

Ketika turun musibah di hadapan kita mungkin terbenak dalam pikiran kita suatu pertanyaan ini, mengapa Allah menurunkan musibah dan bencana? Bukankah Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang? Ketika musibah itu turun lalu dimanakah kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla?. Imam al-Ghazali dalam karyanya al-Maqshad al-Asna fi Syarhi Ma’ani Asma Illahil Husna memberikan analogi sederhana untuk menjawab pertanyaan semisal ini.
Jika seorang anak kecil mengalami sakit berat kemudian ia divonis oleh seorang dokter agar dipotong kakinya karena penyakitnya itu. Jika kakinya tidak segera dipotong maka penyakitnya itu akan menjalar ke seluruh tubuh dan penyakitnya akan bertambah parah. kemudian ibu seorang anak itu menolak dan berkata, “Dokter mohon jangan potong tangan anak saya, sungguh saya sangat sayang kepada anak saya”, berbeda dengan Ayahnya ketika itu justru ridla menerima kenyataan pahit itu dengan berkata, “Dokter tolong potong tangan anak saya itu dengan segera”.
Dari kisah ini, manakah kasih sayang yang benar antara ibu dan ayah?. Bagi orang yang berakal, justru kasih sayang sang ayahlah yang benar. Karena justru rasa sakit yang akan diterima oleh sang anak itu justru untuk kebaikan keberlangsungan hidupnya di masa yang akan datang. Sang ayah rela anaknya merasakan rasa sakit yang lebih ringan agar anaknya tidak merasakan rasa sakit yang lebih besar.
Begitulah Allah swt. menurut Imam al-Ghazali ketika menurunkan musibah kepada orang-orang yang beriman. (lihat al-Maqshad al-Asna fi Syarhi Ma’ani Asma Illahil Husna : 64) Kasih sayang Allah swt sebagaimana tersirat dalam ayat berikut.
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan Pasti kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar” (Q.S as-Sajdah : 21)
Allah swt. menghadirkan bencana dan musibah kepada orang yang beriman itu tiada lain justru sebagai wujud kasih sayang Allah. Sebagaimana Nabi saw. tegaskan dalam sabdanya ketika ditanya tentang tha’un
أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ
“Tha’un itu merupakan siksa bagi orang yang Allah kehendaki namun Allah jadikan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (H.R al-Bukhari Bab Hadits al-Ghar no. 3474)
Berapa banyak orang yang menjadi tertunduk dan giat berdo’a ketika ditimpa musibah. Karena musibah itulah terkadang justru seorang hamba akan menjadi lebih dekat dengan Allah. Musibah itu sebagai pengingat agar seorang tidak terlena dalam kelalaian dan kemaksiatan.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
“Dan sungguh, kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati” (Q.S al-An’am : 42)
Bagi orang yang beriman musibah itu merupakan peluang untuk menghapus dosa dan mengangkat derajat. Semakin bersandar ia kepada Allah maka semakin berkah musibah yang menimpanya. Hal ini sebagaimana tergambar dalam hadis berikut.
قَالَ سَعْدٌ : قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟ قَالَ: الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلاَءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.
“Sa’ad berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian yang sepertinya, kemudian yang sepertinya, sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya, ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan tidak mempunyai dosa-dosa.” (H.R at-Tirmidzi Bab Maa Jaa ‘fis Shabri ‘alal Bala no 2398)
Dengan demikian musibah yang datang itu mendorong kita semua agar segera mendekat kepada Allah swt. Inilah yang dikehendaki Allah swt, dengan kerendahan hati dan ketundukan ini kelak Allah swt akan mengangkat derajat dan menghapus dosa-dosa kita atas musibah yang Allah swt berikan.
Ketika musibah itu menimpa kepada kepada kita maka layaknya kita sikapi dengan adab-adab berikut. Pertama, memperbanyak Istighfar dan bertaubat. Karena ketika seorang memperbanyak beritighfar kepada Allah maka musibah itu segera Allah swt. hilangkan.
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menyiksa mereka, sedang mereka (masih) memohon ampun” (Q.S al-Anfal : 33)
Kedua, bertawakal kepada Allah swt. karena tidak ada yang mampu menghilangkan musibah ini kecuali Allah swt.
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannnya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka ia maha kuasa atas segala sesuatu” (Q.S al-An’am 17)
Ketiga bersabar sambil berikhitiar agar terhindar dari segala musibah. Karena kesabaranlah musibah itu akan menjadi pahala yang berlimpah kelak di akhirat.
{وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ} [البقرة: 155]
“Dan pasti kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S al-Baqarah : 155)
{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ} [الزمر: 10]
“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas” (Q.S az-Zumar : 10)
Keempat, Memperbanyak do’a kepada Allah swt. Musibah merupakan kesempatan kita bermunajat dengan Allah karena dengan do’a itulah takdir buruk dapat dihilangkan.
عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ
“Dari salaman ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak aka nada yang akan menolak takdir kecuali do’a. (H.R at-Tirmidzi Bab ma Jaa la Yaruddul Qadar illad Du’a no 2139).
Dengan demikian semakin giatlah melirih dan bersujud di hadapan Allah swt. karena segala ujian yang Allah turunkan bukanlah untuk menguji seberapa kuatnya kita menghadapi ujian itu, namun setiap ujian itu hakikatnya sedang menguji seberapa kuat kita memohon pertolongan kepada Allah awt. Wallahu A’lam bis Shawwab.












