Cara Bersuci dari Istihadlah - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Cara Bersuci dari Istihadlah

1 month ago
141

Afwan Ustadz barangkali sudah pernah ada pembahasan perempuan dewasa haidl lebih dari dua minggu berturut-turut. Bahkan sudah haidl dua minggu, berhenti dua hari, terus haidl lagi jalan 12 hari. Konsultasi sama dokter kandungan katanya masih darah haidl. Apakah harus shalat atau tidak? Terus apakah harus mandi wajib setiap mau shalat wajib? Bagaimana praktiknya? 0812-2220-xxxx

Perempuan yang terus mengeluarkan darah seperti darah haidl di luar siklus normal haidl disebut istihadlah dalam istilah hadits. Istihadlah itu sendiri artinya “pendarahan”. Nabi saw memberikan tuntunan agar perempuan yang istihadlah berijtihad menetapkan haidl pada masa normalnya. Sisanya dihitung bukan haidl. Jadi kalau merujuk pertanyaan anda di atas, berarti tujuh hari pertama dihitung masa haidl, tiga pekan berikutnya itu dihitung masa istihadlah.

Jamise Syar'i

Perempuan yang istihadlah tetap wajib shalat, tetapi dengan bersuci di setiap kali shalatnya. Caranya ada tiga pilihan: Pertama, berwudlu di setiap kali shalat pada kelima waktunya. Kedua, shalatnya diamalkan dalam tiga waktu: (1) zhuhur-ashar dijama’ dengan cara zhuhur diakhirkan di akhir waktu zhuhur dan ashar diawalkan pada awal waktunya, (2) maghrib-isya dengan dijama’ seperti sebelumnya, dan (3) shubuh. Pada ketiga waktu tersebut bersucinya dengan cara mandi ditambah sebelum ashar dan isyanya dengan wudlu. Jadi pada cara kedua ini menggabungkan antara mandi dan wudlu. Ketiga, seperti cara kedua tetapi hanya mandi saja untuk ketiga waktu shalat dan tidak diselingi oleh wudlu di antara kedua shalatnya.

Hadits-hadits tentang istihadlah mudah ditemukan dalam kitab Bulughul-Maram pada bab “pembatal wudlu” dan bab “haidl”. Cara bersuci yang pertama didasarkan pada hadits ‘Aisyah ra terkait Fathimah binti Abu Hubaisy. Cara bersuci yang kedua didasarkan pada hadits Asma` binti ‘Umais ra. Dan cara bersuci yang ketiga didasarkan pada hadits Hamnah binti Jahsy ra. Berikut uraian ketiga hadits yang dimaksud:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ  فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلاَةَ؟ قَالَ: لاَ إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي الصَّلاَةَ, وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِيْ عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي. مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari ‘Aisyah —semoga Allah meridlainya—ia berkata: Fathimah binti Abi Hubaisy datang kepada Nabi—shalawat dan salam untuknya—, lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh saya seorang wanita yang istihadlah (mengeluarkan banyak darah) dan tidak suci, apakah saya harus meninggalkan shalat?” Beliau menjawab: “Tidak boleh, itu luka, bukan haidl. Apabila haidlmu tiba tinggalkan shalat, apabila haidlmu selesai cucilah darahnya, kemudian shalatlah.” Disepakati shahihnya (Bulughul-Maram bab nawaqidlul-wudlu`/pembatal wudlu no. 73)

وَلِلْبُخَارِيِّ: ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلاَةٍ (حَتَّى يَجِيءَ ذَلِكَ الْوَقْتُ)

Dalam riwayat al-Bukhari: “Kemudian berwudlulah kamu pada setiap shalat (sampai datang kembali waktu itu [haidl])—dalam kurung kutipan asli dari Shahih al-Bukhari bab ghaslid-dam no. 228.” (Bulughul-Maram bab nawaqidlul-wudlu`/pembatal wudlu no. 74).

Dalam riwayat Abu Dawud dan an-Nasa`i ada sedikit perbedaan redaksi pejelasan Nabi saw kepada Fathimah binti Abi Hubaisy, sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: إِنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : إِنَّ دَمَ اَلْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي مِنَ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ الآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Dari ‘Aisyah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Sesungguhnya Fathimah binti Abi Hubaisy istihadlah. Maka Rasulullah—shalawat dan salam untuknya—bersabda:“Sesungguhnya darah haidl itu darah agak hitam yang mudah dikenali. Maka jika itu ada, berhentilah dari shalat. Jika darah selain itu, wudlulah dan shalatlah.” Abu Dawud dan an-Nasa`i meriwayatkannya. Ibn Hibban dan al-Hakim menshahihkannya (Bulughul-Maram bab al-haidl no. 149).

وَفِي حَدِيثِ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ: لِتَجْلِسْ فِي مِرْكَنٍ, فَإِذَا رَأَتْ صُفْرَةً فَوْقَ اَلْمَاءِ فَلْتَغْتَسِلْ لِلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ غُسْلاً وَاحِدًا, وَتَغْتَسِلْ لِلْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ غُسْلاً وَاحِدًا, وَتَغْتَسِلْ لِلْفَجْرِ غُسْلاً, وَتَتَوَضَّأْ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ

Dalam hadits Asma` binti ‘Umais riwayat Abu Dawud (Nabi saw bersabda): “Hendaklah ia duduk pada satu wadah (yang biasa dipakai mencuci pakaian) berisi air. Jika ia lihat kuning di atas air hendaklah ia mandi untuk zhuhur dan ‘ashar satu kali, untuk maghrib dan ‘isya satu kali, dan untuk fajar/shubuh satu kali. Lalu hendaklah ia wudlu di antara dua shalat itu.” (Bulughul-Maram bab al-haidl no. 150).

Maksud hadits Asma` binti ‘Umais ini perbedaan istihadlah dari haidl itu darahnya ada campuran keruh kekuning-kuningan, berbeda dengan haidl yang hitam pekat. Jika cara mendeteksi seperti ini sulit untuk dilakukan, cukup dengan ijtihad seperti sudah dijelaskan di awal dan disabdakan Nabi saw pada hadits berikut:

عَنْ حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ: كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَبِيرَةً شَدِيدَةً, فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ  أَسْتَفْتِيهِ, فَقَالَ: إِنَّمَا هِيَ رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ, فَتَحَيَّضِي سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةً ثُمَّ اغْتَسِلِي, فَإِذَا اسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّي أَرْبَعَةً وَعِشْرِينَ أَوْ ثَلاَثَةً وَعِشْرِينَ وَصُومِي وَصَلِّي فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُكَ, وَكَذَلِكَ فَافْعَلِي كَمَا تَحِيضُ النِّسَاءُ, فَإِنْ قَوِيتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي الْعَصْرَ ثُمَّ تَغْتَسِلِي حِينَ تَطْهُرِينَ وَتُصَلِّينَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا, ثُمَّ تُؤَخِّرِينَ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِينَ الْعِشَاءَ ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ فَافْعَلِي. وَتَغْتَسِلِينَ مَعَ الصُّبْحِ وَتُصَلِّينَ. قَالَ وَهُوَ أَعْجَبُ الْأَمْرَيْنِ إِلَيَّ. رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إِلاَّ النَّسَائِيَّ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Hamnah binti Jahsy, ia berkata: Aku istihadlah sangat banyak, lalu aku datang kepada Nabi saw memohon fatwa kepadanya. Beliau bersabda: “Hanyasanya itu gangguan dari setan. Maka hitunglah haidlmu enam atau tujuh hari. Kemudian mandilah. Setelah bersih dengan mandi, shalatlah selama 24 atau 23 hari (tergantung hitungan haidl; 6 atau 7 hari). Shaumlah dan shalatlah, itu cukup untukmu. Demikian juga lakukanlah olehmu sebagaimana yang dilakukan perempuan-perempuan yang haidl (hukum seputar haidl diberlakukan ketika hitungan haidl yang 6 atau 7 hari). Jika kamu kuat untuk mengakhirkan zhuhur dan mengawalkan ashar, kemudian kamu mandi ketika suci (dari hitungan haidl), dan kamu shalat zhuhur dan ‘ashar dijama’; demikian juga jika kamu mampu mengakhirkan maghrib dan mengawalkan ‘Isya, kemudian kamu mandi dan menjama’ dua shalat tersebut, lakukanlah. Dan kamu juga mandi di waktu shubuh dan shalat shubuh. Itu adalah yang paling aku senangi dari dua perkara.” Lima imam meriwayatkannya kecuali an-Nasa`i (Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibn Majah). At-Tirmidzi menilainya shahih dan al-Bukhari menilainya hasan (Bulughul-Maram bab al-haidl no. 151).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *