Menanamkan Iman dalam Pendidikan Keluarga

3 weeks ago
826

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?’ mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 134)

Semua Nabi Satu Tuhan

Nabi Ibrahim a.s memiliki gelar abul anbiya, yaitu bapaknya para nabi. Karena darinya seluruh nabi lahir melalui dua jalur, yaitu jalur Siti Sarah dan jalur Siti Hajar. Dari Siti Sarah maka lahir keturunan nabi Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Dzul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Yunus, Zakariyya, Yahya, dan Isa. Sedangkan jalur dari Siti Hajar lahir keturunan nabi Isma’il dan Nabi Muhammad saw. Baik para nabi dari jalur keturunan Siti Sarah maupun Siti Hajar, semuanya mengajarkan tentang satu Tuhan, yaitu Tuhan yang Maha Esa.

Oleh sebab itu, ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang Musyrik dan orang-orang Kafir akan tentang nabi-nabi mereka. Karena jika ditelusuri, semua para nabi mengajarkan tentang akidah yang sama, yaitu akidah Islam. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam ayat lainnya:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نوحي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إله إِلاَّ أَنَاْ فاعبدون

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. Al-Anbiya: 25)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl: 36)

Dari kedua ayat di atas, menurut Ibnu Katsir menjadi bukti bahwa Islam merupakan agama seluruh para nabi meski syariat yang diturunkan kepada para nabi yang berbeda-beda.  

وَالْإِسْلَامُ هُوَ مِلَّةُ الْأَنْبِيَاءِ قَاطِبَةٌ وَإِنْ تَنَوَّعَتْ شَرَائِعُهُمْ وَاخْتَلَفَتْ مَنَاهِجُهُمْ كَمَا قَالَ تَعَالَى:{وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نوحي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إله إِلاَّ أَنَاْ فاعبدون} [اَلْأَنْبِيَاءُ:25] وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَحْنُ مَعْشَرُ الْأَنْبِيَاءِ أَوْلَادُ عَلَّاتٍ دِيْنُنَا وَاحِدٌ

Islam adalah agama seluruh para nabi meski syariat dan sunnah-sunnahnya berbeda-beda, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya,  “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku” dan sabda Nabi saw, “Kami ini adalah keluarga para nabi; saudara sebapak; dan agama kita sama.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Iman sebagai Landasan Pendidikan Keluarga

Dengan QS. Al-Baqarah: 134 ini, al-Qur’an hendak mendorong manusia untuk berpegang teguh pada dua pondasi agama. Pertama, mengesakan Allah dan tidak menyekutukan Allah. Kedua, tunduk-patuh pada Allah swt dalam seluruh aktifitasnya. Jika kedua fondasi tersebut tidak terdapat pada diri seseorang, maka menurut al-Maraghi ia telah menyimpang dari agama para nabi. (Tafsir al-Maraghi)

Oleh karena itu, saking pentingnya penanaman iman dalam pendidikan keluarga, para nabi tidak pernah melewatkannya untuk mengajarkan kepada anak-anaknya tentang iman. Lukman misalnya, menanamkan iman kepada anaknya dengan nasihat berikut:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. (QS. Lukman: 13)

Bahkan nabi Ya’qub saat ajal di penghujung usianya, ia menegaskan kepada anak-anaknya tentang pentingnya penanaman iman sebagai dasar dan landasan hidup manusia agar tidak terjebak pada materialisme yang justru dapat mengikis iman.

Iman Menjadi Tujuan Pendidikan Nasional

Di Indonesia sendiri iman menjadi satu di antara tujuan pendidikan nasional yang mesti dicapai. Di dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, berbunyi sebagai berikut:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Meski demikian, kurikulum yang benar-benar mewujubkan tujuan pendidikan nasional tersebut hanyalah kurikulum 2013 (kurtilas). Pasalnya penanaman spiritual (iman) pada kurikulum tidak menemukan locusnya (tempatnya). Standar Kurikulum Lulusan (SKL) pada kurtilas ini ada pada kompetensi inti sikap, kompetensi inti pengetahuan, dan kompetensi inti keterampilan. Pada kompetensi inti sikap terbagi kepada dua, yaitu kompetensi inti sikap spiritual dan kompetensi inti sikap sosial. Kompetensi sikap inilah kemudian yang membedakannya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya.

          “Tiga kompetensi itu (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) tidak ada dalam KTSP, karena itu merancang kurikulum baru, bahkan Kurikulum 2013 itu juga disesuaikan dengan amanat dalam UU Sisdiknas tentang konsep kesatuan atau integrasi dalam pendidikan,” Ujar M. Nuh saat diwawancarai pada 2014 silam (liputan6.com).

Akan tetapi, masih terlihat kesenjangan antara kompetensi sikap spiritual yang hendak dicapai kurtilas dengan bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik. Kasus seperti ini dapat terlihat dalam mata pelajaran sejarah Indonesia yang mana di dalamnya masih terdapat paham materialistik yang secara tidak langsung menafikan peran iman.

Setidaknya ada dua poin yang menjadi kritikan Tiar Anwar Bachtiar dalam pengajaran sejarah Indonesia. Pertama, ideologi sejarah yang dianut masih kental dijejali materialisme. Hal ini terbukti dengan masih dipertahankannya bab tentang asal usul nenek moyang Indonesia yang berasal dari manusia-manusia purba-Jawa seperti Pitecanthropus Paleojavanicus, Homo Wajakensis, dan sebagainya. Betapapun fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran, Mojokerto, dan lainnya dikatakan adalah hasil dari penggalian ilmiah, menyimpulkan bahwa manusia Indonesia berasal dari fosil-fosil itu hanya karena sama-sama berada di wilayah Indonesia adalah tidak ilmiah sama sekali. Kayakinan ini merupakan keyakinan yang bersifat materalisme, sebuah kepercayaan yang menganggap bahwa semua makhluk hidup berasal dari sesuatu yang materi, bukan berasal dari ketiadaan. Teori ini sangat terang benderang menolak keyakinan agama bahwa semua makhluk hidup semula berasal dari ketiadaan (cereation ex nihilo). Menurut Tiar, bila kurikulum sejarah, apapun jenisnya, materi ini tetap dipertahankan, maka sesungguhnya ia bertentangan dengan ideologi negara, terutama pada sila pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jelas hal ini akan meyuburkan sekularisme dan meterialis-komunis yang jelas-jelas bertentangan dengan ideologi negara ini. Kedua, masih dipertahankannya kisah tentang Sriwijaya dan Majapahit sebagai tonggak awal persatuan Indonesia yang menurutnya mendiskreditkan Islam. Tiar menjelaskan sebagai berikut:

Dalam buku Sejarah untuk SMA/ MA kelas XI versi KTSP yang ditulis Dwi Ari Listiyani dan dibagikan gratis via internet masih menyimpulkan bahwa Sriwijaya merupakan negara nasional pertama di Indonesia (hlm.31 dst). Sementara itu, yang dianggap sebagai negara nasional ketiga adalah “Republik Indonesia” yang diproklamasikan tahun 1945. Kesmipulan yang sama juga terlihat dari rancangan Kurikulum 2013 untuk pelajaran sejarah, sekalipun buku untuk kelas XI belum diterbitkan oleh Kemendikbud.

Kalau dalam memperkenalkan proses menjadi Indonesia modelnya seperti ini, jelas terlihat dengan cukup telanjang kepentingan ideologi anti-Islam. Betapa tidak? Menyebut Sriwijaya (Budha), Majapahit (Hindu), dan kemudian Indonesia (?) sebagai satu garis kontinum kerajaan/negara nasional jelas bukan merupakan unsur ketidaksengajaan.   

Menurut Tiar, kesimpulan seperti ini merugikan Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini. Islam dianggap sebagai agama “numpang lewat” dan tidak memberikan kontribusi apa-apa. Maka ke depan yang diperlukan tidak hanya perubahan kurikulum saja, melainkan paradigma yang benar dalam menginterpretasi proses sejarah bangsa ini. (disadur dalam tesis Saepul Ja’par Sidik tentang Kompetensi Iman dalam Kurikulum Nasional)

Dari contoh kasus di atas dapat disimpulkan bahwa penanaman iman dalam pendidikan nasional masih belum ideal. Sambil menunggu konsep penanaman iman dalam pendidikan nasional secara ideal, maka penanaman iman dalam pendidikan keluarga menjadi solusi terbaik sebagaimana yang telah diterapkan Lukmanul Hakim dan nabi Ya’qub kepada keluarganya. WaLlaahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *