Budaya ‘Tangan di Atas' Santri PPI 27 - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Budaya ‘Tangan di Atas’ Santri PPI 27

7 months ago
1039

Santri Pesantren Persis 27 bukan hanya ditekankan untuk menghafal al-Qur’an dan hadits saja, namun mereka juga ditekankan untuk mengamalkan apa yang telah mereka hafalkan itu. Mengingat bahwa Ilmu itu bukan hanya tentang apa yang dihafal, tapi apa yang diamalkan juga.

Jamise Syar'i

Santri Pesantren Persis 27 ditekankan untuk menjadi manusia yang selalu tangan di atas, sebagaimana yang Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam jelaskan, bahwa tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta). Ini semua terbukti dengan adanya kencleng di setiap kelas, untuk diisi di setiap pagi. Santri dianjurkan untuk menyisihkan uangnya agar diinfaqkan, guna mengamalkan perintah Allah dalam al-Qur’an, yaitu:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datangnya hari ketika saat itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Dan adapun orang-orang kafir, mereka itulah orang-orang yang zhalim. – (Q.S Al-Baqarah [2]: 254)

Budaya Infaq Santri 27 ini tidak hanya di kelas saja, tapi di setiap kegiatan yang diadakan oleh pesantren, santri dianjurkan untuk mengorbankan uang jajannya agar diinfaqkan pada kencleng yang berkeliling.

Budaya Infaq ini juga adalah salah satu usaha pesantren untuk menjadikan para santrinya agar tidak menjadi budak dunia atau manusia yang selalu berorientasikan duniawi. Santri harus melepaskan hartanya untuk berinfaq daripada dibelikan hal-hal yang tidak bermanfaat, minimal seimbang antara infaq dan jajan.

Hal ini sebagaimana yang dinasehatkan para ulama, salah satunya Imam asy-Syafi’i, beliau menasehati agar mengurangi porsi makan.

قال الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً لِأَنَّ الشَّبْعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ وَيُقْسِي الْقَلْبَ وَيُزِيْلُ الْفَطَنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةِ

Imam as-Syafi’i rahimahul-‘Llah berkata: “Sudah 16 tahun aku tidak pernah makan sampai kenyang, sebab makan sampai kenyang itu memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, menyebabkan tidur pulas, dan membuat seseorang malas dari ibadah (al-Ghazali, Ihya` ‘Ulumiddin, Bab al-‘Ilm l-ladzi Huwa Fardlu Kifayah).

Kemudian, Infaq setiap pagi santri ini disetorkan ke kantor satu minggu sekali; di hari Kamis oleh bendahara masing-masing kelas. Guna keamanan uang yang telah terkumpul, agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, seperti hilang atau lainnya.

Uang Infaq ini juga tentunya tidak serta merta otomatis menjadi uang milik pesantren, tapi untuk masing-masing kelas mereka sendiri. Guna kebutuhan alat-alat kebersihan atau yang lainnya. Tidak hanya itu, uang infaq ini juga untuk diberikan pada teman-teman yang sakit atau ditimpa musibah. Sebagaimana yang Nabi sabdakan :

“Barang siapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada Hari Kiamat. Dan barang siapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat” (Shahih Muslim, Bab Fadhl l-Ijtima’ ‘ala Tilawah l-Quran wa dz-Dzikr no. 2699)

Tentunya, yang paling terpenting adalah bahwa kita sebagai santri atau muslim harus meyakini bahwa infaq tidak akan mengurangi harta. Ini senada dengan apa yang Nabi sabdakan, bahkan Nabi berani bersumpah bahwa infaq tidak akan mengurangi harta.

“Ada tiga perkara yang aku bersumpah atas ketiganya yaitu tidak berkurangnya harta karena sedekah, maka bersedekahlah. Tidaklah seseorang yang memaafkan perbuatan orang yang zalim kepada dirinya, melainkan akan Allah tambah dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang yang membuka pintu atas dirinya untuk meminta-minta kepada manusia, melainkan akan Allah buka untuknya pintu menuju kefakiran,” (Musnad Ahmad, Musnad ‘Abdirrahman bin ‘Awf no. 1674; Musnad al-Bazzar, Wa mimma Rawa Abu Salamah bin ‘Abdirrahman ‘an Abihi no. 1032).

Semoga kita semua tidak termasuk orang-orang yang kikir akan harta, sulit akan memberi, dan berat akan mengasihi. Ditegaskan kembali, infaq tidak akan mengurangi harta, justru dengan infaq harta akan terus mudah datang dari mana saja. Jangan takut dan teruslah berinfaq, karena salah satu indikator mencapai taqwa adalah dengan berinfaq di waktu lapang atau pun sempit, suka atau pun duka.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

(Yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Q.S Ali ‘Imran [3]: 134).

Wal-Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *