Hukum Cambuk bagi Para Pemabuk - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Hukum Cambuk bagi Para Pemabuk

3 months ago
190

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (91)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah [5]: 90-91)

Pengajuan oleh tiga fraksi mengenai rencana pengesahan RUU Larangan Minuman Beralkohol (minol) membuat gerah bagi mereka yang terbiasa dan hobi mabok-mabokan. Polling yang dilakukan salah satu media mainstream menunjukan, dari 1.729 orang, 1.201 menyatakan ketidaksetujuannya. Artinya 30 % saja yang menginginkan RUU ini disahkan. Dukungan rendah terhadap RUU Larangan Minol ini mengindikasikan rendahnya pemahaman mereka terhadap agama. Padahal sangat jelas status Minol dalam Islam adalah haram. Bahkan pelakunya akan dijatuhkan hukuman.

Jamise Syar'i

Tahapan Pengharaman Khamr

Dalam prosesnya, pengharaman khamr ini melalui tiga tahapan. Tahapan pertama, turunnya ayat tentang penduduk Madinah yang menanyakan hukum khamr. Maka turunlah ayat berikut ini:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”… (QS. Al-Baqarah [2]: 219)

Namun ayat di atas belum menunjukan keharaman khamr secara tegas. Sehingga ayat tersebut tidak menghentikan para sahabat untuk terus meminum khamr. Sampai pada suatu saat, orang-orang Muhajirin shalat Magrib dalam keadaan mabuk hingga bacaan mereka keliru, turunlah ayat yang melarang mereka shalat dalam keadaan mabuk.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا ما تَقُولُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan… (QS. An-Nisa [4]: 43)

Ayat ini pun tidak secara tegas mengharamkan khamr. Larangan agar tidak shalat dalam keadaan mabuk, membuat para sahabat mencuri-curi waktu untuk bisa mabuk-mabukan; jika waktu mendekati shalat mereka tidak akan meminum khamr; dan jika waktu shalat masih jauh mereka akan meminum khamr. (Tafsir Ibnu Katsir)

Kedua ayat di atas membuat gereget Umar bin Khatab yang menghendaki ketegasan. Umar yang tidak sabar menginginkan larangan meminum minuman beralkohol (khamr) ini sampai-sampai berdoa “Ya Allah! Tegaskanlah tentang hukum khamr dengan setegas-tegasnya” setiap kali ayat tentang khamr turun. Akhirnya Umar merasa puas saat ayat yang menegaskan akan keharaman khamr turun.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (91)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah [5]: 90-91)

Setelah ayat ini turun, Umar pun berkata, “Kami berhenti! Kami berhenti”. Bahkan Umar bin Khattab sampai mengkhutbahkannya di mimbarnya Rasulullah saw.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى مِنْبَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ نَزَلَ تَحْرِيمُ الْخَمْرِ وَهْيَ مِنْ خَمْسَةٍ مِنْ الْعِنَبِ وَالتَّمْرِ وَالْعَسَلِ وَالْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالْخَمْرُ مَا خَامَرَ الْعَقْلَ

Dari Ibnu Umar ia berkata, “Aku mendengar Umar r.a berkhutbah di mimbanya Nabi saw, “Amma ba’du. Wahai orang-orang! Sungguh telah turun (ayat) pengharaman khamr dan dia itu ada lima jenis; khamr terbuat dari anggur, kurma, madu, padi, dan gandum. Khamr itu ialah sesuatu yang menutupi akal. (Shahih al-Bukhari no. 4619)

Setelah diharamkannya, maka seluruh khamr yang tersimpan semuanya ditumpahkan dan dibuang, hingga jalan-jalan di banjiri oleh minuman khamr. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik saat ia melihat jalan-jalan basah dibanjiri khamr.

Dari Anas r.a ia berkata, “Aku adalah orang yang member minum di rumah Abu Thalhah. Pada saat itu khamr yang mereka miliki terbuat dari kurma. Lalu Rasulullah saw memerintahkan sembari berseru, “Ingatlah bahwa khamr telah diharamkan.” Abu Thalhah kemudian berkata kepadaku, “Keluarkanlah dan tumpahkan khamr itu.” Aku pun mengeluarkan dan menumpahkannya hingga khamr itu mengalir dilorong-lorong Madinah. Maka sebagian kaum berkata, “Sekelompok orang telah terbunuh sedangkan di dalam perut mereka masih ada khamr.” Allah pun langsung menurunkan ayat “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu.” (Shahih al-Bukhari no. 2464)

Hukum Cambuk

Para ulama sepakat hukuman bagi para pemabuk adalah dicambuk. Hal ini sebagaimana hadits Nabi saw yang secara tegas memerintahkan para sahabat untuk mencambuk an-Nu’aiman yang telah meminum khamr.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِنُعَيْمَانَ أَوْ بِابْنِ نُعَيْمَانَ وَهُوَ سَكْرَانُ فَشَقَّ عَلَيْهِ وَأَمَرَ مَنْ فِي الْبَيْتِ أَنْ يَضْرِبُوهُ فَضَرَبُوهُ بِالْجَرِيدِ وَالنِّعَالِ وَكُنْتُ فِيمَنْ ضَرَبَهُ

Dari ‘Uqbah bin al-Harits ia berkata, “An-Nu’aiman atau Ibnu an-Nu’aiman didatangkan dikarenakan mabuk. Lalu Nabi saw memerintahkan orang yang berada di rumah untuk memukulinya. Maka aku termasuk orang yang memukulinya dengan sandal.” (Shahih al-Bukhari no. 6774)

Hadits di atas menunjukan bahwa dalam eksekusinya, menghukum orang yang mabuk dengan cambuk tidak menjadi satu-satunya alternatif. Bahkan menurut Ibnu Hajar, hukuman cambuk itu diperuntukan bagi para penentang saja. Sedangkan bagi mereka yang lemah, hukumannya cukup dengan memukulnya dengan pelepah kurma dan sandal. Atau  hukuman itu disesuaikan bagi kondisi para terdakwanya. (Fathul Bari)

Adapun mengenai berapa jumlah cambukannya atau pukulannya, para ulama berselisih pendapat. Perselisihan pendapat ini disebabkan ada dua nash berbeda mengenai hukuman para pemabuk; yang satu menyebutkan empat puluh kali cambukan atau pukulan; yang satu lagi menyebut delapan puluh kali.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ فِي الْخَمْرِ بِالْجَرِيدِ وَالنِّعَالِ وَجَلَدَ أَبُو بَكْرٍ أَرْبَعِينَ

Dari Anas bin Malik r.a bahwa Nabi saw memukul orang yang meminum khamr dengan pelepah kurma dan sandal. Sedangkan Abu Bakar mencambuknya sebanyak empat puluh kali. (Shahih al-Bukhari no. 6773)

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كُنَّا نُؤْتَى بِالشَّارِبِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِمْرَةِ أَبِي بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ فَنَقُومُ إِلَيْهِ بِأَيْدِينَا وَنِعَالِنَا وَأَرْدِيَتِنَا حَتَّى كَانَ آخِرُ إِمْرَةِ عُمَرَ فَجَلَدَ أَرْبَعِينَ حَتَّى إِذَا عَتَوْا وَفَسَقُوا جَلَدَ ثَمَانِينَ

Dari as-Sa’ib bin Yazid ia berkata, “Kami mendatangkan orang yang mabuk di masa Rasulullah saw, di masa pemerintahan Abu Bakar, dan di awal masa pemerintahan Umar. Kami menghukumnya dengan tangan-tangan kami, sandal-sendal kami, dan baju-baju kami. Hingga pada masa akhir pemerintahan Umar, hukuman cambuk itu masih 40 kali. Sampai ketika para pemabuk itu melanggar dan berbuat kerusakan, maka Umar mencambuknya 80 kali. (Shahih al-Bukhari no. 6779)

Hukuman 80 cambukan atau pukulan bagi para pemabuk disebabkan ijtihad ‘Umar saat melihat para pemabuk melakukan kerusakan dan menganggap ringan hukuman sebelumnya (40 cambukan) hingga tidak menyebabkan efek jera bagi mereka. Maka dari itu, Umar bermusyawarah hingga kemudian ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengusulkan 80 cambukan, lalu ditetapkanlah 80 cambukan. (Fathul Bari)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أُتِىَ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ فَجَلَدَهُ بِجَرِيدَتَيْنِ نَحْوَ أَرْبَعِينَ. قَالَ وَفَعَلَهُ أَبُو بَكْرٍ فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ اسْتَشَارَ النَّاسَ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَخَفَّ الْحُدُودِ ثَمَانِينَ. فَأَمَرَ بِهِ عُمَرُ.

Dari Anas bin Malik bahwa Nabi saw mendatangkan seseorang yang telah meminum khamr. Lalu beliau mencambuknya dengan dua pelepah kurma sebanyak 40 kali. Anas berkata, “Abu Bakar pun melakukannya (sebagaimana Nabi)”. Ketika masa pemerintahan Umar, maka ia bermusyawarah dengan sahabat yang lainnya. Lalu ‘Abdurrahman bin ‘Auf berpendapat, “Seringan-ringannya hukuman 80 kali”. Umar pun melaksanakannya”. (Shahih Muslim no. 4549)

WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *