Kemunculan Bintang Tsurayya Akan Mengangkat Segala Wabah, Benarkah?

4 months ago
384

Dunia seakan digemparkan dengan kemunculan wabah atau virus yang disebut dengan Covid-19. Kajian dan pembicaraan terkait masalah ini menjadi ramai mengisi bahasan setiap hari, seakan menjadi momok bagi seluruh warga di dunia. Termasuk pembahasan terkait bintang Tsurayya yang disebutkan dalam Hadis Rasulullah Saw sebagai pembawa angin segar yang akan mengangkat wabah sehingga banyak sekali dari kalangan aktivis dakwah mendakwakan terkait tanda-tanda kemunculan bintang tsurayya yang sering menjadi mitologi.

Diantara aktivis tersebut ketika di tanya “kapankah wabah ini akan berhenti?” mereka menjawab dengan lantang bahwa berhentinya di saat bintang Tsurayya muncul. Ucapan ini disandarkan kepada hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya, Rasulullah Saw bersabda “Apabila suatu saat nanti muncul bintang, di suatu pagi, maka akan diangkatlah segala macam wabah.” Kemudian menafsirkan wabah dalam hadis itu dengan virus corona dengan menukil dari Syekh Ahmad bin Abdurrahman al-Banna as-Sa’ati, pengarang kitab al-Fath ar-Rabbani, bahwa yang dimaksud dengan bintang dalam hadis ini adalah bintang ats-Tsurayya. 

Apa itu bintang Tsurayya dan kapan munculnya?

Tsurayya adalah nama dalam Bahasa Arab untuk gugusan bintang Pleiades. Jika Pleiades adalah nama lain Tsurayya dalam mitologi Yunani, di Persia dikenal sebagai Sorayya, di Babilonia sebagai Mul-mul, di India dengan nama Krittika, di Cina sebagai Mao, di Jepang disebut Subaru, maka di Indonesia di antaranya dengan nama Tujuh Bersaudari.

Galileo Galilei sebagai astronom pertama yang mengamati Pleiades melalui teleskop. Dia mempublikasikan pengamatannya pada Maret 1610 dengan menyebut Pleiades berisi 36 bintang.

Menurut Judhistira Aria Utama dari Laboratorium Bumi dan Antariksa Departemen Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), gugus bintang Pleiades ini berada di arah rasi Taurus yang biasa muncul di awal bulan Juni sebagai tanda musim kering atau musim panas.

Adapun bintang Tsurayya menurut kacamata Hadis adalah bintang yang terbiasa muncul sebagai tanda musim panas, dimana pada saat itu banyaknya wabah hama yang menyerang perkebunan sehingga banyaknya buah-buahan yang buruk. Munculnya bintang Tsurayya sebagai pertanda musim panas, dimana dengan musim panas biasanya hama-hama itu mati. Untuk lebih lanjut akan disampaikan pada bagian terakhir sebagai kesimpulan.

Adapun menurut kalender orang-orang Mesir kuno, Tsurayya ini muncul pada bulan Basyans. Bulan Basyans menurut kalender orang-orang Suryani yang dijadikan acuan masyarakat Irak adalah bulan Ayar. Bulan ini dalam kalender Masehi adalah Mei.

Karena hal inilah adapula yang berpendapat bahwa virus corona ini akan musnah pada bulan Mei seiring munculnya bintang Tsuraya. Namun, apakah hadis ini shahih? Dan apakah hadis ini membicarakan virus corona ataukah membicarakan hal lain?

Kita jelaskan mulai dari aspek derajat hadis hingga maksud dari kemunculan bintang Tsurayya. Berikut teks hadis tersebut termaktub dalam kitab Musnad Ahmad, juz 8 hal. 330 no. 8476 sebagai berikut:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “إذا طلع النجم ذا صباح رفعت العاهة”.

Apabila terbit bintang pada suatu pagi, (pasti) diangkatlah segala wabah (hama / penyakit).

TAKHRIJ HADIS

– -1مسند أحمد ت شاكر (8/ 330)

 8476حدثنا أبو سعيد، ثنا وُهَيْب، ثنا عسل بن سفيان عن عطاء عن أبي هريرة قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “إذا طلع النجم ذا صباح رفعت العاهة”.

 -2الآثار لأبي يوسف (ص: 205)

 917قَالَ: حَدَّثَنَا يُوسُفُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ رُفِعَتِ الْعَاهَةُ عَنْ أَهْلِ كُلِّ بَلَدٍ»

 -3الضعفاء للعقيلي – ت السرساوي (5/ 52)

 4829حَدثنا عَلي بن عَبد العَزيز، حَدثنا معَلى بن أَسَد، حَدثنا عَبد العَزيز بن المُختار، عن عِسل، عن عَطاء، عن أَبي هُريرة، قال: ما طَلَع النَّجمُ.

لَم يَرفَعهُ.

 -5المعجم الأوسط (2/ 78)

 -1305حَدَّثَنَا أَحْمَدُ قَالَ: نا الْجَرَّاحُ بْنُ مَخْلَدٍ قَالَ: نا حَرَمِيُّ بْنُ حَفْصٍ قَالَ: نا وُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ، عَنْ عِسْلِ بْنِ سُفْيَانَ، عَنِ السَّلِيلِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا طَلَعَ النَّجْمُ صَبَاحًا قَطُّ، وَبِقَوْمٍ عَاهَةٌ إِلَّا رُفِعَتْ عَنْهُمْ» لَمْ يَدْخُلْ أَحَدٌ مِمَّنْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عِسْلِ بَيْنَ عِسْلٍ، وَعَطَاءٍ السَّلِيلِ إِلَّا وُهَيْبٌ، وَلَا عَنْ وُهَيْبٍ وَلَا حَرَمِيٍّ، تَفَرَّدَ بِهِ: الْجَرَّاحُ “

 -6مسند أبي حنيفة رواية أبي نعيم (ص: 138)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ شَاذَانَ، ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثَنَا وُهَيْبٌ، ثَنَا عَسَلُ بْنُ سُفْيَانَ، عَنِ ابْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ صَبَاحًا، لَا تَكُونُ عَاهَةٌ إِلَّا رُفِعَتْ إِلَّا حُذِفَ عَنْهُمْ»

 -7الكامل في ضعفاء الرجال

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ نَاصِحٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، قَالَ: حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ أَبِي طَيْبَةَ، عَنْ أَبِي طَيْبَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: ” مَا طَلَعَ النَّجْمُ ذَا صَبَاحٍ، إِلا رُفِعَتْ كُلُّ آفَةٍ وَعَاهَةٍ فِي الأَرْضِ أَوْ مِنَ الأَرْضِ “

 -8المقاصد الحسنة

[1 : 292] وَأَخْبَرَنَا ابْنُ عَدِيٍّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ نَاصِحٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي طَيْبَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: ” مَا طَلَعَ النَّجْمُ ذَا صَبَاحٍ إِلا رُفْعِتْ كُلُّ آَفَةٍ وَعَاهَةٍ فِي الأَرْضِ، أَوْ مِنَ الأَرْضِ “

POHON SANAD

Hasil Takhrij Hadis ini menunjukan bahwa periwayatan hadis terkait munculnya bintang yang akan mengangkat al-‘aahah terbagi kepada dua bagian, yaitu hadis yang Marfu dan hadis yang Mauquf, namun sumber dari keduanya sama.

ANALISIS SANAD

  1. Jalur Marfu’

Sanad hadis marfu, memiliki dua jalur periwayatan, yaitu dari Abu Hurairah dan Abi Sa’id al Khudri.

Pertama, Jalur Abu Hurairah. Jalur ini memiliki bebeapa kecacatan,

  1. Terdapat Rawi ‘Isl ibn Sufyan

Ibn Hibban berkata: Isl bin Sufyan terdapat kesalahan dalam periwayatannya dan hadisnya menyalahi periwayatan yang lain disebabkan sedikit periwayatannya. (al-Tsiqat 7/292)

Ibn ‘Adiy berkata: ‘Isl bin Sufyan sedikit hadisnya, disamping dhaif namun haditsnya masih dicatat. (al-Laamil al-Dhu’afa 7/91)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: beliau (‘Isl bin Sufyan) bukan termasuk rawi yang kuat dalam hadisnya. (Tahdzib al-Kamal 3/98)

Abdurrahman berkata: aku bertanya kepada bapakku (Abu Hatim) tentang ‘Isl bin Sufyan, beliau berkata: ia (‘Isl bin Sufyan) adalah Munkarul Hadis (al Jarh wa al Ta’dil (7/42)

Imam al-Bukhari berkata: ‘Isl bin Sufyan meriwayatkan hadis yang nakarah (Tahdzib al-Kamal 3/98). Di lain tempat beliau berkata: fiihi nazhar (Hadis-hadisnya perlu diteliti lagi). (Ikmal Tahdzib al-Kamaal 9/236)

Jika imam al-Bukhari menyatakan bahwa rawi tersbeut fiihi nazhar, maka hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah dan tidak bisa dijadikan mutaba’ah.

Kemudian, terjadi Idhtirab, dalam kitab Mu’jam al Ausath  ‘Ishl menerima dari al-Saliil kemudian kepada Atha. Sedangkan dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, ia langsung menerima dari ‘Atha.

Terdapat Muttabi’ Abu Hanifah dari jalur lain, namun Abu Hanifah pun tidah bisa di jadikan hujjah.

Ibn ‘Addi berkata: Beliau (Abu Hanifah) meriwayatkan dari Waki’, Yazid bin Harun, Muhammad bin al-Hasan, Ja’far ibn ‘Aun, al-Muqri dan yang lainnya. Dan beliau tidak memiliki hafalan kuat dari ‘Atha. Periwayatannya sama dengan ‘Isl dari ‘Atha terdapat periwayatan yang Musnad (sampai pada Nabi) dan Mauquf (hanya sampai pada sahabat). ‘Isl maupun Abu Hanifah keduanya rawi lemah, ‘Isl bersama kelemahannya lebih baik hafalannya daripada hadis Abu Hanifah. (al-Kamil al-Dhu’afa 8/233)

Yahya ibn Ma’in memandangnya Tsiqah, shaduq dalam Hadis dan Fikih. (Tahdzib al Kamal 12/56)

Yahya ibn Sa’id al-Qathan pernah ditanya, bagaimana keadaan beliau dalam hadis? beliau menjawab: ia bukan termasuk shahib al Hadis. (a;-Kaamil fi al-Dhu’afa 8/233)

Al Nasai berkata: Abu Hanifah dari Kufah, ia tidak kuat dalam hadisnya. (Al Kaamil fi al-Dhu’afa 8/233)

Dari berbagai penilaian, tentunya mengacu kepada qaidah Jarh yang mufassar lebih didahulukan daripada ta’dil. Dengan demikian, periwayatan Abu Hanifah tidak bisa dijadikan hujjah, ditambah jalur ini idhtirab karena terdapat hadis mauqufnya.

Kedua, Jalur Said al Khudri, jalur inipun memiliki beberapa kecacatan, yaitu terdapat 2 orang Rawi yang dhaif

  1. ‘Athiyah

Imam al-Daraquthni mengatakan: ia rawi dhaif dan mudhtrib al-Hadis. Al-Hafizh Ibn Hajar menyimpulkan dalam Taqribnya: Shaduq banyak sekali kekeliruan dalam periwayatannya.

  1. Ibn Abi Laila

Imam al-Daraquthni berkata: Tsiqah, hafalannya kurang. Di lain tempat ia berkata: hafalannya jelek dan banyak sekali kesalahan dalam periwayatannya. Di lain tempat ia berkata: ia tidak hafizh. Dalam sunannyaa ia berkata: Dhaiful hadits hafalannya buruk. (lihat tahdzib al-Kamal)

Kemudian terjadi Idhtirab, dimana Ahamd ibn Abi Thayibah menerima dari Abi thayyibah kemudian dari Ibn Abi Laila

Dengan demikian, jalur ini tidak bisa menguatkan malah menambah beban kedhaifan karena keidhtiraban rawi-rawi lemah.

  1. Jalur Mauquf

Jalur mauquf ini bersumber dari Atha’, ia menerima dari Abu Hurairah.

Atha meriwayatkan kepada ‘Ishl dan Abu Hanifah, sesuai Tajrih Ibn Adi’, bahwa keduanya rawi lemah yang periwayatannya tidak jelas sehingga terdapat hadis yang musnid dan mauqif, ditambah adanya kelemahan yang amat sangat, maka jalur mauquf ini lebih membuktikan akan kedhaifannya hadis ini.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpilan bahwa hadis ini terdapat 2 jalur:

  1. Hadis marfu
  2. Hadis mauquf

KESIMPULAN

Baik hadis marfu atau Hadis yang mauquf, keduanya dhaif, tidak bisa dijadikan Hujjah.

Lantas, apa makna kalimat al-‘Aahah dan kenapa harus bintang Tsuraya?

Jawab:

Sebagaimana telah dijelaskan, dari Utsman bin Abdullah bin Suraqah yg bertanya kepada Ibnu Umar tentang penjualan buah yang berpenyakit, maka dia berkata: “Rasulullah melarang menjual buah-buahan sehingga hilang penyakit (‘ahah)-nya. Saya bertanya, “Kapan itu?” Rasulullah berkata, “Sampai terbitnya bintang Tsurayya.” Mengapa Tsurayya?

Hadis yang terkait dengan bintang Tsurayya berkaitan dengan al’-Aahah buah-buahan, sedangkan hadis yang terkait dengan ‘ahah hewan atau unta, tidak dikaitkan dengan terbitnya Tsurayya. Hanya disebutkan agar unta yang sakit tidak dicampur dengan unta yang sehat. Hadis tentang ‘ahah buah-buahan menjelaskan tentang fakta pada masa Rasulullah (abad ke-7 Masehi) di Hijaz, bahwa ada penyakit/hama yang biasa menyerang buah-buahan yang kadang menyerang perkebunan pada musim dingin, tetapi biasanya akan hilang pada awal musim panas.

Dikuatkan pula oleh informasi yang sebenarnya disebutkan dalam syarah al-Sa’ati juga, bahwa munculnya bintang Tsurayya pada awal shaif (musim panas) itu sebagai tanda saja musim panas di tanah Hijaz  telah memuncak (isytidati al-harr fi bilad al-Hijaz) dan permulaan matangnya buah (ibtida’ nadhj al-tsamar). Bukan karena Tsurayya maka panas bumi meningkat dan penyakit tumbuhan mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *