RUU Minol Tolok Ukur Kadar Keimanan - Majalah Islam Digital Tafaqquh

RUU Minol Tolok Ukur Kadar Keimanan

2 months ago
115

Pro kontra mengenai RUU Larangan Minuman Beralkohol (Minol) terus mencuat di masyarakat. Berbagai media online mainstream terus mengadu-adukan opini masyarakat dengan mengadakan poling yang sebenarnya tidak bisa mencerminkan pendapat masyarakat mayoritas. Tuduhan-tuduhan seperti tidak mencerminkan semangat kebhinekaan dilayangkan untuk menggugurkan RUU ini. Untuk menepis tuduhan-tuduhan itu tim redaksi Majalah Islam Tafaqquh mengonfirmasi langsung kepada salah satu pengusung RUU tersebut, Habib Syarief, sebagai mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat. Menyambangi langsung ke kantor Yayasan Assalam, Jl. Yuda No. 1 Kec. Regol, beliau membeberkan sekelumit pentingnya disahkan RUU Larangan Minol ini. Salah satunya sebagai tolok ukur keimanan. Jangan-jangan sudah tercampuri kadar alkohol sekian persen. Selamat membaca!

Sejak kapan dan bagaimana lahirnya RUU Larangan Minol?

Jamise Syar'i

Sebetulnya keinginan untuk memiliki undang-undang yang spesifik berkaitan dengan miras cukup lama, sejak zaman orde baru. Ketika itu sudah mulai muncul pemikiran agar bangsa ini memiliki undang-undang khusus berkaitan dengan regulasi miras. Namun, gagasan tersebut nampaknya baru gagasan perseorangan, tidak sampai konkrit sebuah menjadi usulan fraksi yang diakomodir di prolegnas (program legislasi nasional).

Adapun proses perguliran terakhir, saya tidak banyak memahami, tidak banyak mengikuti, karena ini menjadi domain kawan-kawan yang ada di pusat (DPR RI). Hanya yang jelas, bahwa minggu ini terus bergulir. Walaupun untuk sementara baru didukung tiga fraksi saja. Tetapi ini menjadi sesuatu yang menggembirakan; sesuatu yang perlu kita respon dengan baik. Malah kalau menurut saya, tidak hanya sebatas undang-undang miras saja, tetapi bisa diperluas. Jadi secara keseluruhan kita perlu memiliki sebuah undang-undang yang baku berkaitan dengan hal-hal yang bisa menyebabkan rusaknya moral bangsa ini. Selain undang-undang miras, seperti narkoba, dsb. Ini tentunya kita respon dengan baik, kita menyampaikan respek kepada kawan-kawan. Walaupun untuk bisa men-goal-kan RUU ini bisa masuk dan menjadi prioritas di prolegnas masih membutuhkan perjuangan tersendiri. Artinya tidak ringan.

Apa maksud dan tujuan RUU Larangan Minol ini?

Saya kira maksud dan tujuan undang-undang ini sudah sangat jelas. Bahwa sementara ini proses penyebaran penjualan miras ini di luar kemampuan deteksi aparat keamanan. Jadi, sekarang ini kita sangat mudah untuk mendapatkan miras dengan berbagai produk, dengan berbagai label, dan dengan berbagai kualifikasi. Dari yang termurah sampai yang termahal tersedia; produk luar dan dalam negeri pun sudah sedemikian rupa. Ini kan perlu ada regulasi. Artinya, kalau pemerintah konsekuen menerapkan aturan miras itu hanya diperbolehkan di hotel-hotel tertentu saja dan itu untuk konsumsi orang luar, mungkin kita bisa memahami. Tetapi realitas menunjukkan bahwa dari bulan ke bulan setiap tahunnya terjadi korban akibat miras. Apakah itu dengan istilah oplosan, atau apa terserah, yang jelas, yang meninggal saja itu sudah tidak terhitung. Korban oplosan di daerah ini delapan belas orang meninggal, belum ini itu, dan itu generasi muda kita. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, mohon maaf, itu kelompok menengah ke bawah. Ini kan harus menjadi bahan perhatian kita.

Maksud dan tujuan utama dari undang-undang ini yang pertama ini tentu saja sangat membatasi. Bukan berarti kita melarang penuh. Tapi betul-betul dibatasi. Karena pastilah semua negara memiliki pengecualian. Se-islam apapun sebuah negara pasti mentolerir, karena walaupun bagaimana kita tidak mungkin lepas dari ruang lingkup hubungan internasional. Baik itu untuk wisata dan yang lain. Tapi itu harus diatur karena sudah semerawutnya tata kelola dan tata niaga tentang miras ini. Tentu saja bila ada undang-undangnya maka pengaturannya akan lebih komprehensif. Lebih jelas, berikut konsekuensinya. Artinya sebuah undang-undang tidak mungkin bisa berjalan dengan baik apabila tidak mencantumkan yang namanya sanksi. Sanksi sementara ini seakan-akan hanya formalitas. Malah artinya, terjadi semacam budaya pembiaran dari kaum muslimin. Walau bagaimanapun antara diatur dan tidak diatur itu beda. Diatur kalau tanpa undang-undang tidak akan kuat, sehingga aparat keamanan pun tatkala memiliki undang-undang saat menjalankan tugasnya mempunyai payung hukumnya, sehingga mereka tidak disalahkan.

Benarkah RUU Larangan Minol ini bertentangan dengan prinsip kebhinekaan?

Kita jangan mengadukan antara larangan dengan kebhinekaan. Kita umat Islam sudah sangat toleran berkaitan dengan kebhinekaan. Kita sudah sangat memberikan keleluasaan, tetapi khusus untuk prinsip yang menurut kita masalahnya sangat prinsipil, masalahnya sangat substantif, sudah jelas-jelas miras ini diharamkan oleh ajaran agama. Minimal ini sebagai undang-undang untuk mengatur kaum muslimin sendiri. Jadi, kita berupaya menjaga saudara-saudara kita yang seagama agar tidak terlalu jauh terlibat atau terjerumus ke dalam kehidupan yang namanya miras ini. Jadi, jangan dipertentangkan antara benar atau tidaknya. Mengenai kebhinekaan kita sudah sangat memahami. Jangan sampai indikator kita tidak menghargai kebhinekaan itu hanya pada satu aspek yang kecil saja. Banyak yang ditunjukkan oleh kaum muslimin berkaitan dengan toleransi bernegara. Kita sudah sangat cukup toleran, tasamuh, dan menghargai. Tolonglah untuk yang satu ini bisa dipahami. Berapa persen sih bangsa ini yang menghalalkan miras? Saya kira kecil prosentasinya.

Bagaimanakah langkah-langkah dalam menerapkan RUU Larangan Minol ini, kalau disetujui?

Yang pertama, bagaimana disosialisasikan kepada seluruh pemuka agama. Yang kedua, harus ada kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) antara tokoh-tokoh agama dengan aparat keamanan. Sampai sejauh mana jenis dan bentuk pelanggaran agar supaya jangan sampai, maaf, hanya gara-gara aturan ini Islam yang dikorbankan. Di sini harus melalui pentahapan yang betul-betul bijak. Artinya, tatkala menerapkan pun harus melalui cara yang lebih edukatif dan persuasif. Bertahap, tidak ujug-ujug. Jangan sampai Islam ini yang disalahkan padahal itu hanya akibat sebagian orang Islam. saya tidak setuju Islam yang menjadi korban.

Langkah-langkahnya seperti harus ada sosialisasi dan pemahaman. Dan yang lebih jauh, kita orang-orang muslim harus memberikan contoh. Bagaimana kita paham efek negatif dari miras itu sangat buruk. Sangat buruk. Merusak mental dan indra. Ini yang nampaknya titik lemah kita. Artinya, dakwah kita masih harus fokus ke sana. Jangan terlalu mempersoalkan perbedaan-perbedaan interen (di dalam), tapi kita lebih memperkuat tentang narkoba, miras, dsb. Kalau saya lebih cenderung seperti itu. Ini sebagai benteng pertahanan agar supaya generasi muda yang sekarang ini akan meneruskan estafeta perjuangan yang akan datang. Tidak bobrok seperti sekarang.

Kalau RUU Larangan Minol ini tidak disetujui kira-kira langkah apa yang ditempuh?

Kalau tidak disetujui itu sangat kita sayangkan. Yang pertama, tentunya kawan-kawan anggota dewan yang muslim yang taat, yang ada di semua fraksi. Jangan satu fraksi saja. Kawan-kawan yang ada di tiap partai, ayo ini adalah tantangan dan ujian sampai sejauh mana kepedulian kita terhadap miras. Ini tentunya akan sangat berkaitan dengan keimanan kita. Ini ujian keimanan kita, ini ujian keimanan anggota dewan. Masih ada kadar keimanan engga?

Kalau hanya mengandalkan fraksi pasti kalah pada waktu voting (penghitungan suara). Saya lebih setuju, kita himbau semua anggota dewan yang muslim. Biasanya keputusan akhirnya dari fraksi, tapi lain cerita kalau kawan-kawan dari masing-masing fraksi menunjukkan sikap. Kalau pertimbangan politiknya yang menonjol saya kira akan gagal. Kalau saya boleh pertentangkan secara diametral, di satu pihak ada kebutuhan oligarki, para penguasaha, yang berduit, dengan kaum muslimin. Ini dipertentangkan antara dua kekuatan ini. Ini yang saya katakan iman itu. Tidak mustahil kawan-kawan kita yang beragama Islam, hanya karena oleh penguasaha diberi sekian, sudah luntur imannya. Jadi, saya belum bisa memprediksi apakah ini akan berhasil atau tidak. Ini masih harus kita lihat dulu. Tetapi kita tentunya sebagai kaum muslimin mencoba bisa menjalankan secara konsekuen ajaran agama kita. Kita berharap itu bisa lolos. []

Saeful Jafar Sidik & Hayatul Fauji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *