

Ada hal yang perlu dijaga oleh seorang muslim, baik laki-laki maupun perempuan yakni rasa malu. Ia merupakan bagian dari cabang keimanan yang senantiasa membawa pemiliknya pada kebaikan.
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ» أو قال: «الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ» قَالَ: أَوْ قَالَ: «الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ». رواه مسلم, باب شعب الإيمان
Dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwasannya beliau bersabda: “Malu itu tidak datang melainkan dengan kebaikan” atau –suatu ketika ‘Imran berkata, bahwasannya—Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Malu itu adalah kebaikan seluruhnya.” Atau sabdanya: “Malu itu seluruhnya adalah kebaikan.” (HR. Muslim –dari Sahabat ‘Imran ibn Al-Hushain—, Bab Cabang Keimanan)
Pertanyaannya, apakah maksud dari “rasa malu” itu seluruhnya kebaikan? Al Qadli ‘Iyadl dan ulama lainnya menjelaskan bahwa rasa malu itu naluriah. Ia hadir terkadang berasal dari tabiat lahiriahnya dan terkadang berasal dari usaha seorang hamba-Nya. Usaha yang berarti perpaduan sinergis antara ikhtiar, ilmu, dan niat. Di mana pemiliknya mengusahakan agar rasa malu melekat pada dirinya. Keberadaan rasa malu bagi pemiliknya seolah menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan dan penghalang dari berbuat kemunkaran (an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim). Inilah yang dimaksud dari rasa malu itu seluruhnya kebaikan, karena kehadirannya menjadikan pemiliknya untuk senantiasa berperilaku baik dan meninggalkan perbuatan buruk.
Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam selalu menjadi public figure terbaik sepanjang masa. Dalam hal rasa malu pun demikian adanya, beliau lebih pemalu daripada seorang gadis pingitan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata: “Keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu dari pada seorang gadis yang dipingit di kamarnya. Apabila beliau melihat sesuatu yang tidak ia sukai, maka kami akan mengetahuinya dari (raut) wajahnya” (HR. Bukhari).
Seorang gadis identik dengan rasa malunya. Hal ini berdasarkan hadits tersebut yang membandingkan sifat pemalunya Rasul dengan seorang gadis. Ini menunjukkan pada kepastian pemalunya seorang gadis (wanita). Sudah sepatutnya seorang wanita terutama muslimah untuk menjaga sifat naluriahnya (rasa malu) agar tetap melekat dalam dirinya, bukan malah dilunturkan sedikit demi sedikit. Karena dengan rasa malu itu kalian menjadi berharga, terhormat, dan mulia.
Salah satu contoh nyata di era millennial ialah dalam hal berpakaian. Semakin besar rasa malunya, maka ia akan semakin menutupi bagian tubuhnya, bahkan hingga menutupi seluruh tubuhnya. Karena ia malu, jika dirinya menjadi fitnah bagi mata yang berlalu-lalang di pingir jalan. Sedangkan sebaliknya, semakin ia membuka bagian tubuhnya, itu menunjukkan semakin berkurangnya kadar rasa malu. Ia merasa tidak risih dan tidak malu dengan memamerkan bentuk tubuhnya tanpa harga ke setiap manusia yang berlalu-lalang. Tidak ada kekhawatiran akan menjadi fitnah di muka bumi, yang terbesit dalam hatinya.
Atau dalam kasus yang sudah dianggap tidak tabu lagi di kalangan para muda-mudi, yakni berjalan berduaan (khalwat dan ikhthilat). Seolah dunia ini hanya milik berdua, mereka asyik ngobrol, bersentuhan, dan tanpa terasa semua itu telah melanggar syari’at. Tanpa terasa mereka sedang melakukan hal-hal yang dilarang Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak malu atas maksiat yang mereka lakukan. Ini menunjukkan hilangnya rasa malu pada jiwa-jiwa mereka. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa rasa malu adalah perhiasan berharga bagi seorang wanita. Karena dengannya ia akan mengantarkan pada perbuatan terpuji dan perilaku mulia. Dan rasa malu itu bisa menjadi barometer seseorang dalam berperilaku.
أَبُو مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ ” رواه البخاري, باب إذا لم تستحي فاصنع ما شئت
Abu Mas’ud berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama, jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari, Bab Jika Kamu Tidak Malu, Maka Berbuatlah Semaumu)
Jagalah rasa malumu, karena dengannya kamu mampu mengontrol perbuatan dan perilakumu. Rasa malulah yang akan mengantarkan seorang muslimah menjadi perhiasan terbaik dunia. Ia akan terbentuk menjadi mar`atush-shalihah (wanita shalihah) yang indah dengan bingkai pemalu untuk melakukan perbuatan buruk lagi diharamkan. Wa-Llahu a’lam bish-Shawwab
Ghina Saniawati Ahmad













