Ujian dan Kesabaran

3 months ago
1550

Kisah Ummu Salamah memberikan pelajaran terhadap kita tentang hakikat ujian dan kesabaran. Ummu Salamah ditinggal suaminya dalam medan laga peperangan. Tak terbayangkan kesedihan yang menimpa hati Ummu Salamah ketika Sang Suami tercinta Abu Salamah menderita luka-luka yang parah selepas kepulangannya dari Perang Uhud. Suaminya meninggal dalam pangkuannya. Ia harus menjanda dan juga membesarkan anak-anaknya.

Rasulullah saw pun datang berkunjung ke rumah Ummu Salamah untuk bertakziyah agar meredakan kesedihan di hati Ummu Salamah. Rasulullah saw berpesan agar Ummu Salamah bisa tabah, tegar dan sabar dalam menghadapi musibah dan cobaan. “Siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan),” sabda Rasulullah saw.

Rasulullah pun memberikan nasihat kepadanya. Orang yang bersabar dan ikhlas ketika ditimpa suatu kehilangan, maka Allah swt akan memberikan ganti yang lebih baik dari itu. Rasulullah saw pun sempat mendoakan Ummu Salamah, “Ya Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya, dan berilah ia pengganti yang lebih baik untuknya.”

Benar saja, setelah Ummu Salamah menyelesaikan masa iddahnya, ia mendapatkan ganti yang lebih baik atas kehilangan suaminya. Ternyata Rasulullah saw sendiri yang melamarnya. Kebahagian tentunya didapatkan oleh Ummu Salamah. Siapakah figur suami yang lebih baik dari Rasulullah saw?

Demikianlah hakikat orang yang tabah dan sabar ketika ditimpa suatu musibah. Seseorang harus meyakini dan menyadari, bahwa segala sesuatu Allahlah yang mengatur, mulai dari kesedihan, kebahagiaan hingga kematian.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 22 لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ – الحديد: 22-23

 “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S al-Hadiid: 22-23)

Totalitas kesabaran dalam menghadapi ujian harus senantiasa terpatri dalam sanubari kita. Terlebih dewasa ini Allah swt memberikan ujian yang luar biasa terhadap umat manusia termasuk kita umat Islam. Wabah virus yang merajarela telah banyak menghancurkan sendi-sendi kehidupan kita. Telah banyak yang terjangkit virus tersebut bahkan ada yang sudah meninggal dunia. Ini semua adalah ujian bagi kita, apakah kita mampu bersabar dan bertawakal dengan berusaha menghindari virus yang mewabah tersebut atau malah justru kita menjadi orang yang sombong.

Tak ada alasan untuk berduka atas segala cobaan yang menimpa kita, kerena segala sesuatunya Allah swt yang mengatur. Dan tak ada pula alasan untuk berbangga-bangga karena manusia hanya dititipkan harta benda oleh Allah swt. Jangan sampai merasa harta tersebut miliknya semata.

Di balik peristiwa ini, pasti ada hikmah yang besar walaupun kita tentu belum mengetahui apa hikmah tersebut. Tapi yakinlah atas apa yang menimpa tentu ada hikmahnya. Bagi Ummu Salamah, sungguh berat baginya atas kepergian suami tercinta. Siapa yang tak akan berduka di saat orang yang disayangi telah pergi meninggalkan kita. Namun, itulah dunia. Ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

Allah swt berjanji, siapa hambanya yang bersyukur dengan suatu nikmat, maka nikmat tersebut akan ditambah (Q.S Ibrahim:7). Demikian pula siapa yang bersabar akan kehilangan sesuatu, maka Allah swt akan mengganti dengan yang lebih baik.

Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un’ lalu berdo’a, ‘Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya’, melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang lebih baik darinya”. (H.R Muslim)

Jadi, sebesar apa pun musibah yang menimpa kita, yakinlah dengan sabar, ikhlas dan tawakal pasti akan diberikan pahala dari Allah swt. Kemudian, Allah swt berjanji untuk memberikan ganti yang lebih baik dari itu, jika orang yang ditimpa musibah benar-benar sabar dan ikhlas kepada Allah swt.

Inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw. Tidak ada kerugian bagi orang beriman dalam kondisi apa pun ia berada. “Sungguh ajaib urusan orang beriman itu, apa pun yang datang kepadanya semuanya berujung kebaikan. Jika ia diberikan kenikmatan ia bersyukur, itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu pun baik baginya”, jelas Rasulullah saw dalam sabdanya. (H.R Muslim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *