

Wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), memberikan efek bagi dunia pendidikan. Untuk mencegah penyebaran virus ini, pemerintah memberikan keputusan agar semua kegiatan belajar mengajar (KBM) sekolah dihentikan, dan menjadi kegiatan belajar di rumah. 14 hari anak-anak belajar di rumah, dimana orang tua dituntut secara tidak langsung menjadi guru bagi anak-anaknya. Para orang tua banyak yang mengeluhkan emosi mereka meledak-ledak, tak sabar menghadapi anak-anak dengan tugas-tugas sekolah dibarengi tingkah anak-anak yang kadang menguras tenaga dan kesabaran. Tak sedikit pula, para orang tua yang lepas kontrol, bentakan, pelototan menjadi makanan sehari-hari bagi anak-anak terutama di 14 hari ini.
Namun, dibalik semua itu sebenarnya tugas mendidik anak yang utama bukan dibebankan pada guru di sekolah, tapi merupakan tanggung jawab orang tuanya. Guru hanya membantu dalam proses pembelajaran sang anak, namun peran pendidikan yang utama terletak di pundak orang tua sang anak.
Islam begitu menjunjung tinggi adab dalam dunia pendidikan. Rasulullah sendiri mencontohkan akhlak yang begitu sempurna, kelembutan, contoh yang baik, dan jauh dari kekerasan seperti bentakan, dll.
Pada suatu hari ada seorang perempuan bernama Sa’idah binti Jazi menemui Rasulullah sambil membawa anaknya yang baru berumur satu setengah tahun. Rasululah kemudian menggendong anak tersebut. Tiba-tiba, si anak kencing (mengompol) di pangkuan Rasulullah. Spontan sang ibu menarik anaknya dengan kasar. Seketika itu juga Rasulullah menasehati sang ibu, “Dengan satu gayung air bajuku yang terkena najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi luka hati anakmu karena renggutanmu dari pangkuanku tidak bisa diobati dengan bergayung-gayung air” ujar Rasulullah. Kisah tersebut memberikan ibrah berharga bagi kita para orang tua dan pendidik, bahwa Rasulullah melarang melakukan pendekatan dengan kekerasan dalam mendidik anak kita.
Salah satu bentuk kekerasan yang kadang terasa biasa dan sering dilakukan seorang ibu bahkan tak sedikit dari para pendidik adalah dengan melakukan bentakan terhadap anak. Apalagi bila usia anak dibawah 7 tahun, sungguh sangat menguras emosi seorang ibu. Tak sedikit para ibu memberikan bentakan terhadap perilaku anaknya yang membuat jengkel contohnya membuat rumah berantakan, susah makan, susah mandi, susah diatur dll. Padahal, bentakan pada anak terutama usia dibawah 7 tahun akan membuat pribadi anak menjadi buruk dan memiliki emosional yang sangat buruk. Banyak para ibu secara tak sadar menerapkan bentakan pada anak sebagai solusi agar anaknya menurut, tidak bandel. Padahal itu semua bukan solusi. Ada cara yang sangat baik bagi anak usia di bawah 7 tahun agar mereka bisa disiplin, taat, dan berperilaku baik. Kita bisa menerapkan hypnoparenting (menyampaikan hal-hal baik sebelum anak-anak tidur), dengan memberinya nasehat, dukungan, serta pengertian supaya mereka berakhlak baik. Cara yang tak kalah pentingnya adalah dengan memberikan contoh yang baik, karena pada usia ini adalah masa anak-anak kita meniru. Jika bentakan menjadi cara didik kita terhadap anak, maka anak pun akan meniru perilaku kita. Oleh karenanya, contoh yang baik dari orang tua merupakan landasan bagi anak untuk mempunyai akhlak yang baik.
Pada usia 7-14 tahun, barulah kedisiplinan anak terbentuk. Di usia ini kita bisa menerapkan ketegasan dalam pola didik kita terhadap anak tanpa disertai bentakan. Karena bentakan pada usia anak 7-14 tahun ini berakibat sangat fatal, dapat mempengaruhi psikis sang anak. Bahkan efek lebih jauhnya akan membuat anak depresi, menghambat tumbuh kembang sang anak, menurunkan kepercayaan diri, dan kurang inisiatif karena takut salah.
Ketika anak melakukan kesalahan di usia ini, terutama kesalahan dalam urusan agama contoh malas shalat, atau tidak mau mengaji. Di sini kita boleh memarahi anak, tapi tidak dengan kekerasan ataupun bentakan, kita bisa mengingatkan mereka dengan cara yang baik dan tak lupa memberikan contoh yang baik. Ajak mereka berkomunikasi tentang sebab yang akan mereka dapatkan bila melanggar aturan Allah contohnya apa yang akan mereka dapatkan bila meninggalkan shalat.
Bila anak-anak membuat emosi kita tak terbendung, kita bisa meminta pasangan kita untuk membantu mengatasi perilaku anak-anak kita. Karena terkadang ada saatnya seorang ibu membutuhkan bantuan suami untuk menangani anak-anak kita. Kita boleh mengatakan bahwa kita sedang marah kepada anak, walaupun terkadang sang anak menjawab ibu tidak akan bisa marah. Namun, setidaknya ini membuat mereka berpikir bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, sehingga seiring waktu anak akan mendatangi kita dan meminta maaf kepada kita.
Dan ketika emosi kita akan meledak, segeralah untuk berisftighfar kepada Allah serta bayangkan efek yang akan terjadi bila kita membentak dan memarahi anak kita dengan kekerasan. Pasti rasa bersalah akan menghampiri kita karena kita telah menyakiti perasaan anak-anak kita. Kesabaran dan kelembutanlah kunci utama keberhasilan seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya. Berikan selalu pelukan untuk anak-anak kita, disertai doa-doa terbaik untuk mereka. Karena semua itu akan mempengaruhi kestabilan emosi anak-anak kita dan menjadikan mereka pribadi yang baik.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ :أَنَّ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ الْحَسَنَ فَقَالَ إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ. (رواه مسلم
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata : bahwa Aqra’ bin Habis pernah melihat Nabi saw sedang mencium Hasan. Dia (Aqra’ bin Habis) lalu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak namun aku tidak pernah mencium satupun dari mereka. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi”. (HR. Muslim)
Wal-Llaahu ‘alam bish-shawaab












