Rukhshah Shalat Berjama’ah

5 months ago
1564

Dalam salah satu fatwa MUI, tepatnya pada poin ke-3, tertulis sebagai berikut:

Ketiga, orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar COVID-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (a) Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan shalat Jum’at dan menggantikannya dengan shalat zhuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jama’ah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan ‘Id di masjid atau tempat umum lainnya. (b) Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus Corona, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

Umat muslim Indonesia tentu menyambut baik fatwa ini dengan melaksanakannya sebaik mungkin. Namun di sisi lain, ada pula beberapa umat muslim yang tidak sependapat dengan fatwa MUI di atas, terutama para netizen atau warganet. Di antara mereka ada yang merasa miris jika masjid ditutup, ada juga yang tetap nekat melaksanakan shalat berjama’ah meski daerahnya merupakan daerah dengan tingkat penularan korona yang tinggi.

Hukum Asal

Mengenai hukum asal shalat berjama’ah, para fuqaha` memang berbeda pendapat. Dalam kitab al-FIqhul-Islâmi wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah az-Zuhaili―rahimahul-`Llâh―merinci ikhtilaf tersebut sebagai berikut:

Para ulama dari madzhab Hanafi dan Maliki menyatakan bahwa shalat berjama’ah dalam shalat fardlu selain shalat jum’at hukumnya sunnah mu`akkadah bagi laki-laki yang mampu untuk melaksanakannya. Maka tidak disyariatkan bagi perempuan, akan kecil, orang gila, hamba sahaya, orang sakit, orang tua renta, dan orang cacat. Mereka berdalil dengan sabda Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―:

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Shalat seorang laki-laki di masjid itu lebih banyak pahalanya daripada shalatnya di rumah atau di pasar (tempat kerja)nya sekitar 20 sekian kali lipat;” (Shahih Muslim kitâbul-masâjid bâb fadlli shalâtil-jamâ’ati wa-ntizhâris-shalâti no. 1538). Mereka memahami pahala tambahan di sini hanya sebagai tambahan pahala sunnah saja daripada shalat munfarid.

Berbeda dengan para ulama dari madzhab Syafi’i, mereka menilai bahwa shalat berjama’ah itu hukumny adalah fardlu kifayah bagi laki-laki merdeka yang muqim dengan alasan untuk menampakan syi’ar islam, baik dalam suatu daerah yang kecil maupun besar. Jika seluruh penduduk daerah tersebut enggan melaksanakannya, maka mereka berhak diperangi oleh pemerintah, bukan oleh individu masyarakat. Mereka berdalil dengan sabda Nabi―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―:

 مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِى قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Tidaklah ada tiga orang di dalam sebuah daerah perkotaan maupun pedesaan yang tidak didirikan padanya shalat (berjama’ah), kecuali pasti mereka akan dikuasai oleh setan. Maka hendaklah kalian berjama’ah, karena sesungguhnya serigala hanya akan memakan (mangsa) yang jauh (menyendiri).” (Sunan Abû Dâwûd kitâb as-shalâti bâb fî tasydîdi fî tarkil-jamâ’ati no. 547)

Berbeda lagi dengan para ulama dari madzhab Hanbali, mereka menyatakan bahwa hukum shalat berjama’ah adalah fardlu ‘ain. Mereka berdalil dengan banyak dalil, di antaranya sabda Nabi―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ يُحْتَطَبُ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Sungguh aku ingin memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan shalat lalu dikumandangkan adzan baginya, lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami oang-orang, kemudian aku berpaling menuju orang-orang (yang tidak shalat berjama’ah), lalu aku bakar rumah-rumah mereka.” (Shaḥîh al-Bukhârî kitâb al-ahkâm bâb ikhrâjil-khushûm wa ahlilr-raibi minal-buyûti ba’dal-ma’rifati no. 7224) (Wahbah az-Zuhaili, al-FIqhul-Islâmi wa Adillatuhu: II/149-151)

Menurut hemat kami, pendapat yang paling tepat adalah pendapat dari para ulama madzhab Hanbali yang menyatakan wajibnya shalat berjama’ah bagi laki-laki yang mampu, tidak memiliki udzur. Hal itu dikarenakan dalil-dalil yang dijadikan istidlal lebih jelas dan tegas.

Namun di samping perbedaan pendapat para ulama di atas, hukum shalat berjama’ah yang paling ringan adalah sunnah mu`akkadah. Maka, seorang muslim yang memilih pendapat teringan ini pun harus tetap berusaha menjaga pelaksanaan shalat berajama’ah kecuali ada udzur yang benar-benar menghalanginya untuk hadir ke masjid.

Rukhsah

Ada beberapa udzur yang dapat menyebabkan seseorang mendapatkan rukhshah untuk meninggalkan shalat berjama’ah. Dalam sebuah hadits, Nabi―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ ، فَلاَ صَلاَةَ لَهُ ، إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ

Siapa yang mendengar adzan tapi kemudian tidak mendatanginya (untuk shalat berjama’ah, pen) maka tidak ada shalat untuknya kecuali karena udzur.” (Sunan Ibn Mâjah kitâbul-masâjid bâb at-taghlîzh fi-takhallufi ‘anil-jamâ’ah no. 793)

Dalam kitab al-FIqhul-Islâmi wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah az-Zuhaili―rahimahul-`Llâh―merinci udzur-udzur tersebut, yaitu: (1) sakit parah atau sakit menular, (2) hujan deras, (2) angin kencang, (3) longsor, (4) udara dingin atau panas yang ekstrim, (5) lumpuh, (6) tua renta, (7) buta, (8) ada hal yang membahayakan dirinya, kehormatannya, atau hartanya, (9) mengantuk yang tak tertahankan, dan (10) tubuh menjadi sumber bau yang tidak sedap (Wahbah az-Zuhaili, al-FIqhul-Islâmi wa Adillatuhu: II/169-172).

Maka jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, penyebaran COVID-19 bisa saja dikategorikan sebagai penyakit parah, penyakit menular, atau sesuatu yang dapat membahayakan jiwa manusia. Jadi, bagi orang yang sudah terpapar oleh virus ini, maka menjadi haram baginya untuk shalat berjama’ah karena jika ia hadir di masjid, yang ada ia akan membahayakan orang lain. Kemudian bagi orang yang belum terpapar, pasti ia akan takut keluar rumah dan berkumpul bersama orang lain di masjid, karena siapa yang dapat mengetahui bahwa seluruh jama’ah kondisinya sehat-sehat. Oleh karena itu, menurut hemat kami, tepat rasanya jika MUI mengeluarkan fatwa di atas mengenai rukhshah shalat berjama’ah demi terjaganya jiwa umat muslim Indonesia.

Jaga Jarak 1 Meter

Berkaitan dengan pencegahan COVID-19, ada pula surat edaran yang diterbitkan oleh Pemprov Jabar mengenai protokol pelaksanaan shalat Jum’at yang terbit pada hari Rabu, 6 Maret 2020 lalu. Pada poin ke-6 tertulis:

“Jarak antara jama’ah baik pada ceramah maupin sedang melaksanakan sholat adalah 1 (satu) meter.”

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya, jarak antara jama’ah di dalam shaff harus benar-benar rapat, sebagaimana sabda Rasulullah—shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam—:

أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

Rapikanlah (luruskan dan rapatkan) shaff (barisan) kalian! Sungguh, aku dapat melihat (keadaan) kalian dari belakang punggungku.” (Anas ibn Malik—radliyal-`Llâhu ‘anhu—mengatakan): “Aku melihat mereka (para shahabat—radliyal-`Llâhu ‘anhum) saling melekatkan bahu dan kaki mereka.” (HR al-Bukhârî kitâbul-adzân bâb ilzâqil-mankibi bil-mankibi wal-qadami bil-qadami bis-shaffi no. 725).

Menurut hemat kami, aturan yang satu ini merupakan aturan yang tidak cocok untuk diterapkan di daerah kita yang masih dalam status “terkendali”. Selain itu, dalam fatwa MUI pun tidak tercantum aturan tersebut. Itu berlaku untuk daerah “potensi penularan tinggi”. Kalaupun demikian bukan dengan merusak syarat shalat berjama’ah yang shaffnya harus rapat, tetapi dengan meliburkan shalat berjama’ah saja sekalian.

Wal-`Llâhu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *