Hukum Adzan - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Hukum Adzan

3 weeks ago
975
  1. وَ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لَنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ … الْحَدِيثَ أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ

Dari Malik ibn al-Huwairits—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Nabi—semoga shalawat dan salam selalu dianugerahkan kepada beliau—bersabda kepada kami: “Apabila waktu shalat datang maka hendaklah adzan untuk kalian salah seorang dari kalian…—silahkan baca kelanjutan haditsnya.” Tujuh Imam meriwayatkannya.

 

Tautsiq Hadits

Meski hadits di atas diriwayatkan oleh tujuh imam hadits (Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa`, dan Ibn Majah), berikut ini cukup disajikan tautsiq (data) dari kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim saja. Imam al-Bukhari menuliskannya dalam lima bab berbeda yang sekaligus menggambarkan fiqih beliau atas hadits di atas, yaitu:

بَاب مَنْ قَالَ لِيُؤَذِّنْ فِي السَّفَرِ مُؤَذِّنٌ وَاحِدٌ

Bab: Orang yang berkata hendaklah adzan ketika safar seorang muadzdzin (no. 628).

بَاب الْأَذَانِ لِلْمُسَافِرِ إِذَا كَانُوا جَمَاعَةً وَالْإِقَامَةِ وَكَذَلِكَ بِعَرَفَةَ وَجَمْعٍ

Bab: Adzan dan iqamat bagi musafir apabila mereka berjama’ah, demikian juga di ‘Arafah dan Jam’ [Muzdalifah] (no. 631).

بَاب إِذَا اسْتَوَوْا فِي الْقِرَاءَةِ فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ

Bab: Apabila setara dalam kemampuan qira`ah maka hendaklah yang menjadi imam orang yang paling tua (no. 685).

بَاب رَحْمَةِ النَّاسِ وَالْبَهَائِمِ

Bab: Menyayangi manusia dan hewan (no. 6008).

بَاب مَا جَاءَ فِي إِجَازَةِ خَبَرِ الْوَاحِدِ الصَّدُوقِ فِي الْأَذَانِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ وَالْفَرَائِضِ وَالْأَحْكَامِ

Bab: Riwayat tentang diterimanya khabar dari seseorang yang terpercaya dalam hal adzan, shalat, shaum, kewajiban-kewajiban, dan hukum-hukum (no. 7246).

Sementara dalam Shahih Muslim hadits di atas dituliskan dalam bab:

باب مَنْ أَحَقُّ بِالإِمَامَةِ

Bab: Siapa yang berhak menjadi imam? (no. 1567).

Adapun matan hadits di atas yang selengkapnya adalah sebagai berikut:

عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رضي الله عنه قَالَ: أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيمًا رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لَا أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

Dari Malik ibn al-Huwairits—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Kami datang kepada Nabi—semoga shalawat dan salam selalu dianugerahkan kepada beliau—sebagai sekumpulan pemuda yang sebaya. Kami tinggal di Madinah selama 20 hari 20 malam. Rasulullah saw seseorang yang penyayang dan lembut. Ketika beliau melihat kami sudah rindu keluarga kami, beliau bertanya kepada kami tentang apa yang kami tinggalkan setelah kami pergi, lalu kami pun memberitahukannya kepada beliau. Kemudian beliau bersabda: “Silahkan pulang ke keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajari dan sampaikan perintah agama kepada mereka.” Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal yang aku tidak mengingatnya. Lalu sabda beliau: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat. Apabila datang waktu shalat hendaklah adzan salah seorang di antara kalian untuk kalian dan hendaklah yang paling tua di antara kalian menjadi imam.” (Shahih al-Bukhari bab al-adzan lil-musafir no. 63)

 

Syarah Hadits

Dari data hadits di atas diketahui bahwa hadits ini memang tidak sedang berbicara tentang adzan saja. Maka dari itu al-Hafizh memotong yang menurut kepentingannya terkait dengan adzan saja, yakni yang beliau tuliskan di Bulughul-Maram dan dituliskan di bagian awal tulisan ini. Dari sabda Nabi saw di atas diketahui bahwa Nabi saw memerintahkan adzan di waktu datang shalat, baik itu sedang di perjalanan ataupun ketika sudah tiba di kampung halaman para pemuda di atas. Ini menunjukkan bahwa adzan dikumandangkan di awal waktu shalat wajib. Perintah yang sama tidak ditemukan untuk shalat ‘Id, Tarawih, dan shalat-shalat lainnya selain shalat wajib lima waktu. Adzan itu juga berlaku untuk satu jama’ah tertentu yang dalam hadits di atas adalah kelompok Malik ibn al-Huwairits. Artinya untuk kelompok yang lain silahkan dikumandangkan juga adzan oleh salah seorang di antara mereka untuk mereka. Konsekuensinya akan ada banyak adzan di awal waktu untuk masing-masing jama’ah shalat.

Yang menjadi diskusi di kalangan para ulama adalah hukum adzan berdasarkan perintah Nabi saw di atas, apakah sunat muakkadah (sunat yang sangat ditekankan) ataukah fardlu kifayah. Imam ar-Rafi’i sendiri dalam kitab Syarhul-Wajiz atau as-Syarhul-Kabir yang merupakan kitab fiqih induk madzhab Syafi’i (dan menjadi salah satu rujukan kitab Bulughul-Maram) mendudukkan hadits di atas sebagai dalil untuk kelompok ulama madzhab Syafi’i yang menyatakan hukum adzan fardlu kifayah, sebab asal dalam perintah itu hukumnya wajib. Di samping itu adzan termasuk syi’ar Islam sehingga kedudukannya wajib adanya.

Imam ar-Rafi’i sendiri menjelaskan bahwa pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i sendiri adalah yang menilai hukum adzan sebatas sunat sebab kedudukannya hanya sebatas pemberitahu masuknya waktu shalat sebagaimana halnya seruan as-shalata jami’ah dalam shalat ‘Id. Selain itu Nabi saw dalam shalat jama’ tidak mengamalkan adzan dua-duanya, melainkan hanya satu pada shalat yang pertamanya saja. Seandainya adzan wajib tentu Nabi saw tidak akan menggugurkannya (as-Syarhul-Kabir bab fil-adzan fashal fi mahallihi).

Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab al-Fiqhul-Islami wa Adillatuhu menjelaskan bahwa ulama yang berpendapat hukum adzan sunat adalah jumhur (mayoritas) ulama selain madzhab Hanbali. Di antara dalil mereka adalah hadits Nabi saw kepada orang Arab yang shalatnya salah untuk memulai shalat dari wudlu, menghadap qiblat, kemudian melaksanakan rukun-rukun shalat dari mulai takbiratul-ihram sampai salam. Seandainya adzan wajib maka pasti Nabi saw memerintahkannya untuk adzan.

Sementara yang berpendapat hukum adzan fardlu kifayah adalah madzhab Hanbali dengan dalil hadits di atas ditambah hadits berikut ini:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ لَا يُؤَذَّنُ وَلَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ الذِّئْبَ يَأْكُلُ الْقَاصِيَةَ

Tidaklah tiga orang dalam satu kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan dilaksanakan shalat di tengah-tengah mereka kecuali setan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu berjama’ah shalat, sebab serigala memakan hewan yang sendirian (Musnad Ahmad bab hadits Abud-Darda` no. 21710).

Mempertimbangkan perintah dalam hadits di awal, penulis sendiri lebih cenderung memilih bahwa adzan hukumnya fardlu kifayah. Hadits tentang Nabi saw menggugurkan adzan dalam salah satu shalat yang dijama’ hanya sebatas dalil rukhshah bolehnya tidak adzan ketika shalat dijama’. Tetapi hukumnya tetap fardlu kifayah. Apalagi mempertimbangkan perintah Nabi saw kepada para pemuda di atas untuk mengumandangkannya juga meski mereka sedang dalam perjalanan, sebagaimana juga dijadikan dasar fiqih oleh Imam al-Bukhari di atas.

Jika dikaitkan dengan hadits tentang kumandang adzan as-shalat fir-rihal (shalat di tempat masing-masing) yang itu dikumandangkan oleh Ibn ‘Umar di waktu safar, juga menunjukkan bahwa adzan itu meski sedang hujan lebat dan ketika safar, harus dikumandangkan. Atau hadits Ibn ‘Abbas dalam kasus yang sama, meski shalat dianjurkan untuk di rumah di saat itu, adzannya tetap dikumandangkan.

Termasuk dengan hadits tentang jihad, dimana Nabi saw menjadikan kumandang adzan sebagai dasar boleh tidaknya menyerang daerah musuh. Jika ada adzan maka tidak boleh diserang karena berarti di sana ada daerah muslim. Tetapi jika tidak ada adzan boleh diperangi sebab itu bukan daerah muslim. Ini juga jadi dalil bahwa adzan statusnya fardlu kifayah dan menentukan halal tidaknya darah satu penduduk di satu daerah pada masa perang.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَكَانَ يَسْتَمِعُ الأَذَانَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ وَإِلاَّ أَغَارَ

Dari Anas ibn Malik, ia berkata: “Rasulullah saw menyerang secara tiba-tiba apabila terbit fajar. Beliau memperhatikan adzan. Jika mendengar adzan maka tidak jadi menyerang. Jika tidak terdengar adzan beliau menyuruh untuk menyerang.” (Shahih Muslim bab al-imsak ‘anil-igharah no. 873)

Hadits tentang tidak adanya perintah Nabi saw kepada orang Arab yang salah shalatnya tidak jadi dalil tidak adanya hukum wajib, sebab sesuatu yang tidak disebutkan dalam satu waktu tidak jadi dalil tidak adanya syari’at tersebut jika faktanya ada diperintahkan dalam hadits yang lain.

Kedudukan fardlu kifayah ini tentunya cukup (kifayah) diwakili oleh salah seorang saja. Jika di satu daerah ada kumandang adzan yang terdengar maka gugurlah kewajiban bagi umat Islam di daerah tersebut. Jika tidak ada maka semuanya terbawa dosa karena meninggalkan kewajiban.

Hadits di atas juga berbicara terkait siapa yang berhak menjadi imam. Imam an-Nawawi dalam hal ini menjelaskan:

فِيهِ : الْحَثّ عَلَى الْأَذَان وَالْجَمَاعَة ، وَتَقْدِيم الْأَكْبَر فِي الْإِمَامَة إِذَا اِسْتَوَوْا فِي بَاقِي الْخِصَال ، وَهَؤُلَاءِ كَانُوا مُسْتَوِينَ فِي بَاقِي الْخِصَال لِأَنَّهُمْ هَاجَرُوا جَمِيعًا وَأَسْلَمُوا جَمِيعًا وَصَحِبُوا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَازَمُوهُ عِشْرِينَ لَيْلَة فَاسْتَوَوْا فِي الْأَخْذ عَنْهُ ، وَلَمْ يَبْقَ مَا يُقَدَّم بِهِ إِلَّا السِّنّ

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk adzan dan berjama’ah. Demikian juga mendahulukan yang paling tua dalam hal menjadi imam apabila mereka setara dalam kriteria lainnya. Karena mereka rombongan ini memang sama dalam kriteria-kriteria lainnya. Mereka hijrah bersama-sama, masuk Islam bersama-sama, membersamai Rasulullah saw selama 20 hari sehingga sama juga dalam hal mengambil ilmu dari beliau, sehingga tidak ada lagi yang membedakan keistimewaannya kecuali usia (Syarah an-Nawawi bab man ahaqqu bil-imamah).

Yang dimaksud Imam an-Nawawi sama dalam kriteria lainnya adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih bahwa yang harus jadi imam itu didahulukan: (1) orang yang paling bagus bacaan dan hafalan al-Qur`annya, (2) orang yang paling mengerti sunnah, (3) orang yang paling dahulu hijrah, (4) orang yang paling dahulu masuk Islam, dan (5) orang yang paling tua usianya (Shahih Muslim kitab al-masajid bab man ahaqqu bil-imamah no. 1564).

Wal-‘Llahu a’lam

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *