Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

5 months ago
875

Telah menjadi naluri seorang ibu menyusui anaknya yang masih bayi. Akan tetapi bagaimana jadinya jika yang disusuinya itu adalah anak angkat yang sudah dewasa?. Hadits riwayat Muslim yang menjelaskan bahwa Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Sahlah menyusui anak angkatnya yang sudah dewasa, Salim, agar statusnya menjadi mahram menemukan legalitasnya. Sedangkan di sisi lain Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa status mahram hanya berlaku bagi anak angkat yang disusui pada usia dua tahun ke bawah atau pada masa-masa pertumbuhan anak. Lalu bagaimanakan mendudukan kedua hadits tersebut agar tidak menjadi kontroversi? Berikut analisa kedua hadits tersebut.

Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

Jamise Syar'i

Asbabul wurud tentang perintah Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam terhadap Sahlah binti Suhail istrinya Khudzaifah ketika Sahlah mengadukan perihal suaminya yang merasa tidak senang kepada Salim yang keluar masuk rumah begitu saja. Salim yang merupakan anak angkatnya, merasa bahwa dirinya telah menjadi bagian dari keluarga Khudzaifah dan Sahlah. Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan Sahlah untuk menyusuinya agar status Salim menjadi mahram.

Berkenaan dengan hadits di atas terdapat beberapa redaksi. Pertama, redaksi yang hanya menyebutkan perintah Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam untuk menyusuinya. Kedua, redaksi yang menyebutkan perintah Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam untuk menyusuinya dengan tambahan agar statusnya menjadi mahram. Ketiga, redaksi yang menyebutkan perintah Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam untuk menyusuinya dengan lima kali penyusuan.

Perintah Menyusui

Hadits dengan redaksi perintah menyusui anak angkat yang sudah dewasa diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 24108 dan 27005; Sunan Ibnu Majah no. 1943; Shahih Muslim no. 3673; Mu’jam al-Kabir ath-Thabrani no. 742; Mu’jam al-Ausath no. 6569; al-Ahad wal-Matsani li Ibni Abi ‘Ashim no. 3372; dan Sunan an-Nasa’i no. 555.

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ وَابْنُ أَبِى عُمَرَ قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أَرَى فِى وَجْهِ أَبِى حُذَيْفَةَ مِنْ دُخُولِ سَالِمٍ – وَهُوَ حَلِيفُهُ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَرْضِعِيهِ ». قَالَتْ وَكَيْفَ أُرْضِعُهُ وَهُوَ رَجُلٌ كَبِيرٌ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَالَ « قَدْ عَلِمْتُ أَنَّهُ رَجُلٌ كَبِيرٌ ». زَادَ عَمْرٌو فِى حَدِيثِهِ وَكَانَ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا. وَفِى رِوَايَةِ ابْنِ أَبِى عُمَرَ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Naqid dan Ibnu Abi ‘Umar keduanya berkata, “Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ‘Abdurrahman bin al-Qasim dari ayahnya dari ‘Aisyah ia berkata, “Sahlah binti Suhail pernah mendatangi Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah! Aku melihat kecemburuan pada wajah Abu Khuzaifat ketika (keluar) masuknya Salim (ke rumah) padahal ia adalah pelayannya.” Nabi Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Susuilah dia”. Sahlah berkata, “Bagaimana aku menyusuinya sedangkan ia adalah orang dewasa”. Rasulullah Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam pun tersenyum dan bersabda, “Aku tahu bahwa dia adalah orang dewasa”. Amr menambahkan dalam haditsnya, “Sedangkan dia (Salim) pernah mengikuti perang Badar”. Di dalam riwayat Ibnu Abi ‘Umar terdapat tambahan, “Lalu Rasulullah Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa”. (Shahih Muslim bab Radha’ah al-Kabir no. 3673)

Seluruh rawi pada sanad ini semuanya tsiqah (kuat-terpercaya), terkecuali pada rawi yang bernama al-Qasim bin Muhammad; salah seorang ahli fiqih di Madinah; dan salah seorang tabi’in thabaqah kedua. Aa dinilai mursal oleh sebagian ahli hadits. Di antaranya adalah al-Mizzi, Ibnu Hibban, dan ad-Daruquthni. Ketiganya menilai al-Qasim sebagai rawi yang suka memursalkan hadits. Hal ini dapat dibuktikan melalui periwayatannya dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berikut ini:

 

-27005حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ سَهْلَةَ، امْرَأَةِ أَبِي حُذَيْفَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ سَالِمًا مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ يَدْخُلُ عَلَيَّ، وَهُوَ ذُو لِحْيَةٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَرْضِعِيهِ» . فَقَالَتْ: كَيْفَ أُرْضِعُهُ وَهُوَ ذُو لِحْيَةٍ؟ فَأَرْضَعَتْهُ، فَكَانَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا

Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Salamah dari Abdurrahman bin al-Qashim dari al-Qasim bin Muhammad dari Sahlal istrinya Abu Hudzaifah bahwasannya ia berkata, “Aku pernah berkata, “Wahai Rasulullah! Sungguh Salim mantan hamba sahaya Abu Hudzaifah masuk ke rumahku, sedangkan dia sudah berjenggot”. Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Susuilah dia”. Sahlah berkata, “Bagaimana aku menyusuinya sedangka dia telah berjenggot”. Maka akhirnya Sahlah menyusuinya. Ia (Salim) pun akhirnya masuk ke rumahnya”. (Musnad Ahmad no. 27005)

Namun kemursalan hadits di atas dapat dibantah dengan adanya jalur periwayatan lain dimana al-Qasim menerimanya dari Aisyah. Dalam hal ini al-Qasim juga tidak sendirian; ada Zainabbinti Abi Salamah sebagai muttabinya sebagai bukti bahwa al-Qasim sedang tidak memursalkan hadits di atas.  Terlebih ada penjelasan (mufassar) dari Imam Abu Hatim yang kemudian ditulis oleh anaknya. Di sana dijelaskan bahwa al-Qasim adalah di antara thabi’in yang lebih tahu terhadap haditsnya Aisyah.

حدثني أبي ، نا هارون بن سعيد الأيلي قال : أخبرني خالد بن نزار عن سفيان – يعني : ابن عيينة قال : كان أعلم الناس بحديث عائشة ثلاثة : القاسم بن محمد ، وعروة بن الزبير ، وعمرة بنت عبد الرحمن

Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, “Telah menerangkan kepadaku ayahku (Ibnu Abi Hatim), telah mengabarkan kepadaku Harun bin Sa’id al-Aili ia berkata, “Telah mengabarkan kepadaku Khalid bin Nazzar dari Sufyan – Yakni Ibn Úyainah – ia berkata, “Yang paling tahu terhadap Haditsnya Áisyah ada tiga orang; al-Qasim bin Muhammad, Úrwah bin Zubair dan Amarah binti Abdurrahman. (Al-Jarh wat-Ta’dil)

Menjadi Mahram Setelah Disusui

Hadits dengan redaksi susuilah maka akan menjadi mahram di antaranya diriwayatkan dalam Shahih Muslim no. 3674-3675; Musnad Ishaq bin Rahaih no. 704; Musnah Ahmad no. 25649; Sunan an-Nasa’i no. 3322; dan Shahih Ibnu Hiban no. 4214.

وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ – وَاللَّفْظُ لاِبْنِ رَافِعٍ – قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِى مُلَيْكَةَ أَنَّ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِى بَكْرٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ سَهْلَةَ بِنْتَ سُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو جَاءَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ سَالِمًا – لِسَالِمٍ مَوْلَى أَبِى حُذَيْفَةَ – مَعَنَا فِى بَيْتِنَا وَقَدْ بَلَغَ مَا يَبْلُغُ الرِّجَالُ وَعَلِمَ مَا يَعْلَمُ الرِّجَالُ. قَالَ « أَرْضِعِيهِ تَحْرُمِى عَلَيْهِ »

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Rafi’ –sedangkan lafadznya milik Ibnu Rafi’- ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Mulaikah bahwa al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar telah mengabarkan bahwa Aisyah mengabarkan, “Sungguh Sahlah binti Suhail bin ‘Amr pernah mendatangi Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Salim –Salim mantan hamba sahaya Huzaifah- dari dulu hidup bersama di rumah kami dan setelah ia balig sebagaimana balignya orang dewasa dan setelah ia tahu seperti tahunya orang dewasa”. Nabi bersabda, “Susuilah dia, maka kamu akan menjadi mahramnya”. (Shahih Muslim bab Radha’ah al-Kabir no. 3675)

Lima Kali Penyusuan

Sedangkan hadits dengan redaksi lima kali penyusuan terdapat dalam Musnad Ahmad no. 25650 dan 26179; Musnad ath-Thabrani no. 3079; Musnad Ishaq no. 706; al-Muntaqa Ibnul Jarud no. 690; Mu’jam al-Kabir no. 741; Musnad Ishaq bin Rahawaih no. 705; Mustadrak al-Hakim no. 2692; dan Sunan an-Nasa’i no. 5426.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ شِهَابٍ، أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ أَبَا حُذَيْفَةَ، تَبَنَّى سَالِمًا – وَهُوَ مَوْلًى لِامْرَأَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ – كَمَا تَبَنَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْدًا، وَكَانَ مَنْ تَبَنَّى رَجُلًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ دَعَاهُ النَّاسُ ابْنَهُ، وَوَرِثَ مِنْ مِيرَاثِهِ، حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ، هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ، فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ} [الأحزاب: 5] ، فَرُدُّوا إِلَى آبَائِهِمْ، فَمَنْ لَمْ يُعْلَمْ لَهُ أَبٌ، فَمَوْلًى وَأَخٌ فِي الدِّينِ، فَجَاءَتْ سَهْلَةُ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كُنَّا نَرَى سَالِمًا وَلَدًا يَأْوِي مَعِي، وَمَعَ أَبِي حُذَيْفَةَ وَيَرَانِي فُضُلًا وَقَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِمْ مَا قَدْ عَلِمْتَ، فَقَالَ: «أَرْضِعِيهِ خَمْسَ رَضَعَاتٍ، فَكَانَ بِمَنْزِلَةِ [ص:436] وَلَدِهِ مِنَ الرَّضَاعَةِ»

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab ia berkata, “Telah mengabariku ‘Urwah bin az-Zubair dari Aisyah bahwasannya Abu Hudzaifah telah mengadopsi Salim sebagai anak –sedangkan dia adalah mantan hamba sahaya seorang perempuan suku Anshar- sebagaimana Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam mengadopsi Zaid sebagai anak. Adalah seseorang yang mengadopsi anak pada masa Jahiliyyah, anak adopsi itu disebut oleh orang-orang sebagai anaknya dan dia termasuk ahli waris. Sampai kemudian Allah azza wa jalla menurunkan ayat, “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu..”. Orang-orang pun menisbahkan kembali (nama-nama anak adopsi) kepada bapak-bapak mereka. Jika tidak diketahui bapaknya, maka mereka dipanggil maula dan saudara seagama. Maka Sahlah pun datang untuk bertanya, “Wahai Rasulullah! Kita memandang Salim sebagai anak yang tinggal bersamaku dan bersama Abu Huzaifah dan dia (Salim) memandangku lebih (dari sekedar ibu angkat, pent) padahal Allah telah menurunkan tentang status mereka (anak adopsi) sebagaimana yang kamu tahu”. Maka Nabi pun bersabda, “Susuilah dia lima kali, niscaya statusnya akan menjadi anak sepersusuan”. (Musnad Ahmad no. 25650)

Ketiga redaksi hadits di atas; mulai dari redaksi hadits yang berisi perintah untuk menyusui Salim, menjadikannya mahram dengan disusui, sampai redaksi perintah menyusuinya lima kali, menunjukan bahwa menyusui anak angkat yang sudah dewasa dan menjadikannya mahram mendapatkan locus dan legalitasnya.

Namun apakah hadits-hadits di atas mutlak diberlakukan untuk siapa saja; selama disusui walaupun sudah dewasa maka statusnya akan menjadi mahram? Lalu bagaimana dengan suami yang menelan air susu intrinya? Apakah lantas kemudian status pernikahanya menjadi fasakh?

Pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi sangat kontroversi setelah didapati ayat dan hadits yang menunjukan bahwa yang menyebabkan kemahraman seseorang adalah ketika disusui pada usia dua tahun ke bahwa.  

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (233)

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman [31]: 14)

عَنْ اُمِّ سَلَمَةَ رض قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعِ اِلاَّ مَا فَتَقَ اْلاَمْعَاءَ فِى الثَّدْيِ، وَ كَانَ قَبْلَ اْلفِطَامِ. الترمذى و صححه

Dari Ummu Salamah radhiya-‘Llahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda, “Tidak dapat menjadikan mahram melainkan susuan yang memberi bekas pada perut dengan susuan itu, dan hal itu terjadi pada waktu anak tersebut belum disapih”. (HR. Tirmidzi dan ia mengesahkannya).

عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِيْنَارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ رَضَاعَ اِلاَّ مَا كَانَ فِى اْلحَوْلَيْنِ. الدارقطنى                                                                                                                               

Dari Ibnu ‘Uyainah dari ‘Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi saw bersabda, “Tidak ada susuan melainkan yang berlangsung dalam (usia) dua tahun”. (HR. Daruquthni).

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ رَضَاعَ اِلاَّ مَا اَنْشَزَ اْلعَظْمَ وَ اَنْبَتَ اللَّحْمَ. ابو دتود

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada penyusuan melainkan apa yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging”. [HR. Abu Dawud]

 

عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لاَ رَضَاعَ بَعْدَ فِصَالٍ وَ لاَ يُتْمَ بَعْدَ احْتِلاَمٍ. ابو داود و الطياليسى فى مسنده

 

Dari Jabir dari Nabi saw, ia berkata, “Tidak ada susuan sesudah disapih dan tidak ada yatim sesudah baligh”. [HR. Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam musnadnya].

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ عِنْدِى رَجُلٌ فَقَالَ: مَنْ هذَا؟ قُلْتُ: اَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ. قَالَ: يَا عَائِشَةُ اُنْظُرْنَ مِنْ اِخْوَانِكُنَّ، فَاِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ اْلمَجَاعَةِ. الجماعة الا الترمذى

Dari Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah saw pernah masuk rumahku, sedang di sisiku ada seorang laki-laki, kemudian beliau bertanya, “Siapa dia ini ?”. Aku menjawab, “Saudaraku sepesusuan”. Beliau bersabda, “Hai Aisyah, perhatikanlah saudara-saudaramu, karena sebenarnya radla’ah (susuan yang dianggap) itu ialah (susuan yang dapat menutup) rasa lapar”. [HR. Jamaah kecuali Tirmidzi]

Kontroversi antara hadits-hadits yang menerangkan kebolehan menyusui anak angkat yang sudah dewasa dengan hadits-hadits yang menerangkan batasan menyusui hanya bagi bayi di bawah umur dua tahun menjadi sulit terpecahkan. Oleh karena itu, diperlukan analisis hadits dari sudut matannya, hingga kemudian dapat dipahami maksud dari hadits-hadits yang dipandang kontroversi itu.

Dari sudut pandang matannya; pertama, perintah Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan Sahlah untuk menyusui anak angkatnya yang sudah dewasa (Salim) berangkat dari adanya rasa cemburu suaminya yang melihat Salim, anak angkatnya yang sudah dewasa, keluar masuk rumah begitu saja. Kedua, Sahlah pun pada dasarnya menolak untuk menyusuinya mengingat Salim yang sudah dewasa. Ketiga, motif Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Sahlah menyusuinya adalah untuk menjadikannya mahram; anak sepersusuan. Keempat, pemberian susu kepada Salim tidak secara langsung akan tetapi melalui bejana atau wadah. Hal itu berdasarkan beberapa asalan. Pertama, haramnya seseorang yang bukan mahram melihat aurat orang lain. Kedua, haramnya bersentuhan kulit dengan yang bukan mahram. Bagaimana mungkin Nabi saw memahramkan seseorang dengan cara yang syariat sendiri mengharamkannya.

Seorang ulama ilmu Nahwu, Ibnu Qutaibah ad-Dinuri pernah mengomentari hadist tersebut. Ia mengatakan: “Nabi hendak memahramkan Salim dan Sahlah. Beliau juga ingin mempersatukan mereka dalam satu rumah tanpa ada rasa canggung di antara mereka. D an beliau juga mau menghilangkan rasa cemburu pada diri Abu Hudzaifah sekaligus merasa senang dengan keberadaan Salim dirumahnya. Nabi berkata: ”Susuilah ia”, namun Nabi tidak mengatakan: “Letakkan payudaramu di mulutnya”. Beliau tidak mengatakan hal itu karena yang beliau inginkan adalah ”Keluarkanlah air susumu pada suatu tempat, lalu berikanlah kepadanya agar ia dapat meminumnya”. Inilah makna yang sebenarnya, tidak ada dan tidak boleh dimaknai dengan interpretasi yang lain. Pasalnya Salim tidak diperbolehkan untuk melihat bagian tubuh Sahlah sebelum ditetapkan baginya hukum penyusuan, maka bagaimana mungkin ia di perbolehkan untuk berbuat sesuatu yang diharamkan baginya (meminumnya secara langsung), atau berbuat sesuatu yg tidak dapat dijamin syahwatnya akan terjaga? (Ibnu Qutaibah Ta’wil Mukhtalaf al-Hadist hal.308-309)

Bahkan terdapat pula hadits-hadits mursal yang menyatakan bahwa penyusuan itu memakai bejana dan tidak secara langsung. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam jalur periwayatan Ibnu Sa’ad menyebutkan dari Muhammad bin Abdillah bin Az-Zuhri dari ayahnya ia berkata: “(Ketika Sahlah ingin memberikan air susunya kepada Salim) Sahlah menuangkan air susunya pada sebuah wadah, lalu Salim meminum air susu tersebut dari tempatnya setiap hari. Setelah lima hari Salim meminum susu tersebut maka ia diperbolehkan untuk bertemu Sahlah meski dalam keadaan tanpa menggunakan tutup kepala (jilbab), sebagai keringanan yang diberikan Nabi kepada Sahlah. (Kitab Thabaqat Al-Kubra 8/271 dan Kitab Al-Ishabah karya Ibnu Hajar 7/716)

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ أَخِي الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كَانَ يَحْلُبُ فِي مِسْعَطٍ أَوْ إِنَاءٍ قَدْرَ رَضْعَةٍ فَيَشْرَبُهُ سَالِمٌ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَةَ أَيَّامٍ. وَكَانَ بَعْدُ يَدْخُلُ عَلَيْهَا وَهِيَ حَاسِرٌ رُخْصَةً مِنْ رَسُولِ اللَّهِ لِسَهْلَةَ بنت سهيل.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Umar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah putra saudaranya az-Zuhri dari ayahnya ia berkata, “Ia menuangkan susu ke dalam wadah atau bejana dengan takaran satu penyusuan. Lalu Salim meminumnya setiap hari selama lima hari. Dan setelah itu, Salim pun memasuki rumah (Sahlah) sedangkan dia tidak memakai jilbab sebagai bentuk rukhsah dari Rasulullah untuk Sahlah binti Suhail.

Hal ini menguatkan bahwa proses penyusuan Sahlah terhadap Salim tidak secara langsung; melainkan melalui bejana atau wadah.

Dan kelima, terjadinya perbedaan pendapat antara Aisyah dengan istri-istri Nabi lainnya. Dimana Aisyah menjadikan kasus Salim sebagai bentuk legitimasi bolehnya menjadikan lelaki dewasa saudara sesusu. Sedangkan istri-istri Nabi lainnya menjadikan kasus Salim sebagai bentuk kehkhususan saja yang tidak berlaku untuk yang lainnya.

عَنْ زَيْنَبَ عَنْ اُمِّهَا اُمِّ سَلَمَةَ اَنَّهَا قَالَتْ: اَبَى سَائِرُ اَزْوَاجِ النَّبِيِّ ص اَنْ يُدْخِلْنَ عَلَيْهِنَّ اَحَدًا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ وَ قُلْنَ لِعَائِشَةَ: مَا نَرَى هذَا اِلاَّ رُخْصَةً اَرْخَصَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص لِسَالِمٍ خَاصَّةً، فَمَا هُوَ بِدَاخِلٍ عَلَيْنَا اَحَدٌ بِهذِهِ الرَّضَاعَةِ، وَ لاَ رَائِيْنًا. احمد و مسلم و النسائى و ابن ماجه

Dari Zainab dari Ibunya (yaitu) Ummu Salamah, bahwa sesungguhnya Ummu Salamah berkata: “Seluruh istri-istri Nabi saw menolak keluar-masuk (rumah) mereka dengan (cara) susuan seperti itu, dan mereka (juga) pernah menyanggah Aisyah, “Tidakkah engkau tahu, bahwa itu hanya suatu keringanan yang dikhususkan oleh Rasulullah saw buat Salim saja?”. Maka tidaklah seseorang (boleh) masuk (rumah) kami dengan susuan seperti itu dan (juga) tidak (boleh) melihat kami”. (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah).

أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى الصَّدَفِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي يُونُسُ ، وَهُوَ ابْنُ يَزِيدَ ، وَمَالِكٌ ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ، عَنْ عُرْوَةَ ، قَالَ : أَبَى سَائِرُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِنَّ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ يُرِيدُ رَضَاعَةِ الْكَبِيرِ ، وَقُلْنَ لِعَائِشَةَ ، وَاللَّهِ مَا نَرَى الَّذِي أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَهْلَةَ بِنْتَ سُهَيْلٍ ، إِلاَّ رُخْصَةً فِي رَضَاعَةِ سَالِمٍ ، وَحْدَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لاَ يَدْخُلُ عَلَيْنَا أَحَدٌ بِهَذِهِ الرَّضْعَةِ ، وَلاَ يَرَانَا.

Telah mengabarkan kepada kami Yunus bin Abdul A’la ash-Shadafi ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab ia berkata, “Telah mengabarkan kepadaku Yunus (Ibnu Yazid) dan Malik dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah ia berkata, “Seluruh istri-istri Nabi menolak memasukan seseorang (yang sudah dewasa) ke rumah mereka dengan cara penyusuan seperti itu, yaitu penyusuan anak yang sudah dewasa”. Kami berkata kepada Aisyah, “Demi Allah kami tidak memandang perintah Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam kepada Sahlah melainkan sebagai rukhsah dalam penyusuan Salim aja yang didapat dari Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam. Seseorang tidak akan masuk rumah kami dengan semacam penyusuan ini dan seseorang tidak akan dapat melihat kami”. (Sunan an-Nasa’i no. 553)

Dari pembahasan di atas penulis sampai pada kesimpulan bahwa hadits penyusuan terhadap orang dewasa dan bayi bukanlah nasikh-mansukh; penyusuan terhadap orang dewasa hukumnya tidak sah dan tidak membuatnya menjadi mahram; kasus Salim yang menjadi saudara sesusu merupakan bentuk kekhususan (takhshis) bagi salim; hukum takhsis seperti kasus Salim bisa berlaku bagi siapapun yang mengadopsi anak sejak bayi namun saat itu sang ibu tidak memiliki ASI untuk diberikan kepada bayinya dan ASI itu baru muncuk ketika anak itu dewasa, maka sah memberikan ASI kepada anak adopsi yang sudah dewasa jika memang sulit dipisahkan dari rumah ibu angkatnya. WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *