

Air merupakan salah satu unsur yang paling penting di dunia. Kebutuhan makhluk hidup; baik manusia ataupun hewan tidak bisa terlepas dari air yang merupakan kebutuhan pokok dan esensial bagi berlangsungnya kehidupan ini.Ketersediaan air bagi makhluk hidup sesuatu yang wajib dilakukan. Jika tidak dilakukan, maka akan menghasilkan musibah kekeringan yang membuat manusia kesusahan.
Manusia sejak turunnya Adam dan Hawa dari surga tidak bisa lepas air. Hal ini karena kandungan dalam air di dalam tubuh manusia ataupun hewan sekitar 60% – 70% dan air memiliki peran penting bagi organ tubuh kita sebagai manusia. Serta, seluruh makhluk yang ada di dunia ini ada unsur air di dalamnya. Allah Swt. berfirman
أَوَ لَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقٗا فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman. (Al-Anbiya: 30).
Air yang ada di dunia ini berawal dari hujan, dan dari hujan ini juga manusia diberikan sumber makanan yang tumbuh disebabkan air hujan itu. Allah Swt. berfirman
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَسَلَكَهُۥ يَنَٰبِيعَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ يُخۡرِجُ بِهِۦ زَرۡعٗا مُّخۡتَلِفًا أَلۡوَٰنُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَجۡعَلُهُۥ حُطَٰمًاۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكۡرَىٰ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ
Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (Az-Zumar: 21).
Dalam pemikiran Islam temporer (klasik) hanya sebatas alat untuk bersuci (thaharah) dari hadats dan najis yang menempel di tubuh. Dengan demikian, dalam kitab-kitab klasik upaya-upaya perlindungan air (konservasi dan restorasi air) belum terbahasa secara menyeluruh.
Air dari waktu ke waktu
Kelompok masyarakat sebelum masa modern terbagi kepada dua: nomaden (pola hidup berpindah-pindah) dan sedenter (menetap). Kelompok yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dipaksa oleh keadaan untuk berbuat demikikian. Kelomok nomaden ini berpindah karena musim dan juga untuk mencari sumber makanan. Sedangkan masyarakat yang sedenter ini menetap di satu tempat karena dekat dengan sumber makanan dan bahkan bisa menghasilkan makanan secara sendiri dengan bertani. Masyarakat sedenter ini memanfaatkan sungai secara maksimal sehingga mereka tidak perlu untuk berpindah-pindah untuk mencari sumber makanan. Oleh sebab itu, Masyarakat yang dapat memanfaatkan air secara maksimal akan dapat dikatakan sebagai masyarakat yang maju, begitupun sebaliknya.
Pentingnya air telah disadari oleh peradaban-perabadan masa lalu. Kehidupan manusia prasejarah, dilansir dari laman Kemendikbud yaitu dekat dengan sumber air. Pemilihan tempat tinggal dengan sumber air terdekat karena di dekat sumber air itu, selain tanahnya subur yang berakibat banyaknya sumber kehidupan: seperti tumbuhan dan hewan buruan, juga menjadi sarana transportasi, menggiling gandum dan kegiatan lainnya.
Banyak sekali dari peradaban kuno yang ditemukan di sumber-sumber air; salah satunya sungai. Kita tahu bahwa peradaban Mesir kuno bisa begitu besar disebabkan mereka dapat meanfaatkan sungai Nil sebagai sumber air sehari-hari, sarana transfortasi, dsbnya. Lalu ada perdaban sungai Indus di daerah India, perdaban Cina Kuno di dekat sungai Yantze, peradaban Mesopotemia di dekat sungai Efrat dan Tigris, dan di Indonesia pun ditemukan peradaban purba di aliran sungai Bengawan Solo. Selain itu juga, sejak zaman neolitikum (2000 tahun SM) mereka sudah menemukan sumur sebagai sumber air
Pemanfaatan air pun mengalami banyak kemajuan seiring berjalannya waktu, bukti dari berkembangnya pemanfaatan air dari waktu-waktu salah satunya adalah pemanfaatan air untuk sumber energi yang dikenal dengan nama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) segabai sumber energi terbarukan.
Namun, pada dewasa ini air menjadi sesuatu yang sangat berharga, sebab dikala musim kemarau terjadi, banyak masyarakat yang kekurangan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Kota-kota besar di dunia: Jakarta, Tokyo, Sao Paulo, Beijing, Istanbul, Barcelona, Mexico City akan mengalamai krisis air bersih yang berkepanjangan. Hal ini dikarenakan penyedotan air tanah secara berlebihan.
Air tanah memanglah sumber daya alam yang dapt diperbaharui, namun memakan waktu yang sangat panjang; puluhan bahkan sampai ribuan tahun lamanya agar kekosongan air tanah itu terisi penuh kembali (Nugroho, 2019). Dengan adanya celah di bawah tanah yang diakibatkan oleh air tanah yang berkurang menyebabkan; penurunan muka tanah yang akan menyebabkan daerah pesisir terendam air laut, tanah ambles disebabkan kekosangan ruang di bawah tanah, dsbnya.
Komersialisasi Air
Kebutuhan manusia akan air mejadi oportuniti (kesempatan) bagi sebagian orang dan menjadi suatu bencana bagi sebagian yang lain. Menjadi kesempatan bagi orang-orang yang memiliki kepentingan untuk mengekploitasi dan menguasai sumber air dan bencana bagi orang yang hidup dan bergantung kepada sumber air itu untuk hidup.
Mengkomersilkan air ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak munculnya air dalam kemasan air mulai dikomersialisasikan oleh beberapa pihak yang merugikan masyarakat sekitarnya. Hal ini dialami oleh masyarakat Sukabumi, Jawa Barat. Mata air yang terletak di kampung Kubang Jaya, Desa Babakan Pari yang berada di kaki Gunung Salak ini telah dikuasai oleh korporasi swasta yang telah memiliki nama besar di Indonesia itu sebagai produsen air dalam kemasan terbesar. Hal itu menyebabkan keringnya sumur-sumur masyarakat untuk kehidupan sehari-hari.
Selain merugikan masyarakat setempat, ini juga menyebabkan permukaan tanah yang terus menurun disebabkan pengambilan air tanah dalam jumlah banyak. Hal ini dapat dilihat dari konsumsi air di Indonesia sebanyak 23,1 miliar liter pada tahun 2014 (Kontan.co.id).
Sumber-sumber air semestinya dikuasai atau dikelola oleh masyarakat umum sebagaimana hadits Nabi saw.
اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّارِ
Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud no.3016 dan Ahmad no. 22004)
Hal tersebut juga diperparah dengan semakin berkurangnya sumber-sumber air disebabkan banyaknya pengrusakan dan pencemaran air; baik oleh sampah, limbah industri atau rumah tangga sehingga tidak bisa digunakan oleh masyarakat umum. Bukankah pencemaran ini dilarang oleh Islam sebagaimana hadits
لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ
Janganlah sekali-kali salah satu diantara kalian buang air air yang tergenang yang tidak mengalir kemudian mandi dengannya (HR. Bukhari, no. 232)
Bijak Menggunakan Air
Komersialisasi air yang dibahas di atas memanglah tidak bisa dibendung, sebab mayoritas masyarakat di perkotaan telah beralih ke minuman dalam kemasan galon, botol atau pun gelas. Terlebih masyarakat pedesaan pun sudah mulai mengkonsumsi air minum dalam kemasan yang menyebabkan produksi dari minuman dalam kemasan ini semakin meningkat dan pengambilan air secara besar-besaran akan terus terjadi.
Sikap tidak peduli kepada air ini sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat, seperti banyaknya sekali yang tidak menghemat air dalam kegiatan sehari-hari. Salah satunya dalam berwudhu, banyak di antara masyarakat kita yang masih sangat boros ketika berwudhu. Majelis taklim pun demikian, masih saja ada air dalam kemasan gelas yang masih tidak dihabiskan dan terbuang begitu saja.
Dekatnya kita dengan sumber air dan memiliki kemampuan untuk membeli air minum dalam kemasan ini seharusnya tidak menjadikan kita tidak bijak dalam menggunakan atau pun mengonsumsi air. Sebab, masih banyak sekali manusia di belahan bumi yang lain yang masih sulit mengakses air bersih untuk keseharian mereka yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan memasak dan minum pun mereka harus berjalan bermil-mil untuk mendapatkan air. Jauh dari kata sumber air sudekat. []
Iqbal Maulana Akhsan, Mahasiswa Pascasarjana UIN Bandung













