Qunut Nazilah untuk Wabah

4 months ago
1605

Qunut artinya berdiri lama untuk berdo’a. Diamalkan setelah i’tidal terakhir sebelum sujud dari shalat wajib lima waktu. Nazilah artinya malapetaka. Jadi qunut nazilah diamalkan ketika terjadi nazilah (malapetaka). Tetapi Nabi saw hanya mengamalkannya untuk nazilah yang menimpa kaum muslimin dan itu disebabkan penganiayaan dan kejahatan dari kaum kafir.

Fungsinya untuk mendo’akan laknat bagi orang kafir yang berbuat aniaya dan kaum muslimin yang dianiaya oleh orang kafir tersebut. Hal ini terlihat dari do’a-do’a qunut nazilah yang diriwayatkan, semuanya berisi tentang do’a keselamatan bagi kaum muslim yang dianiaya dan do’a laknat untuk kaum kafir yang menganiaya:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ

Dari Anas: “Rasulullah saw qunut selama satu bulan mendo’akan laknat untuk beberapa suku bangsa Arab, kemudian beliau tidak mengamalkannya lagi.” (Shahih Muslim bab istihbabil-qunut fi jami’is-shalawat no. 1586)

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ  كَانَ لَا يَقْنُتُ إِلَّا إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ دَعَا عَلَى قَوْمٍ

Dari Anas: “Nabi saw tidak qunut kecuali apabila hendak mendo’akan keselamatan untuk satu kaum dan mendo’akan malapetaka untuk satu kaum.” (Shahih Ibn Khuzaimah bab dzikrul-bayan annan-Nabiy lam yakun yaqnutu dahrahu kullahu no. 620).

Wabah jelas tidak termasuk kategori nazilah yang dimaksud dalam qunut nazilah. Jadi tidak perlu ada qunut nazilah. Cukup dengan do’a-do’a memohon dijauhkan dari wabah penyakit atau penyakit yang berbahaya di waktu-waktu ijabah do’a seperti dalam sujud ketika shalat, di akhir tasyahhud sebelum salam, di waktu wirid ba’da shalat, di waktu pagi dan petang, di keheningan malam, selepas adzan, dan lainnya. Di antara do’a yang Nabi saw ajarkan agar terhindar dari penyakit berbahaya adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ

Ya Allah, sungguh aku berlindung kepadamu dari penyakit sopak (kulit belang), gila, kusta, dan penyakit-penyakit yang sangat berbahaya (Sunan Abi Dawud bab fil-isti’adzah no. 1556).

اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَدْوَاءِ

Ya Allah, jauhkanlah dariku akhlaq, hawa nafsu, amal, dan penyakit-penyakit yang munkar (al-Mustadrak al-Hakim kitab ad-du’a no. 1904).

Di samping itu dalam hadits disebutkan bahwa yang meninggal akibat wabah pahalanya seperti pahala mati syahid di medan perang. Faktanya tidak pernah Nabi saw mengamalkan qunut nazilah untuk para syuhada perang.

Meski demikian memang ada juga ulama yang menjelaskan bahwa qunut nazilah bisa diamalkan secara umum untuk semua malapetaka yang membahayakan seperti pandemi Covid-19 saat ini. Mereka di antaranya adalah Imam an-Nawawi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani. Berikut kutipan pernyataan mereka:

الصَّحِيح الْمَشْهُور أَنَّهُ إِنْ نَزَلَتْ نَازِلَة كَعَدُوٍّ وَقَحْط وَوَبَاء وَعَطَش وَضَرَر ظَاهِر فِي الْمُسْلِمِينَ وَنَحْو ذَلِكَ قَنَتُوا فِي جَمِيع الصَّلَوَات الْمَكْتُوبَة وَإِلَّا فَلَا .

Pendapat yang benar, bahwa ketika terjadi musibah seperti diserang musuh, terjadi kemarau panjang, wabah, kelaparan, dan segala kemadharatan yang timbul di kalangan kaum muslimin, maka mereka (hendaklah) melakukan qunut pada shalat lima waktu. Namun jika tidak terjadi musibah, maka tidak perlu (qunut). (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab istihbabil-qunut fi jami’is-shalawat)

Al-hafizh Ibn Hajar menguatkan pendapat di atas sebagai berikut:

أَنَّ الدُّعَاءَ بِرَفْعِهِ عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِيْنَ وَقَعَ ذَلِكَ بِبَلَدِهِمْ مَشْرُوْعٌ اِجْتِمَاعًا وَانْفِرَادًا فِي الْقُنُوْتِ خَاصَّةً عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ النَّوَازِلِ. وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ بِمَشْرُوْعِيَّةِ الْقُنُوْتِ فِي النَّازِلَةِ وَمِثْلُهَا الرَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ بِالْوَبَاءِ وَالْقَحْطِ. وَفَسَّرَ جَمَاعَةٌ الطَّاعُوْنَ بِأَنَّهُ الْوَبَاءُ كَمَا تَقَدَّمَ الْبَحْثُ فِي الْبَابِ الْأَوَّلِ فَأَنْتَجَ ذَلِكَ أَنَّهُ يُشْرَعُ الْقُنُوْتُ بِرَفْعِ الطَّاعُوْنِ

Bahwa berdoa untuk menghilangkan wabah dari kaum muslimin di negeri mereka yang dilanda wabah adalah disyariatkan baik secara munfarid atau berjamaah dalam qunut, terkhusus bagi madzhab as-Syafi’i. Imam as-Syafi’i berkata: “Disyariatkan qunut ketika terjadi musibah.” Ar-Rafi’i dan yang lainnya mencontohkan musibah tersebut dengan wabah dan paceklik. Sebagian ulama menafsirkan bahwa tha’un termasuk kategori wabah, sebagaimana pembahasan lalu pada bab pertama. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa qunut untuk menghilangkan wabah disyariatkan. (Badzlul Ma’un fi Fadhlit Tha’un, 1986: 316).

Hemat kami bahwa pembatasan dalam hadits Anas ra di atas bahwa qunut nazilah itu hanya diamalkan untuk mendo’akan laknat untuk satu kaum dan keselamatan untuk kaum lain yang dianiaya lebih jelas untuk dijadikan pegangan. Jadi untuk menghadapi wabah tidak perlu qunut nazilah, masih cukup dengan do’a-do’a memohon perlindungan dari penyakit yang membahayakan pada waktu-waktu ijabah do’a.

Wal-‘Llahu a’lam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *