

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهَا أَخْبَرَتْنَا: أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ: «أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ» رواه البخاري
“Dari Aisyah Radhiyallâhu ‘anhâ, istri Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, bahwasanya Aisyah Radhiyallâhu ‘anhâ mengkhabarkan kepada kami, bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang wabah penyakit, maka Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengabarinya: Sesungguhnya wabah penyakit itu siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tetapi Allah juga menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak ada dari seorang hamba pun yang ketika terjadi wabah penyakit, dia tetap tinggal di negerinya karena bersabar, seraya mengetahui bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali yang telah Allah tetapkan, melainkan ia akan memperoleh pahala seperti yang mati syahid. (H.R. Bukhari no. 5734)
Bersabar adalah perintah dari Allah kepada orang-orang yang beriman. Karena ini adalah perintah dari Allah, maka hukumnya wajib. Tujuannya adalah agar keadaan orang yang beriman itu selalu dalam kebaikan dan mendapatkan pahala dari Allah. Orang-orang yang beriman harus bersabar, tidak hanya ketika mendapat musibah saja, tetapi ketika sedang menjalankan perintah Allah, dan ketika sedang menjauhi larangan-Nya pun harus bersabar.
Firman Allah swt dalam al-Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Baqarah: 153)
Allah swt menjelaskan bahwa sarana yang paling baik untuk menanggung segala macam cobaan ialah dengan sikap sabar dan banyak shalat.
عَنْ حُذَيْفَةَ رَضَيَ اللَّهُ عَنْهُ قالَ: كَانَ النَّبيُّ ﷺ إِذَا حزبَهُ أمرٌ صلَّى. رواه أحمد
“Dari Khudzaifah dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam apabila dirundung suatu masalah, beliau shalat.” (H.R. Ahmad)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصابِرُوا وَرابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung. (Q.S. Ali Imran ayat 200)
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar ayat 10)
عَنْ صُهَيْبٍ رضي اللَّهُ عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ» رواه مسلم
Dari Shuhaib ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Perkara orang mukmin itu mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, jika tertimpa kesenangan ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Dan jika tertimpa musibah ia bersabar dan sabar itu baik baginya. (H.R. Muslim no. 2.999)
Salah satu bentuk musibah yang harus disikapi dengan penuh kesabaran adalah terjadinya wabah penyakit. Ketika ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang thâûn/wabah penyakit, beliau menjawab: “Sesungguhnya wabah penyakit itu siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki”. Ibnu Hajar dalam Fathul Bârî mengatakan bahwa yang dimaksud “kepada siapa yang Dia kehendaki” adalah kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang berbuat maksiat. Bagi orang-orang kafir dan ahli maksiat, wabah ini menjadi siksa bagi mereka.
Allah swt tidak akan menurunkan adzab kepada penduduk yang beriman dan beramal sholeh. Justru Allah akan menurunkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Sebaliknya, turunnya wabah penyakit ini karena sudah banyak orang yang melakukan dosa. Ketika suatu daerah sudah banyak yang melakukan dosa, maka hakikatnya adalah mengundang siksa Allah swt. Sehingga Allah membinasakan penduduk itu semuanya. Sebagaimana firman-Nya: “Dan tidaklah Kami membinasakan penduduk kampung-kampung; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezhaliman”. Dosa yang dilakukan adalah dosa-dosa besar. Di antaranya adalah sudah banyak yang melakukan perzinahan.
عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا لَمْ يَفْشُ فِيهِمْ وَلَدُ الزِّنَا فَإِذَا فَشَا فِيهِمْ وَلَدُ الزِّنَا فَيُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعِقَابٍ»
Dari Maimunah, istri Nabi saw dia bekata: Saya telah mendengar Rasulullâh saw bersabda: Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama di antara mereka tidak bermunculan anak hasil zina, jika anak hasil perzinahan sudah bermunculan di antara mereka, dikhawatirkan Allah akan menghukum mereka semua. (H.R. Ahmad, no. 26830)
Jika Allah swt sudah menurunkan siksa-Nya, maka orang-orang yang baik pun akan kena, sebagaimana Rasulullah saw sabdakan: “Jika Allah menurunkan adzab, maka adzab itu akan mengenai siapa saja yang berada ditengah-tengah mereka, lantas mereka dihisab sesuai amalan mereka.” (H.R. Bukhâri)
Sedangkan bagi orang-orang beriman, wabah ini menjadi rahmat bagi mereka; bentuk kasih sayang Allah kepada orang-orang yang beriman, dan untuk meningkatkan derajat di sisi Allah. Bahkan dengan adanya wabah ini menjadi pahala syahid jika mereka meninggal dunia. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
سَمِعْتُ أَبَا عَسِيْبٍ مَوْلَى رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ: أَتَانِي جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِالْحُمَّى وَالطَّاعُوْنِ فَأَمْسَكْتُ الْحُمَّى بِالْمَدِيْنَةِ وَأَرْسَلْتُ الطَّاعُوْنَ إِلَى الشَّامِ فّالطَّاعُوْنُ شَهَادَةٌ لِأُمَّتِي وَرَحْمَةٌ لَهُمْ وَرِجْسٌ عَلَى الْكَافِرِيْنَ – رواه أحمد
Saya mendengar Abu ‘Asîb maula Rasulullâh saw ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Malak Jibril ‘Alaihi al-salâm datang kepadaku membawa demam dan tha’ûn, maka aku tahan demam di Madinah, sedangkan tha’ûn aku lepaskan ke negeri Syam, oleh karena itu penyakit tha’ûn adalah sebagai syahid bagi umatku dan rahmat bagi mereka, sedangkan bagi orang kafir sebagai penyakit. (H.R. Ahmad)
فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا
Tidak ada dari seorang hamba pun yang ketika terjadi wabah penyakit, dia tetap tinggal di negerinya karena bersabar.
Wabah penyakit akan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman, yaitu tatkala di daerah mereka ada wabah, mereka diam; tinggal di rumah, tidak keluar dari daerah itu, dan mereka lakukan hal itu dengan penuh kesabaran. Tindakan diam di rumah atau tidak keluar bertujuan supaya virus itu tidak menyebar. Begitu juga orang luar tidak boleh masuk ke daerah yang terkena wabah penyakit tersebut, tujuannya agar tidak terkena wabah. Hal ini merupakan perintah Rasulullâh saw kepada umatnya.
عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَسْأَلُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي الطَّاعُونِ فَقَالَ أُسَامَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الطَّاعُونُ رِجْسٌ أُرْسِلَ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ. رواه البخاري –
Dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqash dari bapaknya bahwa dia mendengar bapaknya bertanya kepada Usamah bin Zaid; “Apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah saw tentang masalah tha’un?”. Maka Usamah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un adalah sejenis kotoran (siksa) yang dikirim kepada satu golongan dari Bani Isra’il atau kepada umat sebelum kalian. Maka jika kalian mendengar ada wabah tersebut di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut dan jika kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi darinya. (H.R. Bukhari)
Ibnu Hajar mengatakan: Bersabar ketika terjadi wabah penyakit; yaitu tidak jengkel, cemas dll, tetapi bagi orang muslim meyakini bahwa ini terjadi karena sudah kehendak dan ridla dengan ketentuan Allah. Bersikap seperti inilah yang akan mencapai kepada derajat mendapatkan pahala syahid. Bahkan Ibnu hajar menambahkan pendapatnya bagi orang yang beriman jika mereka meninggal dunia akan mendapatkan pahala dua syahid; syahid ketika menyikapi wabah penyakit dengan sabar, dan syahid ketika meninggal karena wabah penyakit itu.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ: «إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ» قَالُوا: فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ» قَالَ ابْنُ مِقْسَمٍ: أَشْهَدُ عَلَى أَبِيكَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ قَالَ: «وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ
“Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: Apa yang dimaksud orang yang mati syahid di antara kalian?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, orang yang meninggal di jalan Allah itulah orang yang mati syahid.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, sedikit sekali jumlah umatku yang mati syahid.” Para sahabat berkata, “Lantas siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka dia syahid, siapa yang mati di jalan Allah juga syahid, siapa yang mati karena penyakit kolera juga syahid, dan siapa yang mati karena sakit perut juga syahid. Ibnu Miqsam berkata: Aku bersaksi atas ayahmu dalam hadits ini, bahwasannya beliau bersabda: Dan yang tenggelam juga termasuk syahid.” (H.R. Muslim no 1915)
Imam an-Nawawi berkata dalam kitab Syarah Muslim: Para ulama berpendapat: Yang dimaksud mereka yang syahid, yaitu yang meninggal dunia karena tha’un, karena sakit perut, karena tenggelam, dan karena tertimpa reruntuhan bangunan, mereka mendapatkan pahala syahid dan sewaktu di dunia mereka dimandikan dan dishalatkan. Dan orang yang terbunuh dalam peperangan membela agama Allah maka ini juga termasuk syahid, hanya saja dia langsung dikubur tanpa dimandikan dan dishalatkan terlebih dahulu.
Menurut imam an-Nawawi orang yang tergolong mati syahid itu ada 3, yaitu: Pertama, orang yang syahid di dunia dan akhirat, yang termasuk golongan ini adalah orang muslim yang terbunuh dalam peperangan melawan orang-orang kafir. Kedua, syahid di akhirat, tidak syahid di dunia, yaitu mereka meninggal karena tha’un, tenggelam, sakit perut, terbakar, tertimpa reruntuhan, dan melahirkan anak (riwayat imam Malik dari sahabat Jabir bin ‘Atik). Dan ketiga, syahid di dunia tetapi tidak syahid di akhirat, yaitu mereka yang meninggal karena berkhianat dalam pembagian ghanimah, atau mereka yang lari dari peperangan.
Semua orang yang beriman pastinya mendambakan untuk meninggal dalam keadaan syahid, karena pahalanya begitu besar; semua dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah swt. Sebagaimana dalam hadits:
وعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: يَغْفِرُ اللَّهُ لِلشَّهِيدِ كُلَّ ذُنُبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ (رواه مسلمٌ). وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُكَفِّرُ كُلَّ شَيءٍ إلاَّ الدَّيْنِ.
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash, semoga Allah meridlai mereka berdua, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: Allah akan mengampuni semua dosa-dosa orang yang mati syahid kecuali hutang. Dan pada satu riwayat bagi Imam Muslim: Orang yang terbunuh di jalan Allah akan dihapus semua dosa-dosanya kecuali utang.
Dengan hadits ini bahwa orang yang mati syahid dosa-dosanya terhapus, tetapi tidak dengan hutang. Maka orang-orang yang beriman harus berhati-hati dengan masalah ini, jangan sampai meninggal dunia sambil membawa hutang. Na’uudzubillaahi min dzaalik. Agar pahala syahid sampai kepada orang-orang yang beriman ketika wabah penyakit ini merajalela, maka sikap terbaik adalah dengan cara mengoptimalkan ikhtiar, bersabar, dan bertawakkal kepada Allah swt. Wal-Llaahu a’lam












