

Tidak dipungkiri masa pandemi Covid-19 yang masih belum reda sedikitnya membebani perekonomian masyarakat muslim. Padahal dalam waktu kurang satu bulan lagi mereka dihadapkan pada agenda ibadah qurban. Haruskah ibadah qurban diliburkan dahulu mengingat sedang ada kendala ekonomi? Bukankah justru di masa banyak orang yang kesusahan ekonominya harus semakin banyak shadaqahnya?
Jika pada umumnya masyarakat menurunkan kadar ibadah hartanya di masa sulit, maka al-Qur`an justru menjelaskan sebaliknya; pada masa-masa sulit orang bertaqwa harus membuktikan ketangguhan taqwanya dan orang beriman harus membuktikan keluhuran imannya dengan mempertahankan shadaqahnya. Orang bertaqwa dijelaskan oleh Allah swt bukan orang yang mampu berinfaq ketika lapang saja, melainkan juga ketika susah.
Infaq dan Shadaqah di Masa Susah
Ų£ŁŲ¹ŁŲÆŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁŁ ŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁ (133) Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁŲ±ŁŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ§ŁŲ¶ŁŁŲ±ŁŁŲ§Ų”Ł
…(surga seluas langit dan bumi) disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, …(QS. Ali āImran [3] : 133-134).
Kaum Anshar dipuji secara khusus oleh Allah swt karena mereka mampu mempertahankan akhlaq shadaqahnya meski sedang membutuhkan (hajah) sehingga seolah-olah mereka tidak butuh, atau bahkan ketika sedang kesulitan (khashashah) sekalipun.
ŁŁŲ§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŲŖŁŲØŁŁŁŁŲ”ŁŁŲ§ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§Ų±Ł ŁŁŲ§ŁŁŲ„ŁŁŁ ŁŲ§ŁŁ Ł ŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲŁŲØŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŁŁŲ§Ų¬ŁŲ±Ł Ų„ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ¬ŁŲÆŁŁŁŁ ŁŁŁ ŲµŁŲÆŁŁŲ±ŁŁŁŁ Ł ŲŁŲ§Ų¬ŁŲ©Ł Ł ŁŁ ŁŁŲ§ Ų£ŁŁŲŖŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ¤ŁŲ«ŁŲ±ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŲØŁŁŁŁ Ł Ų®ŁŲµŁŲ§ŲµŁŲ©Ł ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ų“ŁŲŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŁŁŲ¦ŁŁŁ ŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŲŁŁŁŁ
Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. al-Hasyr [59] : 9).
Salah seorang dari mereka diceritakan kesigapannya dalam bershadaqah oleh Abu Hurairah ra sebagai berikut:
Ų¹ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ ŁŁŲ±ŁŁŁŲ±ŁŲ©Ł Ų£ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŁŲ§ Ų£ŁŲŖŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ŁŁŲØŁŲ¹ŁŲ«Ł Ų„ŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŲ§Ų¦ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŲ§ Ł ŁŲ¹ŁŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ ŁŁŲ¶ŁŁ ŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲ¶ŁŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŲ§ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ£ŁŁŁŲµŁŲ§Ų±Ł Ų£ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŁŲ·ŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų§Ł ŁŲ±ŁŲ£ŁŲŖŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŁŁŲ±ŁŁ ŁŁ Ų¶ŁŁŁŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ł ŁŲ§ Ų¹ŁŁŁŲÆŁŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŲŖŁ ŲµŁŲØŁŁŁŲ§ŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŁŲ¦ŁŁ Ų·ŁŲ¹ŁŲ§Ł ŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŲµŁŲØŁŲŁŁ Ų³ŁŲ±ŁŲ§Ų¬ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁ ŲµŁŲØŁŁŁŲ§ŁŁŁŁ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ Ų£ŁŲ±ŁŲ§ŲÆŁŁŲ§ Ų¹ŁŲ“ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŁŁŁŁŁŲ£ŁŲŖŁ Ų·ŁŲ¹ŁŲ§Ł ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŲµŁŲØŁŲŁŲŖŁ Ų³ŁŲ±ŁŲ§Ų¬ŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŲŖŁ ŲµŁŲØŁŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ§ Ų«ŁŁ ŁŁ ŁŁŲ§Ł ŁŲŖŁ ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁŁŲ§ ŲŖŁŲµŁŁŁŲŁ Ų³ŁŲ±ŁŲ§Ų¬ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŲ·ŁŁŁŲ£ŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲ¬ŁŲ¹ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ±ŁŁŁŲ§ŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲØŁŲ§ŲŖŁŲ§ Ų·ŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ Ų£ŁŲµŁŲØŁŲŁ ŲŗŁŲÆŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų¶ŁŲŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŁŁŲ©Ł Ų£ŁŁŁ Ų¹ŁŲ¬ŁŲØŁ Ł ŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŁŁŲ²ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ {ŁŁŁŁŲ¤ŁŲ«ŁŲ±ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŲØŁŁŁŁ Ł Ų®ŁŲµŁŲ§ŲµŁŲ©Ł ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ų“ŁŲŁŁ ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŁŁŲ¦ŁŁŁ ŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŲŁŁŁŁ}
Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi saw (dalam keadaan hampir pingsan). Lalu Nabi saw menyuruh seseorang meminta kepada istri-istrinya. Tetapi istr-istri Nabi berkata: āKami hanya punya air.ā Rasulullah saw pun mengumumkan: āSiapa yang bersedia menjamu orang ini?ā Seorang Anshar kemudian berkata: āSaya.ā Ia lalu pulang ke istrinya dan berkata: āMuliakanlah tamu Rasulullah saw.ā Istrinya menjawab: āKita hanya punya makanan untuk anak-anak.ā Ia berkata: āSiapkan makanan itu, nyalakan lampu, tidurkan anak-anak jika mereka mau makan.ā Istrinya pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Kemudian ia berdiri seolah-olah hendak membetulkan lampu, tapi kemudian meniupnya. Keduanya memperlihatkan kepada tamu seolah-olah ikut makan. Padahal keduanya bermalam dalam keadaan perut kosong. Keesokan harinya shahabat itu bertemu Rasulullah saw. Beliau bersabda: āAllah takjub dengan perbuatan kalian berdua.ā Allah menurunkan firman-Nya: āDan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sangat memerlukan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.ā (Shahih al-Bukhari kitab manaqibil-Anshar bab qaulil-āLlah wa yu`tsiruna āala anfusihim no. 3798).
Demikian halnya para shahabat dipuji Allah swt dalam hal shadaqah di surat At-Taubah karena mereka selalu berusaha maksimal shadaqah meski harus menjadi buruh panggul terlebih dahulu. Jadi kalau dalam konteks ibadah qurban, mereka akan berusaha sekuat tenaga mengamalkannya dengan cara menjadi buruh panggul sekalipun. Tidak cukup hanya dengan mengatakan tidak mampu lalu diam tanpa usaha apapun. Shahabat Abu Saāid ra menjelaskan:
ŁŁŲ§ŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ Ų£ŁŁ ŁŲ±ŁŁŁŲ§ ŲØŁŲ§ŁŲµŁŁŲÆŁŁŁŲ©Ł Ų§ŁŁŲ·ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲŁŲÆŁŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲŁŲ§Ł ŁŁŁ ŁŁŁŁŲµŁŁŲØŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲÆŁŁ
Rasulullah saw apabila memerintahkan shadaqah kepada kami, maka salah seorang dari kami ada yang sampai sengaja pergi ke pasar lalu menjadi buruh panggul sampai ia mendapatkan satu mud (satu genggam tangan) (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab ittaqun-nar wa lau bi syiqqi tamratin awil-qalil minas-shadaqah no. 1415).
Akhlaq mereka tersebut sampai diabadikan dalam surat At-Taubah sebagai berikut:
Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ ŁŲ²ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ·ŁŁŁŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ¤ŁŁ ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŁŲÆŁŁŁŲ§ŲŖŁ ŁŁŲ§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲ¬ŁŲÆŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų¬ŁŁŁŲÆŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŲ³ŁŲ®ŁŲ±ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁ Ł Ų³ŁŲ®ŁŲ±Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ų¹ŁŲ°ŁŲ§ŲØŁ Ų£ŁŁŁŁŁ Ł
(Orang-orang munafiq) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafiq itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih (QS. at-Taubah [9] : 79).
āOrang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannyaā dalam ayat ini adalah mereka yang baru bisa bershadaqah sesudah menjadi buruh panggul sebagaimana disinggung dalam hadits di atas.
Ajaran al-āAqabah
Dalam surat al-Balad, Allah swt menyebutnya dengan al-āaqabah. Arti asalnya jalan yang sulit, berliku, dan menanjak. Meski demikian justru al-Qur`an menitahkan agar al-āaqabah itu ditempuh:
ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲŖŁŲŁŁ Ł Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŲØŁŲ©Ł (11) ŁŁŁ ŁŲ§ Ų£ŁŲÆŁŲ±ŁŲ§ŁŁ Ł ŁŲ§ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŲØŁŲ©Ł (12) ŁŁŁŁŁ Ų±ŁŁŁŲØŁŲ©Ł (13) Ų£ŁŁŁ Ų„ŁŲ·ŁŲ¹ŁŲ§Ł Ł ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ł Ų°ŁŁ Ł ŁŲ³ŁŲŗŁŲØŁŲ©Ł (14) ŁŁŲŖŁŁŁ ŁŲ§ Ų°ŁŲ§ Ł ŁŁŁŲ±ŁŲØŁŲ©Ł (15) Ų£ŁŁŁ Ł ŁŲ³ŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų°ŁŲ§ Ł ŁŲŖŁŲ±ŁŲØŁŲ©Ł (16) Ų«ŁŁ ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ Ų¢Ł ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁŁŁŲ§ŲµŁŁŁŲ§ ŲØŁŲ§ŁŲµŁŁŲØŁŲ±Ł ŁŁŲŖŁŁŁŲ§ŲµŁŁŁŲ§ ŲØŁŲ§ŁŁŁ ŁŲ±ŁŲŁŁ ŁŲ©Ł (17)
Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang berkalang tanah. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang (QS. al-Balad [90] : 11-17).
Disebut al-āaqabah karena memang situasinya sedang sulit. Dalam ayat 14 dijelaskan dzi masghabah. Al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan maknanya: ābanyak yang kelaparan, makanan langka, makanan sangat dinanti-nantikan.ā Sampai-sampai orang miskin pada saat tersebut dza matrabah. Asal makna matrabah adalah tanah (turab). Maknanya: āOrang miskin yang sampai tersungkur dan beralaskan tanah, orang miskin yang tidak punya tempat tinggal dan terusir di jalanan, orang miskin yang banyak utang dan kebutuhannya, bisa jadi ia tidak punya keluarga seorang pun yang bisa menolongnya atau bahkan memiliki banyak keluarga yang harus ditanggungnya.ā Al-Hafizh Ibn Katsir menegaskan: āSemua makna yang disebutkan itu saling berdekatan.ā (Tafsir Ibn Katsir).
Secara khusus ayat-ayat di atas memang merupakan sindiran untuk orang-orang kaya yang ahlaktu malan lubada; menghabiskan banyak hartanya untuk mempertegas statusnya sebagai orang kaya; berkendaraan mewah, berpakaian mahal, memperbanyak wisata kuliner, update status berwisata hampir di setiap pekan atau bulan, merutinkan belanja barang-barang mahal di setiap pekannya, dan berolahraga yang mahal setiap pekan. Mengapa harta yang dimiliki itu dihambur-hamburkan hanya untuk memuaskan nafsu kaya dan tidak disalurkan pada al-āaqabah!? Bukankah masih banyak orang miskin yang tidak punya rumah, yang sekedar untuk makan pun susahnya bukan main!? Apakah keimanan yang bersemayam dalam hati tidak bisa lagi mewasiatkan sabar dan berkasih sayang kepada sesama!? Demikian kurang lebih sindiran Allah swt dalam ayat-ayat di atas.
Meski demikian, ayat tentang al-āaqabah di atas ditujukan juga kepada semua orang yang masih memiliki harta meski tidak sampai kaya dan masih bisa menyalurkannya ke jalan selain faqir miskin dan anak-anak yatim. Diri harus merasa malu sekali seandainya untuk hal-hal yang bukan shadaqah masih bisa dilakukan, tetapi untuk shadaqah kepada mereka yang kesulitan beralasan sedang sulit.
Jihad pada Masa Susah
Allah swt juga mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu berjihad di jalan-Nya secara umum, baik itu dalam perang ataupun ibadah lainnya selain perang. Jihad itu sendiri asal katanya juhd yang bermakna āpayahā. Maksudnya mencurahkan tenaga sampai payah dan melawan musuh sampai musuh yang kepayahan. Jika malah diri sendiri yang kepayahan dan kalah oleh musuh utama bernama setan, maka berarti jihadnya tidak maksimal. Tuntutan agar dalam semua ibadah diberlakukan jihad difirmankan Allah swt:
ŁŁŲ§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ Ų¬ŁŲ§ŁŁŲÆŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŲÆŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ų³ŁŲØŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ ŁŲ¹Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲŁŲ³ŁŁŁŁŁŁ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS. al-āAnkabut [29] : 69).
Jihad itu sendiri satu paket dengan sabar, sebab dalam jihad akan ada banyak kesulitan dan kesusahan. Jika kemudian menyerah dan mundur, berarti jihadnya batal, sabarnya tidak teruji. Bisa jadi itu pertanda ada sifat munafiq dalam diri. Banyak sekali ayat al-Qur`an yang menegur ketidaksiapan kaum muslimin berjihad hanya karena tidak mau bersusah-susah dahulu. Sebut misalnya QS. An-Nisa` [4] : 77 yang menegur kaum muslimin yang keberatan harus jihad saat itu dengan firman-Nya: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa.ā Dalam QS. At-Taubah [9] : 24 Allah swt menegur mereka yang enggan bersusah payah jihad dan memilih bernyaman-nyaman saja di rumah dan bisnis mereka dengan sitiran: āMaka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (siksa)-Nya.” Sementara dalam ayat 38 Allah swt menegur keras: āApakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.ā Dalam QS. Muhammad [47] : 20 Allah swt menyinggung orang-orang yang takut berjihad sebagai orang-orang yang sakit hatinya: āKamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.ā QS. al-Fath [48] : 11 menyinggung alasan dari mereka yang malas jihad: āHarta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”. Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.ā Dalam QS. as-Shaff [61] : 2-4 Allah swt lebih tegas lagi menegur mereka yang enggan bersusah payah jihad padahal sebelumnya mengatakan akan siap berjihad: āHai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.ā
Maka dari itu para shahabat terdidik menjadi generasi yang selalu siap berbakti meski harus bersusah payah sekalipun. Jihad dan sabar sudah bersenyawa dalam jiwa mereka. Ayat-ayat al-Qur`an berikut merupakan pegangan mereka:
Ų£ŁŁ Ł ŲŁŲ³ŁŲØŁŲŖŁŁ Ł Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲÆŁŲ®ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŲŖŁŁŁŁ Ł Ł ŁŲ«ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ Ų®ŁŁŁŁŁŲ§ Ł ŁŁŁ ŁŁŲØŁŁŁŁŁŁ Ł Ł ŁŲ³ŁŁŲŖŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŲØŁŲ£ŁŲ³ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ§ŁŲ¶ŁŁŲ±ŁŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ²ŁŁŁŲ²ŁŁŁŁŲ§ ŲŁŲŖŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲ³ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ Ų¢Ł ŁŁŁŁŲ§ Ł ŁŲ¹ŁŁŁ Ł ŁŲŖŁŁ ŁŁŲµŁŲ±Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁŁ ŁŁŲµŁŲ±Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ±ŁŁŲØŁ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. al-Baqarah [2] : 214)
Ų£ŁŁ Ł ŲŁŲ³ŁŲØŁŲŖŁŁ Ł Ų£ŁŁŁ ŲŖŁŲÆŁŲ®ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŲ©Ł ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ Ų¬ŁŲ§ŁŁŲÆŁŁŲ§ Ł ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŲµŁŁŲ§ŲØŁŲ±ŁŁŁŁ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar (QS. Ali āImran [3] : 142).
ŁŁŁŁŁŁŲØŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ł ŲŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲ¬ŁŲ§ŁŁŲÆŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ§ŁŲµŁŁŲ§ŲØŁŲ±ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲ®ŁŲØŁŲ§Ų±ŁŁŁŁ Ł
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu (QS. Muhammad [47] : 31).
Zaman Nabi saw adalah zamannya susah, sampai kewafatan beliau bahkan sampai periode awal kekhilafahan āUtsman ibn āAffan ra. Baru di periode kedua kekhilafahan āUtsman ra kaum muslimin merasakan kesejahteraan dalam hidup mereka. Meski demikian tidak dilaporkan bahwa shadaqah dan ibadah qurban pada zaman Nabi saw dan shahabat sangat minim. Mental jihad sudah menempa mereka untuk tidak meliburkan ibadah meski dalam keadaan susah sekalipun.
Pendidikan jihad yang memadukan teori dan praktik secara langsung di masa Nabi saw telah berhasil menempa para shahabat menjadi generasi yang selalu gemar shadaqah dan qurban meski di masa susah sekalipun. Maksud secara teori adalah ayat-ayat al-Qur`an yang memberikan tuntunan. Sementara secara praktik adalah kerja nyata di lapangan jihad. Bahkan seringkali apa yang terjadi di lapangan jihad langsung dikuatkan Allah swt lewat firman-firman-Nya sebagai asbabun-nuzul.
Dalam perang Uhud misalnya, meski kaum muslimin sudah banyak yang terluka parah, dan bahkan Nabi saw sendiri pun terluka parah di kepala dan wajahnya, tetapi ketika mendengar kaum musyrikin hendak menyerang kembali ke Madinah, tanpa ada alasan lelah dan terluka mereka sigap saja hendak menghadang pasukan kaum musyrikin. Allah swt mengabadikan pujian untuk mereka dalam al-Qur`an: ā(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertaqwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali āImran [3] : 173).
Allah swt juga menyinggung bahwa akhlaq para shahabat tersebut adalah akhlaq para pembela Nabi-nabi sebelumnya: āDan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.ā (QS. Ali āImran [3] : 146).
Dalam perang al-Ahzab/Khandaq di saat kaum muslimin dikepung di Madinah oleh segenap bangsa Arab, di saat ketakutan menyelinap ke sanubari kaum beriman, mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan, sehingga: āDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.ā (QS. Al-Ahzab [33] : 22).
Dalam perang Tabuk yang dikenal dengan masa āusrah (masa sulit), dimana orang-orang munafiq banyak yang mempertanyakan mengapa di masa paceklik mau-mau saja melawan tentara Romawi yang sudah terbukti kuat, Allah swt membimbing kaum muslimin dengan firman-firman-Nya: āOrang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas (nya)”, jika mereka mengetahui.ā (QS. At-Taubah [9] : 81).
Maka dari itu Allah swt menjanjikan ampunan khusus kepada kaum muslimin yang sudah teruji di masa āusrah: āSesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.ā (QS. At-Taubah [9] : 117).
Inilah sepenggal kisah masa-masa susah di zaman Nabi saw dan para shahabat yang tidak sedikit pun menciutkan semangat mereka untuk tetap berjihad, berbakti, beribadah, dan berkorban demi mengejar keridlaan Allah swt. Segala rintangan, kesulitan, dan kesusahan tidak menjadi halangan, malah justru menjadi ujian untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa. Sehingga kemudian terbukti, meski para shahabat hidup di masa susah dan sulit, mereka tetap bisa berjihad dan berkorban. Semoga umat Islam di mana pun bisa menjadi pengikut amal-amal shalih mereka. Wal-āLlahul-Mustaāan












