Umat Islam seakan-akan lupa bahwa salam (mengucapkan selamat) adalah bagian dari ibadah yang tentunya bersifat eksklusif. Terikat aturan surat al-Kafirun yang umum dibaca dalam setiap shalat sunat, khususnya sunat qabla shubuh. Dari Presiden sampai Ketua RT, dari Ulama sampai santri, pasti tidak ada yang asing dengan surat tersebut, dan biasa membacanya dalam shalat yang mereka amalkan. Surat tersebut dengan tegas menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh beribadah seperti ibadahnya orang-orang kafir, demikian juga sebaliknya. Ibadah umat Islam tidak boleh dicampurkan dengan ibadah orang kafir. Masing-masing independen dan otonom dengan ibadahnya sendiri. Lakum dinukum wa liya din.
Dalih bahwa ucapan selamat adalah bagian dari budaya dan adat istiadat yang baik disampaikan kepada setiap orang pastinya tertolak ketika seseorang bersyahadat tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah. Sebab praktik budaya dan adat istiadat yang mana pun ketika sudah dicakup oleh syari’at sudah tidak bisa independen lagi sebagai budaya yang netral nilai, melainkan harus tunduk pada tuntutan syari’at Nabi Muhammad saw. Dasar pijakannya bukan lagi baik atau tidak menurut budaya atau adat istiadat, melainkan baik atau tidak menurut syari’at. Jika masih saja keukeuh berpendirian bahwa budaya dan adat istiadat bersifat otonom dan netral dari nilai-nilai agama, maka inilah konsep budaya sekuler sebagai produk dari ilmu-ilmu sekuler yang memisahkan budaya dan adat istiadat dari nilai-nilai agama Islam.
Ujung-ujungnya kembali pada permusuhan abadi antara agama dan dunia. Keduanya sebenarnya bisa dikompromikan, yakni dengan cara menundukkan dunia pada agama. Jika sebaliknya, maka hanya kehancuran yang akan terjadi karena dunia akan lepas liar tanpa jelas panduan nilainya. Meski manusia sekuler berdalih patokan nilainya adalah nilai-nilai positif menurut akal sehat, tetap saja menyisakan problem karena akal sehat tidak ajeg dan tidak sempurna seperti halnya wahyu ilahi. Ujung-ujungnya lagi-lagi pada paradigma mana yang lebih baik untuk mengatur dunia ini; akal sehat versi manusia sekuler ataukah wahyu ilahi yang memandu akal sehat? Inilah wujud permusuhan abadi agama vs dunia di era millenial.
Umat Islam tentu sudah tidak perlu bimbang lagi bahwa pilihan yang mutlak dipilih adalah wahyu ilahi yang memandu akal sehat, bukan akal sehat yang sekuler, sebab kebenaran itu adalah yang datang dari Allah, bukan dari hawa nafsu manusia. “Kebenaran itu datang dari Rabbmu.”[1] “Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.”[2] Jika sudah jelas yang haq adalah dari wahyu, maka pasti yang menyalahinya adalah kesesatan: “Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.”[3] Atau dalam bahasa haditsnya: BID’AH. Dan setiap bid’ah itu jelas sesatnya.[4]
[1] QS. al-Baqarah [2] : 147, Ali ‘Imran [3] : 60, Yunus [10] : 94.
[2] QS. al-Mu`minun [23] : 71
[3] QS. Yunus [10] : 32
[4] Shahih Muslim bab takhfifis-shalat wal-khuthbah no. 2042.













