

Suatu hari ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah saw. Ia kemudian bertanya, “Hai Rasulullah, tunjukanlah kepada diriku suatu amal yang apabila aku mengamalkannya maka Allah ‘azza wa jalla akan mencintaiku dan begitupun dengan amalan itu semua orang akan mencintaiku?”. Maka seketika itu Rasulullah saw. memberikan nasihat kepadanya,
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ وَ ازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ
“Zuhudlah dirimu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain niscaya orang-orang akan mencintaimu” (H.R Ibnu Majah no. 4102).
Sifat zuhud ini banyak diperintahkan oleh Allah swt. dalam al-Qur’an. Ayat-ayat tentang zuhud dalam al-Qur’an menunjukan bahwa pentingnya sifat ini agar seorang muslim dapat meraih cinta Allah ‘azza wa jalla.
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Akan tetapi kalian lebih mementingkan kehidupan dunia. Sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal” (Q.S al-A’la [87]: 16-17).
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا
“Kesenangan dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang bertaqwa dan kamu tidak akan dizhalimi sedikitpun” (Q.S. an-Nisa’ [4]: 77).
Begitupula al-Qur’an mengingatkan dasar sifat zuhud ini melalui kisah orang-orang yang tertarik terhadap harta kekayaan Qarun. Kemudian orang-orang yang berilmu ketika itu pun menasihati mereka agar mereka tidak tertipu dengan kekayaan dunia.
فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا يٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِىَ قٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (79) وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صٰلِحًا وَلَا يُلَقّٰىهَا إِلَّا الصّٰبِرُونَ (80)
“Maka keluarlah dia karun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata,”Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan paha besar itu hanya diperoleh orang-orang yang sabar” (Q.S al-Qashas [28]: 79-80).
Sifat zuhud mengajarkan kepada kita agar tidak memandang dunia sebagai tujuan hidup, namun dunia itu hanya dijadikan sebagai wasilah (perantara) ketaatan saja. Dunia sebanyak apapun yang dimiliki seorang hamba itu teramat kecil jika dibandingkan dengan apa yang ada di sisi Allah swt. Nabi saw. bersabda,
لَوْ كَانَتْ الدُنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شُرْبَةَ مَاءٍ
“Kalaulah dunia sebanding di sisi Allah dengan sayap nyamuk maka Allah tidak akan memberi air minum kepada orang-orang kafir” (H.R. at-Tirmidzi No 2320).
Para ulama memberikan penjelasan terkait apa yang dimaksud dengan zuhud, di antaranya Imam Hasan al-Bashri, beliau mengatakan,
الزَّاهِدُ الذِيْ إِذَا رَأَى أَحَدًا قَالَ : هُوَ أَفْضَلُ مِنِّي
“Orang yang zuhud itu ialah orang yang apabila melihat orang lain maka ia akan berkata, “Ia lebih mulia daripada diriku” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 378).
Adapun Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang zuhud beliau menjawab,
إِنْ كَانَ لَا يَفْرَحُ بِزِيَادَتِهِ وَ لَا يَحْزَنُ بِنُقْصِهِ فَهُوَ زَاهِدٌ
“Jika seorang tidak bahagia dengan bertambahnya (dunia) dan tidak bersedih dengan berkurangnya maka ialah orang yang zuhud” (Ibid).
Dalam menafsirkan sifat zuhud Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menyajikan riwayat ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam. Nabi saw bersabda,
لَيْسَ الزَّهَادَةُ فِي الدُنْيَا بِتَحْرِيْمِ الحَلاَلِ وَ لَا إِضَاعَةِ المَالِ وَ لَكِنْ الزَّهَادَةُ فِي الدُنْيَا أَنْ تَكُوْنَ مَا فِي يَدِ اللهِ أَوْثَقُ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِكَ وَ أَنْ تَكُوْنَ حَالُكَ فِي المُصِيْبَةِ حَالُكَ إِذَا لَمْ يُصِبْ يِهَا سَوَاءٌ وَ أَنْ يَكُوْنَ مَادِحُكَ وَ ذَامُكَ فِي الَحقِّ سَوَاءٌ
“Zuhud itu bukan dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia itu dengan cara kamu lebih meyakini apa yang ada di tangan Allah dari pada apa yang ada di tanganmu sendiri. Keadaan dirimu ketika mendapatkan musibah dan kerika tidak mendapatkan musibah sama saja. Dan orang yang memujimu ataupun mencelamu dalam kebenaran sama saja” (H.R Ibnu Abi Dunya).
Dalam hadis ini dijelaskan bahwa kita dapat memiliki sifat zuhud dengan tiga cara. Pertama, ketika kita lebih meyakini apa yang dimiliki Allah dari pada apa yang kita miliki. Keyakinan ini lahir karena kekuatan keyakinannya bahwa hanya Allah yang menjamin rezeki kita. Imam Ahmad beliau pernah mengatakan,
أَسَرُّ أَيَّامِيْ إِلَيَّ يَوْمٌ أَصْبَحَ وَ لَيْسَ عِنْدِيْ شَيْءٌ
“Hari yang paling bahagia dalam diriku adalah hari dimana ketika aku masuk waktu pagi dan aku tidak memiliki sesuatu apapun” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 376).
Kedua, zuhud itu akan diraih ketika mendapatkan musibah dan ketika tidak mendapatkan musibah itu bagi kita sama saja. Ketika seorang yang zuhud diuji dengan kehilangan harta, anak, ataupun selain itu, yang ia sukai dari perkara dunia, ia tidak akan terlampau bersedih karena ia sadar pahala ujian dari Allah itu lebih baik dari pada apa yang ia cintai itu. Oleh karena itu Nabi saw mengajarkan kita agar kita meminta keyakinan kepada Allah agar segala ujian di dunia itu terasa ringan.
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ مَعَاصِيْكَ وَ مِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَ مِنَ اليَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُنْيَا
“Ya Allah berilah kami rasa takut yang dengan rasa takut itu akan menjadi penghalang antara diri kami dengan maksiat-maksiat kami. Berilah kami keta’atan yang dengan keta’atan itu akan mengantarkan kami ke surga-Mu. Dan berilah kami keyakinan yang dengan keyakinan itu akan meringankan musibah-musibah kami di dunia” (H.R. at-Tirmidzi no. 3502)
Ketiga, zuhud itu akan diraih ketika orang-orang yang memuji dan mencela bagi kita sama saja. Bagi orang yang kecenderungan dunianya besar, pasti akan menyenagi pujian dan membenci celaan. Bagi orang yang zuhud, pujian dan celaan itu sama saja karena harapan dan kecintaan terbesarnya hanyalah keridhaan Allah swt.
Tiga cara inilah yang bisa kita lakukan agar mendapatkan cinta Allah ‘azza wa jalla. Siapa saja yang menanamkan sifat zuhud di dalam hati, maka ia layak mendapatkan cinta Allah bahkan cinta seluruh makhluk di alam semesta. Pantas kiranya Nabi saw. memberikan jawaban ini agar seorang mendapatkan cinta Allah ‘azza wa jalla. Zuhudlah di dunia niscaya Allah akan mencintai kita. Wa-Llahu a’lam bi s-shawab.














