Dalam Keadaan Apapun Shadaqah Harus Diamalkan - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Dalam Keadaan Apapun Shadaqah Harus Diamalkan

4 months ago
602

Umat Islam Indonesia mengenalnya sebagai sejarawan Muslim yang concern pada upaya islamisasi sejarah, terutama untuk bahan pengajaran di dunia pendidikan menengah dan atas. Tetapi di balik itu, cendekiawan muda yang juga perintis Ma’had ‘Ali dan STAI Persatuan Islam Garut ini juga dikenal sebagai pengusaha muda muslim. Berbagai jenis usaha telah berhasil dijalankannya. Maka dari itu tidak heran kalau kemudian pandangan-pandangannya dalam hal ekonomi terutama yang kaitannya dengan shadaqah juga sering ditunggu umat. Termasuk dalam hal kaitannya dengan ibadah qurban yang bertepatan dengan pandemi Covid-19 seperti saat ini. Majalah TAFAQQUH berkesempatan mewawancarai beliau di tengah-tengah kesibukannya. Selamat membaca.

 

Bagaimana pandangan ustadz agar seorang muslim tetap bisa berqurban di masa pandemi ini? Sedangkan kemungkinan besar pada tahun ini mustahiq akan jauh lebih banyak.

Memang selama tiga bulan ini ekonomi dunia termasuk Indoneisa mengalami cukup penurunan yang tajam. Biasanya ekonomi Indonesia tumbuh antara 5-7% yang artinya normal, namun saat ini hanya tumbuh 3% saja. Hal ini menyebabkan banyak pengangguran dan pengurangan penghasilan di semua sektor. Bahkan di negara China dan Amerika sampai mengalami minus, sehingga mereka menyubsidi beberapa sektor terutama pangan.

Kalau kita lihat penurunan tingkat kemampuan masyarakat ini, mereka pasti akan pilih kasih dalam kemampuan mereka melakukan aktifitas ekonomi yang lain termasuk bershadaqah. Namun jika dilihat dari sisi shadaqahnya orang Indonesia walaupun dalam keadaan sulit shadaqah mereka masih tetap berjalan. Ada survei yang menyatakan bahwa 92% responden yang disurvei itu mereka masih tetap bershadaqah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih besar semangat bershadaqahnya. Walaupun kemungkinan berkurang nominal shadaqahnya dikarenakan masa pandemi ini sedang sulit, juga karena penurunan ekonomi yang terjadi saat ini.

Lantas bagaimana mengenai ‘Idul Adlha? Kemungkinan besar karena ekonomi yang terus menurun jumlah orang yang berqurban akan berkurang dan tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Hal ini sudah diprediksi sejak awal karena memang situasi ekonomi yang tadi telah disebutkan. Kemungkinannya kurang lebih 30-40% orang yang berqurban akan berkurang.

Bagi kita sebagai kaum muslim dalam keadaan apapun shadaqah harus dikerjakan. Baik dalam keadaan lapang atau luas rezekinya, juga dalam keadaan sulit. Tapi tentu ini menyesuaikan dengan kemampuan kita masing-masing. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang mengatakan bahwa “Siapa yang mempunyai kesempatan rezeki maka dia diharuskan untuk berqurban.” Jadi artinya bagi orang yang lapang rezekinya tetap dalam situasi seperti ini anjuran Rasulullah saw tidak berubah. Akan tetapi bagi orang yang dalam situasi ini betul-betul tidak ada sama sekali maka dia boleh menerima pemberian dari orang-orang yang berqurban. In sya`a-‘Llah karena situasinya tentang masalah ekonomi bukan tentang menurunnya semangat bershadaqah dari masyarakat, bisa kita maklumi bersama.

 

Kalau dilihat dari gambaran kacamata sejarah mengenai wabah yang melanda dari masa ke masa kaitannya dengan ibadah kaum muslimin berupa materi itu tetap meningkat atau bagaimana Ustadz?

Jika dilihat dari data mungkin akan sulit karena waktu itu memang tidak ada laporan secara khusus tentang pengumpulan shadaqah. Namun dilihat dari kebijakan ‘Umar bin Khattab ketika terjadi wabah atau musim paceklik pada tahun 18 Hijriah yang dioptimalkan oleh khalifah ‘Umar adalah Baitul Mal; tempat orang-orang mengumpulkan shadaqah. Baitul Mal mampu mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi di Madinah walaupun tidak dapat menyelesaikan seratus persen. Jika situasi masih terlihat paceklik dan Baitul Mal masih bisa membantu masyarakat, hal itu menandakan bahwa yang bershadaqah masih sangat banyak. Apalagi pada zaman itu bagi umat Islam sudah terbiasa mengorbankan apa yang dimilikinya untuk jihad dan kepentingan sesama.

‘Umar bin Khattab sebagai Khalifah, beliau mengatakan tidak akan memakan makanan yang enak dan memakai baju yang bagus sebelum paceklik ini usai. Musim paceklik yang dialami pada masa itu sekitar sembilan bulan hampir satu tahun lamanya. Beliau melaksanakan apa yang menjadi tekadnya. Ketika masyarakat makan gandum dan kurma saja, padahal saat itu beliau bisa memakan daging yang enak, beliau memilih mengikuti makanan yang dimakan masyarakatnya, supaya beliau merasakan beginilah situasi ketika paceklik. Padahal sebagai Khalifah tentu beliau bisa saja hidup normal karena ada persediaan cadangan kas negara. Namun beliau tidak memanfaatkannya untuk kesenangan dirinya sendiri. Sifat zuhud dan wara’ yang dimiliki beliau ini menyebabkan masyarakat optimis bahwa ‘Umar bin Khattab sebagai Khalifah bisa menangani situasi paceklik yang sedang terjadi saat itu.

Khalifah ‘Umar sampai mengarahkan kas negara untuk membeli bahan makanan dari Mesir, karena di daerah dekat sungai Nil pertanian di sana masih bagus. Di daerah-daerah Arab seperti Syiria, Hijaz, Najed, dan hampir semua daerah pertanian kering. Sehingga Khalifah ‘Umar mencari di Mesir. Kemudian untuk mempercepat bahan makanan sampai ke daerah-daerah pemerintahan ‘Umar bin Khattab saat itu, beliau sampai membangun satu saluran dengan menggali karang-karang supaya bisa dilewati kapal di laut merah karena aksesnya yang dekat antara Mesir ke Hijaz. Beliau tidak menghambur-hamburkan uang negara untuk kepentingan pribadi dan pejabatnya. Bila dilihat dari kisah ini, semangat tolong menolong para shahabat sangat luar biasa.

 

Menurut Ustadz, dalam situasi seperti sekarang ini, lebih baik qurban di daerah pelosok atau di daerah sendiri?

Tentu saja qurban itu lebih utama dilaksanakan di tempat kita tinggal. Seperti halnya shadaqah yang harus lebih mengutamakan masyarakat yang ada di sekeliling kita. Jangan sampai orang lain yang jauh di luar sana mendapatkan manfaat shadaqah kita, tapi di lingkungan sekitar kita orang-orang yang kekurangan tidak mendapatkan manfaat dari kita. Oleh sebab itu walaupun kita diperbolehkan shadaqah lintas daerah atau wilayah tetapi prioritasnya tetap yang terdekat terlebih dahulu. Sama hal nya dalam berqurban, lihat dulu lingkungan sekitar kita. Apabila yang qurban sudah banyak berlimpah baru sebaiknya kita qurban di tempat lain saja yang qurbannya masih kurang dan jarang. Jadi intinya melihat situasi dan kondisi terlebih dahulu.

 

Berkaitan dengan protokol penyembelihan hewan qurban yang dikeluarkan oleh Pemerintah ketika masa pandemi dan oleh sebagian masyarakat  dirasa sulit melaksanakannya. Bagaimana cara menyikapi hal ini menurut Ustadz?

Melakukan sifat kehati-hatian boleh saja dan sisanya bertawakkal kepada Allah swt. Apa yang disarankan Pemerintah ini bukan suatu keburukan maka menaatinya pun menjadi suatu kebaikan. Namun persoalannya jangankan menaati aturan Pemerintah, dalam menaati aturan dari Allah swt pun ketentuannya sama. Allah memerintahkan kita taat kepada Allah swt itu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Begitu halnya dengan protokol penyembelihan qurban dari Pemerintah. Kita bisa laksanakan dengan semampu kita. Di luar batas-batas yang tidak bisa kita lakukan menjadi masyaqqah (kesulitan) yang bisa melonggarkan aturan itu. Protokol ini pun tidak boleh menjadi alasan tidak jadinya qurban. Hal itu hanya saran dari Pemerintah. Bisa kita kerjakan dan bisa kita siasati jika sangat menyulitkan.

 

Apa pesan dari Ustadz untuk kaum muslim yang berada di tengah pandemi agar bisa tetap beribadah?

Pertama, tahun ini ibadah haji bagi orang-orang Indonesia tidak bisa diberangkatkan. Mungkin di Saudi pun tidak bisa menyelenggarakan dalam jumlah yang besar. Sehingga jumlah jama’ah haji yang sangat banyak dan sudah melunasi ongkos ibadah haji saat ini, dapat meluangkan sebagian rezekinya untuk berqurban. Mudah-mudahan tahun ini ada penambahan ratusan ribu orang yang berqurban. Karena jama’ah haji Indonesia ada kurang lebih tiga ratus ribu. Penambahan ini sangat diharapkan karena yang biasanya jama’ah haji pergi ke Makkah dan menyembelih hadyu di sana bisa menyalurkan rezekinya untuk bershadaqah dan berqurban di sini. Hal ini agar dapat menutupi orang-orang yang tidak jadi berqurban karena masalah ekonomi.

Yang kedua, sebagai umat Islam kita harus yakin salah satu cara untuk mencegah terjadinya wabah itu dengan shadaqah. Rasulullah saw bersabda “Shadaqah itu akan mencegah kita terkena wabah.” Mudah-mudahan dengan shadaqah kita ini justru akan menjadi wasilah hilangnya segera wabah Covid-19 dari Negeri kita. Dan mudah-mudahan karena shadaqah kita dapat terlindungi dari wabah. Jadi jangan takut bershadaqah pada situasi seperti ini. Walaupun sedang menghadapi suatu wabah semacam ini, tetap harus menyisihkan sebagian rezeki kita untuk berqurban.

Wal-Llahu a’lam

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *