Majalah Islam Digital Tafaqquh
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Wednesday, April 15, 2026
  • Login
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
Majalah Islam Digital Tafaqquh
No Result
View All Result
Home Artikel Terbaru

Akikah Dulu Sebelum Qurban

tafaqquh by tafaqquh
September 1, 2020
in Artikel Terbaru, Edisi 6 Bulan Juli 2020, Masyakil
0
Akikah Dulu Sebelum Qurban
0
SHARES
118
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Permasalahan kurban sebelum akikah masih menjadi problem di tengah masyarajat, mulai dari pertanyaan terkait hukumnya dan ada pula yang berpendapat bahwa tidak sah kurban jika semasa kecilnya tidak di akikahi. Sebelum mengupas jauh tentang masalah itu, kita mesti memahami terlebih dahulu perbedaan mendasar kurban dan akikah.

Kurban memiliki pengertian menyembelih hewan dengan tujuan beribadah kepada Allah pada Hari Raya Haji atau Idul Adha yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan tiga hari tasyriq setelahnya 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, dilakukan setelah shalat ied

Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŲ³Ł بْنِ Ł…ŁŽŲ§Ł„ŁŁƒŁ – رضى الله عنه – Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁ‰ŁŁ‘ – صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… – Ā« Ł…ŁŽŁ†Ł’ Ų°ŁŽŲØŁŽŲ­ŁŽ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŽ Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ł„Ų§ŁŽŲ©Ł ŁŁŽŲ„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł…ŁŽŲ§ Ų°ŁŽŲØŁŽŲ­ŁŽ Ł„ŁŁ†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡Ł ، ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ Ų°ŁŽŲØŁŽŲ­ŁŽ ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁŽ Ų§Ł„ŲµŁŽŁ‘Ł„Ų§ŁŽŲ©Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŲÆŁ’ ŲŖŁŽŁ…ŁŽŁ‘ Ł†ŁŲ³ŁŁƒŁŁ‡Ł ، ŁˆŁŽŲ£ŁŽŲµŁŽŲ§ŲØŁŽ Ų³ŁŁ†ŁŽŁ‘Ų©ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…ŁŁŠŁ†ŁŽ

ā€œBarangsiapa yang menyembelih qurban sebelum salat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah salat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan manasiknya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.ā€ (HR. Bukhari no. 5546).

Sedangkan akikah memiliki makna memotong atau menyembelih hewan dalam rangka tasyakur kepada Allah swt. karena kelahiran anak baik laki-laki maupun perempuan disertai dengan pemotongan rambut bayi. Waktu pelaksanaannya adalah hari ketujuh

Diantara dalil-dalilnya adalah :

  1. Hadits Salmaan bin ’Aamir Adh-Dhabbiy radliyallaahu ’anhu, ia pernah berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

Ł…Ų¹ الغلام Ų¹Ł‚ŁŠŁ‚Ų©ŲŒ ŁŲ£Ł‡Ų±ŁŠŁ‚ŁˆŲ§ عنه ŲÆŁ…Ų§Ł‹ŲŒ ŁˆŲ£Ł…ŁŠŲ·ŁˆŲ§ عنه Ų§Ł„Ų£Ų°ŁŽŁ‰

ā€Untuk satu orang anak adalah satu ’aqiqah. Tumpahkanlah darah untuknya dan bersihkanlah dia dari kotoranā€. [Al-Bukhari no. 5472, Abu Dawud no. 2839, At-Tirmidzi no. 1515, Ibnu Majah no. 3164, dan yang lainnya.]

  1. Hadits Samurah bin Jundub radhiyallaahu ’anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda :

ŁƒŁ„ غلام Ų±Ł‡ŁŠŁ†Ų© ŲØŲ¹Ł‚ŁŠŁ‚ŲŖŁ‡ ŲŖŲ°ŲØŲ­ عنه ŁŠŁˆŁ… سابعه ŁˆŁŠŲ­Ł„Ł‚ ŁˆŁŠŲ³Ł…

ā€Setiap anak tergadai dengan ’aqiqahnya[1] yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi namaā€. [Abu Dawud no. 2837-2838; At-Tirmidzi no. 1522; An-Nasa’i no. 4220; Ibnu Majah no. 3165; Ahmad 5/7,12,17,22; dan yang lainnya]

Tentang makna kalimat ā€œ Setiap anak tergadai dengan ’aqiqahnyaā€ dalam hadis ini  ; Al-Khaththabi berkata :

ŲŖŁƒŁ„ŁŽŁ‘Ł… Ų§Ł„Ł†Ų§Ų³Ł في Ł‡Ų°Ų§ŲŒ ŁˆŲ£Ų¬Ł’ŁˆŲÆŁ Ł…Ų§ Ł‚ŁŠŁ„ ŁŁŠŁ‡ Ł…Ų§ Ų°ŁŽŁ‡ŲØ Ų„Ł„ŁŠŁ‡ Ų£Ų­Ł…ŲÆŁ بن Ų­Ł†Ł’ŲØŁŽŁ„. قال: هذا في Ų§Ł„Ų“ŁŲ§Ų¹ŁŽŲ©ŁŲŒ ŁŠŲ±ŁŠŲÆŁ أنه Ų„Ų°Ų§ لم ŁŠŁŲ¹ŁŽŁ‚ŁŽŁ‘ عنه فمات طِفلا لم ŁŠŁŽŲ“Ł’ŁŁŽŲ¹ في ŁˆŲ§Ł„ŲÆŁŽŁŠŁ‡. ŁˆŁ‚ŁŠŁ„ معناه أنه Ł…ŁŽŲ±Ł‡ŁˆŁ† ŲØŲ£Ų°ŁŽŁ‰ Ų“ŁŽŲ¹ŁŽŲ±Ł‡ŲŒ ŁˆŲ§Ų³ŲŖŲÆŁŽŁ„ŁŁ‘ŁˆŲ§ ŲØŁ‚ŁˆŁ„Ł‡: ŁŲ£Ł…ŁŁŠŲ·ŁŁˆŲ§ عنه Ų§Ł„Ų£Ų°ŁŽŁ‰

ā€œOrang-orang banyak berbicara tentang hadits ini dan komentar yang paling baik adalah komentar Ahmad bin Hanbal. Ia berkata : ’Ini berkaitan dengan syafa’at. Apabila si anak meninggal dunia pada saat masih kecil sementara ia belum di-aqiqah-kan (oleh walinya), maka anak tersebut tidak dapat memberi syafa’at kepada kedua orang tuanyaā€ [An-Nihayah fii Ghariibil-Hadiits oleh Ibnul-Atsiir – materi kata رهن  ; Maktabah Al-Misykah. Lihat pula Sunan Abi Dawud wa Ma’aalimus-Sunan lil-Khaththabi 3/175; Daar Ibni Hazm, Cet. 1/1418, Beirut ].

Ibnul-Qayyim berkata dalam kitabnya At-Tuhfah sebagai komentar dan bantahan terhadap pendapat ’Atha’ yang diikuti oleh Ahmad yang mana mereka menafsirkan makna ā€tergadaiā€ dengan terhalangnya syafa’at si anak untuk kedua orang tuanya. Beliau berkata :ā€ Pendapat ini masih perlu ditinjau ulang, karena tidak diragukan lagi bahwa syafa’at seorang anak terhadap orang tuanya tidaklah lebih utama daripada syafa’at orang tua terhadap anaknya, dan tidak seorangpun yang dapat memberi syafa’at pada hari kiamat nanti kecuali setelah mendapat ijin yang diberikan Allah ta’ala kepada orang-orang yang Dia kehendaki dan Dia ridlai. Ijin yang diberikan Allah ta’ala berdasarkan amalan orang yang diberi syafa’at, baik yang berkaitan dengan tauhidnya maupun keikhlasannya.

Seseorang dapat memberi syafa’at karena kedekatannya kepada Allah, bukan disebabkan adanya hubungan kekerabatan dengan orang yang diberi syafa’at. Bukan dikarenakan ia sebagai seorang anak, dan bukan pula sebagai ayah. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah memberi pengarahan kepada paman, bibi, dan anak perempuannya (Fathimah) :

لا Ų£ŲŗŁ†ŁŠ Ų¹Ł†ŁƒŁ… من الله ؓيئا

ā€Aku tidak dapat membantu kalian sedikitpun di hadapan Allahā€  ; dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadh :

لا Ų£Ł…Ł„Łƒ Ł„ŁƒŁ… من الله ؓيئا

ā€Sedikitpun aku tidak kuasa menolong kalian dari (siksaan) Allah sedikitpunā€.

Lantas, dari mana datangnya pernyataan bahwa anak akan memberi syafa’at kepada orang tuanya, namun apabila mereka tidak menyembelih ’akikah untuk anaknya maka si anak tidak dapat memberi syafa’at kepada orang tuanya? Juga, tidak dapat dikatakan bahwasanya seorang yang tidak dapat memberikan syafa’at kepada orang lain adalah orang yang tergadai. Tidak ada satu lafadz hadits pun yang menunjukkan makna seperti ini. Bahkan Allah ta’ala telah mengabarkan bahwa seorang hamba akan tergadai dengan amalannya semasa di dunia. Allah ta’ala berfirman :

ŁƒŁŁ„ŁŁ‘ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³Ł ŲØŁŁ…ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲ³ŁŽŲØŁŽŲŖŁ’ Ų±ŁŽŁ‡ŁŁŠŁ†ŁŽŲ©ŁŒ

ā€Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnyaā€ [QS. Al-Mudatstsir : 38].

Ų£ŁŁˆŁ„ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽ Ų§Ł„ŁŽŁ‘Ų°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų£ŁŲØŁ’Ų³ŁŁ„ŁŁˆŲ§ ŲØŁŁ…ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲ³ŁŽŲØŁŁˆŲ§

ā€Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiriā€ [QS. Al-An’am : 70].

Jadi seorang yang tergadai adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang pernah ia lakukan atau dikarenakan perbuatan orang lain. Adapun orang yang tidak mempu memberikan syafa’at, tidak dapat disebut murtahin (orang yang tergadai), akan tetapi murtahin adalah seorang yang terhalang untuk mendapatkan sesuatu. Bisa jadi karena perbuatannya sendiri dan bisa jadi karena perbuatan orang lain.

Allah ta’ala menetapkan agar menyembelih hewan sebagai pembebas seorang anak dari gadaian syaithan yang terus mengaitkannya sejak ia lahir ke dunia dan menusuk bagian pinggangnya. ’Akikah merupakan penebus dan pembebas seorang anak dari kungkungan syaithan yang senantiasa menghalanginya untuk meraih kemaslahatan akhirat yang merupakan tempat kembalinya si anak. Jadi seolah-olah ia dipenjara untuk disembelih syaithan dengan pisau yang telah ia persiapkan untuk para wali dan pengikutnya serta telah bersumpah di hadapan Allah bahwa ia akan menyesatkan anak cucu Adam. Sedikit sekali orang-orang yang selamat dari sumpah syaithan ini, sementara syaithan masih terus siagamenunggu dan mengganggu setiap anak yang lahir ke dunia. Ketika seorang anak lahir, syaithan langsung merekrut anak ini dan berusaha agar anak ini menjadi tawanannya dan di bawah kendalinya serta menjadikannya sebagai salah seorang pengikut  dan anggota kelompoknya. Syaithan sangat sungguh-sungguh dalam melaksanakan hal ini, sehingga mayoritas anak menjadi pengikut dan bala tentara syaithan, sebagaimana firman Allah ta’ala :

ŁˆŁŽŲ“ŁŽŲ§Ų±ŁŁƒŁ’Ł‡ŁŁ…Ł’ فِي Ų§Ł„Ł’Ų£ŁŽŁ…Ł’ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų£ŁŽŁˆŁ’Ł„Ų§ŲÆŁ

ā€Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anakā€ [QS. Al-Israa’ : 64].

Dia juga berfirman :

ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁ‚ŁŽŲÆŁ’ ŲµŁŽŲÆŁŽŁ‘Ł‚ŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŁ…Ł’ Ų„ŁŲØŁ’Ł„ŁŁŠŲ³Ł ŲøŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł

ā€Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap merekaā€ [QS. Sabaa’ : 20].

Karena setiap anak yang lahir akan tertawan, maka Allah ta’ala menganjurkan agar orang tua si anak membebaskan anaknya dari tawanan dengan menyembelih hewan sebagai tebusan. Jika orang tua si anak tidak melakukannya, maka si anak tetap berstatus sebagai tawanan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda : ā€Seorang anak itu tergadai dengan ’aqiqahnya. Maka tumpahkanlah darah untuknya dan bersihkanlah dia dari kotoranā€.

Pada hadits ini Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memerintahkan agar menumpahkan darah (dengan menyembelih hewan ’aqiqah) untuk membebaskan anak dari tawanan itu. Apabila tawanan tersebut berkaitan dengan kedua orang tua, tentu beliau shallallaau ’alaihi wasallam mengatakan : ā€Tumpahkanlah darah untuk kalian agar kalian memperoleh syafa’at (dari anak kalian)ā€. Dengan adanya perintah agar orang tua membuang kotoran yang ada pada fisik si anak dan menyembelih hewan untuk membersihkan kotoran mental si anak, maka jelaslah bahwa tujuan syari’at adalah untuk membersihkan lahir bathin si anak dari berbagai kotoran. Dan Allah lah yang lebih mengetahui maksud firman-Nya dan maksud sabda Rasul-Nya shallallaahu ’alaihi wasallam.ā€[Ibnul-Qayyim dengan peringkasan – Tuhfatul-Maudud bi-Ahkaamil-Maulud hal. 50-52].

  1. Hadits ā€˜Aisyah radhiyallaahu ā€˜anhaa: Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ā€˜alaihi wasallam pernah bersabda :

عن الغلام ؓاتان Ł…ŁƒŲ§ŁŲ¦ŲŖŲ§Ł† ŁˆŲ¹Ł† Ų§Ł„Ų¬Ų§Ų±ŁŠŲ© Ų“Ų§Ų©

ā€œUntuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing yang setara/sama, dan untuk anak perempuan adalah seekor kambingā€. [At-Tirmidzi no. 1513, Ibnu Majah no. 3163, dan Ahmad 6/31. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 2/164; Maktabah Al-Ma’arif, Cet. 1/1420, Riyadh]

Hadis-hadis ini secara zhahir menjelaskan bahwa ibadah akikah berkaitan dengan kelahiran bayi yang dibatasi pada hari ketujuh, jika melewati hari ketujuh maka tidak ada syari’at akikah. Adapun hadis tentang Nabi Saw pernah mengakikahi dirinya sendiri setelah di utus menjadi Nabi hadisnya dhaif, tidak bisa dijadikan hujjah. Hadis yang dimaksud adalah:

Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł بْنِ Ł…ŁŲ­ŁŽŲ±ŁŽŁ‘Ų±ŁŲŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ł‚ŁŽŲŖŁŽŲ§ŲÆŁŽŲ©ŁŽŲŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŲ³ŁŲŒ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų¹ŁŽŁ‚ŁŽŁ‘ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁŽ Ł…ŁŽŲ§ ŲØŁŲ¹ŁŲ«ŁŽ ŲØŁŲ§Ł„Ł†ŁŁ‘ŲØŁŁˆŁŽŁ‘Ų©Ł “

Dari ā€˜Abdullah bin Muharrar, dari Qataadah, dari Anas, ia berkata : ā€œRasulullah shallallaahu ā€˜alaihi wa sallam mengakikahi dirinya setelah diutus sebagai nabiā€ [Diriwayatkan oleh ā€˜Abdurrazzaaq no. 7960].

Takhrij Hadis

Diriwayatkan juga oleh Ibnul-Madiiniy dalam Al-ā€˜Ilal hal. 53 no. 58, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr 13/478-479 no. 7281 dan dalam Kasyful-Astaar 2/74 no. 1237, Ibnu ā€˜Adiy[4] dalam Al-Kaamil 5/214, Ar-Ruuyaaniy dalam Al-Musnad 2/386 no. 1371, Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 2/23, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 9/300 (9/505) no. 19273; semuanya dari jalan ā€˜Abdullah bin Muharrar, dari Qataadah, dari Anas secara marfuu’.

Faktor kedhaifan hadis ini tertuju pada ā€˜Abdullah bin Al-Muharrar (Al-ā€˜Aamiriy Al-Jazriy Al-Harraaniy), seorang yang matruuk [Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3598]. Adapun Qataadah bin Di’aamah adalah seorang yang tsiqah lagi tsabt [Taqriibut-Tahdziib hal. 798 no. 5553].Terdapat mutabaah dari riwayat Ibn Syaahin

Ų­ŁŽŲÆŁŽŁ‘Ų«ŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ł‚ŁŽŲ§Ų³ŁŁ…Ł ŲØŁ’Ł†Ł Ų„ŁŲ³Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų¹ŁŁŠŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ­ŁŽŲ§Ł…ŁŁ„ŁŁŠŁŁ‘ŲŒ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų­ŁŽŲÆŁŽŁ‘Ų«ŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’ŁŁŽŲ¶Ł’Ł„Ł ŲØŁ’Ł†Ł ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł‚ŁŁˆŲØŁŽŲŒ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų­ŁŽŲÆŁŽŁ‘Ų«ŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲØŁŁˆ Ł‚ŁŽŲŖŁŽŲ§ŲÆŁŽŲ©ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲ±ŁŽŁ‘Ų§Ł†ŁŁŠŁŁ‘ŲŒ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų­ŁŽŲÆŁŽŁ‘Ų«ŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŲ±ŁŽŲ“ŁŁŠŁŁ‘ŲŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ł‚ŁŽŲŖŁŽŲ§ŲÆŁŽŲ©ŁŽŲŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŲ³ŁŲŒ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁŠŁŽŁ‘ ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ Ų¹ŁŽŁ‚ŁŽŁ‘ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁŽŁ…ŁŽŲ§ Ų£ŁŁ†Ł’Ų²ŁŁ„ŁŽŲŖŁ Ų§Ł„Ł’Ł†ŁŲØŁŁˆŁŽŁ‘Ų©Ł

. ŁˆŁŽŁ‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ų­ŁŽŲÆŁŁŠŲ«ŁŒ ŲŗŁŽŲ±ŁŁŠŲØŁŒŲŒ ŁˆŁŽŁ„Ų§ Ų£ŁŽŲ¹Ł’Ų±ŁŁŁ Ł„ŁŲ¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŲ±ŁŽŲ“ŁŁŠŁŁ‘ ŲŗŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŽ Ł‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲÆŁŁŠŲ«ŁŲŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ł‚ŁŽŲŖŁŽŲ§ŲÆŁŽŲ©ŁŽŲŒ ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł‚ŁŽŲ§Ų³ŁŁ…ŁŲŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§Ł„Ł’ŁŁŽŲ¶Ł’Ł„ŁŲŒ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų£ŁŽŲØŁŁˆ Ł‚ŁŽŲŖŁŽŲ§ŲÆŁŽŲ©ŁŽ: Ł‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŁŁŽŲ§ŲÆŁŽŁ†ŁŽŲ§Ł‡Ł Ų“ŁŲ¹Ł’ŲØŁŽŲ©ŁŲŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ł‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ų“ŁŽŁ‘ŁŠŁ’Ų®ŁŲŒ ŁˆŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ł„ŁŽŁŠŁ’Ų³ŁŽ ŁŠŁŽŲ±Ł’ŁˆŁŁŠ Ł‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲÆŁŁŠŲ«ŁŽ Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁŒ ŲŗŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŁ‡Ł

Sanad riwayat ini sangat lemah dengan sebab ā€˜Abdullah bin Waaqid Abu Qataadah Al-Harraaniy, seorang yang matruuk [Taqriibut-Tahdziib, hal. 555 no. 3711].

Imam Qatadah mempunyai mutaba’ah dari Tsumamah bin ā€˜Abdillah bin Anas yang dikutip dalam riwayat Ath-Thahawiy dalam Musykiilul-Aatsaar 3/78 no. 1053,

Ł…ŁŽŲ§ Ų­ŁŽŲÆŁŽŁ‘Ų«ŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų­ŁŽŲ³ŁŽŁ†Ł ŲØŁ’Ł†Ł Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł بْنِ Ł…ŁŽŁ†Ł’ŲµŁŁˆŲ±Ł Ų§Ł„Ł’ŲØŁŽŲ§Ł„ŁŲ³ŁŁŠŁŁ‘ŲŒ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų­ŁŽŲÆŁŽŁ‘Ų«ŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ł‡ŁŽŁŠŁ’Ų«ŁŽŁ…Ł ŲØŁ’Ł†Ł Ų¬ŁŽŁ…ŁŁŠŁ„ŁŲŒ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ: Ų­ŁŽŲÆŁŽŁ‘Ų«ŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų¹ŁŽŲØŁ’ŲÆŁ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŲØŁ’Ł†Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲ«ŁŽŁ†ŁŽŁ‘Ł‰ بْنِ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŲ³ŁŲŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų«ŁŁ…ŁŽŲ§Ł…ŁŽŲ©ŁŽ بْنِ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŲ³ŁŲŒ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŁ†ŁŽŲ³Ł ” Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲØŁŁŠŁŽŁ‘ ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ Ų¹ŁŽŁ‚ŁŽŁ‘ Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡Ł ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁŽŁ…ŁŽŲ§ Ų¬ŁŽŲ§Ų”ŁŽŲŖŁ’Ł‡Ł Ų§Ł„Ł†ŁŁ‘ŲØŁŁˆŁŽŁ‘Ų©Ł “.

Ibnu Abid-Dunya dalam Al-ā€˜Iyaal hal. 208 no. 66, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 994, dan Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah 5/204-205 no. 1832-1833; dari tiga jalan (Al-Hasan bin ā€˜Abdillah, ā€˜Amru bin Naaqid, dan Ahmad Al-Haitsam bin Jamiil), ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ā€˜Abdullah bin Al-Mutsannaa bin Anas, dari Tsumaamah bin Anas, dari Anas secara marfuu’ dan Ath-Thahawiy dalam Musykiilul-Aatsaar 3/79 no. 1054

Hadis ini lemah karena ā€˜Abdullah bin Al-Mutsannaa, seorang yang shaduq, namun banyak salah (shaduuq, katsiirul-ghalath) [Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3596]

Ada yang mengatakan bahwa riwayat ā€˜Abdullah bin Al-Mutsannaa ini hasan karena ia mengambil riwayat dari pamannya (Tsumaamah bin Anas), dan Imam Al-Bukhariy berhujjah dengan riwayat mereka dalam kitab Shahiih-nya.

Penilaian hasan  ini tidaklah benar. Sudah diketahui dalam ilmu mushthalah hadis bahwa Al-Bukhariy meriwayatkan beberapa hadis dalam kitab Shahih-nya dari beberapa perawi yang lemah. Beliau rahimahullah mencantumkan hadis beberapa perawi lemah tersebut dalam kitab Shahih-nya karena ada qarinah bahwa hadits tersebut shahih/hasan. Selain itu, Al-Bukhariy berhujjah dengan riwayat ā€˜Abdullah bin Al-Mutsannaa dari Tsumaamah hanya dalam mutaba’ah saja, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar rahimahullah dalam Hadyus-Saariy (1/416). Di kesempatan lain Ibnu Hajar rahimahullah berkata setelah menyebutkan perkataan beberapa ulama kepada ā€˜Abdullah bin Al-Mutsannaa :

فهذا من Ų§Ł„Ų“ŁŠŁˆŲ® Ų§Ł„Ų°ŁŠŁ† Ų„Ų°Ų§ انفرد أحدهم ŲØŲ§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« لم ŁŠŁƒŁ† حجة،

ā€œOrang ini termasuk di antara para syaikh yang jika bersendirian dalam periwayatan hadits tidak bisa dipergunakan sebagai hujjahā€ [Fathul-Baariy, 9/595].

ā€˜Abdullah bin Al-Mutsannaa ini menyendiri dalam periwayatan dari Tsumaamah. Adapun penguat dari jalur Qatadah.  Maka kualitasnya sangat lemah. Dengan demikian hadis ini dengan keseluruhan jalannya adalah lemah, tidak dapat dipergunakan sebagai hujjah.

Dari pengertian tadi, jelas sekali bahwa kurban adalah ibadah sunnah muakkad yang berbeda tujuannya oleh karena itu kurban dan akikah tidak ada kaitan apapun. Dalam artian, akikah bukan syarat sahnya ibadah kurban, begitu pula sebaliknya. Dan akikah merupakan mukallaf bagi orangtuanya, bukan bayinya. Sedangkan ibadah kurban adalah mukallaf bagi yang sudah baligh.

Al- Khallal meriwayatkan dari Ismail bin Said as- Syalinji  dalam kitab Tuhfatul Maudud

سألت Ų£Ų­Ł…ŲÆ عن الرجل ŁŠŲ®ŲØŲ±Ł‡ ŁˆŲ§Ł„ŲÆŁ‡ أنه لم ŁŠŲ¹Ł‚ عنه ، هل ŁŠŲ¹Ł‚ عن نفسه ؟ قال : Ų°Ł„Łƒ على الأب

 ā€œSaya bertanya kepada imam ahmad tentang seseorang yang diberi tahu  orang tuanya, bahwa dirinya belum diakikahi. Bolehkah orang ini mengakikahi dirinya sendiri? Kata ahmad, ā€œitu tanggung jawab ayahnya.ā€

Dengan demikian, bagi yang semasa kecilnya belum diakikahi oleh orangtuanya, maka telah gugur syariat akikahnya dan sah melakukan kurbannya, karena akikah dibatasi pada hari ketujuh dan bukan syarat sahnya kurban

Tags: akikahqurban
Previous Post

Mengamalkan Shalat Yang Terlewat Akibat Tertidur

Next Post

Piagam Kemerdekaan RI

tafaqquh

tafaqquh

Next Post
Piagam Kemerdekaan RI

Piagam Kemerdekaan RI

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

March 11, 2021
Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

January 24, 2021
Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

July 5, 2021
Harta Anak Harta Orangtua

Harta Anak Harta Orangtua

April 2, 2021
Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

7
Salam Semua Agama, Selamat Natal, BID’AH

Konsep Bid’ah Menurut NU

4
Peran Perempuan Dalam Keluarga

Peran Perempuan Dalam Keluarga

0
Degradasi Ulama

Degradasi Ulama

0
Indahnya Inner Beauty Muslimah SejatiĀ 

Indahnya Inner Beauty Muslimah SejatiĀ 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024

Recent News

Indahnya Inner Beauty Muslimah SejatiĀ 

Indahnya Inner Beauty Muslimah SejatiĀ 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In