Futuh Mekah Simbol Kemerdekaan Sejati

2 months ago
760

Sepuluh ribu pasukan bersenjata melangkahkan langkahnya ke arah barat. Mereka tak tahu apa yang sedang mereka tuju. Hanya segelintir orang saja yang sudah paham akan ke mana pasukan besar ini diarahkan. Bahkan, orang sepenting Abu Bakar As-Shiddiq ikut dalam rasa penasaran.

Bekal iman kepada Sang Rasul membuat mereka yakin. Mereka tetap saja melangkahkan langkahnya tanpa banyak tanya. Meski demikian, rencana itu hampir saja gagal. Hathib bin Abu Balta’ah menulis surat untuk disampaikan ke penduduk Makkah melalui tangan seorang perempuan. Isinya mengabarkan keberangkatan Rasulullah kepada mereka. Namun bisa digagalkan  oleh Ali bin Abu Thalib, Zubair dan Al-Miqdad atas perintah Rasulullah saw.  

Pasukan pun terus melaju. Menuju Makkah, sepuluh ribu obor dinyalakan. Tepatnya di Marr Azh Zhahran, tempat pasukan Muslimin beristirahat dan makan malam.  Abu Sufyan, tokoh kunci kaum Quraisy pun berkata, “Aku belum pernah melihat api dan pasukan seperti malam ini.” 

Abu Sufyan lantas menemui Rasulullah pada keesokan paginya. Dia pun menyatakan keislaman di hadapan nabi dan pamannya  Abbas bin Abdul Muthalib. Sadar bahwa Abu Sufyan merupakan tokoh yang menyukai kebanggaan, Nabi lantas memberikan kehormatan kepada Abu Sufyan atas saran Abbas. “Barang siapa masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman. Barang siapa menutup pintunya, dia aman. Dan barang siapa memasuki Masjidil Haram, dia aman.” 

Pasukan Nabi tak tertahankan. Dari berbagai penjuru, kaum Muslimin berhasil menguasai Makkah tanpa penyerangan berarti. Memang ada perlawanan dari Ikrimah bin Abu Jahal yang berhasil mengumpulkan sekutu di sebuah daerah bernama Khandamah. Namun, kekuatan mereka tak bisa menandingi kehebatan Khalid bin Walid yang memimpin pasukan penyisir di sekitar lembah. Mereka lari tunggang langgang. Ikrimah yang berhasil lari ke Yaman kemudian kembali untuk menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah. 

Rasulullah sampai di Makkah dengan sikap penuh tawadhu. Dalam kemenangan itu, Nabi saw. menghancurkan berhala-berhala di dalam Ka’bah. Ketika itu, dia membacakan firman Allah dalam QS al-Isra:81. “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap.” Nabi pun membacakan ayat lain yang tertera dalam QS Saba:49. “Kebenaran itu telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) mengulangi.”

Lepas itu, Nabi pun menyuruh Bilal bin Rabah, seorang bekas budak yang pernah dihinakan, disiksa oleh kaum Quraisy karena keislamannya untuk mengumandangkan azan. Semua tertunduk khusyuk mendengarkannya penuh makna. Pengampunan umum diberikan kepada penduduk Makkah. 

Pengampunan Nabi dikeluarkan dengan melepas kenangan pahit betapa hebat siksaan yang diterima Rasulullah dan para sahabat pada awal masa kerasulan. Terbersit bayangan saat Nabi yang mulia dikejar-kejar kaum quraisy hingga harus bersembunyi di Gua Tsur, intimidasi kepada para sahabat hingga menyebabkan mereka tewas hingga embargo ekonomi yang dilakukan kepada kaum Muslimin. Semua peristiwa itu seakan dilupakan Muhammad dan para pengikutnya ketika Fathu Makkah tiba. 

Kisah diatas menggambarkan kepada kita, bahwa kemenangan diraih dengan pengorbanan yang hebat, menguras keringat, banting tulang. Pengorbanan psikis dan fisik menjadi taruhannya. Bagi Nabi dan aktifis dakwah sangat memahami hal itu semua. Bahwa jalan dakwah begitu terjal. Tetapi jika dijalani dengan kesabaran dan penuh keikhlasan, tentunya akan medapatkan kemenangan yang tak pernah kita sangka-sangka. Dan Fathu Makkah menjadi saksi bisu bagi kita semua.

Hal lain yang yang menjadi perhatian kita semua adalah bahwa setelah mendapatkan kemenangan, beliau membebaskan hati manusia dari penghambaan terhadap berhala atau jenis-jenis thaghut yang lain, yaitu dengan dihancurkannya berhala-berhala di Ka’bah. Nabi menghancurkan simbol-simbol kemusyrikan menuju simbol ketauhidan.

Hakikat kemerdekaan  adalah yang menyerahkan segala dimensi hidupnya hanya untuk Allah swt.  semata. Bukan yang menghamba kepada hal-hal yang bersifat materialistik. Bukan pula yang menghamba terhadap hal-hal yang semu. Jika sebuah negara dan manusia masih berkutat pada yang bersifat duniawi semata dan menghilangkan keimanan kepada sang pencipta, maka belum dinyatakan merdeka secara hakiki.

Hal ini pula yang pernah disampaikan oleh sahabat Rib’iy bin Aamar kepada panglima Persia Rustum

ابتعثنا الله لنخرج من عبادة العباد لعبادة الله وحده

“Kami (umat Islam) diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata”

Wallahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *