Adab Penuntut Ilmu - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Adab Penuntut Ilmu

1 year ago
1261

Para ulama telah memberikan perhatian yang sangat besar dalam masalah Adab sebelum ilmu. Karya-karya para ulama yang berlimpah dalam masalah ini menunjukan betapa pentingnya masalah adab dalam pandangan para ulama dahulu. Diantaranya, Akhlaqul ‘Ulama karya Al-Ajuri, al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adaabis Sami’ karya al-Khatib al-Baghdadi, Adabul Mujalasah wa Hamdul Lisan karya Ibnu ‘Abdil Bar, Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil “Alim wal Muta’allim karya Ibnu Jama’ah, Adabud Dunya wad Din Karya al-Mawardi, fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘ilmil Kholaf Karya Ibnu Rajab, dan masih banyak karya para ulama lainnya yang ditulis tentang masalah adab.

Jamise Syar'i

 Imam Malik misalnya, pernah memberikan nasihat kepada seorang pemuda tentang pentingnya adab sebelum ilmu. Ia mengatakan,

  يَا ابْنَ أَخِي تَعَلَّمَ الْأَدَبُ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

“Wahai putra saudaraku belajarlah adab sebelum engkau belajar ilmu” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala. Hal 330. Jilid 6)

Begitu pula Imam asy-Syafi’I, beliau pernah ditanya tentang kesungguhnnya mempelajari Adab. Ia mengatakan,

أَسْمَعُ بِالْحَرْفِ مِنْهُ مِمَا لَمْ أَسْمَعْهُ فَتَوَدُ أَعْضَائِي أَنَ لَهَا أَسْمَاعًا فَتَنَعَمَ بِهِ

“Aku mendengar satu huruf tentang adab yang pernah aku dengar maka seluruh anggota tubuhku sangat ingin mendengarnya dan aku merasakan bahagia dengan satu huruf adab itu”.

Kemudian Imam asy-Syafi’I ditanya kembali tentang cara ia mencari ilmu tentang adab itu. Ia menjawab,

طَلَبُ الْمَرْأَةِ الْمُضِلَةِ وَلَدَهَا وَلَيْسَ لَهَا غَيْرَهُ.

“Seperti seorang ibu yang kehilangan anaknya dan ia tidak memiliki anak selainnya” (Ibnu Jama’ah, Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim. Hal 32)

Kesaksian Imam Malik dan Imam asy-Syafi’I ini cukup menjadi bukti luhurnya kedudukan adab daripada Ilmu, karena Adab merupakan buah Ilmu. Seorang yang berilmu namun tak beradab itu seperti pohon tak berbunga dan berbuah. Dengan demikian, sudahkah ilmu yang kita miliki itu berbuah dan berbunga?.

Adab Penuntut Ilmu

Seorang penuntut ilmu mesti memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu sebelum ia mempelajari ilmu itu sendiri sebagaimana para ulama menjelaskan di dalam karya-karya mereka tentang Adab. Berikut, adab-adab yang mesti dimiliki oleh seorang penuntut Ilmu menurut Imam Ibnu Jama’ah dalam kitabnya Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim.

Pertama,  Ikhlas mengharap Wajah Allah dan menghiasi bathin dengan Amal Shalih.

حسن النية في طلب العلم بأن يقصد به وجه الله تعالى والعمل به وإحياء الشريعة، وتنوير قلبه وتحلية باطنه والقرب من الله تعالى يوم القيامة والتعرض لما أعد لأهله من رضوانه وعظيم فضله.

“Niat yang baik dalam menuntut ilmu, hendaknya seorang penuntut ilmu berniat dalam mencari ilmu untuk mengharap wajah Allah Ta’ala, beramal, menghidupkan syari’at, menyinari hati, menghiasi bathin, mendekat kepada Allah ta’ala pada hari kiamat dan menghadap kepada apa yang Allah siapkan kepada pemilik ilmu berupa ridha Allah dan keagungan niatnya” (Tadzkirah al-Sami wa al-Mutakallim : 2-3)

Adab yang pertama inipun berdasarkan hadis-hadis Nabi saw. Sebagai berikut.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan” (H.R al-Bukhari, Bab  Kaifa bad’i al-Wahyi Ila Rasulillah Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam no. 1)

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat para ulama, atau untuk mengolok-olok orang bodoh atau untuk mengalihkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka”.  (H.R Tirmidzi Bab fi Man Yathlubuhu bi ‘Ilmihi ad-Dunya no. 2654)

Kedua, Membersihkan diri dari penyakit hati dan maksiat zhahir.

أن يطهر قلبه من كل غش ودنس وغلّ وحسد وسوء عقيدة وخلق؛ ليصلح بذلك لقبول العلم وحفظه، والاطلاع على دقائق معانيه وحقائق غوامضه.

“(Seorang Penuntut Ilmu) hendaknya membersihkan hati dari segala penyakit khianat, keburukan, dendam, hasud, buruk akidah dan akhlak; agar hati mampu menerima ilmu, menghafalnya, dan memahami kedalaman makna-makna dan hakikat rahasia-rahasianya” (Tadzkirah al-Sami wa al-Mutakallim : 86)

            Kebersihan hati akan menentukan kebersihan ilmu yang masuk ke dalam hati seorang penuntut Ilmu. Oleh karena itu, Imam Sahl at-Tustari pernah mengatakan.

“حرام على قلب أن يدخله النور وفيه شيء مما يكره الله عز وجل”.

“Sahl Rahimahullah berkata, “Haram bagi hati yang akan dimasuki cahaya sedangkan di dalam hatinya terdapat sesuatu yang dibenci Allah ‘Azaa wa Jalla” (Tadzkirah al-Sami wa al-Mutakallim : 35)

Ketiga, Bersikap Wara dalam segala urusan.

أن يأخذ نفسه بالورع في جميع شأنه ويتحرى الحلال في طعامه وشرابه ولباسه ومسكنه وفي جميع ما يحتاج إليه هو وعياله ليستنير قلبه ويصلح لقبول العلم ونوره والنفع به

“Hendaknya  jiwanya bersikap wara’ dalam setiap urusan dan memilih yang halal dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan dalam segala hal yang dibutuhkan nya dan nafkah untuk dirinya agar hatinya bersinar dan mampu menerima ilmu, cahaya dan manfaatnya” (Tadzkirah al-Sami wa al-Mutakallim : 91)

Adab inipun sesuai bimbingan Nabi saw., bahwa setiap hamba hendaknya meninggalkan perkara yang syubhat agar terjaga kehormatan diri dan agamanya.  Nabi saw. Bersabda.

«إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ».

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan diantara keduanya ada perkara yang tidak jelas, yang tidak diketahui kebanyakan orang, maka barang siapa yang menjaga dirinya dari melakukan perkara yang meragukan, maka selamatlah agama dan harga dirinya, tetapi siapa yang terjatuh kepada perkara yang syubhat, maka dia terjatuh kepada keharaman. Tak ubahnya seperti gembala yang menggembala di tepi pekarangan, dikhawatirkan ternaknya akan masuk kedalamny. Ketahuilah, setiap raja itu memiliki larangan. Dan larangan Allah adalah sesuatu yang diharamkannya. Ketahuilah, bahwa setiap tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh badannya, namun jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubhnya. Ketahuilah, gumpalan darah itu adalah hati” (H.R Muslim Bab Akhdzu al-Halal wa Tarku asy-Subuhat no. 1559)

Bersambung. Insya Allah waLLahul Musta’an.

Oleh : Husna Hisaba Kholid (Staf Pengajar Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan Bandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *