Bersyukur dan Bersabar - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Bersyukur dan Bersabar

6 months ago
272

 عَنْ صُهَيْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

 رواه مسلم

dari Shuhaib, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Perkara orang mu’min itu mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya adalah baik, dan itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali bagi orang mu’min, jika  ditimpa kesenangan dia bersyukur, maka hal itu baik baginya, dan jika ditimpa musibah dia bersabar, maka hal itu baik baginya. (HR. Muslim, juz IV, bab: al-Mu’minu Amruhu Kulluhu Khairun, nomor 2999)

Orang mukmin itu mahluk yang istimewa, karena semua urusannya itu baik baginya. Dalam keadaan bagaimanapun tetap akan bernilai baik. Sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat kagum dan memuji terhadap orang mukmin. Dan hal ini hanya ada diri seorang mukmin, sebagaimana firman Allah SWT:

Jamise Syar'i

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ . (البينة: ٧)

“Sesugguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah ayat 7)

Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis di atas menggunakan redaksi mukmin, bukan muslim. Ini menunjukan bahwa lafadz mukmin lebih tinggi tingkatannya/derajatnya daripada lafadz  muslim. Sebagiamana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ… (الحجرات : ۱٤)

Akhlak seorang mukmin ialah mampu bersabar dikala musibah, cobaan, ujian menimpa dirinya. Dan mampu bersyukur dikala kenikmatan, kesenahan, dan kebahagiaan menimpa dirinya. Kedua sikap itulah, yaitu sabar dan syukur menjadi karakteristik seorang mukmin. Baik dalam keadaan senang atau susah, bahagia atau sedih, lapang atau sempit ia akan senantiasa melakukan amal shaleh. Kondisi apapun dan bagaimana pun tidak akan pernah berpengaruh terhadap amal shaleh yang ia kerjakan. Dan Allah SWT akan memberikan ganjaran surga bagi orang mukmin yang beramal sholih:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ (البروج: ۱۱)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruj ayat 11)

Keutamaan syukur 

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, syukur adalah menampakkan nikmat Allah SWT  dengan mengucapkan pujian dan pengakuan dalam lisannya, menghadirkan keyakinan dan kecintaan dalam hatinya, serta tunduk dan patuh seluruh anggota badannya. (Kunuz Riyadush Shalihin, hal. 389) Allah SWT memerintahkan kepada semua hambanya untuk bersyukur. Karena nikmat Allah itu sungguh sangat banyak sekali dan tidak akan terhitung jumlahnya. Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, mendapatkan berbabagi macam nikmat yang beragam. Maka sangat layak dan pantas bagi manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Syukur itu ada tiga cara, syukur dengan lisan, syukur dengan hati, dan syukur dengan anggota badan. Syukurnya lisan ditandai dengan mengucapkan kalimat thayyibah, banyak berdzikir, membaca al-Quran, tidak berkata-kata kasar, bohong, ghibah dan lain-lain. Syukurnya hati ditandai dengan adanya keyakinan dan kecintaan kepada Allah SWT. Sedangkan syukur dengan anggota badannya ditandai dengan tunduk dan patuh kepada-Nya.

Tegasnya, bahwa ciri seseorang bersyukur adalah meningkatkan kualitas amal shalehnya. Hal ini dilakukan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melaksanakan shalat malam sampai kakinya bengkak, dan itu Nabi lakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah.

وَعَن عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ النَّبيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هذا يا رَسُولَ الله، وَقَدْ غُفِر لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفلا أَكُونُ عَبْداً شَكُوراً. متفق عليه. وَعَنِ المُغِيرَة بنِ شعبةَ نحوهُ، متفقٌ عليه. 

“Dari Aisyah semoga Allah meridoi kepadanya, dia berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bangun di waktu malam untuk melaksanakan shalat malam/tahajjud sampai kedua telapak kakinya pecah-pecah. Maka aku bertanya kepadanya, “Mengapa engkau sampai berbuat seperti ini ya Rasulallah, padahal sungguh dosa-dosamu telah diampuni? Rasulullah menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur.” (HR. Bukhari Muslim)

Allah SWT akan menambahkan nikmat dan karunianya kepada hamba yang bersyukur. Dan ini adalah janji Allah SWT. Dan sebaliknya, bagi mereka yang tidak bersyukur akan mendapatkan siksanya. Jika suatu negeri, penduduknya bersyukur, pasti Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi. Negerinya akan tentram, aman,dan makmur. Sedangkan rakyatnya akan sejahtera. Sebaliknya, jika suatu negeri, penduduknya tidak bersyukur, maka akan diturunkan siksa-Nya, sebagai bentuk peringatan bagi mereka agar mereka bertaubat kepada-Nya.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ. (إبراهيم: ٧)

“Sesungguh­nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim ayat 7)

Terdapat banyak kisah-kisah dalam al-Quran, tentang bagaimana Allah SWT menghancurkan suatu bangsa, disebabkan mereka tidak bersyukur terhadap nikmat dan karunia Allah.

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ. (العاديات: ٦)

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” (Al-‘Adiyat ayat 6)

Ibnu Abbas, Mujahid, Ibrahim An-Nakha’i, Abul Jauza, Abul Aliyah, Abud Duha, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Qais, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Ibnu Zaid telah mengatakan bahwa al-kanud di sana artinya pengingkar. Al-Hasan mengatakan bahwa al-kanud ialah orang yang mengingat-ingat musibah dan melupakan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya. (Syaikh Ahmad Syakir, ‘Umdat at-Tafsir, juz 3, hal.720)

Keutamaan sabar

Ibnu hajar mengatakan bahwa sabar adalah menahan diri dari hal-hal yang dibenci, mengikat lisan dari keluh kesah, dan siap bersusah payah dalam menanggungnya dan mampu menunggu tibanya kelapangan hidup. (Fathul Baari, Juz 11, Bab al-Shabru ‘an mahârimi’Llâh, hal. 342)

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa sabar adalah menahan diri dari kecemasan dan kekecewaan, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari kebingungan. (Kunûz Riyâdish Shâlihîn, juz 1, hal. 383). Kemudian Imam Nawawi membagi sabar itu kepada tiga kategori: pertama, sabar ketika ta’at kepada Allah; kedua, sabar ketika menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah; dan ketiga, sabar ketika mendapat cobaan yang menyakitkan. (Rauhun wa Rayâhin, bab. Al-Shabru, hal. 42)

Sabar merupakan lafadz yang bersifat general dan pemaknaanya sesuai dengan konteks. Berikut pemapara ar-Raghib al-Asfahani:

فإن كان حبس النفس لمصيبة سمّي صبرا لا غير و يضاده الجزع؛ و إن كان في محاربة سمّي شجاعة و يضاده الجبن؛ و إن كان في نائبة مضجرة سمّي رحب الصدر و يضاده الضجر؛ و إن كان في إمساك الكلام سمّي كتمانا و يضاده المذل.

Jika menhan jiwa dalam konteks musibah yang menimpanya, maka dimakan sabar, bukan yang lainnya, sedangkan kebalikannya adalah cemas; jika  sabar dalam konteks peperangan, maka dinamakan dengan pemberani, sedangkan kebalikannya adalah penakut; jika sabar dalam konteks malapetaka, maka dinamakan dengan lapang dada, sedangkan kebalikannya adalah pesimisme; dan jika sabar dalam konteks berbicara, maka dinamakan kitman (menjaga rahasia), sedangkan kebalikannya adalah almadlu (pembocor rahasia). (Ar-Raghib, 2008: 206-207)

Allah menyebutkan bahwa di antara keutamaan sabar adalah akan meraih pahala tanpa batas. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguh­nya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar ayat 10)

Dalam beberapa literatur kitab tafsir dijelaskan bahwa pahala tanpa batas yang dimaksud adalah surga. Hal ini ditegaskan riwayat shahih yang menceritakan tentang kesabaran seorang wanita berkulit hitam yang menderita penyakit epilepsy yang kemudian dijanjikan surga oleh Nabi.

وعن عطَاء بن أبي رَباحٍ، قَالَ: قَالَ لي ابنُ عَباسٍ رضي اللهُ عنهما: ألاَ أُريكَ امْرَأةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّة؟ فَقُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هذِهِ المَرْأةُ السَّوداءُ أتتِ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ: إنّي أُصْرَعُ ، وإِنِّي أتَكَشَّفُ، فادْعُ الله تَعَالَى لي. قَالَ: «إنْ شئْتِ صَبَرتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإنْ شئْتِ دَعَوتُ الله تَعَالَى أَنْ يُعَافِيكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إنِّي أتَكَشَّفُ فَادعُ الله أَنْ لا أَتَكَشَّف، فَدَعَا لَهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Atha bin Abi Rabah ia berkata, “Ibnu Abbas –radhiyaLlahu ‘anhuma- pernah berkata kepadaku, “Maukah aku perlihatkan kepadamu seorang perumpuan yang dijamin masuk surga?” Aku menjawab, “Tentu saja.” Ibnu Abbas berkata, “Perempuan hitam ini pernah mendatangi Nabi –shallaLlahu ‘alaihi wa sallam- sambil berkata, “Aku ini menderita penyakit ayan dan auratku akan tersingkap (ketika penyakit itu kambuh). Berdoalah kepada Allah untuk penyakitku ini.” Nabi bersabda, “Jika kamu mau bersabar, maka bagimu surga. Namun jika kamu sembuh, aku akan berdoa kepada Allah ta’ala untuk kesembuhanmu.” Perempuan itu menjawab, “Aku ingin bersabar.” Lalu ia berkata lagi, “Namu auratku selalu tersingkap (saat penyakit itu kambuh). Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingap.” Maka Nabi pun mendoakannya.” Muttafaq ‘Alaih          

Dalam konteks hari ini, musibah pandemi Covid-19 yang melanda dunia adalah bentuk ujian bagi kaum muslimin. Bagi siapa saja yang mampu sabar, baik yang terdampak ataupun tidak; baik yang tertular maupun tidak; baik yang terkena penyakit Covid maupun tidak, selama ia bersabar dalam situasi sulit seperti ini, maka pahala surga akan menantinya.

Bagi kaum muslimin dianjurkan pula untuk mengucapkan kalimat istirja’, yaitu inna lillahi wa inna ‘ilaihi raji’un. Mengakui dan meyakini bahwa kejadian apapun yang terjadi di bumi ini semuanya merupakan skenario milik Allah; Dia yang menciptakan fenomena seperti ini; Dia pula yang akan mengembalikannya.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan bergembiralah orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS. Al-Baqarah: 155-157) WaLlahu A’lam        

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *