

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang bersuci (QS. al-Baqarah [2] : 222)
Dari sekian hoax yang berseliweran seputar wabah corona salah satu di antaranya adalah wudlu sebagai penangkal corona. Di berbagai situs jurnalistik anti hoax, informasi tersebut dikategorikan sebagai hoax atau berita bohong. Bahkan beberapa majelis ta’lim pun ada yang sampai membahasnya khusus untuk mengukuhkan statusnya sebagai hoax. Sebabnya memang ada semacam hadits yang konon diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani bahwa di akhir zaman hanya orang-orang yang menjaga wudlunya saja yang akan selamat dari wabah penyakit. Entah siapa yang pertama kali memposting semacam hadits tersebut dan sampai beraninya menyandarkannya kepada Imam at-Thabrani. Atau memang sebenarnya ada hanya belum ditemukan saja oleh para pemrotesnya.
Terlepas dari itu semua, kedudukan wudlu sebagai ajaran sunnah yang harus dijaga dengan selalu berwudlu selepas bathal kapanpun itu waktunya, tidak kemudian menjadi harus direndahkan. MUI sendiri yang menyinggung sunnah tajdidul-wudlu; selalu memperbarui wudlu ini dalam salah satu himbauannya ketika wabah corona mulai melanda negeri, memang tidak menyatakannya sebagai penangkal corona secara langsung, apalagi mengaitkannya dengan “semacam hadits” yang belum jelas wujudnya sebagaimana disinggung di atas. Demikian juga penuturan seorang dokter di Kalimantan yang banyak dicemooh di media sosial terkait wudlu dan corona ini. Ia hanya menganjurkan umat Islam selalu menjaga kebersihan salah satunya dengan merutinkan wudlu.
Penyebab utama adanya wabah corona karena mengabaikan kebersihan jelas merupakan sesuatu yang ilmiah. Penyebab utama adanya wabah corona juga karena dosa-dosa umat manusia jelas juga fakta ilmiahnya. Meragukan kedua penyebab tersebut sebagai datangnya wabah corona berarti meragukan ilmu itu sendiri. Sebuah pertanda yang jelas bahwa sang peragu bukan orang yang berilmu.
Di sinilah relevansinya himbauan MUI untuk umat Islam menggiatkan istighfar, taubat, dan lebih merutinkan wudlu, yakni agar umat Islam senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang akan menyebabkan datangnya wabah. Terlepas dari fakta bahwa virus covid-19 tidak bisa dibunuh dengan air biasa, atau terlepas dari status “semacam hadits” di atas yang belum jelas dla’ifnya sekalipun. Sebab rutinitas wudlu otomatis akan mendorong seseorang teliti dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungannya, termasuk menjaga diri agar tidak terpapar virus covid-19. Karena ajaran wudlu adalah gerbang dari thaharah (bersuci), dan thaharah tidak hanya mencakup diri, melainkan juga pakaian dan tempat tinggal.
Ajaran merutinkan taubat dan bersuci jelas ditegaskan dalam al-Qur`an. Maka mengapa masih berat untuk mengamalkannya? Apalagi memaksakannya dipojokkan ke sudut-sudut hoax?












