

Covid-19 atau lebih sering disebut dengan virus corona, kini menjadi permasalahan hampir seluruh Negara di dunia. Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei China, kini telah tersebar ke lebih dari 200 Negara di dunia. Negara maju atau bahkan Negara berkembang, hari ini sama-sama sedang menghadapi pandemi virus corona yang menyebar secara masif. Data yang dirilis worldometers.info (Kamis, 7/5/20), ada 3.849.046 kasus positif corona di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 265.908 kasus dan total pasien yang sembuh 1.317.902 kasus. Di Indonesia sendiri, hingga kamis (7/5/20) tercatat 12.776 kasus positif dengan angka kematian mencapai 930 kasus dan angka kesembuhan 2.381 kasus.
Kebijakan-kebijakan penanganan kasus virus corona telah diupayakan oleh pemimpin-pemimpin di berbagai Negara. Kebijakan Lockdown atau di Indonesia dikenal dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), rapid test secara masal, dan berbagai kebijakan lain dilakukan untuk menekan penyebaran virus corona yang semakin luas. Tidak heran, jika pandemi virus corona ini menjadi pusat perhatian di berbagai Negara, karena dalam sejarahnya pandemi atau wabah yang menular secara masif tercatat menjadi pembunahan masal yang efektif.
Catatan sejarah menunjukkan berbagai pandemi atau wabah yang pernah terjadi, di beberapa kesempatan wabah tersebut membunuh jutaan penduduk bumi di seluruh dunia. Dilansir kompas.com (22/3/20) dalam catatan sejarah pernah terjadi beberapa peristiwa pandemic di dunia, diantaranya;
- Wabah Justinian
Wabah ini terjadi pada masa pemerintahan Justinianus I yang merupakan kaisar kerajaan Bizantium di abad ke-6. Pada masa pemerintahan Justinianus I tersebut, terjadi sebuah wabah pes yang dikenal sebagai wabah Justinian. Wabah ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang disebarkan melalui gigitan kutu tikus. Menurut alodokter.com (29/10/18) bakteri penyebab pes akan tumbuh dan berkembang di kerongkongan kutu. Ketika kutu tersebut menggigit kulit hewan atau manusia dan mengisap darah dari tubuh inang, maka pada saat itulah bakteri keluar dari kerongkongan kutu dan masuk ke kulit.
Bakteri tersebut kemudian akan menyerang kelenjar getah bening hingga menyebabkan bagian ini mengalami peradangan. Setelah itu, penyakit pes dapat menyebar ke organ tubuh yang lain. Meski jarang terjadi, terkadang bahkan bisa menyebar sampai ke selaput otak. Pandemi yang terjadi pada masa pemerintahan Justinianus I ini diperkirakan telah menewaskan antara 30 hingga 50 juta orang atau setara dengan setengah populasi dunia. Akibat penyakit tersebut, sebagian besar perdagangan terhenti dan kekaisaran melemah. Belum ada penjelasan bagaimana wabah tersebut berakhir, namun kemungkinan sebagian besar orang mampu bertahan hidup di tengah wabah dan memiliki kekebalan tersendiri dari virus tersebut.
- Black Death (Wabah Maut Hitam)
Wabah yang terjadi sebelumnya pada masa Justinianus I yang diakibatkan bakteri Yerisinia pestis, kembali hadir 800 tahun kemudian tepatnya antara tahun 1347 dan 1351. Wabah pes tersebut menyebar ke seluruh Eropa dan menewaskan sekitar 25 juta orang, bahkan menurut nationalgeographic.grid.id (Kamis, 2/4/20) dalam kurun waktu empat tahun wabah ini menewaskan lebih dari 200 juta orang. Pandemi ini kemudian dikenal sebagai Black Death dan menjadi awal menurunnya perbudakan karena begitu banyak orang meninggal.
Belum ada bukti yang jelas tentang bagaimana wabah ini berakhir. Namun, menurut para ahli ini berkaitan dengan jarak. Sebab, para pejabat di kota pelabuhan Ragusa yang berada dibawah kekuasaan Venesia memutuskan untuk mengisolasi para pelaut yang baru datang di pelabuhan hingga terbukti tidak sakit. Para pelaut tersebut ditahan di atas kapal mereka selama 30 hari dan seiring berjalannya waktu ditambah menjadi 40 hari dan dikenal dengan quarantino yang menjadi asal mula dari karantina yang hari ini banyak dilakukan pemimpin dunia saat menghadapi wabah.
- Cacar
Cacar dikenal sebagai penyakit baru yang dibawa orang-orang Eropa ketika pertama kali tiba di benua Amerika pada tahun 1492. Penyakit tersebut menular dan menewaskan sekitar 30 persen dari mereka yang terinfeksi atau menewaskan tiga orang dari sepuluh orang yang terinfeksi dan meninggalkan bekas luka. Orang-orang yang terinfeksi cacar mengalami gejala demam tinggi, menggigil, dakit punggung, dan ruam (red: perubahan pada tekstur kulit berupa bintil-bintil merah). Selama periode tersebut, cacar merenggut nyawa sekitar 20 juta orang atau hampir 90 persen dari populasi di Amerika saat itu. Cacar menjadi epidemi virus pertama yang diakhiri dengan vaksin, ketika tahun 1770 seorang dokter asal Inggris, Edward Jenner mampu mengembangkan vaksin dari cacar sapi. Vaksin tersebut membantu tubuh untuk memiliki imun terhadap cacar air tanpa menimbulkan penyakit.
- Kolera
Pandemi kolera pertama terjadi di Jessore, India dan menyebar ke sebagian besar wilayah hingga daerah tetangga. Kolera disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae. Bakteri kolera hidup di alam bebas, terutama di lingkungan perairan seperti sungai, danau, atau sumur. Penyakit ini sendiri disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi oleh bakteri tersebut. Ketika infeksi bakteri kolera terjadi, bakteri akan berkembang biak di dalam usus kecil. Perkembangbiakan bakteri kolera ini akan mengganggu pencernaan manusia dengan cara mengganggu penyerapan air dan mineral. Gangguan ini menyebabkan seseorang mengalami diare, yang menjadi gejala utama penyakit kolera.
Oleh karena itu, wabah kolera sangat membahayakan negara-negara dengan kesenjangan yang tinggi, kemiskinan, tingkat kesehatan rendah dan pembangunan sosial yang kurang. Wabah yang dimulai thaun 1961 ini, menurut WHO masih berlanjut hingga hari ini. Dilaporkan 1,3 juta hingga 4 juta orang setiap tahun terinfeksi wabah Kolera, dengan kematian tahunan berkisar antara 21.000 hingga 143.000.
- Flu Spanyol (H1N1)
Flu Spanyol atau juga dikenal sebagai pandemi influenza pada 1918, adalah wabah virus H1N1 dengan gen asal ungags. Dilaporkan bahwa sekitar 500 juta orang terinfeksi oleh wabah tersebut dengan angka kematian mencapai 50 juta orang. Dalam kurun waktu satu tahun, yakni antara 1918 hingga 1919 wabah tersebut menyebar ke seluruh dunia. Meski wabah ini dinamai Flu Spanyol, tetapi wabah ini pertama kali muncul di angkatan militer Amerika Serikat pada musim semi tahun 1918. Pada musim panas 1918, wabah ini dengan cepat menyebar hingga ke Eropa seperti Jerman, Prancis, hingga Austria.
Flu Spanyol sendiri masuk ke Inggris pada bulan Juli 1918. Penyakit ini mengakibatkan beberapa pabrik kekurangan pekerja karena laporan infeksi yang tinggi dalam satu hari. Sekolah-sekolah melaporkan banyak siswa-siswa yang sakit dan tidak hadir. Upaya penanganan wabah ini dilakukan pemerintah dengan menghimbau masyarakat untuk tidak berjabat tangan, beraktivitas di dalam rumah, dan menggunakan masker. Sekolah dan tempat umum seperti teater juga ditutup untuk menghindari perkumpulan massa dan penyebaran wabah yang semakin luas. Departemen Kesehatan New York, bahkan membuat sebuah aturan tentang meludah di jalan-jalan termasuk perbuatan Ilegal.
Gejala yang dialami dari wabah ini seperti halnya flu dengan gejala tambahan berupa sakit kepala, kelelahan, dan batuk kering. Kemudian di hari kedua, orang yang terinfeksi juga akan mengalami penurunan nafsu makan, masalah pada bagian perut, hingga keringat berlebihan. Setelah itu, virus tersebut akan menyerang organ pernapasan sehingga menyebabkan pneumonia yang mengakibatkan seseorang menjadi sulit bernapas.
- SARS
SARS atau Severe Acute Respiratory Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh salah satu jenis coronavirus yang dikenal dengan SARS-associated coronavirus (SARS-CoV). Coronavirus merupakan kelompok virus yang bisa menginfeksi saluran pernapasan. Saat terinfeksi virus ini, biasanya akan terjadi gangguan pernapasan mulai dari ringan sampai berat. Bahkan SARS ini termasuk jenis penyakit pneumonia yang merupakan penyakit pada paru-paru ketika alveolus yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi cairan.
Wabah ini pertama kali ditemukan di Provinsi Guangdong, China pada tahun 2003 dan menjadi pandemi global saat menyebar ke 26 negara, menginfeksi 8.000 orang, serta menewaskan 774 di antaranya. Kurang lebih 10% penderita SARS meninggal dunia dengan salah satu gejala yang sering dialami seluruh pasien ialah demam di atas 38 derajat celsius.
Seseorang yang terinfeksi SARS-CoV biasanya juga menunjukkan serangan sakit kepala, diare, batuk, demam, lemas, nyeri otot, dan menggigil pada minggu pertama hingga minggu kedua infeksi penyakit. Gejala ini mirip sekali dengan gejala Influenza, sehingga tidak heran pada awalnya pemerintah China menduga wabah ini sama dengan Influenza. Wabah SARS termasuk kategori penyakit menular. Penularan SARS terjadi saat seseorang tidak sengaja menghirup percikan air liur atau droplet yang dikeluarkan oleh penderita SARS saat bersin atau batuk.
- Flu Babi
Flu Babi merupakan bentuk baru dari virus influenza yang muncul di tahun 2009. Wabah ini diperkirakan menular dengan berpindah dari babi ke manusia. Flu babi pertama kali terdeteksi di Amerika Serikat dan menginfeksi sekitar 60,8 juta orang di AS, dengan kematian global antara 151.700 hingga 575.400. lebih dari 80 persen kematian akibat virus Flu Babi terjadi pada orang yang berusia kurang dari 65 tahun dengan karakteristik flu yang berbeda dari flu biasanya. Pandemi ini menyebar dengan begitu cepat ke berbagai Negara.
Menurut alodokter.com (12/4/20) Flu babi dapat menular dengan cepat. Penularan penyakit ini terjadi saat orang sehat menghirup percikan cairan saluran pernapasan (droplet) penderita saat bersin atau batuk. Gejala dari wabah ini baru akan dirasakan 1–4 hari setelah tertular virus flu babi. Flu babi lebih mudah terjangkit pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem imun yang lemah.
- Ebola
Dikutip dari www.chp.gov.hk (8/11/19), wabah virus Ebola disebabkan oleh infeksi virus Ebola yang tergolong dalam famili Filoviridae. Pada manusia, tingkat kematian kasus Ebola rata-rata 50% (bervariasi dari 25% hingga 90% dalam kasus wabah sebelumnya). Wabah Ebola pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 di Sudan Selatan dan Republik Demokrasi Kongo, yaitu di sebuah desa dekat Sungai Ebola, yang menjadi sumber nama penyakit ini. Wabah Ebola yang terjadi di Afrika barat pada bulan Maret 2014 hingga Januari 2016 adalah wabah terbesar sejak virus Ebola pertama kali ditemukan pada tahun 1976. Pada bulan Agustus 2018, wabah Ebola dilaporkan ada lebih dari 3000 kasus yang dilaporkan per Oktober 2019 di Republik Demokrasi Kongo.
Kurang lebih 11.325 orang meninggal dunia dari 28.600 orang yang terinfeksi, dengan sebagian besar kasus di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone. Dikutip dari alodokter.com (27/2/19), bahwa penyebaran virus Ebola diduga bermula dari interaksi antara manusia dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar, monyet, atau simpanse. Setelah itu, penularan virus mulai terjadi antar manusia. Darah atau cairan tubuh dari penderita dapat masuk ke dalam tubuh orang lain melalui luka pada kulit atau lapisan dalam hidung, mulut, dan dubur.
Selain itu, virus Ebola juga dapat menular melalui kontak dengan benda yang telah terkontaminasi oleh cairan tubuh penderita, seperti pakaian, seprai, perban, dan jarum suntik. Namun demikian, Ebola tidak ditularkan melalui udara, atau melalui gigitan nyamuk. Penderita Ebola juga tidak dapat menularkan virus ke orang lain hingga gejala penyakit muncul.
- Flu Burung
Dilansir Harian Kompas (24/1/2004), wabah flu burung pertama kali teridentifikasi di Italia pada 1878. Tetapi baru dikenali dalam wabah besar yang melanda peternakan ayam di Amerika Serikat (AS) pada 1924-1925 dengan penularan yang terjadi hanya pada unggas. Pada Maret 1997, flu burung dari subtipe H5N1 mulai menjangkiti peternakan ayam di Hongkong. Dua bulan kemudian, flu burung tersebut menular kepada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun hingga meninggal dunia.
Setelah itu, 17 orang terjangkit virus yang sama di Hongkong pada Desember 1997. Pemerintah kemudian melakukan pembinasaan masal 1,5 juta ayam sebagai upaya penanganan dan pencegahan yang lebih luas dari flu burung tersebut. Virus tersebut, membuat 17 orang yang terjangkit flu burung menderita komplikasi berat, seperti pneumonia dan radang selaput otak. Lima di antaranya akhirnya meninggal sehingga total korban meninggal mencapai enam orang. Pada Februari 2003, virus H5N1 kembali menyerang Hongkong dan menulari dua orang. Salah satu korban kemudian meninggal.
Kemampuan Virus H5N1 yang bermutasi dengan cepat membuatnya menjadi perhatian utama para ahli. Virus tersebut juga mampu berubah menjadi beberapa subtipe virus yang baru sehingga dapat menular ke spesies lain, termasuk manusia. Di Indonesia sendiri, penyakit flu burung menyebabkan kematian 10 juta ayam petelur. Penyakit tersebut mulai merebak sejak Oktober 2003 dan menyebabkan kematian ayam petelur di daerah Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.
- MERS
Wabah MERS atau Middle East Respiratory Syndrome coronavirus merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh virus corona berkode MERS-CoV. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada tahun 2012. Kasus MERS yang khas meliputi demam, batuk dan atau sesak nafas. Pneumonia juga umum terjadi akibat MERS ini, tetapi beberapa orang dengan infeksi virus MERS juga telah dilaporkan tidak menunjukkan gejala. Beberapa penderita juga menunjukkan adanya gejala gastrointestinal termasuk pula diare.
Tingkat kematian orang dengan virus MERS adalah sekitar 35 persen namun mungkin jumlah tersebut bisa jadi lebih tinggi karena kasus-kasus ringan yang mungkin terlewatkan oleh sistem pengawasan yang ada. MERS telah dilaporkan di 27 negara sejak 2012 dengan sekitar 80 persen kasus manusia dilaporkan oleh Kerajaan Arab saudi. Terdapat lebih dari 1.600 kasus MERS dengan tingkat kematian 36%.
Orang yang terinfeksi MERS, beberapa tidak menunjukkan gejala apapun. Setelah masa inkubasi selama kurang lebih 5 hari, pasien yang terinfeksi akan mulai batuk dan demam yang kemudian dapat berkembang menjadi gagal pernapasan dalam seminggu. Sedangkan pada kasus yang bergejala, umumnya mirip dengan gejala infeksi virus normal, yaitu Demam, Batuk, dan Napas pendek. Selain itu, beberapa orang juga mengalami diare dan mual/muntah. Banyak orang yang terjangkit MERS mengalami komplikasi yang lebih parah, seperti pneumonia dan gagal jantung.
Dari data-data diatas, catatan-catatan sejarah yang ada menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 hari ini bukanlah pandemi pertama yang terjadi di dunia. Sebab, jauh sebelum saat ini telah terjadi banyak kasus yang berkaitan dengan wabah yang menular secara luas dan masif, bahkan dengan tingkat kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Covid-19. Hari ini, dengan tingkat mobilitas warga dunia yang semakin luas, memperbesar kemungkinan penyebaran pandemi yang tentu jauh lebih luas juga.
Namun, upaya penanganan wabah ini perlu dilakukan bersama oleh berbagai pihak dengan kebijakan yang saling bersinergi sebagai upaya penanganan Covid-19. Belajar dari pandemi-pandemi yang pernah terjadi, hal yang paling mungkin dilakukan saat ini adalah memutus mata rantai penyebaran wabah terlebih dahulu untuk meminimalisir lonjakan pasien positif Covid-19, seperti upaya karantina wilayah dan pembatasan aktifitas dengan mengurangi perkumpulan masa dalam jumlah yang banyak. Selain itu, rapid test secara masal yang dilakukan berguna untuk memetakan penyebaran Covid-19.
Penanganan yang cepat, fasilitas kesehatan yang memadai, dan tenaga kesehatan menjadi kunci penting dalam upaya penyelesaian kasus Covid-19 saat ini. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk berupaya bersama dalam menangani wabah Covid-19 juga memiliki peranan yang penting dalam menghadapi wabah ini. Tidak menutup kemungkinan, selepas pandemi ini dunia akan menghadapi pandemi yang lebih serius lagi. Akan tetapi, wabah Covid-19 yang terjadi perlu menjadi pelajaran bagi dunia untuk lebih bersiap menghadapi kemungkinan wabah yang akan datang. Sebagai seorang yang beriman, selepas segala ikhtiar yang dilakukan tentu harus disempurnakan dengan tawakkal pada Allah Swt. Tiada yang menimpa seorang manusia pun, kecuali semua karena izin Allah Swt.
Wallahua’lam bish shawab.













