

Meski Nabi Muhammad SAW merupakan manusia sempurna secara khuluqiyah dan khalqiyah, secara umum, beliau sama layaknya manusia pada umumnya. Menjelang kewafatannya, Allah SWT memberikan sakit kepada beliau. Sakitnya pun terbilang cukup parah hingga mengantarkan beliau ke haribaan ar-Rafiq l-a’la.
Penyakit Rasulullah mulai terasa semenjak kepulangan dari Baqi’. Beliau pergi pada pertengahan malam untuk memintakan ampunan bagi penghuninya, kemudian pulang ke rumah. Keesokan harinya beliau sakit. Mula-mula beliau sakit kepala, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi hingga beliau menderita demam hebat. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah r.a., bahwa ketika Rasulullah saw kembali dari Baqi’, ia menyambutnya dan berkata, “Kepalaku sakit sekali.” Rasulullah saw bersabda, “Kepalaku juga. Demi Allah, kepalaku sangat sakit.” Hal itu terjadi pada awal bulan Safar tahun kesebelas Hijriah. Selama itu pula Aisyah me-ruqyah beliau dengan beberapa doa dari Al-Quran.
Istri-istri Rasulullah yang lain, meminta agar beliau dirawat di rumah Aisyah r.a., karena mereka tahu bahwa beliau sangat mencintainya dan merasa lebih tenang di dekatnya. Merekalah yang memintanya. Maka Rasulullah saw pun meninggalkan rumah Maimunah menuju rumah Aisyah. Di rumah Aisyah, sakit beliau semakin parah. Para sahabat pun khawatir dan sedih melihat kondisi Rasulullah saw.
Senin dini hari, tanggal 12 Rabiul Awal, di saat orang-orang sedang melaksanakan shalat shubuh di belakang Abu Bakar, tiba-tiba jendela kamar Aisyah terbuka, beliau memandangi mereka dalam shaf-shaf shalat, ternyata tatapan beliau itu merupakan isyarat perpisahan dengan para sahabatnya. Saat itulah sakaratul maut menghampirinya. Aisyah mengungkapkan: “Di hadapan Rasulullah saw terdapat bejana yang berisikan air. Beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air, lalu mengusapkan ke wajahnya sambil berkata, ‘Tiada Tuhan selain Allah. Sesungguhnya kematian itu mempunyai beberapa kali sekarat.’” Dalam keterangan lain disebutkan, ‘Tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya kematian itu memiliki beberapa sekarat’ Setelah itu beliau menancapkan tangannnya dan bersabda, ‘Di tempat yang tertinggi.’ Ruh beliau pun melayang. Tangannya lunglai”
Berita wafat Rasulullah saw pun tersebar. Jasad Rasulullah saw yang terbungkus kain di bawa ke bagian depan rumah Aisyah. Abu Bakar menangis, ia membungkuk dan mencium wajah Rasulullah saw. Kesedihan pun bisa dirasakan oleh para sahabat yang lain. Termasuk Umar bin Khattab, yang asalnya Umar tidak percaya atas wafatnya Rasulullah saw. Setelah Abu Bakar menenangkannya dan membacakan salah satu ayat Quran yang berbunyi: “Muhammad itu tiada lain hanyalah rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau di bunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) ?” (QS. Ali Imran [3]: 144). Akhirnya Umar pun sadar bahwa beliau telah wafat, sambil berkata : “Demi Allah, ketika aku mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut, kedua kakiku kaku hingga aku tersungkur ke tanah. Dan, aku pun benar-benar menyadari bahwa Rasulullah saw telah wafat.”
Itulah sepenggal kisah yang mengisahkan tentang sakit dan wafatnya Rasulullah saw. Sungguh mudah bagi Allah untuk melindungi Rasulullah saw dari rasa sakit dan kematiannya. Namun, Allah ingin ketetapan-Nya berlaku umum, walaupun dekatnya hamba itu kepada-Nya. Dengan begitu manusia dapat meresapi makna dan hakikat tauhid. Hal ini pun agar menjadikan mereka memahami bahwa segala yang ada di langit dan di bumi akan kembali menghadap Allah swt. Hal ini pula menunjukkan bahwa segalanya sudah ditentukan oleh Allah swt. Mereka (manusia) akan datang kepada Allah swt sebagai hamba yang tunduk dan patuh atau sebagai hamba yang hina dihadapan-Nya.
Sakit dan kematian mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak berhak menyombongkan diri dan merasa tinggi dari yang lainnya. Karena hakikatnya kita manusia biasa yang terbuat dari tanah dan jasad kita akan kembali ke tanah. Ruh kita pun akan kembali kepada Allah swt. Apa yang perlu kita sombongkan?! Tidak ada yang perlu kita sombongkan. Tidak pantas kita menyombongkan diri, menganggap diri paling hebat, kuat, sehingga berlaku semena-mena dan tidak adil terhadap orang lain. Hatta seorang yang diberi kekuatan dan kekuasaan tidak layak berlaku arogan pada yang di bawahnya.
Ingatlah bahwa itu semua akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah swt. Allah swt menjelaskan dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (QS. Az-Zumar [39] : 30).
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal ? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan,” (QS. Al-Anbiya [21] : 34-35).
Wa-Llahu a’lam














