

Beberapa waktu belakangan ini media sosial dan media elektronik dihebohkan oleh munculnya kasus mengenai Keraton Agung Sejagat (KAS). Seperti diketahui, nama Toto Santoso Hadiningrat dan Dyah Gitarja ini mendadak ramai menjadi perbincangan di media sosial setelah keduanya mengklaim dirinya sebagai raja dan ratu Keraton Agung Sejagat di Purworejo Jawa Tengah. Keduanya ditangkap oleh Polisi pada 14 Januari 2020 lalu.
Banyak komentar-komentar netizen yang menyebutkan bahwa keduanya mengidap gangguan mental/gangguan kejiwaan. Tidak sedikit pula yang mengomentari jika itu semua memang tidak ada hubungannya dengan gangguan mental, namun menggunakan cara tersebut (mengaku sebagai raja dan ratu) sebagai salah satu strategi untuk meraih keuntungan pribadi dengan memanfaatkan pengikutnya untuk tujuan tertentu.
Adapun untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab hal tersebut sebaiknya dilakukan pemerikasaan psikologis terlebih dahulu apakah ada gangguan mental atau tidak. Bilamana dilihat dari sisi psikologis, seseorang yang mengklaim sebagai raja ataupun ratu ini diduga mengidap gangguan psikologis “waham kebesaran”. Waham kebesaran adalah keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki kekuatan khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya meyakini bahwa dia adalah raja sedunia, dia adalah penguasa alam semesta, dan sebagainya. Meyakini bahwa dirinya sebagai Tuhan atau meyakini dirinya sedang dalam misi khusus, atau memiliki rencana yang hebat namun tidak logis untuk menyelamatkan dunia (Nevid, dkk. 2003).
Mengapa waham bisa terjadi? Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki waham tertentu. Setidaknya ada delapan kondisi yang memungkinkan perkembangan waham, yaitu: (1) Peningkatan harapan, yakni ketika seseorang memiliki harapan yang terlalu tinggi, namun mengalami hambatan atau kegagalan dalam mewujudkannya. (2) Mendapatkan terapi sadistic, misalnya kekerasan dalam rumah tangga yang berlangsung lama, atau praktik penyiksaan lainnya. (3) Adanya isolasi sosial misalnya fenomena pasung. (4) Situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan. (5) Situasi yang meningkatkan kecemburuan. (6) Situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri. (7) Situasi yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya pada orang lain. (8) Situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan motivasi terhadap sesuatu misalnya obsesi pada agama, obsesi pada ritual budaya, dan sebagainya (Sadock, V.A., & Sadock, B.J., 2010).
Orang dengan gangguan waham kebesaran ini mempunyai gangguan kesadaran akan realita dan fantasinya. Adanya delusi keyakinan yang salah dan menetap pada pikiran seseorang tanpa mempertimbangkan dasar yang tidak logis dan tidak ada bukti untuk mendukung keyakinannya. Delusinya terwujud dalam kehidupan sehari-harinya dan menuntut orang lain untuk mempunyai perspektif yang sama dengan delusinya. Terdapat pembicaraan yang tidak logis tanpa bukti karena hanya mengandalkan keyakinan pribadinya (Nevid, dkk. 2003).
Kemudian, bagaimana kondisi dari pengikut Keraton Agung Sejagat? Para pengikut atau anggota Keraton Agung Sejagat ini mereka bisa taat kepada sang raja karena beberapa hal. Pertama, adanya orientasi materialistik dan kesulitan finansial yang menyebabkan seseorang tidak bisa berfikir logis/rasional (mindlessness condition). Akibatnya para pengikutnya ini mudah diiming-imingi oleh materi (seperti pendapatan yang besar, menjadi kerabat kerajaan, dan sebagainya).
Alasan kedua, yakni adanya konformitas, yaitu suatu jenis pengaruh sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada (Mayers, 2012). Dalam hal ini, para pengikutnya bersedia menjadi anggota Keraton Agung Sejagat atas dasar dipengaruhi oleh orang-orang terdekatnya atau orang yang disukai agar mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Tidak hanya itu, sebagai seseorang yang mengaku dirinya “raja”, Toto juga mempunyai taktik untuk dapat mempengaruhi pengikutnya, ia menggunakan strategi mempersuasi orang lain yang menekankan bukan pada isi pesannya namun ada hal-hal yang membungkus pesan tersebut, misalnya dengan simbol-simbol kebesaran, pakaian, dan seragam kerajaan.
Umat Islam sudah pada tempatnya merasa khawatir akan adanya perilaku di luar nalar yang dilakukan oleh Keraton Agung Sejagat ini, sehingga memunculkan keresahan di lingkungan masyarakat. Ini bukan termasuk su`uzhan, melainkan sesuatu yang memang jelas munkar berdasarkan kacamata psikologi.
Untuk menghindari diri agar tidak mudah terbujuk oleh modus yang seperti Keraton Agung Sejagat adalah:
Pertama, mendatangi majelis-majelis ilmu, untuk menambah wawasan, baik wawasan keagaman, wawasan politik, maupun wawasan kewarganeragaan.
Kedua, kedepankan pikiran yang rasional dengan memperhatikan bukti logis suatu fenomena.
Ketiga, perhatikan isi pesan dan bukan simbol-simbol perantara dari orang yang membawa pesan. Misalnya, memperhatikan latar belakang dan tujuan kegiatan, sumber dana kegiatan, dan sebagainya. Karena biasanya simbol-simbol digunakan sebagai pengecoh agar apapun isi pesannya dianggap benar oleh pengikutnya.
Wallahu A’lam.
Penulis : Rafiq Hilal (Magister Psikologi Islam dari UIN Jogja)
Referensi
Mayers, David G. 2012. Psikologi Sosial. Edisi Kesepuluh Jilid 1. Jakarta: S alemba Humanika.
Nevid, S Jeffrey, dkk (2003). Psikologi Abnormal. Alih Bahasa : Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Sadock, V.A., & Sadock, B.J. (2010). Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Ed.2. Jakarta: EGC.












