

Maryam binti ‘Imran adalah salah satu wanita shalehah dan mulia yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an. Maryam berasal dari keluarga mulia yang dipilih oleh Allah SWT, yaitu keluarga ‘Imran. Kepatuhan keluarga ‘Imran sebagai hamba yang senantiasa beribadah kepada Allah tercantum dalam Q.S Ali Imran.
Istri ‘Imran, ibu Maryam sendiri, adalah seorang wanita mulia yang ta’at kepada Allah SWT. Istri Imran bernama Hannah binti Faquz, seorang wanita yang diberikan ujian dengan tidak kunjung mendapat keturunan. Divonis mandul karena usianya yang sudah tua dan belum juga mendapat keturunan. Namun, kuatnya do’a dan kesabaran Hannah beserta suaminya, Allah pun mengabulkan permohonan mereka dan menganugerahi mereka keturunan. Ketika sampai pada usia kehamilan tua, Hannah bernadzar bahwa putranya kelak akan dipersiapkan untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Ketika melahirkan, ternyata bayi perempuan. Maka Hannah pun berdoa pada Allah penuh dengan ketawakalan bahwa Allah lebih tahu atas apa yang dilahirkannya. Hannah pun menamai putrinya: Maryam.
Maryam adalah wanita terhormat yang terjaga ‘iffah (kehormatan) dari perbuatan zina karena kesempurnaannya dalam menjalankan syari’at agama Islam dan penjagaan dirinya dengan penuh kemuliaan.
Dalam mengemban amanah ini dengan penuh ujian yang dilewatinya, Maryam membenarkan segala kuasa Rabb-nya yang dititipkan padanya yaitu ditiupkannya ruh seorang janin tanpa ayah. Dia melewati masa-masa sulit ini dengan penuh keta’atan beribadah kepada Allah dan penuh ketakwaan. Di masa mengandung putranya yaitu Nabi ‘Isa, Maryam mengasingkan diri ke tempat jauh dari orang-orang. Sampai tiba saat melahirkan, Maryampun merasakan sakit yang begitu dahsyat.
Kemudian malaikat Jibril menyerunya dan menyuruhnya untuk meraih pangkal kurma ke arahnya. Maka lahirlah Nabi Isa dari rahim seorang Maryam, kemudian malaikat Jibrilpun berkata jika ada manusia yang melihat dan bertanya padamu, maka katakanlah aku tidak akan berbicara dengan siapapun.
Maka ketika kaumnya melihat Maryam bersama Nabi Isa anaknya, mereka menuduh bahwa Maryam telah berbuat zina. Namun, Maryam tidak berkata sedikitpun sesuai dengan perintah Allah dan dia hanya memberikan isyarat kepada anaknya. Allah SWT berfirman:
فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (29) قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30(
Artinya: “Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (Q.S Maryam [19]: 29-30).
Kisah Maryam binti Imran mengajarkan keteladanan kepada kita, diantaranya :
- Wanita yang sabar.
- Dibesarkan dengan pendidikan yang baik.
- Wanita terhormat yang senantiasa menjaga kesucian dan kehormatannya.
- Tunduk dan ta’at beribadah kepada Allah SWT.
- Memilik hubungan yang kuat dengan Allah yang menghadirkan rezeki serta barakah.
- Menerima, membenarkan dan bertawakal atas segala kuasa Allah yang diberikan padanya.
- Penuh keyakinan dan ketakwaan dalam menjalani segala ujian, dan Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang shaleh.
- Mendidik anaknya dengan baik, sehingga terlahir darinya generasi shaleh penerus syari’at Allah.
Itulah Maryam, wanita teladan penghulu syurga. Teladan sepanjang hayat bagi wanita-wanita muslimah dengan akhlaq yang mulia dan ketakwaan terhadap Allah. Semoga kelak kita akan dikumpulkan dengan hamba-hamba Allah di syurgaNya.
سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ
Artinya: “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah ﷺ, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim, 4853). “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah ﷺ, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah” (HR. Al-Hakim, 4853). Wa-Llahu a’lam bish-shawaab.
Laila Isyrina Afriani, Staff Pengajar Pesantren Persatuan Islam 27












