Hukum Shalat pada Waktu Terlarang - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Hukum Shalat pada Waktu Terlarang

2 weeks ago
556

Aplikasi Metode Jama’ atau Nasakh, ‘Am atau Takhshish

Jamise Syar'i

Terdapat hadits-hadits yang melarang shalat pada waktu-waktu tertentu dan terdapat juga hadits-hadits yang membolehkannya. Sebagian ulama ada yang memakai metode nasakh (menggugurkan) sehingga menilai hadits larangan sudah tidak berlaku lagi, tetapi mayoritas ulama memakai metode jama’ (menyatukan) dengan memahami hadits larangan dikecualikan oleh hadits-hadits yang membolehkan dalam kasus-kasus tertentu. Akan tetapi yang memakai metode jama’ ini pun ada yang kemudian memakai metode qiyas sehingga meluaskannya untuk semua shalat, dan ada yang tidak menggunakan qiyas sehingga dibatasi pada shalat yang disebutkan dalam hadits saja. Ada juga yang memahami hadits larangan shalat tetap berlaku umum, tidak ada takhshish apalagi nasakh.

Hadits-hadits yang melarang shalat pada waktu-waktu tertentu semuanya ada lima: (1) Setelah shalat shubuh sampai terbit matahari, (2) setelah shalat ‘ashar sampai terbenam matahari, (3) ketika terbit matahari, (4) ketika matahari tepat berada di tengah pada siang hari, dan (5) ketika matahari terbenam. Kelima waktu tersebut bisa digabungkan menjadi: (1) Dari setelah shalat shubuh sampai matahari telah terbit, (2) ketika matahari tepat berada di tengah pada siang hari, dan (3) setelah shalat ‘ashar sampai matahari telah terbenam.

Hadits yang melarang shalat (1) setelah shalat shubuh sampai terbit matahari dan (2) setelah shalat ‘ashar sampai terbenam matahari adalah:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

Tidak ada shalat sesudah shalat ‘ashar sampai terbenam matahari dan tidak ada shalat sesudah shalat fajar sampai terbit matahari (Shahih al-Bukhari bab la tataharras-shalat qabla ghurubis-syamsi [jangan menyengajakan shalat sebelum terbenam matahari] no. 586; Shahih Muslim bab al-auqatil-lati nuhiya ‘anis-shalat fiha [waktu-waktu yang terlarang padanya shalat] no. 1960 dari hadits Abu Sa’id al-Khudri. Selain Abu Sa’id, shahabat lain yang meriwayatkan hadits di atas sebagaimana dituliskan Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya adalah Ibn ‘Abbas, ‘Umar ibn al-Khaththab, Ibn ‘Umar, dan Abu Hurairah).

Sementara hadits yang melarang shalat pada tiga waktu lainnya, yakni (3) ketika terbit matahari, (4) ketika matahari tepat berada di tengah pada siang hari, dan (5) ketika matahari terbenam adalah:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ  يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّي فِيهِنَّ وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ, وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ, وَحِينَ تَتَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ

Dari ‘Uqbah ibn ‘Amir: “Ada tiga waktu yang Rasulullahshalawat dan salam selalu tercurah untuknyamelarang kami untuk shalat dan menguburkan orang yang meninggal padanya; (1) ketika matahari mulai terbit sampai meninggi, (2) ketika tegak lurus/berhenti (bayangan) orang yang menegakkan punggungnya sampai matahari bergeser, dan (3) ketika matahari condong untuk terbenam.” (Shahih Muslim bab al-auqatil-lati nuhiya ‘anis-shalat fiha [waktu-waktu yang terlarang padanya shalat] no. 1966)

Terkait hadits di atas, Imam an-Nawawi menjelaskan sebagai berikut:

وَأَجْمَعَتْ الْأُمَّة عَلَى كَرَاهَة صَلَاة لَا سَبَب لَهَا فِي هَذِهِ الْأَوْقَات، وَاتَّفَقُوا عَلَى جَوَاز الْفَرَائِض الْمُؤَدَّاة فِيهَا، وَاخْتَلَفُوا فِي النَّوَافِل الَّتِي لَهَا سَبَب كَصَلَاةِ تَحِيَّة الْمَسْجِد وَسُجُود التِّلَاوَة وَالشُّكْر وَصَلَاة الْعِيد وَالْكُسُوف وَفِي صَلَاة الْجِنَازَة وَقَضَاء الْفَوَائِت. وَمَذْهَب الشَّافِعِيّ وَطَائِفَة جَوَاز ذَلِكَ كُلّه بِلَا كَرَاهَة. وَمَذْهَب أَبِي حَنِيفَة وَآخَرِينَ أَنَّهُ دَاخِل فِي النَّهْي لِعُمُومِ الْأَحَادِيث. وَاحْتَجَّ الشَّافِعِيّ وَمُوَافِقُوهُ بِأَنَّهُ ثَبَتَ أَنَّ النَّبِيّ  قَضَى سُنَّة الظُّهْر بَعْد الْعَصْر، وَهَذَا صَرِيح فِي قَضَاء السُّنَّة الْفَائِتَة، فَالْحَاضِرَة أَوْلَى، وَالْفَرِيضَة الْمَقْضِيَّة أَوْلَى، وَكَذَا الْجنَازَة

Umat telah sepakat makruhnya shalat yang tidak ada sebabnya pada waktu-waktu ini. Mereka juga bersepakat bolehnya melaksanakan shalat fardlu pada waktu-waktu ini. Tetapi mereka berbeda pendapat dalam hal shalat sunat yang ada sebabnya seperti shalat tahiyyatul-masjid, sujud tilawah, sujud syukur, shalat ‘id, shalat kusuf, shalat jenazah, dan mengqadla shalat yang terlewat. Madzhab Syafi’i dan kelompok lain membolehkan semua shalat yang ada sebabnya tersebut dan tidak menilainya makruh. Sementara madzhab Abu Hanifah dan lainnya menyatakan bahwa shalat yang ada sebabnya itu tetap masuk dalam larangan karena haditsnya bersifat umum. Imam as-Syafi’i dan yang sependapat berhujjah dengan riwayat yang kuat dari Nabi saw bahwasanya beliau pernah mengqadla shalat sunat ba’da zhuhur pada waktu ba’da ‘ashar. Ini jelas menunjukkan bolehnya shalat pada waktu tersebut dalam hal mengqadla shalat sunat yang terlewat, apalagi shalat sunat yang bukan qadla, apalagi dalam shalat fardlu yang diqadla, demikian juga shalat jenazah (Syarah Shahih Muslim bab al-auqat allati nuhiya ‘anis-shalat fiha).

Al-Hafizh Ibn Hajar memberikan catatan tambahan dalam Fathul-Bari bahwa ijma’ umat atas makruhnya shalat yang tidak ada sebab pada waktu-waktu di atas perlu sedikit dikoreksi, sebab faktanya ada yang tidak sepakat. Imam Dawud az-Zhahiri yang kemudian dikuatkan oleh Ibn Hazm menyatakan bahwa sekelompok salaf ada yang membolehkan shalat secara mutlak pada dua waktu terlarang di atas. Alasannya hadits di atas sudah dinasakh/digugurkan oleh hadits:

مَنْ أَدْرَكَ مِنْ الصُّبْح رَكْعَة قَبْل أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْس فَلْيُصَلِّ إِلَيْهَا أُخْرَى

Siapa yang mendapatkan satu raka’at shubuh sebelum terbit matahari, maka lanjutkanlah shalatnya pada raka’at berikutnya (meski matahari sudah terbit—pen) (Fathul-Bari bab as-shalat ba’dal-fajri)

Menurut madzhab Zhahiriyyah, hadits ini menunjukkan bolehnya mengamalkan shalat pada saat terbit matahari, karena orang yang terlambat shalat shubuh di atas satu raka’atnya ia laksanakan sebelum terbit matahari dan raka’at keduanya ia laksanakan ketika terbit matahari. Ini menunjukkan bahwa Nabi saw mengizinkan shalat pada waktu terbit matahari. Maka dari itu hadits yang melarang menjadi gugur oleh hadits yang membolehkan ini.

Akan tetapi mengingat nasakh itu harus ada penegasan langsung dari Nabi saw atau shahabat bahwa memang nasakh itu ada dan terjadi, sementara faktanya penegasan tersebut tidak ada, maka klaim nasakh ini berat untuk diterima. Jadinya kembali pada metode pokok tentang mustahilnya Nabi saw menyampaikan sabdanya secara kontradiktif/saling bertentangan. Maka dari itu metode pokok yang lebih tepat untuk ditempuh adalah menyatukannya (thariqatul-jam’i), bukan mempertentangkannya. Menyatukannya itu sendiri adalah dengan memahami hadits yang membolehkan sebagai pengecualian untuk hadits yang melarang. Dalam hal ini al-Hafizh menjelaskan:

وَقَالَ غَيْرهمْ: اِدِّعَاء التَّخْصِيص أَوْلَى مِنْ اِدِّعَاء النَّسْخ فَيُحْمَلُ النَّهْي عَلَى مَا لَا سَبَب لَهُ، وَيَخُصّ مِنْهُ مَا لَهُ سَبَب جَمْعًا بَيْن الْأَدِلَّة، وَاَللَّه أَعْلَم

Ulama lainnya menjelaskan: Klaim takhshish (adanya pengecualian) lebih tepat daripada klaim nasakh. Sehingga dipahami bahwa larangan itu berlaku bagi shalat yang tidak ada sebabnya, sementara yang ada sebabnya diperbolehkan, demikian dikompromikannya (jama’) dalil-dalil tersebut. Wal-‘Llahu a’lam.

Metode jama’ yang ditempuh al-Hafizh Ibn Hajar mengikuti ulama pendahulunya, Imam an-Nawawi, yang sama-sama dari madzhab Syafi’i. Meskipun hadits yang membolehkan shalat pada waktu terlarang itu hanya shalat-shalat qadla saja, tetapi kemudian diambil fiqihnya sebagai “shalat yang ada sebab”. Jadinya semua shalat yang sama dengan shalat qadla dalam hal “shalat yang ada sebab” seperti tahiyyatul-masjid, syukrul-wudlu, gerhana, atau jenazah, dihukumkan sama boleh diamalkan pada waktu-waktu dilarang shalat.

Pendapat madzhab Syafi’i di atas dibantah dengan tegas oleh Imam as-Shan’ani dalam Subulus-Salam. Ia menegaskan bahwa pendapat madzhab Syafi’i di atas tidak ada dalilnya. Dalil yang digunakan oleh madzhab Syafi’i hanya dalil bolehnya mengqadla shalat sunat yang terlewat seperti ba’da zhuhur menjadi ba’da ‘ashar—itu pun khusus bagi Nabi saw, tidak bagi umatnya, sebab Nabi saw sendiri yang melarang bagi umatnya—dan shalat qabla shubuh dikerjakan ba’da shubuh. Semestinya, menurut Imam as-Shan’ani, yang dikecualikan itu hanya shalat qadla saja, bukan shalat yang ada sebabnya secara umum dengan cara diqiyaskan. Maka dari itu, Imam as-Shan’ani tegas menyatakan bahwa shalat apapun, selain shalat qadla, haram dilaksanakan pada dua waktu di atas; apakah itu shalat tahiyyatul-masjid, jenazah, gerhana, atau shalat lainnya (Subulus-Salam bab al-mawaqit).

Pendapat Imam as-Shan’ani ini mirip dengan madzhab Abu Hanifah sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi di awal. Imam Abu Hanifah memahami bahwa hadits-hadits larangan shalat pada lima (atau tiga) waktu di atas tetap berlaku umum, tidak ada takhshish. Hadits-hadits yang menjelaskan bolehnya qadla shalat hanya berlaku untuk shalat qadla saja, tidak berlaku untuk shalat lainnya seperti tahiyyatul-masjid, syukrul-wudlu, gerhana, dan jenazah.

Hemat kami, jika shalat yang ada sebab itu masih bisa tidak dikerjakan pada waktu yang dilarang, maka sebaiknya tidak dikerjakan demi kehati-hatian jatuh pada yang haram. Terkecuali jika tidak mungkin ditinggalkan, seperti shalat jenazah ba’da shubuh yang jenazahnya akan dibawa ke kampung halamannya jam 06.00 pagi, maka diperkenankan mengikuti madzhab Syafi’i dengan shalat jenazah di waktu yang diperselisihkan tersebut. Jika masih mungkin shalat jenazah dilaksanakan di atas jam 06.00 pagi (setelah terbit matahari), maka sebaiknya shalat jenazah dilaksanakan setelah terbit matahari. Sebab dalam fiqih itu tidak selamanya yang halal jelas atau yang haram jelas, ada kalanya halal dan haramnya tidak jelas karena diperselisihkan di kalangan para ulama. Yang seperti ini disebut syubhat. Syubhat sudah sepantasnya dijauhi.

‘Aisyah ra, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, pernah menyanggah larangan shalat di dua waktu di atas yang kebetulan ditujukannya kepada shahabat ‘Umar yang turut meriwayatkan hadits di atas. Madzhab ‘Aisyah ini kemudian diikuti oleh Ibn ‘Umar. ‘Aisyah menyatakan:

وَهِمَ عُمَرُ إِنَّمَا نَهَى رَسُولُ اللهِ  أَنْ يُتَحَرَّى طُلُوعُ الشَّمْسِ وَغُرُوبُهَا

‘Umar keliru. Hanyasanya Rasulullah saw melarang dari sengaja shalat pada waktu terbit dan terbenam matahari (Shahih Muslim bab la tataharru bi shalatikum thulu’as-syams no. 1968).

Akan tetapi Imam an-Nawawi dan Ibn Hajar menolak pemahaman ‘Aisyah di atas. Alasannya, larangan shalat pada dua waktu di atas—di samping juga larangan ketika terbit dan terbenam matahari sebagaimana akan dibahas pada hadits berikutnya—benar-benar diriwayatkan shahih dari para shahabat sebagaimana sudah diuraikan di atas. Jadi larangan pada ba’da shubuh dan ba’da ‘ashar itu sah adanya, di samping ketika terbit dan terbenam matahari. ‘Aisyah memahami demikian, kemungkinan besar, karena didasarkan pada pengetahuannya bahwa Nabi saw melaksanakan shalat qadla ba’da ‘ashar. Ia kemungkinan berasumsi berarti tidak terlarang shalat ba’da ‘ashar atau ba’da shubuh, yang terlarang itu hanya ketika terbit dan terbenam saja. Asumsi shahabat seperti itu, al-Hafizh Ibn Hajar menegaskan, tidak bisa menggugurkan hadits shahih. Kalaupun mau diakomodir, bukan dengan menggugurkan salah satunya yang jelas-jelas ditopang oleh hadits shahih, melainkan mengompromikannya sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi berikut ini:

وَيُجْمَع بَيْن الرِّوَايَتَيْنِ فَرِوَايَة التَّحَرِّي مَحْمُولَة عَلَى تَأْخِير الْفَرِيضَة إِلَى هَذَا الْوَقْت، وَرِوَايَة النَّهْي مُطْلَقًا مَحْمُولَة عَلَى غَيْر ذَوَات الْأَسْبَاب

Dua riwayat di atas bisa dikompromikan. Maka riwayat taharri (hadits ‘Aisyah yang larangannya hanya tertuju pada waktu terbit dan terbenam matahari) ditujukan pada larangan mengakhirkan shalat fardlu sampai waktu tersebut. Sementara riwayat nahyi yang muthlaq (hadits yang larangannya tertuju pada waktu ba’da shubuh dan ba’da ‘ashar) ditujukan pada shalat yang tidak ada sebabnya (Syarah Shahih Muslim bab la tataharru bi shalatikum thulu’as-syams).

Ada juga ulama yang menyatakan bahwa larangan shalat pada ba’da shubuh dan ba’da ‘ashar itu maksudnya menjelang terbit matahari atau menjelang terbenam matahari (Ustadz Aceng Zakaria dalam al-Fatawa 2), berdasarkan hadits berikut:

عَنْ عَلِىٍّ أَنَّ النَّبِىَّ r نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلاَّ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ

Dari ‘Ali ra: Nabi saw melarang shalat ba’da ‘ashar kecuali jika matahari masih tinggi (Sunan Abi Dawud kitab at-tathawwu’ bab man rakhkhasha fihima no. 1276).

Kelompok ulama ini berpendapat bahwa larangan shalat ba’da shubuh atau ba’da ‘ashar itu maksudnya tidak ada shalat rawatib ba’da shubuh dan ‘ashar, sementara shalat lainnya diperbolehkan. Pendapat ini sebenarnya tidak jauh beda dengan madzhab Syafi’i di atas, hanya madzhab Syafi’i memberi batasan boleh tidaknya dengan ‘shalat yang tidak ada sebab’ untuk shalat yang terlarang dan ‘shalat yang ada sebab’ untuk yang dibolehkan.

 

Pengecualian Dibolehkannya Shalat pada Waktu Terlarang

Dari uraian di atas diketahui bahwa larangan shalat pada lima tiga waktu di atas dikecualikan untuk: Pertama, shalat qadla, yakni shalat yang terlewat lalu baru bisa diamalkan pada waktu yang terlarang tersebut. Yang ditemukan dalam dalil secara spesifik adalah shalat ba’da zhuhur diqadla pada waktu ba’da ‘ashar dan shalat qabla shubuh diqadla pada waktu ba’da shubuh.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ  اَلْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ فَصَلَّيْتُهُمَا الْآنَ قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: لاَ 

Dari Ummu Salamah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam senantiasa tercurah kepadanya—shalat Ashar lalu masuk rumahku dan shalat dua raka’at. Aku bertanya kepada beliau dan beliau menjawab: “Aku tersibukkan dari dua raka’at ba’da Zhuhur (sehingga tidak sempat mengerjakannya), maka aku mengerjakannya sekarang.” Aku bertanya: “Apakah kami boleh mengqadla dua raka’at ba’da zhuhur tersebut jika melewatkannya?” Beliau menjawab: “Tidak.” (Musnad Ahmad bab hadits Ummi Salamah no. 26678).

عَنْ قَيْسِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَأَى رَسُولُ اللهِ  رَجُلاً يُصَلِّى بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ  صَلاَةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ. فَقَالَ الرَّجُلُ إِنِّى لَمْ أَكُنْ صَلَّيْتُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا فَصَلَّيْتُهُمَا الآنَ. فَسَكَتَ رَسُولُ اللهِ 

Dari Qais ibn ‘Amr, ia berkata: Rasulullah saw melihat seseorang shalat sesudah shalat shubuh dua raka’at. Rasulullah saw bersabda: “Shalat shubuh itu dua raka’at!” Orang itu menjawab: “Aku tidak tidak sempat shalat qabla shubuh, jadi aku kerjakan sekarang.” Rasulullah saw pun diam tidak membantah (Sunan Abi Dawud bab man fatathu mata yaqdlihima no. 1269. Meski sanad hadits ini bermasalah, tetapi ada banyak jalur lain yang menguatkannya [al-Albani, Shahih Sunan Abi Dawud]).

Meski demikian ada dalil lain yang lebih umum sehingga berlaku umum untuk shalat qadla apapun, meskipun shalat qadla shalat wajib:

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Siapa yang lupa shalat atau tertidur darinya, maka kifaratnya adalah shalat ketika ia ingat/bangun (Shahih Muslim bab qadla`is-shalatil-fa`itah no. 1600).

Kedua, pada hari Jum’at untuk larangan shalat pada saat matahari tepat di tengah hari, tetapi larangan shalat pada waktu pagi dan sore harinya tetap berlaku meskipun hari Jum’at. Dalilnya hadits riwayat al-Bukhari dari Salman yang membolehkan shalat intizhar sampai imam keluar untuk naik mimbar. Jika imam naik mimbar selepas matahari berada di posisi tengah, berarti boleh shalat pada waktu matahari ada di tengah sampai tergelincir darinya ketika imam sudah naik mimbar.

Ketiga, ketika berada di Masjidil-Haram untuk semua waktu larangan. Dalilnya adalah hadits Jubair ibn Muth’im:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ, لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَو نَهَارٍ

Dari Jubair ibn Muth’im—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam selalu tercurah untuknya—bersabda: “Hai Bani ‘Abdi Manaf, janganlah kalian melarang seorang pun thawaf di Baitullah (Ka’bah) ini, demikian juga shalat, pada waktu kapanpun ia mau, baik itu malam atau siang.” (Musnad Ahmad musnad al-madaniyyin hadits Jubair ibn Muth’im no. 16136; Sunan Abi Dawud kitab al-manasik bab at-thawaf ba’dal-‘ashr no. 1896; Sunan at-Tirmidzi kitab as-shaum bab ma ja`a fis-shalat ba’dal-‘ashri wa ba’das-shubhi li man yathufu no. 868; Sunan an-Nasa`i kitab al-mawaqit bab ibahatis-shalat fis-sa’at kulliha bi Makkah no. 858; Sunan Ibn Majah kitab iqamatis-shalat bab ma ja`a fir-rukhshah fis-shalat bi Makkah no. 1254; Shahih Ibn Hibban kitab as-shalat fashal fil-auqat al-manhiyy ‘anha no. 1553-1554).

Keempat, bagi yang tidak sengaja terlambat shalat shubuh dan ‘ashar sehingga melaksanakannya di waktu terbit atau terbenamnya matahari. Dalil pengecualian yang ini adalah hadits Abu Hurairah dan ‘Aisyah sebagai berikut:

إِذَا أَدْرَكَ أَحَدُكُمْ سَجْدَةً مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَلْيُتِمَّ صَلَاتَهُ وَإِذَا أَدْرَكَ سَجْدَةً مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَلْيُتِمَّ صَلَاتَهُ

Apabila seseorang di antaramu mendapatkan satu sajdah dari shalat ‘ashar sebelum terbenam matahari, maka sempurnakanlah shalatnya. Dan apabila seseorang di antaramu mendapatkan satu sajdah dari shalat shubuh sebelum terbit matahari, maka sempurnakanlah shalatnya (Shahih al-Bukhari bab man adraka rak’atan minal-‘ashri qablal-ghurub no. 556).

Sabda Nabi saw: fal-yutimma shalatahu; maka sempurnakanlah shalatnya, menunjukkan boleh melaksanakan shalat pada saat terbit matahari atau pada saat terbenam matahari. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *