Shaum Sunnah Rutin Santri PPI 27 - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Shaum Sunnah Rutin Santri PPI 27

7 months ago
811

Pesantren Persis 27 berkomitmen untuk selalu mendidik para santrinya dalam mengamalkan amalan-amalan sunnah yang Nabi Saw ajarkan. Tak hanya ilmu dan hafalan yang terus diperhatikan, tapi dalam hal ibadahnya pun para santri selalu dipantau para Asatidzah. Karena yang terpenting dari hafalan itu ialah pengamalannya, sehingga sia-sia hafalan banyak bila tanpa adanya pengamalan.

Salah satu ibadah yang ditekankan pada para santri ialah, ibadah shaum sunnah. Asatidzah selalu memberikan motivasi untuk memperbanyak shaum, karena hal itu merupakan salah satu sunnah yang tak boleh ditinggalkan. Pada setiap awal pekan, setiap santri diharuskan mengirimkan laporan mengenai ibadah shaum yang dilakukan pada pekan sebelumnya kepada mu’addib (pembimbing) masing-masing. Hal itu dilakukan agar shaum sunnah santri dapat terus terpantau. Santri pun dalam setiap pekannya dianjurkan untuk tidak kosong dari shaum sunnah, minimalnya mereka mengisi dengan shaum senin dan kamis di setiap pekan.

Jamise Syar'i

Tidak hanya shaum sunnah pekanan seperti shaum senin dan kamis yang ditekankan kepada para santri, shaum yang lainnya seperti shaum Dawud, Ayyamul-Bidh, 6 hari Syawwal, Arafah, shaum Sya’ban dan yang lainnya pun amat dianjurkan. Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi Saw mengenai begitu banyak fadhilah yang diraih bagi seseorang yang rutin dalam shaumnya. Salah satunya ialah shaum itu dapat meminimalisir maksiat dan nafsu dalam diri, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul Saw,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

“Shaum itu adalah perisai. Maka janganlah berbuat rafats  dan berbuat bodoh (yang tidak bermanfaat). Dan apanila ada seseorang yang mengajak bertengkar atau mencelanya hendaklah ia mengatakan ‘sesungguhnya aku sedang shaum’ dua kali” (Shahih al-Bukhari kitab Shaum bab fadhli shaum, no. 1894)

Maksud perisai disini, Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari’ menguraikan, bahwa “perisai” dalam hadits ini maksudnya ialah menjauhkan pelakunya dari segala hal yang buruk, maka orang yang shaum patut untuk menjaga dirinya dari berbagai dosa atau hal-hal yang dapat mengurangi pahala shaum, karena faidah dari shaum ialah mengurangi keinginan diri untuk bermaksiat. Dan maksud perisai disini pun ialah melindunginya dari api neraka. Maka apabila shaum itu dapat menahannya dari syahwat (keinginan berbuat dosa) didunia maka ia akan terlindung dari neraka di akhirat nanti. (al-Ashqalaniy, Fath al-Bari’ bab Fadhli ash-Shaum. Vol. IV, hlm. 104).

Ibadah shaum pun akan menghasilkan ganjaran yang luar biasa bila dipadukan dengan ibadah yang lain, yaitu jihad. Rasulullah Saw bersabda,

          مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Tiada seorang hambapun yang berpuasa sehari dengan niat fisabilillah -yakni semata-mata menuju kepada ketaatan kepada Allah-, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya -yakni dirinya- karena puasanya tadi, sejauh perjalanan tujuh puluh tahun dari neraka.” (Shahih al-Bukhari, kitab al-jihad wa as-siyar, bab fadhl shaum fi sabilil-‘Llah, no. 2840)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan dengan mengutip beberapa penjelasan, dan yang beliau pilih ialah penjelasan dari Imam al-Jauzy, bahwasannya yang dimaksud dengan sabilil-‘Llah pada hadits tersebut ialah jihad berperang dijalan Allah Swt. (al-Ashqalany, Fath al-Bari’, kitab al-jihad wa as-siyar, bab fadhl shaum fi sabilil-‘Llah, Vol. VI, hlm. 48).

Namun mungkin makna jihad disini dapat diperluas. Misal, sebagai seorang santri atau thullab; penuntut ilmu, belajar adalah sebuah bentuk jihad baginya. Sehingga para santri disamping sibuk dengan belajar dan menghafal al-Qur’an dan hadits, disamping itu pula mereka melaksanakan shaum. Sehingga amalan yang tengah mereka lakukan menjadi lebih maksimal lagi, karena tidak terganggu oleh waktu jajan, makan, atau berkumpul sembari menyantap jajanannya, dan ia pun mengisi harinya dengan shalat-shalat sunnah, muraja’ah (repetisi) ataupun ziyadah (tambahan) hafalan al-Qur’an.

Hal ini lah yang sangat diharapkan oleh pihak pesantren. Karena hal ini sebagai suatu usaha dalam melahirkan generasi tafaqquh-fiddin yang maksimal dalam beramal. Wa-‘Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *