Majalah Islam Digital Tafaqquh
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Thursday, April 16, 2026
  • Login
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
Majalah Islam Digital Tafaqquh
No Result
View All Result
Home Artikel Terbaru

Tetap Berqurban di Masa Pandemi

tafaqquh by tafaqquh
September 1, 2020
in Artikel Terbaru, Edisi 6 Bulan Juli 2020, Mabhats
0
Tetap Berqurban di Masa Pandemi
0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Tidak dipungkiri masa pandemi Covid-19 yang masih belum reda sedikitnya membebani perekonomian masyarakat muslim. Padahal dalam waktu kurang satu bulan lagi mereka dihadapkan pada agenda ibadah qurban. Haruskah ibadah qurban diliburkan dahulu mengingat sedang ada kendala ekonomi? Bukankah justru di masa banyak orang yang kesusahan ekonominya harus semakin banyak shadaqahnya?

Jika pada umumnya masyarakat menurunkan kadar ibadah hartanya di masa sulit, maka al-Qur`an justru menjelaskan sebaliknya; pada masa-masa sulit orang bertaqwa harus membuktikan ketangguhan taqwanya dan orang beriman harus membuktikan keluhuran imannya dengan mempertahankan shadaqahnya. Orang bertaqwa dijelaskan oleh Allah swt bukan orang yang mampu berinfaq ketika lapang saja, melainkan juga ketika susah.

Infaq dan Shadaqah di Masa Susah

Ų£ŁŲ¹ŁŲÆŁ‘ŁŽŲŖŁ’ Ł„ŁŁ„Ł’Ł…ŁŲŖŁ‘ŁŽŁ‚ŁŁŠŁ†ŁŽ (133) Ų§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁŠŁŁ†Ł’ŁŁŁ‚ŁŁˆŁ†ŁŽ فِي Ų§Ł„Ų³Ł‘ŁŽŲ±Ł‘ŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų¶Ł‘ŁŽŲ±Ł‘ŁŽŲ§Ų”Ł

…(surga seluas langit dan bumi) disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, …(QS. Ali ā€˜Imran [3] : 133-134).

Kaum Anshar dipuji secara khusus oleh Allah swt karena mereka mampu mempertahankan akhlaq shadaqahnya meski sedang membutuhkan (hajah) sehingga seolah-olah mereka tidak butuh, atau bahkan ketika sedang kesulitan (khashashah) sekalipun.

ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŲŖŁŽŲØŁŽŁˆŁ‘ŁŽŲ”ŁŁˆŲ§ Ų§Ł„ŲÆŁ‘ŁŽŲ§Ų±ŁŽ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ų„ŁŁŠŁ…ŁŽŲ§Ł†ŁŽ مِنْ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁŠŁŲ­ŁŲØŁ‘ŁŁˆŁ†ŁŽ Ł…ŁŽŁ†Ł’ Ł‡ŁŽŲ§Ų¬ŁŽŲ±ŁŽ Ų„ŁŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡ŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ¬ŁŲÆŁŁˆŁ†ŁŽ فِي ŲµŁŲÆŁŁˆŲ±ŁŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų­ŁŽŲ§Ų¬ŁŽŲ©Ł‹ Ł…ŁŁ…Ł‘ŁŽŲ§ Ų£ŁŁˆŲŖŁŁˆŲ§ ŁˆŁŽŁŠŁŲ¤Ł’Ų«ŁŲ±ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų£ŁŽŁ†Ł’ŁŁŲ³ŁŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁˆŁ’ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ بِهِمْ Ų®ŁŽŲµŁŽŲ§ŲµŁŽŲ©ŁŒ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŁˆŁ‚ŁŽ Ų“ŁŲ­Ł‘ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡Ł ŁŁŽŲ£ŁŁˆŁ„ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽ Ł‡ŁŁ…Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŁŁ’Ł„ŁŲ­ŁŁˆŁ†ŁŽ

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. al-Hasyr [59] : 9).

Salah seorang dari mereka diceritakan kesigapannya dalam bershadaqah oleh Abu Hurairah ra sebagai berikut:

Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲØŁŁŠ Ł‡ŁŲ±ŁŽŁŠŁ’Ų±ŁŽŲ©ŁŽ  Ų£ŁŽŁ†Ł‘ŁŽ Ų±ŁŽŲ¬ŁŁ„Ł‹Ų§ Ų£ŁŽŲŖŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ł†Ł‘ŁŽŲØŁŁŠŁ‘ŁŽ  ŁŁŽŲØŁŽŲ¹ŁŽŲ«ŁŽ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ł†ŁŲ³ŁŽŲ§Ų¦ŁŁ‡Ł ŁŁŽŁ‚ŁŁ„Ł’Ł†ŁŽ Ł…ŁŽŲ§ Ł…ŁŽŲ¹ŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų„ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ§Ų”Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł  Ł…ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŽŲ¶ŁŁ…Ł‘Ł Ų£ŁŽŁˆŁ’ ŁŠŁŲ¶ŁŁŠŁŁ Ł‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų±ŁŽŲ¬ŁŁ„ŁŒ مِنْ Ų§Ł„Ł’Ų£ŁŽŁ†Ł’ŲµŁŽŲ§Ų±Ł Ų£ŁŽŁ†ŁŽŲ§ ŁŁŽŲ§Ł†Ł’Ų·ŁŽŁ„ŁŽŁ‚ŁŽ بِهِ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł…Ł’Ų±ŁŽŲ£ŁŽŲŖŁŁ‡Ł ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų£ŁŽŁƒŁ’Ų±ŁŁ…ŁŁŠ Ų¶ŁŽŁŠŁ’ŁŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł  ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲŖŁ’ Ł…ŁŽŲ§ Ų¹ŁŁ†Ł’ŲÆŁŽŁ†ŁŽŲ§ Ų„ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ§ Ł‚ŁŁˆŲŖŁ ŲµŁŲØŁ’ŁŠŁŽŲ§Ł†ŁŁŠ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ł‡ŁŽŁŠŁ‘ŁŲ¦ŁŁŠ Ų·ŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł…ŁŽŁƒŁ ŁˆŁŽŲ£ŁŽŲµŁ’ŲØŁŲ­ŁŁŠ Ų³ŁŲ±ŁŽŲ§Ų¬ŁŽŁƒŁ ŁˆŁŽŁ†ŁŽŁˆŁ‘ŁŁ…ŁŁŠ ŲµŁŲØŁ’ŁŠŁŽŲ§Ł†ŁŽŁƒŁ Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲ±ŁŽŲ§ŲÆŁŁˆŲ§ Ų¹ŁŽŲ“ŁŽŲ§Ų”Ł‹ ŁŁŽŁ‡ŁŽŁŠŁ‘ŁŽŲ£ŁŽŲŖŁ’ Ų·ŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł…ŁŽŁ‡ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŲ£ŁŽŲµŁ’ŲØŁŽŲ­ŁŽŲŖŁ’ Ų³ŁŲ±ŁŽŲ§Ų¬ŁŽŁ‡ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŁ†ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŁ…ŁŽŲŖŁ’ ŲµŁŲØŁ’ŁŠŁŽŲ§Ł†ŁŽŁ‡ŁŽŲ§ Ų«ŁŁ…Ł‘ŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ł…ŁŽŲŖŁ’ ŁƒŁŽŲ£ŁŽŁ†Ł‘ŁŽŁ‡ŁŽŲ§ ŲŖŁŲµŁ’Ł„ŁŲ­Ł Ų³ŁŲ±ŁŽŲ§Ų¬ŁŽŁ‡ŁŽŲ§ ŁŁŽŲ£ŁŽŲ·Ł’ŁŁŽŲ£ŁŽŲŖŁ’Ł‡Ł ŁŁŽŲ¬ŁŽŲ¹ŁŽŁ„ŁŽŲ§ ŁŠŁŲ±ŁŁŠŁŽŲ§Ł†ŁŁ‡Ł Ų£ŁŽŁ†Ł‘ŁŽŁ‡ŁŁ…ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ£Ł’ŁƒŁŁ„ŁŽŲ§Ł†Ł ŁŁŽŲØŁŽŲ§ŲŖŁŽŲ§ Ų·ŁŽŲ§ŁˆŁŁŠŁŽŁŠŁ’Ł†Ł ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł‘ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲµŁ’ŲØŁŽŲ­ŁŽ ŲŗŁŽŲÆŁŽŲ§ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł  ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų¶ŁŽŲ­ŁŁƒŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁŠŁ’Ł„ŁŽŲ©ŁŽ Ų£ŁŽŁˆŁ’ Ų¹ŁŽŲ¬ŁŲØŁŽ مِنْ ŁŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł„ŁŁƒŁŁ…ŁŽŲ§ ŁŁŽŲ£ŁŽŁ†Ł’Ų²ŁŽŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł {ŁˆŁŽŁŠŁŲ¤Ł’Ų«ŁŲ±ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁ‰ Ų£ŁŽŁ†Ł’ŁŁŲ³ŁŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁˆŁ’ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ بِهِمْ Ų®ŁŽŲµŁŽŲ§ŲµŁŽŲ©ŁŒ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŁˆŁ‚ŁŽ Ų“ŁŲ­Ł‘ŁŽ Ł†ŁŽŁŁ’Ų³ŁŁ‡Ł ŁŁŽŲ£ŁŁˆŁ„ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽ Ł‡ŁŁ…Ł’ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŁŁ’Ł„ŁŲ­ŁŁˆŁ†ŁŽ}

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi saw (dalam keadaan hampir pingsan). Lalu Nabi saw menyuruh seseorang meminta kepada istri-istrinya. Tetapi istr-istri Nabi berkata: ā€œKami hanya punya air.ā€ Rasulullah saw pun mengumumkan: ā€œSiapa yang bersedia menjamu orang ini?ā€ Seorang Anshar kemudian berkata: ā€œSaya.ā€ Ia lalu pulang ke istrinya dan berkata: ā€œMuliakanlah tamu Rasulullah saw.ā€ Istrinya menjawab: ā€œKita hanya punya makanan untuk anak-anak.ā€ Ia berkata: ā€œSiapkan makanan itu, nyalakan lampu, tidurkan anak-anak jika mereka mau makan.ā€ Istrinya pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Kemudian ia berdiri seolah-olah hendak membetulkan lampu, tapi kemudian meniupnya. Keduanya memperlihatkan kepada tamu seolah-olah ikut makan. Padahal keduanya bermalam dalam keadaan perut kosong. Keesokan harinya shahabat itu bertemu Rasulullah saw. Beliau bersabda: ā€œAllah takjub dengan perbuatan kalian berdua.ā€ Allah menurunkan firman-Nya: ā€œDan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sangat memerlukan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.ā€ (Shahih al-Bukhari kitab manaqibil-Anshar bab qaulil-ā€˜Llah wa yu`tsiruna ā€˜ala anfusihim no. 3798).

Demikian halnya para shahabat dipuji Allah swt dalam hal shadaqah di surat At-Taubah karena mereka selalu berusaha maksimal shadaqah meski harus menjadi buruh panggul terlebih dahulu. Jadi kalau dalam konteks ibadah qurban, mereka akan berusaha sekuat tenaga mengamalkannya dengan cara menjadi buruh panggul sekalipun. Tidak cukup hanya dengan mengatakan tidak mampu lalu diam tanpa usaha apapun. Shahabat Abu Sa’id ra menjelaskan:

ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł  Ų„ŁŲ°ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŁ…ŁŽŲ±ŁŽŁ†ŁŽŲ§ ŲØŁŲ§Ł„ŲµŁ‘ŁŽŲÆŁŽŁ‚ŁŽŲ©Ł Ų§Ł†Ł’Ų·ŁŽŁ„ŁŽŁ‚ŁŽ Ų£ŁŽŲ­ŁŽŲÆŁŁ†ŁŽŲ§ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ų§Ł„Ų³Ł‘ŁŁˆŁ‚Ł ŁŁŽŁŠŁŲ­ŁŽŲ§Ł…ŁŁ„Ł ŁŁŽŁŠŁŲµŁŁŠŲØŁ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲÆŁ‘ŁŽ

Rasulullah saw apabila memerintahkan shadaqah kepada kami, maka salah seorang dari kami ada yang sampai sengaja pergi ke pasar lalu menjadi buruh panggul sampai ia mendapatkan satu mud (satu genggam tangan) (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab ittaqun-nar wa lau bi syiqqi tamratin awil-qalil minas-shadaqah no. 1415).

Akhlaq mereka tersebut sampai diabadikan dalam surat At-Taubah sebagai berikut:

Ų§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁŠŁŽŁ„Ł’Ł…ŁŲ²ŁŁˆŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲ·Ł‘ŁŽŁˆŁ‘ŁŲ¹ŁŁŠŁ†ŁŽ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲ¤Ł’Ł…ŁŁ†ŁŁŠŁ†ŁŽ فِي Ų§Ł„ŲµŁ‘ŁŽŲÆŁŽŁ‚ŁŽŲ§ŲŖŁ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ł„ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ¬ŁŲÆŁŁˆŁ†ŁŽ Ų„ŁŁ„Ł‘ŁŽŲ§ Ų¬ŁŁ‡Ł’ŲÆŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ ŁŁŽŁŠŁŽŲ³Ł’Ų®ŁŽŲ±ŁŁˆŁ†ŁŽ Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…Ł’ Ų³ŁŽŲ®ŁŲ±ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ł…ŁŁ†Ł’Ł‡ŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų¹ŁŽŲ°ŁŽŲ§ŲØŁŒ Ų£ŁŽŁ„ŁŁŠŁ…ŁŒ

(Orang-orang munafiq) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafiq itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih (QS. at-Taubah [9] : 79).

ā€œOrang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannyaā€ dalam ayat ini adalah mereka yang baru bisa bershadaqah sesudah menjadi buruh panggul sebagaimana disinggung dalam hadits di atas.

Ajaran al-ā€˜Aqabah

Dalam surat al-Balad, Allah swt menyebutnya dengan al-ā€˜aqabah. Arti asalnya jalan yang sulit, berliku, dan menanjak. Meski demikian justru al-Qur`an menitahkan agar al-ā€˜aqabah itu ditempuh:

ŁŁŽŁ„ŁŽŲ§ Ų§Ł‚Ł’ŲŖŁŽŲ­ŁŽŁ…ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁ‚ŁŽŲØŁŽŲ©ŁŽ (11) ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ§ Ų£ŁŽŲÆŁ’Ų±ŁŽŲ§ŁƒŁŽ Ł…ŁŽŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų¹ŁŽŁ‚ŁŽŲØŁŽŲ©Ł (12) ŁŁŽŁƒŁ‘Ł Ų±ŁŽŁ‚ŁŽŲØŁŽŲ©Ł (13) Ų£ŁŽŁˆŁ’ Ų„ŁŲ·Ł’Ų¹ŁŽŲ§Ł…ŁŒ فِي ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…Ł ذِي Ł…ŁŽŲ³Ł’ŲŗŁŽŲØŁŽŲ©Ł (14) ŁŠŁŽŲŖŁŁŠŁ…Ł‹Ų§ Ų°ŁŽŲ§ Ł…ŁŽŁ‚Ł’Ų±ŁŽŲØŁŽŲ©Ł (15) Ų£ŁŽŁˆŁ’ Ł…ŁŲ³Ł’ŁƒŁŁŠŁ†Ł‹Ų§ Ų°ŁŽŲ§ Ł…ŁŽŲŖŁ’Ų±ŁŽŲØŁŽŲ©Ł (16) Ų«ŁŁ…Ł‘ŁŽ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų¢Ł…ŁŽŁ†ŁŁˆŲ§ ŁˆŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŲ§ŲµŁŽŁˆŁ’Ų§ ŲØŁŲ§Ł„ŲµŁ‘ŁŽŲØŁ’Ų±Ł ŁˆŁŽŲŖŁŽŁˆŁŽŲ§ŲµŁŽŁˆŁ’Ų§ ŲØŁŲ§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ±Ł’Ų­ŁŽŁ…ŁŽŲ©Ł (17)

Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang berkalang tanah. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang (QS. al-Balad [90] : 11-17).

Disebut al-ā€˜aqabah karena memang situasinya sedang sulit. Dalam ayat 14 dijelaskan dzi masghabah. Al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan maknanya: ā€œbanyak yang kelaparan, makanan langka, makanan sangat dinanti-nantikan.ā€ Sampai-sampai orang miskin pada saat tersebut dza matrabah. Asal makna matrabah adalah tanah (turab). Maknanya: ā€œOrang miskin yang sampai tersungkur dan beralaskan tanah, orang miskin yang tidak punya tempat tinggal dan terusir di jalanan, orang miskin yang banyak utang dan kebutuhannya, bisa jadi ia tidak punya keluarga seorang pun yang bisa menolongnya atau bahkan memiliki banyak keluarga yang harus ditanggungnya.ā€ Al-Hafizh Ibn Katsir menegaskan: ā€œSemua makna yang disebutkan itu saling berdekatan.ā€ (Tafsir Ibn Katsir).

Secara khusus ayat-ayat di atas memang merupakan sindiran untuk orang-orang kaya yang ahlaktu malan lubada; menghabiskan banyak hartanya untuk mempertegas statusnya sebagai orang kaya; berkendaraan mewah, berpakaian mahal, memperbanyak wisata kuliner, update status berwisata hampir di setiap pekan atau bulan, merutinkan belanja barang-barang mahal di setiap pekannya, dan berolahraga yang mahal setiap pekan. Mengapa harta yang dimiliki itu dihambur-hamburkan hanya untuk memuaskan nafsu kaya dan tidak disalurkan pada al-ā€˜aqabah!? Bukankah masih banyak orang miskin yang tidak punya rumah, yang sekedar untuk makan pun susahnya bukan main!? Apakah keimanan yang bersemayam dalam hati tidak bisa lagi mewasiatkan sabar dan berkasih sayang kepada sesama!? Demikian kurang lebih sindiran Allah swt dalam ayat-ayat di atas.

Meski demikian, ayat tentang al-ā€˜aqabah di atas ditujukan juga kepada semua orang yang masih memiliki harta meski tidak sampai kaya dan masih bisa menyalurkannya ke jalan selain faqir miskin dan anak-anak yatim. Diri harus merasa malu sekali seandainya untuk hal-hal yang bukan shadaqah masih bisa dilakukan, tetapi untuk shadaqah kepada mereka yang kesulitan beralasan sedang sulit.

Jihad pada Masa Susah

Allah swt juga mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu berjihad di jalan-Nya secara umum, baik itu dalam perang ataupun ibadah lainnya selain perang. Jihad itu sendiri asal katanya juhd yang bermakna ā€˜payah’. Maksudnya mencurahkan tenaga sampai payah dan melawan musuh sampai musuh yang kepayahan. Jika malah diri sendiri yang kepayahan dan kalah oleh musuh utama bernama setan, maka berarti jihadnya tidak maksimal. Tuntutan agar dalam semua ibadah diberlakukan jihad difirmankan Allah swt:

ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų¬ŁŽŲ§Ł‡ŁŽŲÆŁŁˆŲ§ ŁŁŁŠŁ†ŁŽŲ§ Ł„ŁŽŁ†ŁŽŁ‡Ł’ŲÆŁŁŠŁŽŁ†Ł‘ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų³ŁŲØŁŁ„ŁŽŁ†ŁŽŲ§ ŁˆŁŽŲ„ŁŁ†Ł‘ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡ŁŽ Ł„ŁŽŁ…ŁŽŲ¹ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲ­Ł’Ų³ŁŁ†ŁŁŠŁ†ŁŽ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS. al-ā€˜Ankabut [29] : 69).

Jihad itu sendiri satu paket dengan sabar, sebab dalam jihad akan ada banyak kesulitan dan kesusahan. Jika kemudian menyerah dan mundur, berarti jihadnya batal, sabarnya tidak teruji. Bisa jadi itu pertanda ada sifat munafiq dalam diri. Banyak sekali ayat al-Qur`an yang menegur ketidaksiapan kaum muslimin berjihad hanya karena tidak mau bersusah-susah dahulu. Sebut misalnya QS. An-Nisa` [4] : 77 yang menegur kaum muslimin yang keberatan harus jihad saat itu dengan firman-Nya: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa.ā€ Dalam QS. At-Taubah [9] : 24 Allah swt menegur mereka yang enggan bersusah payah jihad dan memilih bernyaman-nyaman saja di rumah dan bisnis mereka dengan sitiran: ā€œMaka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (siksa)-Nya.” Sementara dalam ayat 38 Allah swt menegur keras: ā€œApakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.ā€ Dalam QS. Muhammad [47] : 20 Allah swt menyinggung orang-orang yang takut berjihad sebagai orang-orang yang sakit hatinya: ā€œKamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.ā€ QS. al-Fath [48] : 11 menyinggung alasan dari mereka yang malas jihad: ā€œHarta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”. Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.ā€ Dalam QS. as-Shaff [61] : 2-4 Allah swt lebih tegas lagi menegur mereka yang enggan bersusah payah jihad padahal sebelumnya mengatakan akan siap berjihad: ā€œHai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.ā€

Maka dari itu para shahabat terdidik menjadi generasi yang selalu siap berbakti meski harus bersusah payah sekalipun. Jihad dan sabar sudah bersenyawa dalam jiwa mereka. Ayat-ayat al-Qur`an berikut merupakan pegangan mereka:

Ų£ŁŽŁ…Ł’ Ų­ŁŽŲ³ŁŲØŁ’ŲŖŁŁ…Ł’ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŽŲÆŁ’Ų®ŁŁ„ŁŁˆŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŁ†Ł‘ŁŽŲ©ŁŽ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł‘ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ£Ł’ŲŖŁŁƒŁŁ…Ł’ Ł…ŁŽŲ«ŁŽŁ„Ł Ų§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų®ŁŽŁ„ŁŽŁˆŁ’Ų§ مِنْ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŁƒŁŁ…Ł’ Ł…ŁŽŲ³Ł‘ŁŽŲŖŁ’Ł‡ŁŁ…Ł Ų§Ł„Ł’ŲØŁŽŲ£Ł’Ų³ŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ų¶Ł‘ŁŽŲ±Ł‘ŁŽŲ§Ų”Ł ŁˆŁŽŲ²ŁŁ„Ł’Ų²ŁŁ„ŁŁˆŲ§ Ų­ŁŽŲŖŁ‘ŁŽŁ‰ ŁŠŁŽŁ‚ŁŁˆŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ų±Ł‘ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų¢Ł…ŁŽŁ†ŁŁˆŲ§ Ł…ŁŽŲ¹ŁŽŁ‡Ł Ł…ŁŽŲŖŁŽŁ‰ Ł†ŁŽŲµŁ’Ų±Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ų£ŁŽŁ„ŁŽŲ§ Ų„ŁŁ†Ł‘ŁŽ Ł†ŁŽŲµŁ’Ų±ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ł‚ŁŽŲ±ŁŁŠŲØŁŒ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. al-Baqarah [2] : 214)

Ų£ŁŽŁ…Ł’ Ų­ŁŽŲ³ŁŲØŁ’ŲŖŁŁ…Ł’ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŲŖŁŽŲÆŁ’Ų®ŁŁ„ŁŁˆŲ§ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŁ†Ł‘ŁŽŲ©ŁŽ ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł‘ŁŽŲ§ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł„ŁŽŁ…Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŁ‡Ł Ų§Ł„Ł‘ŁŽŲ°ŁŁŠŁ†ŁŽ Ų¬ŁŽŲ§Ł‡ŁŽŲÆŁŁˆŲ§ Ł…ŁŁ†Ł’ŁƒŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł„ŁŽŁ…ŁŽ Ų§Ł„ŲµŁ‘ŁŽŲ§ŲØŁŲ±ŁŁŠŁ†ŁŽ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar (QS. Ali ā€˜Imran [3] : 142).

ŁˆŁŽŁ„ŁŽŁ†ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŁˆŁŽŁ†Ł‘ŁŽŁƒŁŁ…Ł’ Ų­ŁŽŲŖŁ‘ŁŽŁ‰ Ł†ŁŽŲ¹Ł’Ł„ŁŽŁ…ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲ¬ŁŽŲ§Ł‡ŁŲÆŁŁŠŁ†ŁŽ Ł…ŁŁ†Ł’ŁƒŁŁ…Ł’ ŁˆŁŽŲ§Ł„ŲµŁ‘ŁŽŲ§ŲØŁŲ±ŁŁŠŁ†ŁŽ ŁˆŁŽŁ†ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŁˆŁŽ Ų£ŁŽŲ®Ł’ŲØŁŽŲ§Ų±ŁŽŁƒŁŁ…Ł’

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu (QS. Muhammad [47] : 31).

Zaman Nabi saw adalah zamannya susah, sampai kewafatan beliau bahkan sampai periode awal kekhilafahan ā€˜Utsman ibn ā€˜Affan ra. Baru di periode kedua kekhilafahan ā€˜Utsman ra kaum muslimin merasakan kesejahteraan dalam hidup mereka. Meski demikian tidak dilaporkan bahwa shadaqah dan ibadah qurban pada zaman Nabi saw dan shahabat sangat minim. Mental jihad sudah menempa mereka untuk tidak meliburkan ibadah meski dalam keadaan susah sekalipun.

Pendidikan jihad yang memadukan teori dan praktik secara langsung di masa Nabi saw telah berhasil menempa para shahabat menjadi generasi yang selalu gemar shadaqah dan qurban meski di masa susah sekalipun. Maksud secara teori adalah ayat-ayat al-Qur`an yang memberikan tuntunan. Sementara secara praktik adalah kerja nyata di lapangan jihad. Bahkan seringkali apa yang terjadi di lapangan jihad langsung dikuatkan Allah swt lewat firman-firman-Nya sebagai asbabun-nuzul.

Dalam perang Uhud misalnya, meski kaum muslimin sudah banyak yang terluka parah, dan bahkan Nabi saw sendiri pun terluka parah di kepala dan wajahnya, tetapi ketika mendengar kaum musyrikin hendak menyerang kembali ke Madinah, tanpa ada alasan lelah dan terluka mereka sigap saja hendak menghadang pasukan kaum musyrikin. Allah swt mengabadikan pujian untuk mereka dalam al-Qur`an: ā€œ(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertaqwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali ā€˜Imran [3] : 173).

Allah swt juga menyinggung bahwa akhlaq para shahabat tersebut adalah akhlaq para pembela Nabi-nabi sebelumnya: ā€œDan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.ā€ (QS. Ali ā€˜Imran [3] : 146).

Dalam perang al-Ahzab/Khandaq di saat kaum muslimin dikepung di Madinah oleh segenap bangsa Arab, di saat ketakutan menyelinap ke sanubari kaum beriman, mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan, sehingga: ā€œDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.ā€ (QS. Al-Ahzab [33] : 22).

Dalam perang Tabuk yang dikenal dengan masa ā€˜usrah (masa sulit), dimana orang-orang munafiq banyak yang mempertanyakan mengapa di masa paceklik mau-mau saja melawan tentara Romawi yang sudah terbukti kuat, Allah swt membimbing kaum muslimin dengan firman-firman-Nya: ā€œOrang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas (nya)”, jika mereka mengetahui.ā€ (QS. At-Taubah [9] : 81).

Maka dari itu Allah swt menjanjikan ampunan khusus kepada kaum muslimin yang sudah teruji di masa ā€˜usrah: ā€œSesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.ā€ (QS. At-Taubah [9] : 117).

Inilah sepenggal kisah masa-masa susah di zaman Nabi saw dan para shahabat yang tidak sedikit pun menciutkan semangat mereka untuk tetap berjihad, berbakti, beribadah, dan berkorban demi mengejar keridlaan Allah swt. Segala rintangan, kesulitan, dan kesusahan tidak menjadi halangan, malah justru menjadi ujian untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa. Sehingga kemudian terbukti, meski para shahabat hidup di masa susah dan sulit, mereka tetap bisa berjihad dan berkorban. Semoga umat Islam di mana pun bisa menjadi pengikut amal-amal shalih mereka. Wal-ā€˜Llahul-Musta’an

Previous Post

Pancasila Soekarno Ilegal

Next Post

Dalam Keadaan Apapun Shadaqah Harus Diamalkan

tafaqquh

tafaqquh

Next Post
Dalam Keadaan Apapun Shadaqah Harus Diamalkan

Dalam Keadaan Apapun Shadaqah Harus Diamalkan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

March 11, 2021
Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

January 24, 2021
Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

July 5, 2021
Harta Anak Harta Orangtua

Harta Anak Harta Orangtua

April 2, 2021
Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

7
Salam Semua Agama, Selamat Natal, BID’AH

Konsep Bid’ah Menurut NU

4
Peran Perempuan Dalam Keluarga

Peran Perempuan Dalam Keluarga

0
Degradasi Ulama

Degradasi Ulama

0
Indahnya Inner Beauty Muslimah SejatiĀ 

Indahnya Inner Beauty Muslimah SejatiĀ 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024

Recent News

Indahnya Inner Beauty Muslimah SejatiĀ 

Indahnya Inner Beauty Muslimah SejatiĀ 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In