

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (158)
Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. An-Nisa [4]: 157-158)
Al-Qur’an menguak cerita hoaks mengenai beberapa bagian kisah Nabi Isa ‘alaihis salam. Di antaranya tentang tragedi penyaliban Yesus Kristus yang selalu ditayangkan di televisi-televisi menjelelang perayaan natal dan tahun baru. Keyakinan seperti itu dibantah mentah-mentah oleh al-Qur’an. Bahwa cerita semisal itu hanya carita dusta; cerita tanpa fakta; cerita rekayasa semata.
Kelahiran Nabi Isa
Lahirnya Nabi Isa ‘alaihis salam tidak seperti lahirnya seorang bayi pada umumnya. Ia lahir tanpa melalui proses persetubuhan antara seorang suami dan istri. Ia lahir murni dari rahim seorang bunda Maryam yang dikenal semasa hidupnya sebagai wanita terhormat; wanita suci; wanita yang tidak pernah sedikit pun disentuh oleh seorang laki-laki manapun.
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ (42)
Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (QS. Ali Imran [3]: 42)
Maryam dikenal sebagai sosok ahli ibadah, zuhud, dan terbebas dari gangguan dan godaan setan. Karena itulah Allah memilihnya sebagai wanita terbaik di dunia. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw.
وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وخير نسائها خديجة بنت خوليد»
Dari Ali bin Abi Thalib –radhiyaLlahu ‘anhu– ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah –shallaLlahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sebaik-baiknya perempuan adalah Maryam binti ‘Imran serta sebaik-baiknya perempuan adalah Khadijah binti Khuwailid.” (Shahih Muslim bab Fadha’ilul-Kahadijah Ummil-Mu’minin no. 6424)
Kabar tentang Maryam akan memiliki anak, tentu saja mengejutkannya sebagai sosok wanita yang selama ini dikenal tidak pernah bersentuhan dengan seorang lelaki manapun. Sebagaimana yang tergambar pada ayat-ayat berikut ini:
قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (47)
Maryam berkata: “Ya Tuhanku, mana mungkin aku mempunyai anak, sedangkan aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.” (QS. Ali Imran [3]: 47)
قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا (19) قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (20)
Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”. (QS. Maryam [19]: 19-20)
Tuduhan-tuduhan pun dilayangkan kepada Maryam; ia dituduh sebagai wanita pezina. Maryam yang saat itu telah bernadzar untuk tidak berbicara kepada siapapun, mengisyaratkan kepada anaknya yang masih bayi, Isa al-Masih, untuk langsung mendengar jawaban dari seorang bayi yang baru lahir itu. Atas ijin Allah, Nabi Isa yang masih bayi dapat berbicara.
فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يَامَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا (27) يَاأُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا (28) فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (29) قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30)
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam [19]: 27-30)
Ayat di atas selain merupakan bantahan terhadap orang Yahudi yang menuduh Maryam sebagai wanita pezina. Juga bantahan terhadap orang Nashrani yang menganggap Nabi Isa sebagai anak tuhan (trinitas).
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30)
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “(Isa) al-Masih itu putra Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?. (QS. At-Taubah [9]: 30)
Tragedi Penyaliban
Rencana pembunuhan terhadap Nabi Isa ‘alaihis salam dimulai saat ia masih bayi. Ditambah peristiwa tentang Nabi Isa bisa berbicara saat masih bayi, membuat pemberitaan tentangnya semakin menyebar luas. Nabi Isa semakin terkenal saat ia tumbuh dewasa dengan memiliki kepribadian yang baik; karamah dan mukjizat yang nampak pada dirinya. (Qashahsul-Anbiya, 2005: 474)
Kehebatan Nabi Isa dalam hal bisa menyembuhkan penyakit buta, kusta, dan menghidupkan orang mati, membuat orang-orang Yahudi merasa iri dengki terhadap mukjizat yang dianugrahkan kepada Nabi Isa. Sehingga bukan hanya mengingkari dan mendustakannya, mereka mencoba untuk menyakiti Nabi Isa dengan berbagai cara. Hal ini membuat Nabi Isa dan ibunya, Maryam, menghindar dari ancaman dan intimidasi orang Yahudi sehingga membuat dirinya tidak bisa menetap pada satu tempat.
Saat Nabi Isa dan para hawarinya (sahabat) berada di Baitul Maqdis. Orang Yahudi membuat makar dengan memberitakan Nabi Isa sebagai sosok yang menyesatkan dan membuat kerusakan di negerinya. Hal itu disampaikan kepada raja penyembah bintang, sehingga membuat dirinya marah dan memerintahkan kepada pasukannya agar membunuh Nabi Isa dengan cara disalib. (Tafsir Ibnu Katsir)
Setelah Nabi Isa merasakan bahwa dirinya tidak akan bisa lari kemana mana. Akhirnya ia mengatakan kepada dua belas hawarinya bahwa dirinya akan diangkat ke langit dan orang yang diserupakan dengan dirinya adalah yang akan terbunuh.
قَالَ لِأَصْحَابِهِ: أَيُّكُمْ يُلقى عَلَيْهِ شَبَهِي وَهُوَ رَفِيقِي فِي الْجَنَّةِ؟ فَانْتَدَبَ لِذَلِكَ شَابٌّ مِنْهُمْ فَكَأَنَّهُ اسْتَصْغَرَهُ عَنْ ذَلِكَ، فَأَعَادَهَا ثَانِيَةً وَثَالِثَةً، وَكُلُّ ذَلِكَ لَا يَنْتَدِبُ إِلَّا ذَلِكَ الشَّابُّ، فَقَالَ: أَنْتَ هُوَ! وَأَلْقَى اللَّهُ عَلَيْهِ شَبَهَ عِيسَى حَتَّى كَأَنَّهُ هُوَ، وَفُتِحَتْ رَوْزَنَةٌ مِنْ سَقْفِ الْبَيْتِ وَأَخَذَتْ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ سَنَةً مِنَ النَّوْمِ فَرُفِعَ إِلَى السَّمَاءِ وَهُوَ كَذَلِكَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: { إِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ } الآية
Berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Siapa di antara kalian yang (mau) diserupakan dengan wajahku dan dia itu akan menemaniku di surga?.” Seorang lelaki di antara mereka menawarkan dirinya, seolah-olah ia menganggap remeh perkara itu. Lalu Nabi Isa mengulanginya dua sampai tiga kali. Dan tidak ada yang menawarkan diri kecuali laki-laki tadi.” Nabi Isa berkata, “Hanya kamu!” dan Allah pun menyerupakan wajahnya dengan Isa seolah-olah dia Isa. Jendela dari atap rumah pun terbuka dan Isa ‘alaihis salam pun mulai tertidur lalu diangkatlah ia ke langit. Hal itu sebagaimana firman Allah Ta’ala: (ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. (QS. Ali Imran [2]: 55)
WaLlahu A’lam













