Majalah Islam Digital Tafaqquh
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Sunday, April 5, 2026
  • Login
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
Majalah Islam Digital Tafaqquh
No Result
View All Result
Home Artikel Terbaru

Adzan dan Seruan as-Shalata Jami’ah dalam Shalat ‘Id

tafaqquh by tafaqquh
September 1, 2020
in Artikel Terbaru, Edisi 5 Bulan Mei 2020, Hadits Ahkam, Tafsir Hadits
0
Adzan dan Seruan as-Shalata Jami’ah  dalam Shalat ‘Id
0
SHARES
801
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

  1. وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir ibn Samurah—semoga Allah meridlai keduanya—ia berkata: “Aku shalat ‘idain (‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adlha) bersama Nabi saw bukan hanya sekali dua kali, tanpa adzan dan iqamah.” Muslim meriwayatkannya.

  1. وَنَحْوُهُ فِي الْمُتَّفَقِ: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَغَيْرِه

Yang seperti itu dalam riwayat yang disepakati keshahihannya dari Ibn ‘Abbas—semoga Allah meridlai keduanya—dan juga ada dari shahabat lainnya

Tautsiq Hadits

Hadits Jabir ibn Samurah dituliskan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya kitab shalatil-‘idain no. 2088. Sementara hadits Ibn ‘Abbas di bawahnya dituliskan pada no. 2086-2087. Dalam Shahih al-Bukhari hadits Ibn ‘Abbas ditulis pada bab al-masyy war-rukub ilal-‘id was-shalat qablal-khuthbah bi ghairi adzan no. 959, bab wal-ladzina lam lablughul-hulum no. 5249, bab ma dzkaran-Nabiy saw wa hadlla ‘ala-ttifaqi ahlil-‘ilm no. 7322.

Shahabat lain yang meriwayatkan hadits di atas adalah Jabir ibn ‘Abdillah, ditulis oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahihnya masing-masing pada bab yang sama. Dalam Shahih al-Bukhari no. 960 dan Shahih Muslim pada no. 2085-2086. Salah satunya disampaikan kepada shahabat Ibn ‘Abbas yang data riwayatnya dituliskan di atas.

Dalam Fathul-Bari, al-Hafizh Ibn Hajar menginventarisir shahabat-shahabat lain yang meriwayatkan hadits semakna dengan hadits di atas, yaitu: (1) Ibn ‘Umar yang diriwayatkan an-Nasa`i; (2) Sa’ad ibn Abi Waqqash riwayat al-Bazzar; dan (3) al-Bara` ibn ‘Azib riwayat at-Thabrani.

Syarah Hadits

Hadits di atas menegaskan bahwa dalam shalat ‘Idain (dua ‘Id; ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adlha) tidak ada syari’at adzan dan iqamah. Imam Malik dalam al-Muwaththa` menyatakan bahwa ini adalah ijma’ (kesepekatan) dan tidak ada ikhtilaf (perbedaan pendapat), sebab dari zaman Nabi saw sampai masa beliau di Madinah tidak pernah ada adzan dan iqamah dalam shalat ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adlha. Imam al-Husain al-Maghribi (w. 1119 H) penulis kitab al-Badrut-Tamam (kitab asal dari Subulus-Salam, karena kitab Subulus-Salam merupakan mukhtashar/ringkasan dari kitab al-Badrut-Tamam), ketika mensyarah hadits di atas juga menegaskan bahwa tidak adanya syari’at adzan dan iqamah dalam shalat ‘Idain merupakan ijma’ umat Islam.

Meski demikian bukan berarti tidak pernah ada yang memprakarsai adzan dan iqamah dalam shalat ‘Idain. Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari bab al-masyy war-rukub ilal-‘id was-shalat qablal-khuthbah bi ghairi adzan menginventarisir beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa adzan dan iqamah dalam shalat ‘Idain pernah dipraktikkan di masa salaf. Menurut riwayat Ibn Abi Syaibah dari Sa’id ibn al-Musayyib, tokoh yang pertama kali memprakarsai adzan dan iqamah dalam shalat ‘Idain adalah Mu’awiyah (w. 60 H) di Syam. Imam as-Syafi’i meriwayatkan dari jalan az-Zuhri bahwa al-Hajjaj (w. 95 H) ketika diangkat menjadi Gubernur di Madinah oleh Khalifah ‘Abdul-Malik ibn Marwan (w. 86 H) pada tahun 73 H memberlakukannya juga di Madinah. Ibnul-Mundzir meriwayatkan dari Hushain ibn ‘Abdirrahman bahwa yang memprakarsainya di Bashrah adalah Ziyad. Menurut riwayat ad-Dawudi, yang memprakarsainya pertama kali adalah Marwan ibn al-Hakam, ayah dari Khalifah ‘Abdul-Malik ibn Marwan. Ibnul-Mundzir juga meriwayatkan yang pertama kali memprakarsainya di Makkah adalah ‘Abdullah ibnuz-Zubair. Untuk yang terakhir ini ada diriwayatkan dalam Shahih Muslim teguran dari Ibn ‘Abbas kepada ‘Abdullah ibnuz-Zubair (w. 73 H) yang pernah menjabat sebagai Khalifah selama 10 tahun (64-73 H) dan beribukota di Makkah sebagai berikut:

قال عَطَاءٌ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَرْسَلَ إِلَى ابْنِ الزُّبَيْرِ أَوَّلَ مَا بُويِعَ لَهُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ لِلصَّلاَةِ يَوْمَ الْفِطْرِ فَلاَ تُؤَذِّنْ لَهَا. قَالَ فَلَمْ يُؤَذِّنْ لَهَا ابْنُ الزُّبَيْرِ يَوْمَهُ وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ مَعَ ذَلِكَ إِنَّمَا الْخُطْبَةُ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَإِنَّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يُفْعَلُ. قَالَ فَصَلَّى ابْنُ الزُّبَيْرِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ.

‘Atha` berkata: “Sungguh Ibn ‘Abbas mengirim utusan kepada Ibnuz-Zubair pada pertama kali ia dibai’at untuk menyampaikan bahwasanya tidak ada adzan untuk shalat pada hari fithri, maka janganlah anda mengadakan adzan untuknya. Maka Ibnuz-Zubair pun tidak mengadakan adzan pada hari itu. Ibn ‘Abbas menyampaikan pesan juga kepadanya bahwa khutbah itu harus sesudah shalat, dan sungguh hal tersebut (khutbah lalu shalat) sudah dikerjakan waktu itu. Maka Ibnuz-Zubair pun shalat sebelum khutbah.” (Shahih Muslim kitab shalatil-‘idain no. 2087).

Keterangan bahwa pada zaman salaf pernah diamalkan khutbah ‘Id dahulu kemudian shalat dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri riwayat Muslim no. 2090. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa Marwan ibn al-Hakam (w. 65 H) memulai khutbah dahulu sebelum shalat sebagaimana halnya shalat jum’at. Hingga pada satu kesempatan ‘Id, Abu Sa’id sengaja menempel Marwan dan menyeretnya ke tempat shalat agar ia memulai shalat dahulu sebelum khutbah. Mereka pun bersitegang di hadapan jama’ah karena Marwan tetap mau khutbah dahulu. Sikap tegas dari Abu Sa’id al-Khudri membuat Marwan mengalah meski saat itu ia sebagai khalifah, sehingga ia shalat dahulu sebelum khutbah.

Ijma’ tidak adanya adzan dan iqamah dalam shalat ‘Id tidak serta merta berlaku pada panggilan lainnya di luar adzan dan iqamah, khususnya dalam hal seruan: as-shalata jami’ah (mari shalat secara berjama’ah). Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan:

هَذَا دَلِيل عَلَى أَنَّهُ لَا أَذَان وَلَا إِقَامَة لِلْعِيدِ وَهُوَ إِجْمَاع الْعُلَمَاء الْيَوْم، وَهُوَ الْمَعْرُوف مِنْ فِعْل النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاء الرَّاشِدِينَ. وَنُقِلَ عَنْ بَعْض السَّلَف فِيهِ شَيْء خِلَاف إِجْمَاع مَنْ قَبْله وَبَعْده، وَيُسْتَحَبّ أَنْ يُقَال فِيهَا : الصَّلَاة جَامِعَة بِنَصْبِهَا الْأَوَّل عَلَى الْإِغْرَاء وَالثَّانِي عَلَى الْحَال

Ini adalah dalil bahwasanya tidak ada adzan dan iqamah untuk shalat ‘Id. Dan ini adalah ijma’ ulama sampai hari ini. Itulah yang dikenal dari pengamalan Nabi saw dan Khulafa Rasyidin. Meski ada diriwayatkan dari sebagian salaf yang berbeda dengan ijma’ sebelumnya dan sesudahnya. Dan dianjurkan untuk dikumandangkan: as-Shalata jami’atan, dengan menashab yang pertama (as-shalata) sebagai ighra` (panggilan pada kebaikan) dan menashabkan yang kedua (jami’atan) sebagai hal (Syarah Shahih Muslim kitab shalatil-‘idain).

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa anjuran mengumandangkan “as-shalata jami’ah” dalam shalat ‘Id itu adalah sebuah riwayat yang diterima oleh Imam as-Syafi’i dari az-Zuhri, dari Nabi saw, secara mursal (terputus sanadnya karena tidak menyebutkan shahabat):

رَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ الثِّقَةِ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ فِي الْعِيدَيْنِ أَنْ يَقُولَ: الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ

Imam as-Syafi’i meriwayatkan dari seorang tsiqah dari az-Zuhri, ia berkata: “Rasulullah saw memerintahkan muadzdzin dalam shalat ‘Idain untuk mengumandangkan: as-Shalata jami’ah.” (Fathul-Bari bab al-masyy war-rukub ilal-‘id was-shalat qablal-khuthbah bi ghairi adzan).

Meski mengakui riwayat di atas dla’if karena mursal, al-Hafizh Ibn Hajar menyatakan bahwa statusnya dikuatkan oleh qiyas pada shalat Kusuf dimana hadits-hadits shahih banyak yang menerangkan perintah Nabi saw kepada muadzdzin untuk mengumandangkan as-shalata jam’iah. Al-Hafizh Ibn Hajar menyatakan:

وَهَذَا مُرْسَلٌ يُعَضِّدُهُ الْقِيَاسُ عَلَى صَلَاةِ الْكُسُوفِ لِثُبُوتِ ذَلِكَ فِيهَا كَمَا سَيَأْتِي

Ini adalah riwayat mursal, tetapi dikuatkan oleh qiyas atas shalat Kusuf karena kuatnya riwayat dalam hal tersebut sebagaimana akan datang pembahasannya (Fathul-Bari bab al-masyy war-rukub ilal-‘id was-shalat qablal-khuthbah bi ghairi adzan).

Lebih lanjut al-Hafizh Ibn Hajar mengutip pernyataan Imam as-Syafi’i:

قَالَ الشَّافِعِيُّ: أُحِبُّ أَنْ يَقُولَ الصَّلَاة أَوْ الصَّلَاة جَامِعَة، فَإِنْ قَالَ: هَلُمُّوا إِلَى الصَّلَاةِ لَمْ أَكْرَهْهُ، فَإِنْ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ أَوْ غَيْرَهَا مِنْ أَلْفَاظِ الْأَذَانِ أَوْ غَيْرَهَا كَرِهْت لَهُ ذَلِكَ

Imam as-Syafi’i berkata: “Aku suka dikumandangkan ‘as-shalah’ atau ‘as-shalata jami’ah’. Jika seseorang mengatakan: ‘Marilah untuk shalat’ aku tidak membencinya. Tetapi jika ia mengatakan: ‘Hayya ‘alas-shalah’ atau lafazh adzan lainnya, aku membenci hal tersebut.” (Fathul-Bari bab al-masyy war-rukub ilal-‘id was-shalat qablal-khuthbah bi ghairi adzan).

Jadi intinya Imam as-Syafi’i dan ulama-ulama madzhabnya menganjurkan adanya kumandang “as-shalata jami’ah” berdasarkan perintah Nabi saw untuk mengumandangkannya pada shalat Kusuf. Dari dalil shalat Kusuf tersebut dipahami bahwa shalat-shalat berjama’ah yang tidak ada syari’at adzan berarti dianjurkan dikumandangkan as-shalata jami’ah.

Hal yang sama dinyatakan juga oleh Imam al-Husain al-Maghribi (w. 1119 H) penulis kitab al-Badrut-Tamam syarah Bulughul-Maram dengan menyatakannya mustahab (dianjurkan) untuk shalat yang tidak ada syari’at adzan selain shalat jenazah untuk dikumandangkan as-shalata jami’ah.

Meski dalam hadits Jabir ra riwayat Muslim ada pernyataan tidak ada panggilan apapun, menurut Imam an-Nawawi, maksudnya tidak ada panggilan adzan, iqamah, dan sebagian lafazh dari adzan dan iqamah. Sementara as-shalata jami’ah dianjurkan (Syarah Shahih Muslim). Hadits Jabir ra yang dimaksud adalah:

قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِىُّ أَنْ لاَ أَذَانَ لِلصَّلاَةِ يَوْمَ الْفِطْرِ حِينَ يَخْرُجُ الإِمَامُ وَلاَ بَعْدَ مَا يَخْرُجُ وَلاَ إِقَامَةَ وَلاَ نِدَاءَ وَلاَ شَىْءَ لاَ نِدَاءَ يَوْمَئِذٍ وَلاَ إِقَامَةَ

Jabir ibn ‘Abdillah berkata: “Tidak ada adzan untuk shalat pada hari Fithri ketika imam keluar, tidak juga setelah imam keluar. Demikian juga tidak ada iqamah, tidak ada seruan, tidak ada sesuatu apapun, tidak ada seruan pada hari itu, tidak ada juga iqamah.” (Shahih Muslim kitab shalatil-‘idain no. 2086).

Akan tetapi Imam as-Shan’ani penulis Subulus-Salam membantahnya dengan tegas. Menurutnya tidak ada dalil yang shahih untuk menyatakannya mustahab. Dalil yang dijadikan hujjah oleh Imam as-Syafi’i jelas dla’ifnya. Di samping itu alasan diqiyaskan kepada shalat Kusuf tentu tidak tepat karena qiyas dalam ibadah tidak boleh terjadi. Beliau kemudian mengutip pernyataan Imam Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, Zadul-Ma’ad fi Hadyi Khairil-‘Ibad.

وَأَمَّا الْقَوْلُ بِأَنَّهُ يُقَالُ فِي الْعِيدِ عِوَضًا عَنْ الْأَذَانِ الصَّلَاةَ جَامِعَةً، فَلَمْ تَرِدْ بِهِ سُنَّةٌ فِي صَلَاةِ الْعِيدَيْنِ. قَالَ فِي الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ: وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْتَهَى إلَى الْمُصَلَّى أَخَذَ فِي الصَّلَاةِ: أَيْ صَلَاةِ الْعِيدِ مِنْ غَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إقَامَةٍ، وَلَا قَوْلِ: الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ، وَالسُّنَّةُ أَنْ لَا يُفْعَلَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ

Adapun pernyataan bahwasanya dikumandangkan dalam shalat ‘Id sebagai pengganti adzan: as-shalata jami’ah, maka tidak ada sunnahnya dalam shalat ‘Idain. Imam Ibnul-Qayyim menyatakan dalam kitab al-Hadyun-Nabiy (Zadul-Ma’ad): “Nabi saw apabila sampai ke mushalla beliau langsung shalat, yaitu shalat ‘Id, tanpa ada adzan, iqamah, juga kumandang as-shalata jami’ah.” Dan sunnahnya adalah tidak mengamalkan satu pun dari itu (Subulus-Salam bab al-adzan).

Dari pernyataan Jabir ra dalam riwayat Imam Muslim di atas juga sebenarnya cukup jelas, bahwa tidak ada seruan apapun, baik itu adzan, iqamah, atau panggilan lainnya untuk shalat ‘Id. Termasuk di dalamnya berarti seruan as-shalata jami’ah.

Meski demikian, minimalnya umat Islam memahami model istinbath fiqih dari para ulama mu’tabar dan kemudian bersikap bijak dalam menyikapinya. Meski yang tepat tidak boleh ada adzan, iqamah, seruan as-shalata jami’ah, dan seruan lainnya, tetapi ijtihad para ulama sekelas Imam as-Syafi’i, Imam an-Nawawi, dan Ibn Hajar al-‘Asqalani tidak boleh dihukumi dengan vonis bid’ah. Wal-‘Llahu a’lam.

Tags: adzanid
Previous Post

Hukum Rukhshah Shaum bagi Tenaga Medis Covid-19

Next Post

Bersyukur dan Bersabar

tafaqquh

tafaqquh

Next Post
Bersyukur dan Bersabar

Bersyukur dan Bersabar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

March 11, 2021
Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

January 24, 2021
Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

July 5, 2021
Harta Anak Harta Orangtua

Harta Anak Harta Orangtua

April 2, 2021
Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

7
Salam Semua Agama, Selamat Natal, BID’AH

Konsep Bid’ah Menurut NU

4
Peran Perempuan Dalam Keluarga

Peran Perempuan Dalam Keluarga

0
Degradasi Ulama

Degradasi Ulama

0
Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024

Recent News

Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In