

لَنْ يَصْلُحَ آخرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلهُاَ؛ فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا، لَا يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنًا
“Umat yang akhir ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang dapat menjadikan umat yang awal itu baik. Maka yang pada saat itu tidak menjadi (ajaran) agama, pada hari ini pun bukan merupakan agama.”( al-Qadli ‘Iyadl, as-Syifâ bi Ta’rîfi Ḥuqûqil-Mushtafâ Shallal-`Llâhu ‘alaihi wa Sallam, jilid 2 hlm. 88)
Ungkapan di atas diriwayatkan dari salah seorang ulama yang masyhur dalam bidang ilmu hadits dan fiqih, yaitu Imam Abu ‘Abdullah Malik ibn Anas―raḥimahul-`Llâh―yang sering disajikan di dalam kitab-kitab para ulama yang membahas pentingnya mengikuti sunnah Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―beserta para shahabatnya―radliyal-`Llâhu ‘anhum―dalam beragama. Seluruh umat islam yang mengaku ahlus-sunnah wal-jamâ’ah pasti sudah mengamini akan wajibnya hal ini. Namun, ada saja umat islam―terutama para ulama dan da’inya―yang menjadikan al-qur`an dan as-sunnah sebagai rujukan agamanya, namun tidak mampu mewujudkan aqidah salimah, ibadah shaḥîḥah, dan akhlaq karîmah secara sempurna.
Contohnya, dalam aspek aqidah, hari ini ada orang yang mengaku sebagai da’i dengan mudahnya menyerukan bahwa mengucapkan selamat hari raya agama lain adalah hal yang dibolehkan. Lalu dalam aspek ibadah, banyak da’i yang sudah malas mengamalkan ibadah-ibadah sunnah, bahkan di antaranya ada yang berani menolak atau membuang sunnah-sunnah tersebut. Kemudian dalam aspek akhlaq, saat ini acap kali ditemukan orang-orang yang bergelar ustadz―khususnya di negara berpenduduk muslim terbanyak ini―namun tidak lagi mampu mencerminkan akhlaq dan adab islami, bahkan lebih senang dengan budaya-budaya barat atau kafir, khususnya dalam sikap, gaya bicara, dan pakaian.
Bahayanya, dalam melakukan “kerusakan” tersebut, mereka sering kali membawakan dalil dari al-qur`an maupun as-sunnah yang dipahami menurut logika dan hawa nafsu mereka. Para ustadz, da’i, dan ulama adalah teladan bagi masyarakat awam. Jika yang dijadikan teladan adalah orang-orang yang “rusak”, maka akan rusak pula umat islam ini.
Oleh karena itu, benarlah ucapan Imam Malik di atas. Umat islam akan dapat menjadi baik, hanya dengan meneladani cara para umat yang awal (salaful-ummah) dalam memahamai serta mengamalkan al-Qur`an dan as-Sunnah; merekalah para shahabat―radliyal-`Llâhu ‘anhum―. Merekalah para penuntut ilmu yang langsung mengambil ilmu dari mulut Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―. Merekalah umat islam yang mampu mewujudkan aqidah salimah, ibadah shaḥîḥah, dan akhlaq karîmah secara sempurna. Merekalah generasi yang mendapatkan pujian dari Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―sebagai umat terbaik (Lihat Shaḥîḥ Muslim kitab fadlâ`ilis-shaḥâbah bab fadlis-shaḥâbah tsummal-ladzîna yalûnahum tsummal-ladzîna yalûnahum no. 6635).
Maka, memahami al-Qur`an dan as-Sunnah bukanlah dengan menggunakan logika semata, apalagi jika diiringi dengan hawa nafsu. Tapi harus dibantu oleh pemahaman para ulama mu’tabar, terutama pemahaman para salaful-ummah. Wal-`Llâhul-Musta’ân.
oleh : Fauzy Barokah Ramadhani (Staff Pengajar PPI 27 Situaksan Bandung)













