Harta Anak Harta Orangtua - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Harta Anak Harta Orangtua

1 month ago
836

Kasih sayang orang tua yang diberikan pada anaknya melebihi apapun, hingga bukan hanya jiwa, raga, waktu dan harta, bahkan dirinya sekalipun dikorbankan, sebagaimana pribahasa mengatakan “kaki di jadikan kepala dan kepala dijadikan kaki”, itu semua demi kebahagiaan anak-anaknya.

Namun, tidak sedikit berita yang sampai ketelinga kita bahwa adanya seorang anak yang menuntut orang tuanya gara-gara orang tua mengambil sedikit harta anaknya, hingga anaknya berani memenjarakan dan membunuh orangtuanya. Di antara penyebab fenomena itu terjadi, karena adanya keyakinan bahwa harta anak sepenuhnya milik ia sendiri dan orang tua tidak berhak mengambil hartanya tanpa seijinnya, jika tidak maka orangtua dianggap sebagai pencuri.

Jamise Syar'i

Dari sinilah timbul sebuah pertanyaan terkaiat bagaimana status harta anak yang diambil orangtuanya? Dimana pernyataan ini akan merembet pula kepada status harta (uang) anak yang masih kecil yang ia dapatkan dari hasil pemberian orang lain, apakah halal jika dipakai oleh orangtuanya?

Terdapat sebuah hadits yang menyatakan bahwa “harta anak adalah milik bapaknya”. Sebelum membahas kepada fikih hadits, akan dibahas lebih dahulu bagaimana kedudukan derajat hadits tersebut. Hadits yang dimaksud adalah sebagai berikut:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي مَالًا وَوَلَدًا، وَإِنَّ أَبِي يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِي! فَقَالَ: “أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ”

Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak namun ayahku ingin mengambil habis hartaku.” Rasulullah bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu”.

Takhrij Hadits

Hadits ini bersumber dari beberapa sahabat, di antaranya yaitu:

Pertama, Jabir ibn Abdillah. Hadits memaluai jalur sahabat Jabir bin Abdillah bisa ditemukan dalam Sunan Ibn Majah juz 3 hal. 391 no. 2291; Mu’jam al-Ausath juz 1 hal. 31 no.3534; Muwadh Auham al-Jamí wa at-Tafriq (al-Khatib al-Baghdadiy) juz 2 hal 140; Muhalla (Ibn Hazm) juz 8 hal 103; Mu’jam as-Shaghir at-Thabaraniy juz 2 hal 152 no. 947; dan al-Kaamil (Ibn ‘Adiy) juz 5 hal. 27.

Kedua, ‘Abdullah bin Amr bin Ash. Hadits melalui jalur sahabat ‘Abdullah bin Amr bin Ash bisa ditemukan dalam Sunan Ibn Majah juz 3 hal 392 no. 2292; Munad Ahmad juz 6 hal. 385 no. 6902; Mu’jam Ibn al-Muqri hal. 168 no. 501; Musnad as-Syamiyyin juz 1 hal. 212 no. 379; Sunan Ibn; Majah juz 2 hal 769 no. 2292; Sunan al-Kubra (Imam al Baihaqi) juz 7 hal. 480 no. 16.166; dan Sunan Abi Dawud juz 5 hal. 390 no. 3530.

Ketiga, Abdullah bin Mas’ud. Hadits melalui jalur sahabat Abdullah bin Mas’ud bisa ditemukan dalam al-Mu’jam al-Ausath (imam at-Thabaraniy) juz 1 hal 22 no. 57; Musnad as-Syamiyyin (imam at-Thabaraniy) juz 3 hal 367 no. 2481; dan Mu’jam al-Kabir (imam at-Thabaraniy) juz 10 hal 81 no. 10.019.

Keempat, ‘Aisyah. Hadits melalui jalur sahabat ‘Aisyah bisa ditemukan dalam Shahih Ibn Hibban juz 2 hal. 142 hal. 410 dan Mawarid al Dham-aan hal. 169 no. 1094. Kelima, Abu Bakar al-Shidiq dalam al-Mu’jam al-Ausath juz 1 hal. 246 no. 806. Keenam, Umar bin Khatab dalam Musnad al-Bazzar juz 1 hal. 419 no. 295. Ketujuh, Samurah bin Jundab dalam al-Mu’jam al-Kabir (Imam at-Thabaraniy) juz 7 hal. 230 no. 6961. Kedelapan, ‘Abdullah bin ‘Umar dalam Musnad Abi Ya’la al-Maushuliy juz 10 hal. 98 no. 5731

Namun dalam sanadnya ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash riwayat imam al-Baihaqiy dalam kitabnya Sunan al-Kubra juz 7 hal. 480 no. 16.166 terdapat sedikit perbedaan dengan tambahan redaksi sebagai berikut:

أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ لِى مَالاً وَوَلَدًا وَإِنَّ وَالِدِى يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِى. فَقَالَ :« أَنْتَ وَمَالُكَ لأَبِيكَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ ».

Orang Arab gunung mendatangi Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Sesungguhnya aku memiliki harta dan anak, namun ayahku ingin mengambil habis hartaku.” Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu, sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk jerih payah kalian yang paling berharga.

 

Sedangkan dalam riwayat Sunan Abu Dawud juz 5 hal 390 no. 3530 yang masih bersumber dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash memiliki tambahan redaksi lainnya.

أن رجلاً أتى النبي – صلَّى الله عليه وسلم – فقال: يا رسولَ اللهِ، إن لي مالاً وولداً، وإن والدي يجتاجُ مالي، قال: “أنت ومالُكَ لِوالدك، إنَّ أولادَكم مِن اْطيبِ كَسْبِكُم، فَكُلُوا مِن كَسْبِ أولادِكم”

“Sesungguhnya aku memiliki harta dan anak, namun ayahku ingin mengambil habis hartaku.” Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu, sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk jerih payah kalian yang paling berharga. Maka makanlah sebagian harta mereka.

Analisis Hadits

Jalur yang pertama bersumber dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiya-Llahu ‘anhu dengan sanad sebagai berikut:

-2291حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، حَدّثَنَا يُوسُفُ ابْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي مَالًا وَوَلَدًا، وَإِنَّ أَبِي يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِي! فَقَالَ: “أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ”

3534 – حَدَّثَنَا حَبُّوشُ بْنُ رِزْقِ اللَّهِ الْمِصْرِيُّ قَالَ: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ: نا عِيسَى بْنُ يُونُسَ قَالَ: نا يُوسُفُ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي مَالًا وَعِيَالًا، وَإِنَّ لِأَبِي مَالًا وَعِيَالًا وَإِنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَأْخُذَ مَالِي إِلَى مَالِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ»

موضح أوهام الجمع والتفريق

أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَازِنِ بْنِ الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمَّارِ بْنِ الْحَارِث الرَّازِيّ حَدَّثَنَا أَبُو الْهَيْثَمِ السَّنَدِيُّ بْنُ عَبْدَوَيْهِ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي قَيْسٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُول اللَّهِ إِنَّ لِي وَالِدًا لَهُ مَالٌ وَلِي مَالٌ وَهُوَ يُرِيد أَن يَأْخُذ من مَالِي فَيَضُمُّهُ إِلَى مَالِهِ فَقَالَ أَنْت وَمَالك لأَبِيك

المحلى

البزار نا محمد بن يحيى بن عبد الكريم نا عبد الله بن داود هو الخريبى عن هشام ابن عروة عن محمد بن المنكدر عن جابر بن عبد الله عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال: (أنت ومالك لابيك

-947حدثنا محمد بن خالد بن يزيد البرذعي بمصر حدثني أبو سلمة عبيد بن خلصة بمعرة النعمان حدثنا عبد الله بن نافع المدني عن المنكدر بن محمد بن المنكدر عن أبيه عن جابر بن عبد الله قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يا رسول الله إن أبي أخذ مالي فقال النبي صلى الله عليه و سلم للرجل اذهب فأتني بأبيك

الكامل لابن عدي

أبي معشر أبو الحسن المدائني علي بن محمد ثنا يحيى بن محمد بن صاعد وصالح بن أحمد بن يونس قالا ثنا مبارك بن عبد الله السراج ثنا عمار بن مطر العنبري ثنا زهير بن معاوية عن أبان بن تغلب عن محمد بن المنكدر عن جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لرجل أنت ومالك لأبيك

 

Berikut pohon sanad dari seluruh jalur periwayatan Jabir bin ‘Abdillah agar memudahkan untuk memahami rantai periwayatannya.

Nampaknya jalur ini tidak ada permasalahan, posisi Muhammad bin Munkadir sebagai madar (common link) menempati maqam ta’dil yang tinggi, al-Hafizh Ibn Hajar dalam Taqribnya memberi penilaian Tsiqatun Faadhilun. (Taqrib al-Tahdzib juz 1 hal. 899 no. 6367)

Jalur kebawahnya pun sangat kuat sekali, ditambah banyaknya jalur periwayatan (tawabi’) hingga posisi ashabnya Muhammad bin Munkadir sangatlah kokoh.

Namun jika merujuk kepada ‘ilal hadits, jalur ini ma’lul (cacat), dan kecacatan ini disebutkan oleh Imam Abu Hatim yang ditulis oleh anaknya dalam kitabnya sebagai berikut:

علل الحديث لابن أبي حاتم (ص: 506(

 -1399وسألتُ أبِي عَن حدِيثٍ ؛ رواهُ عمرُو بنُ أبِي قيسٍ ، ويُوسُفُ بنُ إِسحاق بنِ أبِي إِسحاق الهمدانِيُّ ، عنِ ابنِ المُنكدِرِ ، عن جابِرٍ ، عنِ النّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : أنت ، ومالُك لأبِيك.

قِيل لأبِي : وقد روى مُحمّدُ بنُ يحيى بنِ عَبدِ الكرِيمِ الأزدِيُّ ، عن عَبدِ اللهِ بنِ داوُد ، عن هِشامِ بنِ عُروة ، عن مُحمّدِ بنِ المُنكدِرِ ، عن جابِرِ بنِ عَبدِ اللهِ. قال أبِي : هذا خطأٌ ، وليس هذا محفُوظًا عن جابِرٍ ، رواهُ الثّورِيُّ ، وابنُ عُيينة ، عنِ ابنِ المُنكدِرِ ، أنّهُ بلغهُ عنِ النّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، أنّهُ قال ذلِك. قال أبِي : وهذا أشبهُ.

Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim) tentang hadits Amr bin Qais dan Yusuf bin Ishaq bin Abi Ishaq al-Hamdaniy dari Muhammad bin Munkadir dari Jabir bin Abdillah dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau dan seluruh hartamu milik ayahmu”

Dikatakan pula kepada ayahku, “Dan meriwayatkan pula Muhammad bin Yahya bin Abdil Karim al-Azdiy dari Abdullah bin Dawud dari Hisyam bin ‘Urwah dari Muhammad bin Munkadir dari Jabir bin Abdillah. Ayahku berkata, “Sanad ini terdapat kesalahan”, yang mahfuzh (terpelihara) dari jalur Jabir bukanlah sanad ini, melainkan dari riwayat ats-Tsauriy dan Ibnu ‘Uyainah dari Ibnu Munkadir bahwasanya ia langsung menyandarkannya pada Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda demikian. Ayahku berkata, “Sanad (mursal) inilah yang lebih kuat. (‘Ilal ibn Abi Hatim hal. 506, no. 1399).

Pernyataan imam Abu Hatim ini terbukti bahwa adanya riwayat yang mursal dimana Muhammad bin Munkadir langsung menyandarkan pada Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan sahabat Jabir. Berikut di antara riwayat mursal yang dimaksud:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِىُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ : أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى مَالاً وَعِيَالاً وَإِنَّ لأَبِى مَالاً وَعِيَالاً يُرِيدُ أَنْ يَأْخُذَ مَالِى فَيُطْعِمَهُ عِيَالَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« أَنْتَ وَمَالُكَ لأَبِيكَ »

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah al-Hafidz; telah mengabarkan kepada kami Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’kub; telah mengabarkan kepada kami ar-Rabi’ bin Sulaiman; telah mengabarkan kepada kami asy-Syafi’i; telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Muhammad al-Munkir, “Bahwa seseorang mendatangi Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam seraya bertanya, “Wahai Rasulullah! Sungguh aku memiliki harta dan keluarga. Dan ayahku memiliki harta dan keluarga, namun ia ingin mengambil hartaku untuk diberikan kepada keluarganya.” Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu”. (Sunan al-Kubra lil Baihaqi no. 16168)

Meski hadits ini mursal, dan mursalnya termasuk pada dhaif dari segi saqthun fil isnad, yang mengindikasikan bahwa dhaifnya ringan (muhtamal), terdapat pula jalur muttashil (yang bersambung) lainnya dari berbagai jalur sahabat yang telah disebutkan, diantaranya dari jalur ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. berikut salah satu jalur sanandnya:

حدثنا نَصْرُ بن باب عن حَجَّاج عن عمرو بن شُعَيْب عن أبيه جده: أن رجلاً أتَى النبيَّ -صلي الله عليه وسلم – يخاصم أباه، فقال: يا رسول الله، إن هذا قد احتاج إلى مالي؟، فقال رسول الله -صلي الله عليه وسلم -: “أنت ومالك لأبيك”.

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Bab dari Hajaj dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayah kakeknya, “Bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam untuk bertengkar dengan ayahnya, dia berkata, “Wahai Rasulullah! Sungguh ayahku ini butuh terhadap hartaku?” Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kamu dan hartamu milik ayahmu”.

Untuk memudahkan dalam melihat rantai periwayatannya, berikut pohon sanad dari jalur ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash

Jalur ini baik dan yang menjadi madarnya (sumber periwayatan) adalah ‘Amr bin Syu’aib. Al-Hafizh Ibnu Hajar menyimpulkan dalam Taqribnya dengan memberi maqam ta’dil shaduq (Taqrib at-Tahdzib juz 1 hal. 738 no. 5085).

Meski terdapat rawi bernama Hajjar, beliau adalah Hajjaj bin Arthat bin Tsaur, beliau shaduq (jujur) namun banyak salahnya dan di hukumi tadlis (pemalsu hadits). (Taqrib al Tahdzi juz 1 hal. 222 no. 1127).

Imam al Nasa’i, Ibnu Mubarak, Yahya bin Ma’in dan imam Ahmad menilainya Tadlis. Bahkan acapkali bertadlisnya (memalsukannya) dari rawi yang lemah. Imam Abu Hatuim berkata, “Jika ia memakai shighah tahdis (haddatsana) maka haditsnya Shalih, namun jika memakai shighah ‘an’anah maka haditsnya lemah. Al-Hafizh memasukan tadlisnya Hajjaj bin Arthat pada maratib keempat. (lihat Thabaqat al-Mudallisiin – Ta’rif Ahl al Taqdiis bimaraatib al Muwashifiin bi al-Tadlis, karya Ibn Hajar hal. 49, no. 118)

Akan tetapi terdapat muttabi untuk mengangkat kelemahannya. Pertama, Habib al-Mu’allim. Al-Hafizh Ibnu Hajar menilainya Shaduq (Taqrib al Tahdzib, juz 1 hal 222 no. 1123) . Kedua, Burd bin Sinan. Al-Hafizh Ibn Hajar menempatinya pada thabaqah kelima dengan maqam ta’dil shaduq dan terindikasi Qadariy. (Taqrib al Tahdzib, juz 1 hal 165, no. 659)

Terdapat pula syawahid lainnya dengan redaksi berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ، عَنِ الأَعْمَشِ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ ، عَنِ الأَسْوَدِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : أَطْيَبُ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ : مِنْ كَسْبِهِ ، وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ.

Telah menerangkan kepada kami Abu Mu’awiyah dari al-A’masy dari Ibrahim dari al-Aswad dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik apa yang dimakan seseorang adalah hasil dari kasabnya, dan apa yang dimakan anaknya dari kasabnya. (Sunan Abi Syaibah no. 37365)

Maka dari keseluruhan jalur, dapat disimpulkan bahwa derajat hadis ini adalah shahih lighairih.

Fikih Hadits

Dari semua penjelasan di atas maka sampai pada kesimpulan bahwa memakan harta anaknya meski tanpa seizinnya adalah boleh dan halal.

Imam Ibnu Qudamah l-Maqdisi menyatakan dalam kitabnya Al-Mughniy, “Boleh saja seorang ayah mengambil harta anaknya semaunya lalu ia miliki, apalagi hal itu dibutuhkan oleh ayahnya. Demikian juga dibolehkan mengambilnya meski hal tidak dibutuhkan. Ayah tersebut boleh mengambil harta tersebut dari anaknya yang masih kecil maupun dewasa. Namun pembolehan tersebut mesti memenuhi dua syarat. Pertama, tidak menghabiskan seluruh harta dan tidak memudaratkan anak, juga bukan mengambil yang jadi kebutuhan penting anaknya. Kedua, tidak boleh mengambil harta tersebut dengan tujuan untuk memberikan pada yang lain.

Berbeda dengan Syiakh Utsaimin, beliau menyatakan bahwa kebolehan mengambil harta anak tidak berlaku secara mutlak, namun harus memenuhi beberapa syarat.

Pertama, dalam pengambilan harta tidak menimbulkan kemadharatan bagi anak. Apabila pengambilan tersebut menimbulkan kemudharatan, maka hal ini tidak diperbolehkan. Seperti mengambil pakaian anak yang dibutuhkan untuk melindungi (badannya) dari cuaca dingin atau mengambil makanannya yang dibutuhkan untuk menghilangkan rasa lapar.

Kedua, hendaknya harta yang diambil bukan termasuk kebutuhan pokok sang anak. Misalnya, jika anak tersebut mempunyai budak perempuan yang dijadikan pelayannya, maka tidak boleh sang ayah mengambilnya, karena hal ini berhubungan dengan kebutuhan sang anak. Begitu juga, seandainya sang anak hanya mempunyai sebuah mobil yang dibutuhkan untuk pulang pergi, sedangkan ia tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli mobil pengganti maka dalam kondisi seperti ini tidak boleh sang ayah mengambilnya.

Ketiga, hendaknya sang ayah tidak mengambil harta dari salah satu anak-anaknya untuk diberikan kepada anak yang lain; karena perbuatan seperti ini menimbulkan permusuhan antara anak-anaknya. Juga karena di dalamnya ada pengistimewaan terhadap sebagian anak atas sebagian yang lain, padahal anak tersebut tidak membutuhkannya. Adapun bila anak yang diberi tersebut memang membutuhkan, maka memberikan sesuatu kepada anak yang membutuhkan dan selama di dalamnya tidak ada pengistimewaan, maka hal itu wajib atasnya.

Ringkasnya, hadits ini dijadikan hujjah oleh para ulama dengan syarat-syarat yang sudah dipaparkan di atas. (lihat selengkapnya di fatawa islamiyah, 4: 108-109)

Adapun perihal harta anak yang masih kecil (belum baligh) dengan hasil dari pemberian orang lain, maka sah dan boleh digunakan untuk kebutuhan orangtuanya dan tidak ada kemestian untuk menggantinya. WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *