Masuk Surga Tanpa Hisab - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Masuk Surga Tanpa Hisab

6 months ago
341

Hari akhir itu nyata. Setiap mukmin mesti meyakini bahwa kematian di dunia bukanlah akhir dari segalanya, bahkan merupakan awal dari serangkaian fase-fase yaumul-akhir yang amat panjang; mulai dari alam barzakh, al-ba’ts (kebangkitan makhluk), al-hisab (perhitungan amal), sampai al-jaza` (pembalasan surga atau neraka). Seluruh fase-fase tersebut merupakan saat-saat yang amat berat; terutama pada fase al-hisab di mana seluruh makhluk diadili langsung oleh Allah sang Ahkamul-Hakimin. Allah jalla jalaluh berfirman:

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (26)

 “Sesungguhnya kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian sesungguhnya wajib atas Kami meng-hisab mereka.” (QS. al-Ghasyiyah [88]: 25-26)

Mengenai al-hisab ini Rasulullah shallal-`Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Jamise Syar'i

لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ إِلَّا هَلَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ اللَّهُ يَقُولُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَ ذَاكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ هَلَكَ

Tidak ada seorangpun yang dihisab kecuali binasa,” Aku (‘Aisyah) bertanya,”Wahai Rasulullah, bukankah Allah berfirman ‘pemeriksaan yang mudah’?” Beliau menjawab,”Itu adalah al-‘aradl, namun siapa yang diperiksa hisabnya, maka ia pasti binasa.” (Shahih Muslim bab itsbatul-hisab no. 2876)

Di dalam riwayat lain beliau menegaskan bahwa yang dimaksud binasa adalah diadzab:

مَنْ ‌حُوسِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، عُذِّبَ

Siapa yang dihisab pada hari kiamat pasti diadzab.” (Ibid no. 2877)

Dari hadits-hadits di atas, dapat dipahami bahwa hisab itu ada hisab al-‘ardl, yaitu hanya diperlihatkan catatan amalnya saja dan ada hisab al-munaqasyah, yaitu diperiksa seluruh catatan amalnya dengan teliti. Hisab al-‘ardl tentunya hanya berlaku untuk orang mukmin yang layak masuk surga, sedangkan hisab al-munaqasyah berlaku untuk orang mukmin yang fasiq, munafiq, dan kafir. Mengenai kronologi hisab al-‘ardl, Rasulullah shallal-`Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ ‌وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ

Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu meletakkan padanya penghalang dan menutupinya (dari pandangan orang lain), lalu (Allah) berfirman, ‘Tahukah engkau dosa ini? Tahukah engkau dosa itu?’ Mukmin tersebut menjawab,’Ya, wahai Rabb-ku,’ hingga bila selesai meyampaikan semua dosa-dosanya dan mukmin tersebut melihat dirinya telah binasa, Allah berfirman,’Aku telah rahasiakan (menutupi) dosa itu di dunia, dan Aku sekarang mengampunimu,’ lalu ia diberi kitab kebaikannya…” (Shahih al-Bukhari bab qaulil-`Llahi ta’ala ala la’natul-`Llahi ‘alaz-zhalimin no. 2441)

Sedangkan mengenai kronologi hisab al-munaqasyah, di antaranya Rasulullah shallal-`Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَيَلْقَى الْعَبْدَ، فَيَقُولُ: أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ، وَأُسَوِّدْكَ، وَأُزَوِّجْكَ، وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ، وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، قَالَ: فَيَقُولُ: ‌أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ؟ فَيَقُولُ: لَا، فَيَقُولُ: فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي، ثُمَّ يَلْقَى الثَّانِيَ فَيَقُولُ: أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ، وَأُسَوِّدْكَ، وَأُزَوِّجْكَ، وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ، وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ، وَتَرْبَعُ، فَيَقُولُ: بَلَى، أَيْ رَبِّ فَيَقُولُ: ‌أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ؟ فَيَقُولُ: لَا، فَيَقُولُ: فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي، ثُمَّ يَلْقَى الثَّالِثَ، فَيَقُولُ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ آمَنْتُ بِكَ، وَبِكِتَابِكَ، وَبِرُسُلِكَ، وَصَلَّيْتُ، وَصُمْتُ، وَتَصَدَّقْتُ، وَيُثْنِي بِخَيْرٍ مَا اسْتَطَاعَ، فَيَقُولُ: هَاهُنَا إِذًا، قَالَ: ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: الْآنَ نَبْعَثُ شَاهِدَنَا عَلَيْكَ، وَيَتَفَكَّرُ فِي نَفْسِهِ: مَنْ ذَا الَّذِي يَشْهَدُ عَلَيَّ؟ فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ، وَيُقَالُ لِفَخِذِهِ وَلَحْمِهِ وَعِظَامِهِ: انْطِقِي، فَتَنْطِقُ فَخِذُهُ وَلَحْمُهُ وَعِظَامُهُ بِعَمَلِهِ، وَذَلِكَ لِيُعْذِرَ مِنْ نَفْسِهِ، وَذَلِكَ الْمُنَافِقُ وَذَلِكَ الَّذِي يَسْخَطُ اللهُ عَلَيْهِ

…Lalu Allah menemui hamba-Nya dan berkata, “Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikan engkau sebagai pemimpin, menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan unta, serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?” Maka ia menjawab: “Benar”. Allah berkata lagi, “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpai-Ku?” Maka ia menjawab: “Tidak”, maka Allah berfirman, “Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakan-Ku.” Kemudian (Allah) menemui orang yang ketiga dan menyampaikan seperti yang disampaikan di atas. Lalu ia (orang itu) menjawab, “Wahai Rabbku! Aku telah beriman kepada-Mu, kepada kitab suci-Mu dan rasul-rasul-Mu. Juga aku telah shalat, bershadaqah,” dan ia memuji dengan kebaikan semampunya. Allah menjawab, “Kalau begitu, sekarang (pembuktiannya),” kemudian dikatakan kepadanya, “Sekarang Kami akan membawa para saksi atasmu.” Orang tersebut berfikir di dalam hati, “siapa yang akan bersaksi atasku?” Lalu mulutnya dikunci dan dikatakan kepada paha, daging dan tulangnya, “Bicaralah!” Lalu paha, daging dan tulangnya bercerita tentang amalannya, dan itu untuk menghilangkan udzur dari dirinya. Itulah nasib munafiq dan orang yang Allah murkai.” (Shahih al-Bukhari kitab az-zuhd war-raqa`iq no. 2968)

Di samping kedua jenis hisab di atas, ternyata ada juga orang-orang beruntung yang tidak akan dihisab sama sekali. Mereka semua akan langsung menuju shirath untuk langsung melakukan perjalanan menuju surga. Rasulullah shallal-`Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ ‌يَنْجُو ‌الْمُؤْمِنُونَ، فَتَنْجُو أَوَّلُ زُمْرَةٍ وُجُوهُهُمْ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ سَبْعُونَ أَلْفًا لَا يُحَاسَبُونَ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ كَأَضْوَأِ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ، ثُمَّ كَذَلِكَ

…Kemudian selamatlah orang-orang mukmin, selamat pulalah kelompok pertama dari mereka yang wajah-wajah mereka seperti bulan pada malam purnama sejumlah 70.000 orang. Mereka tidak dihisab. kemudian orang-orang setelah seperti cahaya bintang di langit, kemudian yang seperti mereka…” (Shahih al-Bukhari bab adna ahlil-jannati manzilatan fiha no. 316)

‌وَعَدَنِي ‌رَبِّي أَنْ يُدْخِلَ الجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابَ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا وَثَلَاثُ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِهِ

Rabbku ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah ‘Azza wa Jalla.” (Sunan at-Tirmidzi abwab shifatil-qiyamah war-raqa`iq wal-wara’ no. 2437)

Dalam riwayat lain beliau mengabarkan mengenai kriteria orang-orang tersebut, yaitu:

هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَلَا يَكْتَوُونَ، ‌وَعَلَى ‌رَبِّهِمْ ‌يَتَوَكَّلُونَ

…Mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah, tidak ber-tathayyur, dan tidak berobat dengan api, serta mereka senantiasa bertawakkal kepada Rabb mereka…” (Shahih al-Bukahri bab yadkhulul-jannata sab’una alfan bi ghairi hisab no. 6541)

Syaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab rahimahul-`Llah di dalam Kitabut-Tauhid-nya memasukkan hadits ini ke dalam bab man haqqaqat-tauhid dakhlal-jannta bi ghairi hisab (siapa yang merealisasikan tauhid akan masuk surga tanpa hisab). Jadi, intinya jika ingin termasuk ke dalam golongan orang-orang istimewa yang masuk surga tanpa hisab selain dengan kriteria-kriteria di atas adalah dengan cara berusaha mengamalkan tauhid dengan sebenar-benarnya, yaitu dengan menjauhi syirik, bid’ah, dan maksiat semaksimal mungkin sebagai konsekuensi dari syahadatain yang merupakan kunci surga.

Wal-`Llahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *