Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

3 months ago
988

Setiap aktifitas atau pekerjaan tentunya sangat dianjurkan diawali dengan basmalah, sebagaimana hadits-hadits yang telah tsabit baik itu ketika hendak makan, keluar rumah, menyembelih binatang dan atau pekerjaan lainnya. Namun, apakah setiap pekerjaan yang bersifat baik atau positif jika tidak diawali dengan basmalah maka pekerjaan itu akan sia-sia? Dengan kata lain, orang yang tidak menyebut basmalah setiap melakukan sesuatu akan menjadi sia-sia.

Jamise Syar'i

Dalam tulisan ini, akan dibahas secara khusus terkait bagaimana derajat hadits yang mengatakan bahwa setiap pekerjaan baik yang tidak diawali dengan ucapan basmalah maka akan terputus dari rahmat Allah. Berikut adalah hadits yang dimaksud dalam pembahasan ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  أَقْطَعُ »

Dari Abu Hurairah radhiya-‘Llahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan Bismillaahirrahmaanirrahiim maka perbuatan tersebut akan terputus (dari Rahmat Allah)”.

Takhrij Hadits

Jika ditakhrij dari seluruh jalur dan menganalisa dari tiap matannya, maka sekurang-kurangnya akan ditemukan tiga redaksi matan yang berbeda-beda, yaitu basmalah, dzikir, dan hamdalah. Berikut di antara hasil takhrijnya:

Dengan redaksi dzikir

مسند أحمد ت شاكر (8/ 395(

 -8697حدثنا يحيى بن آدم، ثنا ابن مبارك عن الأوزاعي عن قرة بن عبد الرحمن عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة قال: قال رسول الله -صلي الله عليه وسلم -: “كل كلام أو أمر ذي بالٍ لا يفتح بذكر الله عَزَّ وَجَلَّ فهو أبتر أو قال أقطع”.

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak dari al-Auza’i dari Qurrah bin ‘Abdurrahman dari az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap ucapan atau perkara penting yang tidak dibuka dengan dzikru-‘Llah azza wa jalla, niscaya akan terpotong atau –ia berkata- terputus”.

Dengan redaksi basmalah

الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع للخطيب البغدادي (2/ 69(

 -1210أنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مَخْلَدٍ الْوَرَّاقُ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ جَعْفَرٍ الْبَرْذَعِيُّ، قَالَا: أنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عِمْرَانَ، أنا مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ الْبَصْرِيُّ، بِهَا، نا عُبَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ بْنِ شَرِيكٍ، نا يَعْقُوبُ بْنُ كَعْبٍ الْأَنْطَاكِيُّ، نا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  أَقْطَعُ»

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ali bin Makhlad al-Warraq dan Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ja’far al-Bardza’i keduanya berkata: “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin ‘Imran, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shalih al-Bashriy, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid bin ‘Abdul Wahad bin Syarik, telah menceritakan kepada kami Ya’kub bin Ka’ab al-Anthaki, telah menceritakan kepada kami Mubasysyar bin ‘Isma’il dari al-Auza’i dari az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan bismillahirrahmannirrahim maka akan terputus”.

Dengan redaksi hamdalah

الدعوات الكبير (1/ 65(

 -1أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِيٍّ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الرُّوذْبَارِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ مَهْرَوَيْهِ الرَّازِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، عَنْ قُرَّةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِالْحَمْدِ لِلَّهِ فَهُوَ أَقْطَعُ» قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ: يَعْنِي أَبْتَرُ ثُمَّ نُثَنِّي حَمْدَ رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِالشَّهَادَةِ لِلَّهِ بِالْوَحْدَانِيَّةِ، لِأَنَّ نَبِيَّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَنَا أَنَّ الْخُطْبَةَ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Ali al-Husain bin Muhammad ar-Rudzbari, telah menceritakankepada kami Abu Bakar Muhammad bin Mahrawaih ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Abu Hatim, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Musa, telah mengabarkan kepada kami al-Auza’i dari Qurrah dari az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan hamdalah maka akan terputus”. ‘Ubaidillah berkata: “Yaitu maksudnya abtar (terpotong) kemudian kami menyanjungnya Rabb kami azza wa jalla dengan bersaksi bahwa Allah adalah Esa. Karena Nabi kami shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kami bahwa khutbah apabila di dalamnya tidak ada syahadat maka khutbahnya bagaikan tangan yang terputus”.

شعب الإيمان لأبو بكر البيهقي (4/ 90(

 -4372أخبرنا أبو عبد الله الحافظ علي بن حمشاذ نا محمد بن المغيرة السكري نا عبيد الله بن موسى نا الأوزاعي عن قرة بن عبد الرحمن عن الزهري عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بالحمد لله أقطع

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah al-Hafidz ‘Ali bin Hamsyadz, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Mughirah as-Sukari, telah mengabarkan kepada kami ‘Ubaidillah bin Musa, telah mengabarkan kepada kami al-Auza’i dari Qurrah bin ‘Abdurrahman dari az-Zuhri dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan hamdalah maka akan terputus”.

سنن النسائي الكبرى (6/ 127(

 -10328أخبرنا محمود بن خالد حدثنا الوليد قال قال أبو عمرو وأخبرني قرة عن بن شهاب عن أبي سلمة عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بحمد الله فهو أقطع

Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Khalid, telah menceritakan kepada kami al-Walid ia berkata: “Abu ‘Amr berkata: “Dan telah mengabarkan kepadaku Qurrah dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan hamdalah maka ia akan terputus”.

موارد الظمآن إلى زوائد ابن حبان ت حسين أسد (6/ 299(

 -1993أخبرنا الحسين بن عبد الله بن يزيد القطان أبو علي بالرقة، حدثنا هشام بن عمار، حدثنا شعيب بن إسحاق، عن الأوزاعي، عن قرة، عن الزهري، عن أبي سلمة. عَن أَبِي هريرة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: “كُلُّ امْرٍ ذِىِ بَال لا يُبْدَأ فِيهِ بِحَمْدِ اللهْ أقْطَعُ

Telah mengabarkan kepada kami al-Husain bin ‘Abdillah bin Yazid al-Qaththan Abu ‘Ali di suatu daerah, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Amar, telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Ishaq dari al-Auza’i dari Qurrah dari az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan hamdalah maka ia akan terputus”.

عمل اليوم والليلة للنسائي (ص: 345(

 -494أخبرنَا مَحْمُود بن خَالِد حَدثنَا الْوَلِيد قَالَ قَالَ أَبُو عَمْرو (و) آأخبرني قُرَّة عَن ابْن شهَاب عَن أبي سَلمَة عَن أبي هُرَيْرَة عَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ كل أَمر ذِي بَال لَا يبْدَأ فِيهِ بِحَمْد الله فَهُوَ أقطع

Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Khalid, telah menceritakan kepada kami al-Walid ia berkata: “Abu ‘Amr berkata: “Telah mengabarkan kepadaku Qurrah dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan hamdalah maka akang terputus”.

المخلصيات (4/ 11(

 -2911حدثنا أبوالقاسمِ عبدُاللهِ بنُ محمدِ بنِ عبدِالعزيزِ البغويُّ ابنُ بنتِ أحمدَ بنِ منيعٍ: حدثنا أبوالفضلِ داودُ بنُ رشيدٍ الخوارزميُّ: حدثنا الوليدُ بنُ مسلمٍ، عن الأَوزاعيِّ، عن قرةَ، عن ابنِ شهابٍ، عن أبي سلمةَ، عن أبي هريرةَ قالَ: قالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «كلُّ أمرٍ ذي بالٍ لا يُبدأُ فيه بحمدِ اللهِ أَقطعُ»

Telah mengabarkan kepada kami Abul Qasim ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz al-Baghawi bin Binti Ahmad bin Mani’, telah menceritakan kepada kami Abul Fadhl Dawud bin Rasyid al-Khawarizmi, telah menceritakan kepada kami al-Walid bin Muslim dari al-Auza’i dari Qurrah dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan hamdalah maka akan terputus”.

المعجم الكبير للطبراني (19/ 72(

 -141حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى الدِّمَشْقِيُّ، ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيدَ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا صَدَقَةُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيِّ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «كُلُّ أَمَرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِالْحَمْدِ أَقْطَعُ أَوْ أَجْزَمُ»

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Mu’alla ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yazid ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin ‘Abdullah dari Muhammad bin al-Walid az-Zubaidi dari az-Zuhri dari ‘Abdullah bin Ka’ab dari ayahnya dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan hamdalah maka ia terpotong atau terputus”.

مسند البزار = البحر الزخار (14/ 291(

 -7898حَدَّثنا رجاء بن مُحَمد السقطي، قَال: حَدَّثنا عُبَيد الله بن موسى، قَال: حَدَّثنا الأَوزَاعِيّ عن قرة، يعني ابن عَبد الرحمن، عَن الزُّهْرِيّ، عَن أَبِي سَلَمَة، عَن أَبِي هُرَيرة، عَن النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّم قال: كل أمر ذي بال لا يبدء فيه بالحمد أقطع.

Telah menceritakan kepada kami Raja’ bin Muhammad as-Saqthi ia berkata: “Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Musa ia berkata: “Telah menceritakan kepada kami al-Auza’i dari Quurah yaitu Ibnu ‘Abdurrahman dari az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan hamdalah maka akan terputus”.

Hadits serupa di atas juga diriwayatkan oleh Sunan Ibnu Majah no. 1894; Sunan al-Baihaqi no. 5978; Sunan ad-Daruquthni no.1; Shahih Ibnu Hiban no. 1-2; Syu’abul Iman no. 4372; dan Sunan Kubra an-Nasa’i no. 10255.

Agar kemudian lebih mudah menelisik dan melihat jalur periwayatan seluruh hadits di atas, berikut ini disertakan pohon sanadnya secara lengkap.

Pohon Sanad

Analisis Sanad

Dari keseluruhan sanad di atas, hadits ini terjadi keidhtiraban, berikut penjelasannya:

  1. Al-Auza’i dari Qurrah dari al-Zuhri dari Abi Salamah dari Abu Hurairah dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Al-Auza’i dari Qurrah dari al-Zuhri dari Abu Hurairah dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam (tanpa menyebut Abi Salamah).
  3. Al-Auza’i dari al-Zuhri dari Abi Salamah dari Abi Hurairah dari Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Dari jalur Shadaqah, al-Zuhri dari Ibn Ka’ab dari Ka’ab.

 

Jarh Ta’dil

Yang menjadi titik sentral (madar) sanad ini sebetulnya tertuju pada rawi al-Zuhri. Selain idhtirab, sanad ini jug memiliki kelemahan lainnya, di antaranya:

  1. Qurrah

Beliau adalah Qurrah bin Abdirrahman. Abu Hatim dan al-Nasai menjarahnya dengan sebutan “Ia tidak kuat”. Imam Ahamd berakta: Munkarul hadits jiddan (Tahdzib al-Tahdzib, 3/438). Al-hafizh Ibn Hajar menyimpulkan dalam Taqribnya: “Juju tapi haditsnya munkar”. (Taqrib al Tahdzib, 1/800)

 

  1. Terdapat sanad tanpa menyebutkan Qurrah, dimana al-Auza’i langsung menerima dari al-Zuhri. Jalur ini terdapat pula dalam thabaqah asy-syafi’iyyah.

طبقات الشافعية الكبرى للسبكي (1/ 12(

أَنْبَأَنَاهُ الْحَافِظُ الْكَبِيرُ شَيْخُنَا أَبُو الْحَجَّاجِ الْقُضَاعِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ حَمْدَانَ بْنِ شَبِيبٍ الْحَرَّانِيُّ سَمَاعًا عَلَيْهِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْقَادِرِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ قَالَ حَدثنَا مُحَمَّد ابْن حَمْزَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ بِدِمَشْقَ أَخْبَرَنَا هِبَةُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الأَكْفَانِيُّ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ الْحَافِظُ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مَخْلَدٍ الْوَرَّاقُ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ جَعْفَرٍ الْبَرْدَعِيُّ قَالا حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن مُحَمَّد بن عمرَان حَدثنَا مُحَمَّد ابْن صَالِحٍ الْبَصْرِيُّ بِهَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ بْنِ شَرِيكٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ كَعْبٍ الأَنْطَاكِيُّ حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنِ الأَوْزَاعِيِّ عَن الزُّهْرِيّ عَن أبي سَلمَة عَن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَهُوَ أَقْطَعُ

Jalur ini inqitha, sebab al-Auza’i tidak samaí kepada al-Zuhri. Berikut keterangan dari al-Khalil dalam kitab al-Irsyad fi Ma’rifati ‘Ulama al-Hadits:

هَذَا لَمْ يَسْمَعْهُ الْأَوْزَاعِيُّ عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَإِنَّمَا سَمِعَهُ مِنْ قُرَّةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَيْوَئِيلَ

Terkait hadits ini, al-Auza’i tidak mendengar dari al-Zuhri, ia hanya mendegar dari Qurrah bin ‘Abdurrahman bin Haiwail.

Dengan demikian, jalur ini hakikatnya sama dengan jalur yang lainnya, dimana al-Auza’i menerima dari Qurrah.

Dari berbagai varian sanad ini, kiranya harus dijelaskan jalur manakah yang mahfuzh dan jalur manakah yang munkar. Dengan demikin metode yang tepat untuk digunakan adalah dengan menggunakan metode ‘ilal al-hadits.

Salahsatu ulama pakar dibidang ‘ilal adalah imam al-Daraquthni. Beliau telah mengemukakan teka-teki hadits tentang ini dengan menjelaskan akan kemahfuzan sanad ini. Beliau berkata:

تفرد به قرة ، عن الزهري ، عن أبي سلمة ، عن أبي هريرة . وأرسله غيره عن الزهري ، عن النبي – صلى الله عليه وسلم – وقرة ليس بقوي في الحديث ، والمرسل هو الصواب – سنن الدارقطني: (1 / 427) برقم: (883)

Pada jalur ini Qurrah menyendiri, dimana ia menerimanya dari al-Zuhri dari Abi Salamah dari Abu Hurairah. Dan telah memursalkannya selain dari jalur Qurrah dimana al-Zuhri langsung menerima dari Nabi Saw. Sedangkan Qurrah bukan termasuk rawi yang kuat dalam periwayatan hadits. Dan yang benar hadits ini adalah mursal. (Sunan al-Daraquthni, 1/427 no. 883)

Penjelasan imam al-Daraquthi ini dibuktikan dengan periwayatan dari imam al-Nasai dalam kitabnya ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah.

عمل اليوم والليلة – النسائي (ص: 346(

 -497أخبرنا علي بن حجر حدثنا الحسن يعني ابن عمر عن الزهري قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم  كل كلام لا يبدأ في أوله بذكر الله فهو أبتر

Telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami al-Hasan yaitu Ibnu ‘Umar dari az-Zuhri ia berkata: “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setap ucapan yang tidak diawali dengan dzikru-‘Llah maka akan terputus”.

Dari analisa di atas sampai pada beberapa kesimpulan, di antaranya bahwa madar (sumber) seluruh jalur ini tertuju pada rawi az-Zuhri; riwayat muttashil az-Zuhri adalah ma’lul; terdapat beberapa redaksi matan hadits yang idhtirab; yang benar status hadits ini adalah mursal, karena az-Zuhri menerimanya langsung dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam; redaksi yang mahfudza dalah matan yang menggunakan lafadz dzikir; dan karena ketafarrudan hadits mursal serta jalur periwayatan hadits ini sebenarnya hanya satu, maka hadits ini bisa disimpulkan sebagai hadits yang dha’if. WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *