Hak Sesama Muslim

3 weeks ago
833

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. وراه مسلم

Dari Abu Hurairah semoga Allah meridoi kepadanya, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Hak muslim terhadap muslim lainnya ada enam.” Rasulullah ditanya, “Apa saja wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam (1); apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya (2); apabila dia meminta nasihat maka nasihatilah dia (3); apabila dia bersin, kemudian dia memuji Allah maka doakanlah (4); apabila dia sakit, maka jenguklah dia (5); dan apabila dia meninggal dunia, maka antarkanlah jenazahnya.” (H.R. Muslim, nomor 2.162)

Agama Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik secara personal (fardiyah) maupun secara sosial (ijtima’iyah). Dalam aspek berinteraksi dengan sesama muslim, ada hak yang harus ditunaikan. Maksud hak di sini adalah adab seorang muslim kepada muslim lainnya. Sedangkan adab tidak pantas diabaikan begitu saja oleh siapapun, karena ia merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Al-A’râbi menyebutkan bahwa kalimat hak dalam hadis di atas mengandung arti sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan ada yang kategorinya wajib, ada juga yang kategorinya sunnah. (Muhammad bin Ismail  Al Amir Ash-Shan’ani, sebulus salam, hal. 452, jilid 4)

Jika hak-hak muslim ini diamalkan, maka akan tercipta kehidupan yang harmonis dengan sesama muslim, ukhuwah islamiyyah  semakin erat, dan kehidupannya akan diberkahi oleh Allah azza wa jalla.

Mengucapkan Salam

Adab seorang muslim apabila bertemu dengan saudaranya sesama muslim adalah mengucapkan salam (assalamu’alikum warahmatullahi wa barakatuh). Tiadak ucapan yang paling baik ketika bertemu dengan muslim yang lain melainkan ucapan salam.

Mengucapkan salam itu hukumnya sunnah, sedangkan menjawabnya adalah wajib. Demikian pendapat imam an-Nawawi.

Adapun adab-adab mengucapkan salam telah diatur sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi saw. Pengendara mengucapkan salam kepada pejalan kaki, pejalan kaki kepada yang duduk, dan rombongan sedikit mengucapkan salam kepada rombongan yang banyak adalah di antara adab-adab dalam mengucapkan salam. Berikut hadits-haditsnya:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى المَاشِي، وَالمَاشِي عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثِيرِ» رواه البخاري.

“Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhai kepadanya, dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Hendaknya orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, dan yang berjalan memberi salam kepada yang duduk dan (rombongan) yang sedikit kepada (rombongan) yang banyak.” (H.R. Bukhari, nomor 6.232)

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ الرَّجُلاَنِ يَلْتَقِيَانِ أَيُّهُمَا يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ؟ فَقَالَ: أَوْلاَهُمَا بِاللَّهِ. رواه الترمذي.

“Dari Abu Umamah ia berkata, “Dikatakan, “Wahai Rasulullah, Ada dua orang yang bertemu, mana di antara keduanya yang lebih dulu memulai salam?” Beliau menjawab, “Yang paling dekat dengan (rahmat) Allah di antara keduanya.” (.H.R. Tirmidzi, nomor 2.694)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا بُنَيَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُونُ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ. رواه الترمذي

“Dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah saw berkata kepadaku, “Wahai anakku, jika kamu masuk menemui keluargamu, ucapkanlah salam, niscaya akan menjadi berkah bagimu dan bagi keluargamu.” (H.R. Tirmidzi, nomor 2.698)

Dianjurkan mengucapkan salam kepada anak kecil. Sebagaimana Rasulullah saw telah mencontohkannya.

“Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu bahwa dia pernah melewati anak-anak kecil, lalu ia memberi salam kepada mereka dan berkata, “Nabi saw juga biasa melakukan hal ini.” (H.R. Bukhari, nomor 6.247)

 Haram hukumnya memulai salam kepada orang kafir. Namun apabila mereka yang memulai salam, maka jawablah dengan kalimat wa’alaikum.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ ” رواه البخاري

“Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu dia berkata; Nabi saw bersabda, “Apabila ahli kitab menyampaikan salam kepada kalian, maka jawablah; ‘wa ‘alaikum (dan keatasmu).” (H.R. Bukhari, nomor 6.258)

Memenuhi Undangan

Imam Nawawi berpendapat dalam kitab syarah Muslimnya bahwa ada perbedaan tentang hukum menghadiri undangan dalam bentuk jamuan (makan-makan) dan pernikahan (walimah). Bisa fardhu ain, atau fardhu kifayah. Sebagian salaf mengatakan bahwa wajib hukumnya memenuhi semua jenis undangan. Dan semua hukum akan gugur dengan adanya udzur syar’i. misalnya jika kondisi makanannya syubhat, makanan haram, atau undangan-undangan yang berbentuk kemaksiatan (pesta miras dan sebagainya).

Sedangkan Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam berpendapat bahwa menghadiri undangan walimatul ‘urs (pernikahan) adalah wajib, selain  walimatul ‘urs, maka hukumnya sunnah/mubah. (Taudhihul ahkam min Bulughil Maram, jilid 7, hal. 283-284)

Hal itu senada dengan Muhammad bin Ismail  Al Amir Ash-Shan’ani yang menyatakan bahwa menghadiri undangan pernikahan adalah wajib. Dan selain undangan pernikahan, maka hukumnya adalah sunnah. (Sebulus Salam, hal. 453, Jilid 4)

Menasihati

Menyampaikan nasihat hukumnya wajib jika diminta. Jika tidak diminta maka hukumnya sunnah, karena ada nilai kebaikan di dalamnya, yaitu menunjukan orang lain kepada jalan kebaikan. (Subulus Salam, hal. 453, Jilid 4)

Dalam menyampaikan nasihat tentunya harus dengan jujur, tidak boleh ada kecurangan. Dan isi nasihat harus sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah.

Mendoakan Orang yang Bersin

Bersin adalah karunia ni’mat dari Allah azza wa jalla bagi manusia, karena dengan bersin penyakit atau virus tidak masuk ke anggota tubuh. Maka wajib bagi manusia terlebih bagi seorang muslim untuk mensyukuri nikmat bersin ini. Cara mensyukuri nikmat ini adalah dengan mengucapkan alhamdulillah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ” رواه البخاري

“Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Nabi saw beliau bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan “al-Hamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan “Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu), dan hendaknya ia (orang yang bersin) membalas, “Yahdikumullah wa yushlih baalakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (H. R. Bukhari, nomor  6.224)

Namun jika bersinnya lebih dari tiga kali, maka menurut Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam tidak perlu membaca doa yarhamukallah tetapi doakanlah syafakallah (semoga Allah menyembuhkanmu) karena sesungguhnya ia sedang sakit. (Taudhihul ahkam min Bulughil Maram, jilid 7, hal. 285).

Kewajiban mendoakan orang yang bersin adalah bagi mereka yang mengucapkan hamdalah. Adapun orang yang bersin tidak mengucapkan hamdalah, maka tidak ada kewajiban mendoakannya.

 “Dari Abu Burdah, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bila salah seorang dari kalian bersin lalu memuji Allah, doakanlah dia. Tapi bila tidak memuji Allah, jangan didoakan.” (H.R. Muslim, nomor 2.992)

Tetapi menurut Imam Nawawi, bahwa jika yang bersin itu tidak mengucapkan hamdalah, maka saudaranya hendaknya mengingatkannya, karena itu adalah bagian dari da’wah, nasihat perintah dalam kebaikan. (Sebulus Salam, hal. 455, Jilid 4)

Menjenguk Orang Sakit

Menjenguk orang sakit itu hukumnya fardhu kifayah, artinya jika ada yang sudah menjenguk maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Bahkan ini menjadi sunnah hukumnya bagi setiap orang muslim dengan tujuan untuk menyambungkan tali shilaturrahmi dan persahabatan. Begitu juga pendapat jumhur ulama, mereka mengatakan bahwa pada asalnya hukum menjenguk itu adalah sunnah, namun berubah menjadi wajib, tetapi wajibnya wajib kifayah. (Fathul Bârî, juz 10, hal. 129).

Orang muslim yang menjenguk saudaranya yang sakit akan mendapat pahala dan ganjaran yang sangat besar.

عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الجَنَّةِ. رواه الترمذي

“Dari ‘Ali semoga Allah meridoi kepadanya ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim lainnya pada pagi hari, kecuali akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari. Jika dia menjenguknya pada sore hari, maka dia akan dido’akan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan dia akan mendapatkan kebuh syurga kelak.” (H.R. Tirmidzi, nomor 969)

Mengantarkan Jenazah

Dalam mengantarkan jenazah, tidak boleh berbicara keras-keras, berteriak-teriak, tersenyum, tertawa-tawa, dan berbicara urusan dunia. Akan tetapi disunnahkan untuk mentafakkuri bahwa semua akan mati, persiapkan bekal untuk akhirat, karena kita semua akan kembali kepada Allah.

Mengantarkan jenazah hukumnya fardhu kifayyah dan dianjurkan bagi siapapun yang menginginkan pahala darinya. Karena kata Nabi, pahala mengantarkan jenazah adalah satu qirath dan pahala satu qirath itu sebanding dengan satu gunung besar. WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *