Keabsahan Shalat Yang Diimami Anak Kecil - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Keabsahan Shalat Yang Diimami Anak Kecil

2 weeks ago
520

Bismillah, Ustadz punten mau tanya. Apa hukumnya shalat dengan diimami anak yang baru berusia 6 tahun. Bacaannya masih ada salah sedikit. Apa shalat saya sah? 0852-2125-xxxx

 

Shalat yang diimami anak kecil hukumnya sah, tentunya jika anak kecil tersebut sudah bisa mengimami shalat meski belum baligh. Syarat utama mengimami shalat itu adalah yang paling baik bacaan dan hafalannya. Jika anak yang berusia 6 tahun sudah baik bacaan al-Qur`an dan hafalannya—meski tentu salah sedikit-sedikit pasti ada dan itu wajar—dan shalatnya pun sudah baik, tidak asal-asalan, maka ia sah menjadi imam dan shalat berjama’ahnya juga sah.

Jamise Syar'i

Dalam diskursus fiqih memang jadi pembahasan yang cukup alot tentang keabsahan imam anak kecil ini. Imam al-Bukhari menuliskan satu bab khusus dalam kitabnya terkait fiqih imam anak kecil ini:

بَاب إِمَامَةِ الْعَبْدِ وَالْمَوْلَى وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنْ الْمُصْحَفِ وَوَلَدِ الْبَغِيِّ وَالْأَعْرَابِيِّ وَالْغُلَامِ الَّذِي لَمْ يَحْتَلِمْ لِقَوْلِ النَّبِيِّ  يَؤُمُّهُمْ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

Bab: Imamah (ke-imam-an) hamba sahaya dan maula (hamba sahaya yang dimerdekakan)—‘Aisyah pernah diimami oleh hamba sahayanya, Dzakwan, dari mushhaf—(dan bab imamah) anak hasil zina, orang Arab gunung, dan anak yang belum ihtilam (baligh atau mimpi basah), berdasarkan sabda Nabi saw: “Hendaklah yang mengimami mereka (jama’ah shalat) itu orang yang paling baik bacaan/hafalan kitab Allah.”

Dari tarjamah (judul bab) di atas, Imam al-Bukhari hendak menunjukkan bahwa imam seorang hamba sahaya, mantan hamba sahaya (maula), anak hasil zina, orang Arab gunung, ataupun anak yang belum baligh, diperbolehkan berdasarkan keumuman sabda Nabi saw: “Hendaklah yang mengimami mereka (jama’ah shalat) itu orang yang paling baik bacaan/hafalan kitab Allah.”

Hadits yang dimaksud oleh Imam al-Bukhari adalah hadits Abu Mas’ud al-Anshari yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam al-Bukhari sendiri tidak meriwayatkannya.

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. قَالَ الأَشَجُّ فِى رِوَايَتِهِ مَكَانَ سِلْمًا سِنًّا

Hendaklah yang menjadi imam satu kaum adalah: (1) Orang yang paling qira`ah (ahli dalam hafalan dan bacaan) terhadap kitab Allah. Jika mereka sama dalam hal kemampuan qira`ah, maka (2) orang yang paling memahami sunnah. Jika mereka sama dalam hal sunnah, maka (3) orang yang yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka sama dalam hal hijrah, maka (4) orang yang lebih dahulu masuk Islam. Dan janganlah seseorang mengimami orang lain di daerah kekuasaannya dan jangan juga duduk di rumahnya di tempat duduk istimewanya/khususnya, kecuali seizinnya. Dalam riwayat al-Asyajj, hierarki yang keempat bukan “orang yang lebih dulu masuk Islam” tetapi “orang yang lebih tua usianya” (Shahih Muslim kitab al-masajid bab man ahaqqu bil-imamah no. 1564).

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari menyinggung keberadaan hadits yang melarang anak kecil mejadi imam, tetapi sanadnya dla’if sehingga tidak bisa dijadikan hujjah:

لَا يَؤُمُّ الْغُلَام حَتَّى يَحْتَلِم

Anak kecil tidak boleh menjadi imam sehingga ia baligh (hadits Ibn ‘Abbas riwayat ‘Abdurrazzaq. Sanadnya dla’if. Fathul-Bari bab imamatil-‘abdi wal-maula).

Imam al-Bukhari justru meriwayatkan hadits ‘Amr ibn Salimah ra yang menjadi imam kaumnya ketika ia berusia 6/7 tahun.

عَنْ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ قَالَ: كُنَّا بِمَاءٍ مَمَرَّ النَّاسِ وَكَانَ يَمُرُّ بِنَا الرُّكْبَانُ فَنَسْأَلُهُمْ مَا لِلنَّاسِ مَا لِلنَّاسِ مَا هَذَا الرَّجُلُ فَيَقُولُونَ يَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَهُ أَوْحَى إِلَيْهِ أَوْ أَوْحَى اللَّهُ بِكَذَا فَكُنْتُ أَحْفَظُ ذَلِكَ الْكَلَامَ وَكَأَنَّمَا يُقَرُّ فِي صَدْرِي وَكَانَتْ الْعَرَبُ تَلَوَّمُ بِإِسْلَامِهِمْ الْفَتْحَ فَيَقُولُونَ اتْرُكُوهُ وَقَوْمَهُ فَإِنَّهُ إِنْ ظَهَرَ عَلَيْهِمْ فَهُوَ نَبِيٌّ صَادِقٌ فَلَمَّا كَانَتْ وَقْعَةُ أَهْلِ الْفَتْحِ بَادَرَ كُلُّ قَوْمٍ بِإِسْلَامِهِمْ وَبَدَرَ أَبِي قَوْمِي بِإِسْلَامِهِمْ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ جِئْتُكُمْ وَاللَّهِ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا فَقَالَ صَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا وَصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنْ الرُّكْبَانِ فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ وَكَانَتْ عَلَيَّ بُرْدَةٌ كُنْتُ إِذَا سَجَدْتُ تَقَلَّصَتْ عَنِّي فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْ الْحَيِّ أَلَا تُغَطُّوا عَنَّا اسْتَ قَارِئِكُمْ فَاشْتَرَوْا فَقَطَعُوا لِي قَمِيصًا فَمَا فَرِحْتُ بِشَيْءٍ فَرَحِي بِذَلِكَ الْقَمِيصِ

Dari ‘Amr ibn Salimah, ia berkata: Kami tinggal di dekat mata air yang jadi lalu lintas para pelancong. Kami sering berdialog dengan mereka: “Ada apa dengan orang-orang? Ada apa dengan orang-orang? Siapa orang yang sering dibicarakan mereka?” Mereka menjawab: “Orang itu mengaku bahwa Allah telah mengutusnya dan memberikan wahyu kepadanya.” Aku pun terus teringat pernyataan mereka tersebut dan seakan-akan bersemayam kuat dalam hatiku. Bangsa Arab sendiri menunggu kemenangan Nabi atas kaumnya (al-fath) untuk masuk Islam. Mereka berkata: “Biarkan dahulu ia dan kaumnya. Jika ia berhasil mengalahkan mereka berarti ia benar seorang Nabi.” Maka ketika kaum muslimin sudah memperoleh kemenangan, setiap kaum bersegera menyatakan masuk Islam. Ayahku juga mendahului kaumku menyatakan masuk Islam. Ketika pulang, ia berkata: “Aku datang kepada kalian, demi Allah, dari Nabi saw dengan benar. Beliau bersabda: Shalatlah kalian shalat ini pada waktu ini. Shalatlah kalian shalat ini pada waktu ini. Jika datang waktu shalat, hendaklah adzan salah seorang di antara kalian dan hendaklah menjadi imam yang paling banyak hafalan al-Qur`annya.” Mereka kemudian melihat-lihat dan ternyata tidak ada seorang pun yang paling banyak hafalan al-Qur`annya daripada saya. Hal itu disebabkan saya sering menyimak bacaan al-Qur`an dari para pelancong yang singgah di kampung kami. Mereka kemudian menyuruhku ke depan menjadi imam padahal saya saat itu masih berusia 6 atau 7 tahun. Saat itu aku memakai baju yang tidak dijahit, yang jika aku sujud akan tersingkap auratku. Seorang perempuan dari kampung kami ada yang berkata: “Mengapa kalian tidak menutupi aurat imam kalian ini dari kami.” Maka mereka pun membelikan untukku baju baru yang dijahit. Aku tidak pernah gembira seperti kegembiraannku saat itu ketika diberi baju tersebut (Shahih al-Bukhari bab maqamin-Nabi saw bi Makkah zamanal-fath no. 4302).

Dari hadits di atas diketahui bahwa ‘Amr ibn Salimah diangkat menjadi imam oleh kaumnya karena memang ia orang yang paling baik bacaan dan hafalan al-Qur`annya, meskipun saat itu ia masih berusia 6/7 tahun. Sebabnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas, ketika para pelancong muslim istirahat di kampungnya dan mereka sering membaca al-Qur`an, ‘Amr ikut menyimak dan menghafalnya. Jadi ketika ia masuk Islam dengan ayahnya, hafalan al-Qur`annya sudah paling banyak, sementara yang lainnya masih dalam tahap belajar karena baru masuk Islamnya juga.

Hadits ‘Amr ibn Salimah di atas dipersoalkan oleh sebagian ulama karena itu hanya satu kasus yang Nabi saw tidak mengetahuinya. Hal ini tentu dibantah oleh mayoritas ulama karena selama wahyu turun, mustahil wahyu membiarkan suatu pelanggaran syari’at. Terlebih yang menjadi makmumnya adalah para shahabat yang jumlahnya tidak sedikit. Jika itu merupakan pelanggaran syari’at pasti shahabat tidak akan membiarkannya. Demikian juga pasti turun wahyu kepada Nabi saw yang menyalahkannya.

Sebagian ulama ada yang beralasan bahwa ‘Amr ibn Salimah menjadi imam di atas hanya untuk shalat sunat. Tetapi melihat variasi riwayat matan haditsnya bisa dipastikan bahwa ‘Amr ibn Salimah menjadi imam untuk shalat wajib dan sunatnya. Tentunya shalat sunat yang bisa diamalkan berjama’ah seperti shalat dluha dan tahajjud. Bagian awal hadits itu sendiri menginformasikan bahwa Nabi saw sebelumnya mengajarkan waktu shalat wajib untuk diamalkan tepat waktu kepada rombongan ‘Amr ibn Salimah, sehingga pasti mereka shalat berjama’ah itu mengamalkan ajaran Nabi saw untuk shalat wajib tepat pada waktunya. Dalam sanad lain juga disebutkan bahwa ‘Amr berkata:

فَمَا شَهِدْتُ مَشْهَدًا فِي جَرْمٍ إِلَّا كُنْتُ إِمَامَهمْ

Aku tidak mengikuti satu kegiatan pun selama dalam perahu kecuali aku menjadi imam mereka (Fathul-Bari bab imamatil-‘abdi wal-maula).

Sementara itu Ibn Hazm bersikeras menyatakan bahwa hadits tentang yang berhak jadi imam di atas ditujukan kepada mereka yang sudah baligh, sementara yang belum baligh tidak terkena taklif hadits di atas. Tetapi argumentasi ini lemah karena titik tekan yang Nabi saw tentukan adalah kemampuan membaca al-Qur`annya, bukan usianya. Terlebih hadits ‘Amr ibn Salimah di atas sudah menjadi penguat bahwa anak kecil yang belum baligh berhak menjadi imam jika anak itu lebih mampu membaca dan hafal al-Qur`an dari siapapun yang ada pada saat akan shalat berjama’ah.

Jadi jika ada selain anak-anak yang lebih baik bacaan dan hafalan al-Qur`annya maka tentu harus mendahulukan yang lebih baik. Tetapi jika kasusnya di rumah, dimana seorang ibu yang ada lelakinya hanya anaknya yang masih kecil, asalkan ia sudah baik bacaan dan shalatnya, maka anak itu diperbolehkan menjadi imam, karena memang tidak ada lelaki lain yang bisa dijadikan imam. Kalaupun ibu itu shalat munfarid dan anak lelakinya disuruh shalat di masjid, maka itu lebih baik lagi untuk anaknya, karena shalat wajib di masjid bagi lelaki hukumnya wajib dan anak lelaki dianjurkan sudah dididik untuk mengamalkan yang wajib meski bagi dirinya sendiri belum jatuh wajib. Kalaupun ibu yang menjadi imam, sepanjang itu untuk keluarga sendiri, dan ibu bacaannya yang terbaik, maka diperbolehkan juga, meski makmumnya ada keluarga lelaki yang tidak bisa menjadi imam.

Perihal keabsahan imam perempuan sepanjang di rumah sendiri dan lelaki yang ada tidak ada yang baik bacaan al-Qur`annya, dalilnya adalah:

عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ َكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزُورُهَا فِى بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا. قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا رَأَيْتُ مُؤَذِّنَهَا شَيْخًا كَبِيرًا

Dari Ummu Waraqah binti ‘Abdillah ibn al-Harits: “Rasulullah saw pernah bertamu ke rumahnya, lalu mengangkat seorang muadzdzin yang akan adzan untuknya, dan memerintahnya (Ummu Waraqah) untuk menjadi imam keluarga yang ada di rumahnya.” ‘Abdurrahman (rawi dari Ummu Waraqah) berkata: “Aku melihat muadzdzinnya seorang kakek yang sudah tua renta.” (Sunan Abi Dawud bab imamatin-nisa no. 592).

Wal-‘Llahu a’lam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *