Penyakit, Ujian Ketauhidan

3 months ago
1433

Manusia Pasti Diuji

Surga Allah adalah tempat peristirahatan yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Tempat terindah yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terlintas di benak manusia selama di dunia ini. Namun, untuk mendapatkannya tentu harus ditebus dengan usaha, pengorbanan, dan kesabaran yang terkadang terasa pahit oleh sebagian manusia. Allah―’azza wa jalla―berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Apakah kalian mengira akan masuk surga sedangkan Allah belum Mengetahui orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan juga yang bersabar?” (QS Âli ‘Imrân [3] : 142) dan juga firmanNya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘kami beriman’ namun mereka tidak diuji? Sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka kami benar-benar mengetahui orang-orang yang membenarkan dan orang-orang yang mendustakan (agama).” (QS al-’Ankabût [29] : 1-2)

Maka, terkadang Allah mengirimkan berbagai macam ujian bagi setiap manusia dengan berbagai bentuk yang bermacam-macam, sebagaimana firmanNya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Sungguh, kami benar-benar akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, (kehilangan) jiwa, dan kekurangan buah-buahan. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (QS al-Baqarah [2] : 155)

Satu hal yang perlu dicatat oleh kita semua; Allah menimpakan ujian berupa musibah kepada hambaNya yang beriman itu bukan karena Allah membenci mereka, namun sebaliknya, karena rahmat atau kasihsayangNya terhadap mereka. Di setiap proses dalam menjalani suatu musibah, Allah telah menyediakan pahala yang tak terbatas jumlahnya bagi mereka jika mereka bersabar. Kemudian ketika mereka berhasil melewati prosesnya sampai hilang musibah tersebut, maka Allah akan semakin mencintai mereka dan derajat keimanan mereka semakin tinggi di mata Allah. Bukan hanya itu, dosa-dosanya pun dihapus oleh Allah sampai tak tersisa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Luar biasa perkara seorang mu`min. Sesungguhnya seluruh perkaranya baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mu`min; jika ia diberikan kebahagiaan ia akan bersyukur, maka ini akan menjadi sebuah kebaikan (pahala) baginya, dan jika ia diberikan keburukan ia akan sabar, maka ini akan menjadi sebuah kebaikan (pahala) pula baginya.” (Shaḥîḥ Muslim kitâb az-zuhd war-raqâ`iq bâb al-mu`min amruhu kulluhu khairun no. 7692)

dan juga firman Allah―’azza wa jalla―:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

…Sesungguhnya hanya orang-orang sabar yang akan disempurnakan pahalanya tanpa (batas) perhitungan.” (QS az-Zumar [39] : 10), serta sabda Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―yang lain:

فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.” (Sunan Ibn Mâjah kitâbul-fitah bâbus-shabri ‘alal-balâ`I no. 4023)

Ujian Berupa Penyakit

Ujian yang pasti pernah dirasakan oleh hampir seluruh manusia adalah ujian berupa penyakit, dari mulai penyakit yang ringan sampai penyakit yang mematikan. Bagi orang mu`min, tentu penyakit yang menjangkitinya merupakan salah satu ajang bagi dirinya untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi ladang pahala serta ampunan dosa baginya. Seorang mu`min yang benar-benar mengenal Allah dan bertauhid kepadaNya dengan keyakinan yang kuat pasti akan mempecayai kebaikan-kebaikan yang tersirat di balik setiap penyakit yang menjangkitinya. Nabi Muhammad―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―bersabda:

 مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (Shaḥîḥ Muslim kitâbu bâb tsawâbil-mu`mini fî mâ yushîbuhu min maradlin no. 6724)

Mata manusia sangat terbatas, hanya mampu melihat yang lahir saja, tidak dengan yang batin. Oleh karenanya, wajar saja terkadang manusia sering menganggap buruk suatu hal, namun ternyata di mata Allah hal tersebut baik. Sebaliknya, terkadang manusia menganggap suatu hal baik, namun ternyata di mata Allah hal tersebut buruk, sebagaimana firman Allah:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk baik kalian, Allahlah yang Mahatahu sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah [2] : 216)

Salah Satu Hak Rubûbiyyah Allah

Menurunkan dan mengangkat penyakit hanyalah hak rubûbiyyah Allah semata, tidak ada satupun makhluq yang berkuasa menurunkan penyakit kepada makhluq lainnya tanpa seizin Allah dan sebaliknya, tidak ada satupun makhluq yang berkuasa mengangkat musibah dari penyakit lainnya jika Allah tidak mengizinkan.

Kemudian berkaitan dengan penularan penyakit, Nabi―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―sampai menyatakan bahwa menularkan penyakit itu adalah hak Allah, dalam artian penyakit tidak dapat menular dengan sendirinya kecuali dengan pengaturan atau izin dari Allah. Nabi―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ

Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada reinkarnasi, dan tidak ada (keyakinan sial mengenai bulan) shafar. Larilah dari orang yang terkena penyakit kusta sebagaimana lari dari (kejaran) singa!” (Shaḥîḥ al-Bukhârî kitâbut-thibb bâbul-judzâmi no. 5707)

Awal hadits di atas seakan-akan menyiratkan bahwa Nabi―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―tidak mempercayai adanya penularan penyakit. Namun ternyata di akhirnya, malah ada perintah beliau untuk lari dari penyakit kusta. Ini tentu jelas-jelas menyuratkan bahwa beliau takut akan adanya penularan penyakit. Maka, cara memahaminya adalah bahwa Nabi―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―tidak percaya bahwa penyakit dapat menular dengan sendirinya, namun penyakit dapat menular jika memang diatur dan diizinkan oleh Allah.

Maka, seseorang yang tauhidnya benar-benar kuat kepada Allah akan yakin bahwa penyakit hanya dapat menjangkit dirinya apabila Allah mengizinkan. Sehingga, pasti ia akan semakin berlindung, berdoa, dan memohon keselamatan hanya kepada Allah semata. Meskipun kita harus tetap berusaha mengambil sebab yang dapat menyelamatkan kita dari penyakit menular, seperti menjauhi sumber penyakit, melakukan tuntunan hidup sehat, dsb.

Allah as-Syâfî

Ketika Allah menakdirkan bahwa penyakit harus menjangkiti kita, maka sudah sepatutnya kita untuk berbahagia karena kita yakin bahwa penyakit merupakan kebaikan bagi orang mu`min sebagaimana penjelasan di atas. Selain berbahagia akan berbagai kebaikan, tentu kita pun harus bersabar selama penyakit masih menjangkiti kita. Kemudian jika kita ingin sembuh, maka kita harus memohon kesembuhan kepada Allah pertama kali, dengan membaca do’a:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Ya Allah Rabb seluruh manusia, Maha Penghilang penyakit, sembuhkanlah! Hanya Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada yang Menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.” (Shaḥîh al-Bukhârî kitâbut-thibb bâbur-ruqyatin-nabiy shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam no. 5742).

Barulah setelah itu kita berikhtiar dengan mengambil sebab-sebab kesembuhan yang dihalalkan oleh Allah, seperti berkonsultasi dengan dokter, mengonsumsi obat, dan meruqyah diri sendiri sehingga Allah izinkan untuk sembuh. Nabi―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―bersabda:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat mengenai penyakitnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” (Shaḥîḥ Muslim kitâbus-salâmi bâb li kulli dâ`in dawâ`un wa-stihbâbut-tadâwâ no. 5871).

Jangan sampai kita mengambil sebab yang haram, seperti berkonsultasi kepada dukun, membaca jampi-jampi, mengenakan jimat, dsb sehingga yang ada malah  mendapatkan dosa besar dan bertambah penyakitnya (lihat Sunan Ibn Mâjah kitâbut-thibb bâb ta’lîqut-tamâ`im no. 3531).

Orang yang benar-benar bertauhid pasti akan lulus dari berbagai ujian yang Allah berikan kepadanya dengan hasil yang memuaskan.

Wal-`Llâhu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *