jika kamu menemukan khalifah, maka bergabunglah bersamanya, meski khalifah itu memukul punggungmu (zhalim). Tetapi jika tidak ada khalifah, maka larilah (Fathul-Bari kitab al-fitan bab kaifa al-amru idza lam takun jamaah wala imam).

Kemestian bersabar kepada Pemerintah ini berlaku dalam segala situasi, yakni “ketika senang atau susah”.

قَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ: دَعَانَا النَّبِيُّ  فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ: فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بِوَاحاً، عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ.

‘Ubadah ibn as-Shamit berkata: “Nabi saw memanggil kami lalu kami berbaiat kepadanya.” Ia melanjutkan: “Materi baiat yang beliau ambil dari kami adalah kami berbaiat untuk senantiasa patuh dan taat (kepada Pemerintah), dalam keadaan senang dan benci, dalam keadaan sulit dan mudah, wajib mendahulukannya daripada kami, dan agar kami tidak mencabut urusan pemerintahan (kudeta) dari yang berhaknya. Kecuali jika kalian menyaksikan kekufuran yang nyata, dan kalian punya pegangan yang jelas dari Allah mengenainya.” (Shahih al-Bukhari bab satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 7056. Kekufuran yang nyata sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur`an adalah keluar dari Islam/non-Islam. Rujuk di antaranya QS. An-Nisa` [4] : 150-151, QS. Al-Bayyinah [98] : 1, QS. Al-Hajj [22] : 17. Selama pemimpin masih muslim, maka ketaatan kepadanya tetap mutlak. Jika sudah kufur keluar dari Islam, boleh dikudeta).

Nabi saw juga mengajarkan untuk tetap setia, mengalah, dan berdamai dengan Pemerintah ketika Pemerintah tersebut nyatanya zhalim terhadap rakyatnya. Rakyat cukup bersabar saja dan memohon hak mereka hanya kepada Allah swt. Tidak perlu dengan melawan karena nanti lebih madlarat dengan banyaknya korban mati jahiliyyah.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ : إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِى أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا. قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud, ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepada kami: “Sesungguhnya kalian akan melihat sesudahku atsarah (ketamakan akan kekuasaan) dan hal-hal yang kalian ingkari (pada pemimpin kalian).” Shahabat bertanya: “Apa yang akan anda perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: “Tunaikanlah kepada mereka (para pemimpin) hak mereka (kepatuhan rakyat) dan mintalah kepada Allah hak kamu.” (Shahih al-Bukhari bab satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 7052).

Maka dari itu, ketika umat mengadu kepada Anas ibn Malik ra bagaimana kejamnya al-Hajjaj (40-95 H) di masa berkuasa menjadi Panglima Dinasti Umayyah, Anas ra pun hanya sekedar menganjurkan untuk bersabar:

عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنْ الْحَجَّاجِ فَقَالَ اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari az-Zubair ibn ‘Adi ia berkata: Kami datang kepada Anas ibn Malik dan mengadukan perihal kekerasan yang kami rasakan dari al-Hajjaj. Anas menjawab: “Bersabarlah kalian, karena tidak akan satu zaman melainkan yang sesudahnya lebih jelek daripada sebelumnya hingga kalian bertemu Rabb kalian. Aku mendengarnya dari Nabi kalian saw.” (Shahih al-Bukhari bab la ya`ti zaman illal-ladzi ba’dahu syarrun minhu no. 7068).

Sabda Nabi saw yang dimaksud Anas ibn Malik ra adalah:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي

Sesungguhnya kalian akan melihat sesudahku atsarah (ketamakan akan kekuasaan dari para pemimpin), maka bersabarlah kalian sehingga kalian menemuiku (Shahih al-Bukhari bab satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 7057).

 

Berjuang Melawan Pemerintah Zhalim

Akan tetapi sabar yang dimaksud dalam hadits-hadits di atas bukan berarti tidak amar ma’ruf nahyi munkar. Nabi saw mengajarkan dalam hadits lain:

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا

“Akan ada pemimpin-pemimpin yang kalian kenal tapi kalian mengingkari mereka (karena zhalim). Siapa yang mengenali (dan tidak terbawa arus), maka ia terbebas dari dosa. Siapa yang mengingkari, maka ia selamat. Akan tetapi siapa yang simpati dan mengikuti, maka ia tidak selamat.” Para shahabat bertanya: “Apakah kita harus memerangi mereka?” Rasul saw menjawab: “Tidak, selama mereka shalat.” (Shahih Muslim kitab al-imarah bab wujubil-inkar ‘alal-umara` fima yukhalifus-syar’a no. 3445-3446).

Imam an-Nawawi menjelaskan maksud hadits di atas:

مَنْ كَرِهَ بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَسْتَطِعْ إِنْكَاراً بِيَدٍ وَلاَ لِسَانٍ فَقَدْ بَرِئَ مِنَ الْإِثْمِ وَأَدَّى وَظِيْفَتَهُ، وَمَنْ أَنْكَرَ بِحَسْبِ طَاقَتِهِ فَقَدْ سَلِمَ مِنْ هَذِهِ الْمَعْصِيَةِ، وَمَنْ رَضِيَ بِفِعْلِهِمْ وَتَابَعَهُمْ، فَهُوَ الْعَاصِي

Siapa yang membenci (pemimpin) dengan hatinya, tetapi tidak mampu mengingkari dengan tangan atau lisannya, maka sungguh ia sudah bebas dari dosa dan sudah melaksanakan tugasnya sesuai kemampuannya. Siapa yang mengingkari (pemimpin) sesuai dengan kemampuannya (dengan tangan atau lisan—pen), maka ia pasti selamat dari maksiat ini. Tetapi siapa yang ridla dengan kebijakan bejat mereka dan mengikutinya, itulah orang maksiat (Riyadlus-Shalihin bab fil-amri bil-ma’ruf wan-nahyi ‘anil-munkar).

Artinya Nabi saw tetap mewajibkan umat untuk bergerak cerdas agar Pemerintah bisa berhenti dari berbuat zhalimnya, baik itu dengan lisan atau kekuatan. Akan tetapi tidak sampai memerangi mereka selama mereka masih mengamalkan shalat. Umat tidak boleh terjebak melakukan kekerasan melawan Pemerintah, karena dampak buruknya akan selalu mendatangkan korban-korban meninggal secara jahiliyyah, yakni meninggal karena peperangan atau kekerasan sesama muslim.

Jihad yang paling utama dalam menghadapi Pemerintah adalah dengan menyuarakan keadilan, bukan dengan kekerasan. Nabi saw bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Sebaik-baiknya jihad adalah kalimat yang adil/benar kepada pemerintah yang zhalim (Sunan Abi Dawud kitab al-malahim bab al-amr wan-nahy no. 4346).

Maksud “sebaik-baiknya jihad” dalam riwayat at-Tirmidzi redaksinya “di antara sebesar-besarnya jihad”. Disebutkan “jihad terbaik” karena pada umumnya jihad melawan musuh ada dalam kemungkinan antara menang dan kalah. Sementara melawan penguasa yang zhalim lebih pasti kalahnya, oleh sebab itu menjadi jihad terbaik. Demikian Imam al-Khaththabi menjelaskan. Lebih lanjut Imam al-‘Azhim Abadi menjelaskan:

كَلِمَة عَدْل- وَفِي رِوَايَة لِابْنِ مَاجَهْ كَلِمَة حَقّ، وَالْمُرَاد بِالْكَلِمَةِ مَا أَفَادَ أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهْيًا عَنْ مُنْكَر مِنْ لَفْظ أَوْ مَا فِي مَعْنَاهُ كَكِتَابَةٍ وَنَحْوهَا

(Kalimah adil) dalam riwayat Ibn Majah “kalimah haq”. Yang dimaksud ‘kalimah’ adalah yang mengarah pada amar ma’ruf nahyi munkar, baik berupa lafazh atau yang semakna dengannya seperti tulisan dan lainnya (‘Aunul-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud).

“Kalimat adil” juga bermakna suara yang lurus, benar (haq), tepat, dan tidak menyimpang. Praktiknya, menyuarakan aspirasi tanpa makian, kekerasan, perbuatan onar, mengganggu ketertiban umum, berbuat rusuh, apalagi dengan mengangkat senjata seperti yang dilakukan oleh para perusuh di berbagai wilayah yang terdapat pemberontakan.

Jalan untuk menyerukan keadilan dengan tanpa kekerasan tersebut hari ini sudah banyak tersedia, di antaranya mendesak wakil-wakil umat Islam di DPR agar bersuara kepada Pemerintah untuk berbuat adil dan memenuhi hak umat Islam yang terzhalimi; melalui Komnas HAM untuk mengusut kezhaliman aparat Pemerintah; memanfaatkan media massa untuk menekan Pemerintah agar berbuat adil; atau melalui demokrasi jalanan yang tanpa kekerasan untuk mendesak Pemerintah secepatnya berbuat adil kepada umat.

Jadi pengakuan kepada Pemerintah dan tidak melepaskan ketaatan kepada mereka meskipun mereka zhalim tetap harus dipertahankan. Tidak kemudian batal taat ke Pemerintahnya secara sepenuhnya akibat Pemerintah zhalim. Akan tetapi ketaatan tersebut bersyarat dengan aktif beramar ma’ruf nahyi munkar. Amar ma’ruf nahyi munkar yang dijalankan dengan adil dan tidak menggunakan kekerasan.

Wal-‘Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *