

إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ
Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah (QS. Luqman [31] : 33 dan Fathir [35] : 5).
Dua ayat di atas yang redaksinya tidak berbeda sama-sama menegaskan keterkaitan antara tipuan setan dengan dunia. Sebuah isyarat yang jelas bahwa setan akan menipu dengan dunia dan orang-orang yang terjebak pada dunia adalah orang-orang yang tertipu setan. Maka dari itu berhati-hatilah dengan dunia.
Firman Allah swt yang lain jelas menggambarkan keterkaitan setan dengan dunia tersebut:
“Dan perdayakanlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki, dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak, dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS. Al-Isra` [17] : 64).
Mereka yang tertipu setan dengan dunia itu adalah para pencari harta yang sampai menomorduakan ibadah; para pemuas syahwat hiburan yang melalaikan dzikir; orang-orang yang menghabiskan tenaganya untuk aktivitas duniawi dan tidak ada waktu yang cukup untuk shalat malam, shalat wajib berjama’ah di masjid, atau mengikuti majelis-majelis dzikir dan ilmu. Harta yang dikeluarkannya untuk belanja selalu tidak menyisakan anggaran zakat dan shadaqah. Nafsu makannya yang tinggi tidak menyisakan kesanggupan untuk shaum sunat. Kesibukan bisnis dan bekerjanya membuatnya tidak sempat untuk cuti beribadah haji dan umrah.
Tipuan dunia yang paling menipu dari setan pada zaman kontemporer adalah sekularisme. Asal kata sekularisme adalah saeculum yang berarti “di sini” atau “kini”. Ini adalah paham duniawi yang sudah merasuk hampir semua manusia di dunia. Untuk urusan “kedisinian” dan “kekinian” hampir semua warga dunia memilih untuk tidak merujuk agama karena agama tidak rasional dan tidak ilmiah. Agama tempatnya hanya di wilayah keyakinan dan peribadatan yang privat saja.
Maka jangan heran kalau ternyata para politisi partai-partai yang tidak berasas Islam itu masih suka shalat, zakat, shaum, dan haji-umrah. Itu karena mereka sudah tertipu setan; mengamalkan agama hanya di ranah privat keyakinan dan peribadatan, tetapi di ranah politik hanya pakai yang rasional saja tidak perlu pakai agama. Inilah sekularisme sebagai tipuan nyata dari setan.
Demikian halnya para pendidik yang sebatas mengajarkan ilmu duniawi dan tidak bisa mengaitkannya dengan wahyu, bahkan seringkali meminggirkan wahyu untuk masuk ranah ilmu karena ilmu dianggap tidak ilmiah jika sudah dimasuki agama. Padahal sebagian besar mereka berjilbab, rajin shalat, selalu bershadaqah, dan tidak pernah absen dari shaum Ramadlan. Mereka-mereka ini juga adalah orang-orang yang tertipu setan dengan sekularisme. Maka sungguh benar firman-Nya: “Jangan tertipu dunia dan setan penipu.”













