

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) menetapkan status darurat wabah virus corona di Cina. Virus yang kemudian diberi nama Covid-19 ini, menyebar hampir ke 27 negara yang kemudian menjadi alasan dibalik WHO menetapkan status darurat terhadap virus tersebut. Australia, Belgia, Kamboja, Kanada, Firlandia, Amerika, India, Singapura, dan Malaisya adalah negara-negara yang masuk ke dalam daftar 27 negara tersebut. Alhamdulillah Indonesia belum terkena virus ini, semoga saja tidak.
Sejumlah WNI (Warga Negara Indonesia) dan termasuk mahasiswa yang sedang studi di Wuhan, terpaksa dievakuasi pemerintah agar terhindar dari penyebaran virus Covid-19. Mereka dikarantina selama dua pekan di Pulau Natuna, Kepulauan Riau. Sekretaris Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan (Ditjen P2P Kemenkes) Achmad Yurianto mengatakan bahwa tidak ada gejala yang mengindikasikan mereka terkena virus.
“Ya sampai hari ini baik, tidak ada masalah. Rutin, pagi olah raga, setelah itu makan, pemeriksaan kesehatan, cuma kayaknya olah raganya agak panjang karena sedang semi final futsal di antara mereka, iya mau mereka sendiri, mereka bikin lomba pertandingan futsal, kita kasih alat saja dan sebagainya,” jelas Achmad saat dihubungi reporter Republika.co.id, Ahad (9/1).
Dilansir dalam tirto.id, sampai hari Rabu (12/2/2020) hingga pukul 14.00 WIB, terdapat 44.911 kasus yang terjangkit virus corona, 1.115 orang di antaranya meninggal dunia, dan 4.699 lainnya dinyatakan pulih. Angka tersebut berdasarkan data yang dihimpun oleh JHU CCSE (Johns Hopkins University Center for Systems Science and Engineering).
Kemunculan virus corona disinyalir berasal dari salah satu pasar di Wuhan, yaitu Huanan. Pasar ini resmi ditutup dan diisolasi pada 1 Januari 2020. Pasar yang bernama lengkap Huanan Seafood Wholesale Market adalah pasar basah pemotongan berbagai jenis hewan, seperti ayam, domba, babi, rubah, musang, tikus, landak, kelinci, kelalawar, koala, ular, dan salamander. Pasar sejenis ini, sebagaimana dilansir dalam tempo.co, merupakan pemandangan umum di Cina. Direktur Eksekutif Kesehatan Wildlife Consevation Society, Christian Walzer dalam pernyataan resminya mangatakan bahwa pasar tersebut membuat kontak antara manusia, hewan yang masih hidup, dan binatang yang sudah dipotong menjadi sangat dekat. “Ini pasar hewan yang diatur dengan buruk, ditambah perdagangan satwa liar ilegal jadi peluang bagi virus untuk menyebar dari hewan liar ke manusia,” kata Christian Walzer. Dia menambahkan bahwa sudah saatnya menutup pasar hewan hidup yang menperjualbelikan satwa liar. “Ini upaya untuk memerangi perdagangan hewan liar dan mengubah perilaku konsumsi satwa liar yang berbahaya,” ujar dia.
Gao Fu, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina, menegaskan bahwa satwa liar yang dijual secara ilegal diduga kuat sebagai pemicu munculnya virus corona. Perdangan hewan liar tersebut disebabkan oleh tingginya permintaan makanan dan bahan-bahan obat tradisional. Sebagaimana dilansir dalam cnnindonesia.com, bahwa binatang seperti kelelawar, ular, rubah, serigala, hingga musang mudah didapatkan di pasar Huanan. Mengonsumsi hewan liar ini sudah menjadi budaya Cina sejak lama. Hu Xingdou, ahli ekonomi dan politik Cina, menyatakan bahwa kecintaan masyarakat Cina terhadap satwa liar sudah mengakar secara budaya, ekonomi, dan politik.
Dikutip dalam news.detik.com dan kumparan.com, virus corona untuk kali pertama muncul dan diidentifikasi pada tahun 1960. Nama corona diambil dari bahasa latin yang berarti crown atau mahkota. Karena memang jika dilihat menggunakan mikroskop, bentuk virus ini terlihat seperti mahkota. Virus corona memiliki bentuk bulat dengan diameter sekitar 100 – 120 nanometer (nm). Oleh sebab itu, pencegahan infeksi virus corona akan sangat efektif dengan menggunakan masker yang berpori lebih kecil dari 100 nm. Pada dasarnya, novel corona virus atau Covid-19 masih satu keluarga dengan virus corona penyebab MERS dan SARS. MERS (Middle East Respiratory Syndrome) adalah jenis virus corona yang muncul pada tahun 2012 di Arab Saudi yang menyebabkan 585 orang meninggal dunia. Sedangkan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada tahun 2003 mengakibatkan 774 orang meninggal dunia.
Mr. Zhou Ji sebagai menteri pendidikan Cina pada periode 2003 – 2009 dalam bukunya yang berjudul Higher Education in China pernah menyatakan bahwa Cina sebagai Negara terbesar di dunia dan salah satu negara terkemuka dalam bidang ekonomi dan politik global, berkeingingan menjadikan masyarakatnya sejahtera di semua bidang pada tahun 2020. Bahkan, sebagaimana dikutip Wan Mohd Nor Wan Daud, Hillary Clinton, mantan Menteri Luar Negeri AS dalam kunjungan kenegaraannya di Lusaka Zambia, Afrika, memperingatkan terhadap “penjajahan baru” seiring meningkatnya pengaruh Cina di dunia, terutama di Afrika. (Islamisasi Ilmu-Ilmu Kontemporer, 2013: 25-26)
Alih-alih mewujudkan keinginannya, Cina malah digandrungi persoalan-persoalan negara, mulai dari persoalan kemanusiaan sampai persoalan kesehatan. Tahun 2019, negara Cina dihangatkan oleh pemberitaan media internasional tetang isu kemanusiaan yang terjadi di Uighur. Dilansir dalam attaubah-institute.com, disebutkan bahwa sejumlah dokumen resmi terkait penanganan pemerintah Cina terhadap Muslim Uighur bocor ke Konsorsium Jurnalis Investigatif Internasional (ICIJ) yang bekerja sama dengan 17 media Internasional. Dokumen tersebut merinci upaya pencucian otak terhadap ratusan ribu Muslim secara sistematis dalam kamp-kamp penjara dengan penjagaan yang sangat ketat. Di awal tahun 2020, Cina dihangatkan lagi dengan persoalan politik diplomatik tentang klaim sepihak Cina atas perairan Pulau Natuna, di Kepulauan Riau, Indonesia. Setelah itu, disusul dengan persoalan virus corona yang menjadi sorotan media internasional dan seluruh negara dalam mengantisipasi penyebarannya ke negara lain.
Sudut Pandang Syariat
Dugaan munculnya virus corona diakibatkan tradisi masyarat Cina mengonsumsi satwa liar, tidak boleh hanya dipandang dalam kaca mata kesehatan saja. Tetapi juga harus dipandang dari kaca mata syariat. Bahwa tradisi yang berkembang di Cina selain diduga menjadi penyebab kemunculan virus juga bertolak belakang dengan syariat yang melarang memakan hewan liar.
عَنْ أَبِى ثَعْلَبَةَ قَالَ نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السَّبُعِ.
Dari Abu Tsa’labah ia berkata, “Nabi –shallaLlahu ‘alaihi wa sallam- melarang memakan hewan bertaring yang buas.” (H.R. Muslim bab Tahrim Akli Kulli Dzi Nabin minas Siba’ no. 5098)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِى مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ.
Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah –shallaLlahu ‘alaihi wa sallam- melarang memakan hewan bertaring yang buas dan melarang memakan burung yang bercakar tajam.” (H.R. Muslim bab Tahrim Akli Kulli Dzi Nabin minas Siba’ no. 5103)
Kedua dalil ini secara tegas menunjukan akan keharaman hewan satwa liar yang buas. Al-Ithyubi menjelaskan sebagai berikut:
و احتجّ الأولون بأحاديث أبي ثعلبة، و أبي هريرة، و ابن عبّاس – رضي الله عنهم – المذكورة في الباب. قال الحافظ ابن عبد البرّ رحمه الله: هذا حديث ثابت، صحيح، مجمع على صحته، و هذا نصّ صريح يخصّ عموم الآيات، فيدخل في هذا: الأسد، و النمر، و الفهد، و الذئب، و الكلب، و الخنزير، و قد روي عن الشعبي أنه سئل عن رجل يتداوى بلحم الكلب؟ فقال: لا شفاه الله. و هذا يدل على انّه رأى تحريمه. انتهى
Para ulama terdahulu berargumen dengan hadits riwayat Abu Tsa’labah, Abu Hurairah, dan hadits Ibnu Abbas –radhiyaLlahu ‘anhum- yang tercantum dalam bab ini. Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr –rahimahuLlahu- berkata, “Ini hadits yang tegas, shahih, dan disepakati keshahihannya. Ini pun nash yang jelas yang menkhususkan [keharaman] dari keumuman ayat, masuk di dalamnya; singa, macan, macan tutul, srigala, anjing, dan babi. Diriwayatkan dari asy-Sya’bi bahwa ia ditanya tentang seorang yang berobat dengan daging anjing? Ia menjawab, “Semoga Allah tidak menyembuhkannya.” Ini menunjukan bahwa ia berpendapat anjing itu haram.” (Bahrul Muhit, 2013: 118)
Karena kalau dipandang secara kesehatan semata, kita menemukan tradisi Minahasa, Sulawesi Utara, jauh sebelum virus corona ini muncul, memakan hewan liar itu sudah jadi tradisi warga Minahasa. Sebagaimana dilansir dalam nationalgeographic.grid.id pada Desember 2013 lalu, warga minahasa sudah terbiasa mengonsumsi tikus hutan, anjing, kelelawar, dan binatang liar lainnya. Namun, apakah virus Covid-19 itu muncul di Minahasa, Sulewasi Utara?
Meski masyoritas di Minahasa beragama kristen, tidak terjadi di sana kedzaliman terhadap agama minoritas, dalam hal ini Islam. Sedangkan di Cina, mereka telah memperlakukan agama minoritas, dalam hal ini muslim Uighur, diperlakukan sewenang-wenang dengan mengisolasi meraka di kamp-kamp pencucian otak. Dilansir dalam tirto.id, bahwa seorang perempuan Muslim Uighur mengungkapkan penyiksaan dan pelecehan yang ia alami di salah satu kamp tahanan milik pemerintah Cina di Xinjiang, Cina Barat. Kamp tahanan itu berisi ratusan ribu orang dari kelompok Islam minoritas Cina yang ditahan oleh pemerintah.
Namanya Mihrigul Tursun (29), identitas perempuan itu, dicukur rambutnya dan diinterogasi selama empat hari berturut-turut tanpa tidur. Pengalaman pahit tersebut terjadi kala ia ditangkap di Cina pada 2017 lalu.
“Aku lebih baik mati daripada menjalani penyiksaan ini dan memohon-mohon kepada mereka untuk membunuh saya,” kata Tursun dalam kutipan tirto.id.
Inilah yang membedakan antara Minahasa dan Cina. Artinya, persoalan kemanusiaan (Human Right) di Cina yang mepersekusi dan mengisolasi muslim Uighur adalah bentuk pelanggaran yang lebih dahsyat dibanding sekedar mengonsumsi hewan liar. Maka pantas dan sangat wajar jika corona hadir sebagai bentuk “azab” terhadap tindakan persekusi dan isolasi mereka kepada muslim Uighur. Dan sekarang, mereka dipersekusi dan diisolasi oleh virus corona sebagai balasan dari Allah azza wa jalla.
Kaum nabi Nuh, kaum nabi Luth, kaum ‘adh, dan kaum tsamud mereka mendapatkan azab dari Allah azza wa jalla bukan hanya karena kekafiran mereka saja, namun juga penentangan dan tindakan dzalim mereka kepada para nabi yang membawa risalah kebenaran menyebabkan azab Allah turun. WaLlahu A’lam













